LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 11


__ADS_3

"maaf bu,  kita mau kemana? ". tanya supir taxi yang dari tadi melihat tasya terdiam



"ohh maaf pak,  kita ke jalan Mawar saja".



"baik bu".



sepanjang jalan tasya hanya terdiam dan terus mengelus perutnya yang besar. tasya mulai merasa sakit perut dan gemetar.



kenapa tiba-tiba perutku sakit, badanku juga gemetar. aduhhh semakin sakit.  gumam tasya



10 menit kemudian tasya tiba disebuah rumah kontrakan kecil di ujung gang.



took tokk tokk



"siapa". terdengar suara seorang cewek dirumah kontrakkan tersebut



"aku tasya,  monic tolong buka pintunya". tasya teruss merintih kesakitan



"tasya,  yaa ampun kamu kenapa?  kenap ada darah.  kamu hamil? ". monica tidak tahu kalau tasya sudah menikah



"monic,  tolong bantu aku kerumah sakit".



"baiklah, aku akan menolongmu".



monic membawa tasya kerumah sakit terdekat.  monic masih penasaran apa yang terjadi pada tasya sebenarnya.



aku harus membawanya kerumah sakit dulu. setelah keadaan membaik baru aku tanyakkan pada dia apa yang terjadi. ucap monica dalam hati



****



rumah sakit....



"suster tolong bantu teman saya".



tasya teriak memanggil suster rumah sakit. tasya cepat-cepat dibawa keruang IGD karena mengalami pendarahan hebat.



"maaf bu, anda tidak boleh masuk, mohon tunggu di luar". ucap seorang suster



"baiklah".



monica terus mondar-mandir didepan IGD.  monica binggung harus menghubungi siapa?.  karena monica tidak mengenal satupun keluarga tasya.



ruangan IGD...



"mana pasiennya?  apa yang terjadi. " ucap seorang dokter yang baru tiba



"ini dok, dia hamil dan mengalami pendarahan".



benar saja,  dokter itu adalah Daniel sahabat hans.  Daniel terkejut melihat tasya sudah tidak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah.



"periksa tekanan darah nya dan hentikan pendarahannya. kita selamatkan ibu dan bayinya".



"baik dokter".



Daniel dan para suster berusaha menyelamatkan tasya dan bayinya. sekitar 2 jam Daniel memeriksa tasya. Daniel berjalan keluar ruangan IGD dan monic menghampirinya.



"gimana dokter keadaan teman saya". monica yang terlihat panik



"dimana suaminya? ".



"suami?  maksud dokter.  saya yang membawa tasya kemari".



"baiklah, keadaannya sudah membaik, dia sedang istirahat".



"bolehkah saya masuk dok? ".



" yaa silakan".



monica masuk keruangan untuk melihat tasya. sedangkan Daniel masih berfikir keras apa yang terjadi antara tasya dan hans. pada akhirnya Daniel menelfon hans.



"tasya, kamu baik-baik saja". monic memegang tangan tasya.



"aku baik-baik saja monic. terima kasih telah menolongku".



"kamu ini bicara apa tasya, sebagai teman aku harus menolongmu".



tasya sangat bersyukur karena memiliki sahabat seperti monic yang selalu membantunya.



"monic, aku tau kamu ingin bertanya kenapa aku bisa hamilkan? ".



tasya melihat wajah monic yang heran dan penasaran dengan kondisinya.



"iyaa tasya, ada apa sebenarnya".kali ini monic memberanikan diri untuk bertanya.



"monic, aku.....". tasya menangis, dia masih teringat peristiwa dikantor hans.



"tasya kenapa kamu menangis, kalau sulit untuk kamu ceritakan tidak apa-apa".



"tidak monic, sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu tapi aku tidak mempunyai waktu yang tepat".



"aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya. aku akan menunggu sampai kamu siap tasya".



"terima kasih monic, kamu sudah mengertiin aku".



disisi lain hans pada saat itu masih mencari tasya dan menerima telfon dari Daniel.



" hallo". hans menjawab telfon dari daniel



"kamu dimana hans.  kenapa kamu biarin istri kamu datang kerumah sakit sendiri dalam keadaan kritis". Daniel sedikit melebih-lebihkan keadaan tasya



"maksud kamu apa niel,  tasya ada dirumah sakit? apa yang terjadi".



