LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 16


__ADS_3

tasya dan Hans kembali menuju rumah, tapi ditengah jalan tasya melihat ada sebuah pasar malam. saat melihat itu tasya teringat akan kenangannya dulu bersama teman-temannya yang sering mengunjungi pasar malam.



"sayang, coba kamu lihat itu". tasya menunjukkan kerumunan orang-orang yang berada dipasar malam tepat disisi kirinya.



"oh itukan pasar malam sayang".



"aku mau kesitu hans".



"apa?. ini sudah malam sayang sudah jam 22:30 malam". hans melihat jam tangannya.



"sebentar saja hans. please". tasya memohon kepada hans.



semenjak tasya hamil, hans tidak bisa menolak apa yang tasya inginkan, hans selalu menuruti permintaan tasya.



"oke, baiklah sayang". hans memutar balik mobilnya dan berhenti untuk memakirkan nya.



mata tasya terlihat berbinar-binar melihat pasar malam, tasya begitu bahagia mengetahui bahwa dirinya dapat datang lagi ke acara sederhana seperti itu.



"sayang, lihat biang lala itu, aku ingin menaikinya".



"jangan sayang, kamu lagi hamil". hans menarik tangan tasya.



"aku sudah lama tidak naik biang lala itu hans. sekali aja ya ". tasya memohon pada hans.



"tidak sayang, itu sangat berbahaya bagi kamu dan anak kita". hans memperingatkan tasya.



"ini gak boleh, itu gak boleh". tasya ngambek kepada hans dan memalingkan wajahnya.



"aku melarang karena itu memang bahaya buat kamu yang lagi hamil".



"ya sudah, kalau begitu kamu saja yang naik, biar aku tunggu kamu dibawah". tasya mengedipkan kedua matanya pada hans.



"a.. aku".



"iya sayang, mau ya. demi anak kita". tasya mengelus perutnya.



"baiklah". hans menghela nafas panjang dan menuruti atas permintaan istrinya.



hans pergi membeli tiket dan mengantri menunggu giliran untuk menaiki biang lala.



"sayang, selamat bersenang-senang ". tasya meneriaki semangat untuk hans dan hans menjawab dengan melambaikan tangan dan senyuman pasrah.



hans mulai menaiki biang lala, disetiap ruang biang lala diisi oleh beberapa orang tetapi hans hanya sendiri menaikinya.



setelah 3 kali putaran, hans turun dari biang lala, wajah tasya tampak bahagia melihat suaminya menaiki biang lala itu.



"gimana sayang, serukan". ucap tasya yang memeluk hans.



"hehe iya sayang seru". hans tersenyum dengan wajah pasrah.



tasya mengajak hans mengelilingi pasar malam, membeli makanan dan menaiki wahana-wahana lainya.



"sayang coba pakai ini". tasya memakaikan bando kelinci pada hans.



hans hanya berdiri pasrah dan terima saja apa yang istrinya lakukan.



"sayang, kita beli ini ya". tasya menunjukkan topi beruang yang imut.



"sayang, aku mau makan jagung bakar".



"sayang, belikan aku baju itu, lucu banget".



"sayang, coba kamu naik kora-kora itu".



"sayang, ayo kita coba melukis".



apa yang tasya lihat, semuanya ingin dia coba dan beli. hans terlihat lelah dan mengantuk tapi dia mencoba baik-baik saja didepan istrinya.  walaupun lelah hans masih terlihat keren dengan celana jeans, t-shirt putih dan sepatunya.



"sayang, apa kamu tidak lelah. kita pulang saja yuk". hans mencoba bernegosiasi dengan tasya.



"tidak sayang, aku belum lelah. masih banyak yang belum kita lihat".



"sayang, sudah jam 23:45 malam. besok aku harus ke kantor".



mendengar ucapan hans, tasya langsung berhenti dan menarik tangan hans menuju mobil.



