
Seseorang yang banyak diam konon sedang bertengkar dengan isi kepalanya sendiri. Barangkali berlaku untuk Felix yang kini tepekur di kursi ayun selepas kepergian sang istri. Meski pandangannya lurus pada satu arah, namun fokusnya terbagi. Mata hazelnya pun seolah mewujud rinnegan milik Sasuke yang mampu membuka portal hitam keunguan hingga ia terjebak pada sebuah dimensi. Bak terputus hubungan dengan sekeliling, Felix sama sekali tak responsif terhadap pergerakan di sisi.
Jemarinya yang saling bertaut di atas paha mengerat begitu pertempuran di dalam dirinya semakin masif dan tak terkendali. Ruhnya terseret pada lembah kegelapan. Dia terisolasi. Dunia terhenti. Gravitasi lenyap sama sekali, mengakibatkan suplai oksigen menyusut tajam sampai tiba-tiba ia terserang hipoksia. Bersyukurlah, kesadarannya lamat-lamat pulih bersamaan datangnya tepukan keras di bahu. Felix tersentak, berikut dadanya yang kembang-kempis menyesak.
“Yo, welcome back to the world!”
Pria yang baru pulang dari planet antah-berantah itu segera meraup wajah, lalu menoleh pada sosok di sebelahnya yang tersenyum kambing.
“Sesedih itu kau ditinggal istri, heh? Sudah sejauh mana kau berteleportasi?”
Felix tak menjawab. Binar keputusasaan di mata biru istrinya masih terbayang. Sorot terluka itu sangat akrab dan seolah merefleksikan dirinya yang rapuh tapi penuh kebencian di suatu waktu yang telah berlalu. Seharusnya ia merasa biasa-biasa saja menanggapi kebrutalan gadis itu karena Leona yang semena-mena bukan lagi hal baru. Sayangnya, ada beberapa alasan yang membuatnya tak bisa. Rasa menderita itu mewabah padanya, dan ia tidak tahu cara mengatasinya.
“Aku melihat dia tidak baik-baik saja. Kalian bertengkar?”
“Tidak,” balas Felix jujur. “Hanya salah paham.”
“Tapi kulihat dia benar-benar tidak baik. Kau akan di sini saja, tidak berniat menyusulnya?”
“Dia akan baik-baik saja,” yakin Felix akan dogma yang dia pegang. Lagi pula, dia hafal bagaimana tabiat gadis itu. Sore ini marah, nanti malam juga kembali bertingkah.
“Mau kuberitahu satu hal?” Pria berkumis tipis itu merangkul bahu Felix.
“Apa?”
“Kedengarannya mungkin tidak pantas aku mengatakan ini padamu, karena aku pria yang belum menikah. Tapi begini-begini, aku jagonya masalah perempuan,” kekeh pria itu.
Felix tak merespons dengan kata-kata, melainkan lewat tatapan mata.
“Perempuan itu ... makhluk paling unik dan ajaib. Percaya atau tidak, nyatanya mereka dan perangainya, MAHA SULIT dimengerti. Bonusnya lagi, tingkat kepekaan mereka sangat tinggi. Pokoknya sensitif sekali ... sesensitif itu.” Iris abu-abunya turun memanah entitas yang mengumpet di dalam celana. Sadar telah dijadikan objek fantasi, Felix segera menempeleng sahabatnya yang jelalatan. Seketika Timothy tertawa.
“Setiap sakit ada penawarnya, begitu pula perempuan. Bila mereka sedang marah atau merajuk, bujuk saja, iming-imingi dengan hal yang dia suka. Perempuan itu senang diberi perhatian, dimanja ... dicumbui ... dirangsang.” Timothy membisik sensual di telinga pada kata terakhir. Mendengarnya, Felix merinding geli. Lantas dia kembali mendorong lengan pria yang menempelinya itu sampai tubuh mereka bergeser berjauhan. Ilmu tentang perempuan memang sudah khatam dipelajari. Felix akui, meskipun womanizer, secara spesifik Timothy bukanlah casanova.
__ADS_1
Tawa keras berkumandang, Timothy terpingkal akan sikap defensif sahabat karibnya. Pria yang menjabat Sous Chef itu tentu paham bagaimana sepak-terjang Felix di dunia yang sarat kepalsuan lagi kejam. Ada luka menganga yang sukar disembuhkan, namun syukurnya, pria pejuang itu tak lagi gentar berhubungan dengan perempuan. Bagusnya, sudah naik level jadi pernikahan.