"buruan kamu datang kemari". Daniel langsung menutup telfonnya



"ha.. hallo Daniel".



tanpa berfikir lagi hans memutar balik mobilnya dan langsung menuju rumah sakit.



hans tiba dirumah sakit, dia terus berlari mencari Daniel.



" hans". Daniel melampaikan tangannya tepat berdiri di depan ruangan Tasya



"dimana tasya niel?  gimana keadaan dia? ". hans terengah-engah karena berlari



"kamu tenang dulu,  tasya sedang istirahat didalam.  dia tadi mengalami pendarahan, syukur dia dan bayinya selamat. temannya yang membawa kemari".



"syukurlah dia baik-baik saja.  aku dari tadi pergi mencari dia.  terjadi kesalahpahaman antara kami. "



"y uda,  buruan kamu lihat dia.  tapi ingat,  jangan buat dia tertekan atau stres.  kondisi kehamilan dia sangat lemah".

__ADS_1



"baiklah,  aku ngerti".



hans pelan-pelan membuka pintu ruangan,  hans melihat tasya istirahat dan ditemani oleh seorang wanita. tapi hans tidak mengenali nya. 



"maaf mengganggu". hans berjalan masuk



"kamu siapa? ". monica terlihat heran,  melihat seorang pria masuk, tinggi, putih dan tampan.



"aku suaminya tasya".



"apa ? bagaimana bisa tasya sudah menikah".



"ceritanya panjang,  nanti akan aku jelaskan.  aku ingin melihat tasya".



"siapapun kamu, mau suami tasya atau bukan,  bagaimana kamu bisa membuat istrimu terluka dan datang padaku dalam keadaan penuh dengan darah". monic sedikit kesal



"iya aku salah, aku akan menjelaskan semuanya pada tasya. bisakah memberikan waktu kami untuk berdua".



monic melihat kearah tasya, dan tasya menganggukkan kepalanya.



"baiklah, aku akan keluar, tasya jaga diri kamu ya, aku menunggu diluar".



"iyaa monic".



monica meninggalkan tasya bersama hans.  hans terus menatap wajah istrinya, begitu banyak rasa penyesalan dihati hans. hans memegang tangan tasya dan menciumnya.



"sayang,  maafkan aku. aku telah menyakitimu lagi, telah membuat kamu dan anak kita menderita".



hans menangis dan airmata nya jatuh membasahi tangan tasya.



"hans". tasya memanggil hans dengan suara yang lemah



"sayang, kamu baik-baik aja kan,maafkan aku".



"kamu kenapa bisa datang kemari?".



"maafkan aku tasya.  aku telah membuat kamu terluka".



tasya menangis mengingat apa yang dia lihat di kantor hans.



"aku baik-baik aja hans, aku hanya ingin sendiri".



"tasya, maafkan aku.  aku akan jelaskan semuanya. itu semua salah paham". hans terus memohon pada tasya



"aku masih berusaha percaya padamu hans. tapi itu semua terlalu sakit buat aku" .



"aku mengerti tasya. aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi ".



tasya tidak bisa untuk membenci hans.  dari awal tasya sudah menetapkan hatinya  untuk hans. tasya memeluk erat hans, Wangi aroma tubuh hans dan hangatnya pelukkan hans membuat tasya semakin nyaman.



"aku sayang kamu hans dan juga anak kita".



"aku akan jaga kalian berdua sayang". mereka masih berpelukkan dan menangis bersama.



aku sayang kamu hans, sungguh aku mencintaimu. jangan pernah tinggalkan aku hans.



seketika tasya melupakan kejadian yang dia lihat, tasya percaya dengan hans bahwa itu semua adalah salah paham dan hans tidak mungkin mengkhianati dia dan anaknya.



tasya yang menangis dipelukkan hans dan hans seraya mengucapkan kata maaf karena telah membuatnya menangis.




"iya hans,  aku sudah memaafkan kamu".jawab tasya yang telah menangis terisak-isak.



setelah mereka berdua menyelesaikan salah paham, tasya ingin mengenalkan hans ada monic sahabatnya yang selama ini membantunya.



"aku ingin mengenalkan kamu dengan monica sahabatku".



"ohh iya,  perempuan tadi sahabat kamu".



"iya, dia yang selalu membantu aku selama ini, dan sekarang aku akan memberitahu dia kalau aku sudah menikah".



"baiklah sayang".



setelah itu tasya memanggil monic untuk masuk.



"sudah selesai kalian bicaranya, tasya apa yang terjadi, kamu menangis lagi". monic terkejut melihat mata tasya yang sebab karena terus menangis.



"aku baik-baik aja monic".



"apa yang kamu lakukan pada tasya, kenapa kamu membuat tasya menangis". monic marah-marah pada hans karena  telah membuat sahabatnya menangis.



"a... aku...". hans terkejut karena monic tiba-tiba marah padanya.



"sabar monic jangan marah-marah. dia suamiku, hans".



"apa?  kamu beneran sudah menikah". monic terkejut mendengar ucapan tasya.



"iyaa monic, makanya.....?.



"sejak kapan kamu menikah?  kenapa tidak memberitahukan aku?  dan siapa suami kamu?".



"maaf monic, aku menyembunyikan ini semua dari kamu, ceritanya panjang monic".



"tidak masalah, aku siap mendengarkannya. ayo ceritakan padaku". monic yang begitu penasaran dan tidak sabar untuk mendengar tasya bercerita.



"baiklah monic".



tasya bercerita tentang pernikahannya dengan hans, saat pertama kali mereka bertemu hingga mereka bisa menikah. hans  duduk disamping tasya ikut mendengarkannya.



"oh jadi begitu ceritanya. aku jadi mengerti


kenapa kamu menyembunyikannya dariku".



"baiklah, karena tasya sudah menceritaknnya, aku akan kenalkan diriku.  nama ku hans, aku bekerja di perusahan Buildings group".



"apa Buildings group?  kamu karyawan disana". monic merasa kagum, karena untuk bekerja diperusahaan itu tidak mudah, bahkan monic sudah 3 kali gagal untuk bekerja disana.



"wahh kamu hebat tasya, punya suami yang bekerja diperusahaan besar seperti itu".



"bukan monic, dia bukan karyawan tapi CEO perusahaan itu".



" oohh CEO. apa CEO?". kali ini monic benar-benar terkejut.



hans dan tasya yang melihat tingkah monic hanya bisa tersemyum. tasya merasa terhibur dengan adanya monic, karena monic seorang gadis yang selalu ceria bisa memberikan energi positif bagi orang-orang sekitarnya.



jam menunjukkan larut malam, monic beranjak pergi untuk pulang karena dia harus mulai bekerja besok.  sedangkan hans masih terus Setia menunggu tasya.



"hans, lebih baik kamu pulang juga, kamu juga butuh istirahat".


__ADS_1


"tidak sayang, aku tidak lelah dan aku akan tetap disini". Hans mengelus-elus perut tasya.



" tapi kamu belum ganti pakaian".



"tenang, aku sudah meminta raka untuk membelikanku beberapa pakaian".



tidak lama kemudian raka datang membawa beberapa pakaian dan makanan untuk hans dan tasya.



"hai tasya, gimana keadaan kamu".



"aku baik-baik aja raka".



"ini aku bawakan makanan agar kamu kuat kedepannya menghadapi hans".



"maksud kamu apa ". hans memukul raka dengan candaan.



"lihat itu, suami kamu emosian mulu". raka  menggoda hans didepan tasya.



tasya yang melihat tingkah raka dan hans hanya bisa tertawa. 



"udah, buruan pergi sana kamu". hans mendorong raka keluar ruangan tasya.



beberapa saat kemudian hans,melihat tasya tertidur dan hans menyelimuti tasya agar tidak kedinginan.



baru aku sadari, betapa berharganya kamu dan betapa percayanya kamu kepadaku. kali ini aku benar-benar janji tidak akan menyakiti kamu lagi.



pagi hari....



saat hans bersiap dengan pakaian kantornya, tasya terbangun dan menanyakan kemana hans akan pergi.



"kamu mau kemana hans?". ucap tasya



"pagi ini aku ada rapat sayang, maaf aku tidak bisa menemani kamu hari ini".



"iya hans, tidak apa-apa. aku bisa sendiri kok".



"tidak sayang, kamu tidak boleh sendirian. aku sudah menelfon bik ijah buat temeni kamu".



"iya hans".



"ya sudah, aku berangkat dulu ya sayang. jaga diri kamu dan anak kita". hans memeluk dan mencium bibir tasya.



saat Hans ingin meninggalkan tasya, tiba-tiba hans membalikkan badan dan mencium tasya lagi, melihat kelakuan hans,tasya hanya tersenyum.



tidak lama kemudian bik ijah datang dengan membawa berbagai macam barang seperti akan pindah rumah.