“Mungkin saat ini, Leona butuh perhatian dan kasih sayang darimu. Dia wanita yang telah kaunikahi, artinya kau bertanggungjawab penuh terhadapnya, dalam bahagia maupun duka, seperti janjimu pada Tuhan di altar waktu itu,” ungkap Timothy mengingatkan. “Tidak melulu wanita yang menyukaimu punya niat jahat. Keobsesifan Leona selama ini tidak merugikanmu, kulihat perasaan cintanya padamu sangat kuat. Perempuan lain mungkin butuh waktu berhari-hari untuk mengungkapkan cinta lebih dulu. Tapi Leona hanya perlu satu detik, satu detik lagi untuk mengajakmu menikah.”
Penjelasannya terjeda, Timothy meregangkan otot yang terasa kaku dengan kedua tangan yang memanjang terangkat ke atas kepala. Suara erangannya terdengar lega. Lain hal Felix yang masih berusaha meredamkan carut-marut di kepala. Pernikahan sejatinya masih menjadi hal tabu bagi mereka yang tidak percaya. Kronologinya bisa dimulai dari Felix yang memang tak punya teladan. Pada prosesnya dia sedang belajar. Beradaptasi memerlukan kemampuan dan kemauan, especially terhadap perempuan yang diluar angan.
“Seseorang yang tulus, lama-lama bisa jenuh jika tidak kauhargai, kauperlakukan dengan baik. Aku paham kau punya pengalaman yang traumatize. Tapi jangan kau jadikan pengalaman pahit itu sebagai tolak ukur menilai wanita, terlebih istrimu.” Tangan berhias cincin itu menyentuh pundak si lelaki pasif. “Mulai sekarang, bersikaplah baik, kurangi kegiatanmu di luar jika tidak ada ihwal yang penting. Manuvernya tadi mungkin sebagai bentuk protesnya padamu yang masih sibuk bekerja dari pada membawanya pergi bulan madu. Jangan terlalu jahat padanya, Bro,” imbuhnya menasihati.
Felix mendengkus. Wacana macam apa yang dipaparkan sahabat nyelenehnya barusan? Bukankah itu lebih terdengar seperti distorsi, alias pemutarbalikan fakta? Bagaimanakah definisi jahat itu jika realitasnya Leona sendiri yang terlalu memaksa? Tuduhan tak berdasar Timothy layaknya fitnah paling tolol. Sesungguhnya, Felix masih tidak mengerti, pertimbangan apa yang membuat Leona nekad ingin menikah dengannya jika pada akhirnya gadis itu tahu akan tersakiti.
-:-
Anasir dalam dirinya mengacau dan mendoktrinnya pada sebuah paradigma, bahwa 'janganlah berpura-pura baik-baik saja jika kau terluka, sesekali memberontak tak mengapa. Kau harus berani mengutarakan hal-hal yang tak kausuka dan mengganggu. Sebab jika tidak begitu, manusia lain akan memperlakukanmu dengan cara yang sama terus-menerus. It's okay, ngamuk atau marah saja andai sudah tak tahan.'
Berulang kali Leona membenarkan filsafat yang merongrong jiwa. Selain gregetan pada suami yang kelewat apatis, faktor hormonal yang sejak sore melilit perutnya seperti diris-iris juga sukses memenggal inteligensi hingga musnah tak terdeteksi. Namun Leona tidak malu atau bahkan menyesali serangan dadakannya tadi. Sejujurnya dia bukan penganut wanita paling benar, hanya saja ketidakacuhan Felix itu sangat intoleran.
Bermenit-menit lalu ia telah terjaga dari tidur ayam. Selimut tebal masih mengubur seluruh badan tanpa terkecuali. Selain dismenore yang menyerang beringas, kedinginan yang condong hipotermia sering dia alami. Pembalut herbalnya pun tak terbawa. Ibarat orang sekarat, ia berpasrah saja menikmati detik-detik menuju kematian. Namun detik ini, ia menangkap suara langkah kaki, dan berlanjut gerakan menowel-nowel lengannya yang terlapisi.
“Hei, bangun. Sudah kusiapkan menu sehat untukmu. Bukankah kau belum makan malam?”
Leona mendelik, mengatur suasana wajah demi terlihat bengis. “Jangan pedulikan aku. Jangan bicara padaku. Sana pergi!”
Samar, Felix terhenyak. Mulanya dia terusik menyaksikan rona pasi istrinya. Tetapi mendengar gadis itu bicara lantang, kebingungannya pun sirna. Dia langsung berdiri. “Okay,” putusnya. Tanpa berlama-lama berada satu yurisdiksi dengan istri, dia melenggang pergi. Hilang sudah rasa empati.
Masih terduduk di atas ranjang, Leona melongo. Jadi, hanya begitu? Tidak ada bujuk-membujuk? Kegundahan merebut sebagian diri yang berapi. Lembar eksamen yang sudah disusun rapi ternyata tak berarti. Dia yang menguji, mengapa pula dia yang merasa diuji?