"pagi non tasya". ucap bik ijah dengan kedua tangannya membawa beberapa kantong plastik.



"pagi juga bik, ya ampun bik, itu apa banyak banget". tasya terheran-heran melihat tumpukkan kantong plastik.



"ini titipan tuan semua non. tuan menyuruh bibik bawa ini semua".



bik ijah mengeluarkan semua isi kantong plastik tersebut sehingga penuh diatas meja.



"selamat pagi tasya, bik ijah". Daniel datang untuk memeriksa kesehatan tasya.



"pagi juga dokter". bik ijah dan tasya serentak menjawab ucapan salam Daniel.



"gimana tasya, apa kamu sudah merasa baikkan".



"sudah dokter, aku sudah sehat".



"hei panggil aja aku Daniel. tidak ada masalah lagi dengan kondisi kamu, kemungkinan besok sudah bisa pulang".



"terima kasih Daniel". tasya bahagi karena kesehatannya mulai membaik.



"ah yang penting jaga makanannya, harus makan yang bergizi". pesan Daniel kepada tasya sebelum dia pergi meninggalkan ruangan tasya.



setelah tasya menerima pemeriksaan,tasya mengajak bik ijah jalan-jalan ketaman sekitar rumah sakit.tasya yang duduk dikursi roda,menikmati pemandangan taman yang penuh dengan pengunjung dan pasien.



"Indah sekali ya bik taman ini, banyak pohon dan bunga". tasya mengelilingi taman sekitar dengan kursi rodanya.



"iya non, udara disini juga segar". jawab bik ijah yang juga ikut menikmati pemandangan taman.



saat tasya sedang menikmati pemandangan taman, tiba-tiba ada seorang anak kecil perempuan yang berlari dan tidak sengaja menabrak tasya.



"aaagghhh".anak perempuan tersebut mejerit kesakitan.



"ya ampun, kamu tidak apa-apa sayang". tasya membantu anak perempuan itu untuk bangun.



"maafkan anak saya, dia tidak sengaja". ucap seorang wanita yang datang mengambil anak itu.



"ohh iyaa tidak apa-apa buk, lain kali hati-hati ya sayang". tasya tersenyum melihat anak perempuan itu, karena dia berharap anaknya akan tumbuh cantik dan ceria seperti anak-anak lainnya.



"anak perempuan itu cantik ya non,  mudah-mudahan anak non nantik perempuan juga".



"iyaa bik".



tasya dan bik ijah sedang asik mengobrol, ada seorang wanita yang memanggil tasya.



"tasya". wanita itu adalah Nadia, dia datang dengan membawa sekeranjang buah.



"nadia?  ada apa kamu kemari dan bagaimana kamu tahu aku ada disini". tasya heran dengan kedatangan Nadia yang tiba-tiba.



"kenapa?  aku tidak boleh datang dan main kerumah sakit papaku dan kebetulan aku melihatmu ada disini".



rumah sakit itu adalah milik papa Nadia, keluarga Nadia termasuk orang penting dikota tersebut.



"maaf non Nadia, non tasya butuh istirahat ". bik ijah cepat-cepat mendorong kursi roda tasya pergi dari taman itu.



"eeiittt tunggu dulu bik ijah". tasya menghentikan laju kursi roda tasya.



"ada apa non".



"woow cepat sekali ya bik ijah beralih ke nyonya baru".



"maksud kamu apa Nadia, aku tidak pernah mengganggu kamu, kenapa kamu terus menganggu aku".



"sabar non, non belum pulih kesehatannya". bik ijah mencegah agar tasya tidak terbawa emosi karena Nadia.



"kamu telah merebut hans dari aku, dan aku tidak akan pernah diam melihat kamu terus bersamanya".



"lalu aku harus gimana Nadia, aku harus mengikuti kemauan kamu untuk ninggali hans.  gak akan dan gak akan pernah, kamu dengar itu".



Nadia semakin emosi mendengar ucapan tasya yang semakin berani, semua rencananya tidak berhasil untuk membuat tasya menjauh dari hans.



Nadia yang begitu benci melihat hans bersama tasya, Nadia tidak terima jika hans bersama wanita lain. karena Nadia sangat yakin kalau hans masih mencintainya.



__ADS_1


__ADS_2