Bersekon-sekon Leona menanti, hingga satu jam kemudian sang suami tak jua kembali. Leona bertanya-tanya, seberat ini kah menikahi lelaki tambatan hati? Merasa sudah keterlaluan, dia lantas bangkit, membuang selimut ke lantai. Derap langkahnya mengalahkan pasukan tentara. Tegas dan sadis, itulah arti tatapannya. Laser biru itu menyambar ke segala arah, mengais posisi suaminya yang tahu-tahu berbaring telentang di sofa dengan pongah.
“Felix.”
Kepala Felix yang tadinya miring menonton acara TV, spontan teralih pada gadis yang berdiri di dekat kaki.
__ADS_1
“Felix.”
Yang merasa terpanggil hanya melempar pandang tanpa bersuara. Leona semakin marah saja.
“Aku memanggilmu tahu, kenapa kau tidak menjawab?”
Pria itu mengangkat punggung. “Kau melarangku bicara, apa aku salah?”
Leona mencebik. Baru mengingat pasal perintahnya tadi. “Sekarang kau boleh bicara.”
“Okay.”
Hentakan kaki bergema. Gadis itu mendarat, duduk berhadapan-hadapan. “Kau tidak ingin mengatakan hal lain padaku?” melasnya. Mengetes peruntungan. Kadang-kadang Leona berdoa agar kepala Felix terbentur saja, lalu amnesia. Seperti halnya pada novel-novel atau drama. Seumpama itu benar terjadi, Leona akan mengerahkan tenaga untuk memanipulasi.
“Hm?” Felix tampak berpikir. Membongkar isi kepala, mencari kamus setebal buku novel Miss Marple Agatha yang sialnya tidak ketemu. Dari pada resah mengorek sesuatu yang gaib, maka dia memakai opsi terakhir yang paling mudah. “Makanlah. Lapar membuatmu marah-marah, jadi makanlah supaya kau tenang.”
Zonk! Tak sesuai gambaran, Leona cemberut, memandang malas pada suaminya yang mengekspos wajah andalan, poker face.
“Apa aku salah lagi?” tanya Felix.
Gadis itu mengedikkan bahu, tidak pula membenarkan. Laksana dejavu, Felix ditinggalkan begitu saja seperti peristiwa senja lalu. Aksi istrinya itu pun memacu serpihan-serpihan memori mengorbit kepala. Felix merasa terhidayah saat itu juga. Secepat kilat, dia menjejaki langkah istrinya. Bukan karena Timothy yang bilang, tapi sudah sepantasnya dia mengecilkan ego. Jika merenungkan lagi kewajiban suami adalah membimbing dan mengayomi, maka sekarang waktu paling tepat untuk mengimplementasi.
“I'm sorry.”
Leona tak melanjutkan langkah. Dia seolah-olah mandek, beserta dunianya yang huru-hara. Entah, pada menit ke berapa, dia mengenyahkan jarak antara mereka. Matanya berbinar, tapi juga bimbang, siapa tahu dia salah dengar. “Huh? I didn’t quite hear what you said.”
Untuk pertama kali, Felix menerobos lensa biru istrinya. Dia tak berkedip. “Aku minta maaf. Maaf tidak sengaja melukaimu tadi sore,” ungkapnya walau setengah hati. Pada dasarnya meminta maaf adalah tindakan paling benar, terlepas dari benar-benar salah atau tidak.
Si gadis mengulum bibir, menekannya agar tak timbul senyum. Padahal dia sudah girang bukan kepalang. “Aku akan memberimu maaf. Tapi kau harus memenuhi satu permintaanku.”
Ciri khas Leona yang mendarah daging; pamrih. Felix sudah maklum, bahkan sejak gadis itu secara terang-terangan mendesaknya untuk menikahi. Demi menghindari kediktatoran, juga menolak adanya perang dunia berkelanjutan dan membikin pusing, Felix mengambil jalan damai saja. “Okay. What do you want?”
__ADS_1
Leona segera menabrak tubuh Felix tanpa aba-aba. Setan yang bersemayam di tubuhnya mendadak menyingkir semua. Dua tangannya lantas melingkari pinggang, lalu memeluknya erat. Felix tercenung. Pikiran kotornya seketika melayang-layang di kepala begitu merasakan bulatan empuk membentur tubuhnya. Terlebih ketika gadis itu menggenggam lengannya, berjinjit, kemudian membisiki telinga yang justru nyasar di tengkuk lehernya. Tanpa dia sadari, makhluk itu tiba-tiba mencuat.
Benar kata Timothy, dia sangat sensitif.