"sayang, tunggu pelan-pelan. kita mau kemana? ".



"bukannya kamu tadi mau pulang, kamu lelahkan, besok kamu harus kerja. ayo kita pulang".



sepanjang jalan tasya hanya terdiam dan menatap keluar jendela mobil.



" sayang, kenapa diam saja. bukanya kamu senang sudah bermain di pasar malam".hans mengelus kepala tasya.



tasya masih saja diam, tidak menghiraukan hans yang mengajaknya berbicara.



"sayang, kamu marah ya sama aku karena aku sibuk ngajak kamu pulang".



"udah tau pakai tanya lagi". tasya menjawab dengan nada jutek.



"maafkan aku sayang, tapi kamu juga butuh istirahat".



"tau ah". tasya cemberut dan memalingkan wajahnya.



"huuuffffftt". hans menarik nafas dalam-dalam menghadapi mood istrinya yang berubah-ubah.



"ternyata lebih sulit memahami hati wanita yang sedang hamil dari pada bernegosiasi dengan klien".



"sayang, kita sudah sampai. ayo bangun". hans membangunkan tasya yang tertidur.



"sayang, ayo dong bangun. aku gak kuat gendong kamu, badan kamu sudah semakin besar". ucap hans yang bercandain tasya.



tasya langsung bangun mendengar ucapan hans dan memukulnya.



"agghh sakit sayang". hans memegang bahunya yang dipukul tasya dan tersenyum kearah tasya yang berjalan masuk kedalam apartemen.



tasya terduduk disofa, dia merasa letih dan kakinya terasa sakit. tasya memijat kedua kakinya yang terlihat bengkak.



tasya merintih kesakitan saat dia memijat kakinya. tasya sedikit takut melihat kakinya yang membesar.



"sayang, kenapa kaki kamu?". hans panik melihat kaki Tasya yang bengkak.



"aku tidak tahu hans". tasya terus memijat kakinya karena terasa letih.



"aku panggil dokter ya". hans cepat-cepat menelfon Daniel.

__ADS_1



"halo Daniel, kamu dimana? ".



"aku lagi di luar kota, ada apa menelfonku tengah malam begini? ".



"kaki tasya membengkak, apa perlu aku bawa ke rumah sakit". hans terlihat gugup dan panik".



"kamu tenang dulu hans, jangan terlalu panik.  bengkak pada ibu hamil itu wajar, yang disebabkan karena terlalu banyak jalan atau berdiri, terlalu  banyak  beraktivitas ".



"jadi apa yang harus aku lakukan".



"untuk sementara, cukup hindari makan makanan yang mengandung garam, harus rutin olah raga, dan saat tidur coba ganjal kaki dengan bantal agar sirkulasinya berjalan lancar".



"oke oke Daniel, thanks ya". hans mematikan telfonnya.



"kamu udah dengarkan sayang, apa yang Daniel bilang. kaki kamu ini karena kebanyakan beraktivitas, kebanyakan jalan".



"iya iya aku tau". tasya menyadari kesalahannya.



"ya udah, kamu bersihkan diri dulu setelah itu istirahat".



hans membantu tasya yang kesulitan untuk berjalan. tasya pergi membersihkan dirinya, sedangkan hans membereskan ranjang agar tasya nyaman saat tidur.



"sudah selesai sayang, ayo sini tidur". tasya datang menuju ranjang.



"kaki aku tidak bisa diangkat naik".



"pelan-pelan aja sayang, sini aku bantu. letakkan kakinya disini ya". hans membantu meletakkan kaki tasya diatas bantal.



"hmm iya".



"istirahat ya sayang, selamat malam". hans mencium kening ,bibir dan perut tasya.



sepanjang malam Hans terjaga saat tidur, dia selalu bangun jika mendengar tasya merintih kesakitan pada kakinya.



****



pagi hari...



"selamat pagi sayang, selamat pagi juga anak papi". hans mengelus perut tasya yang besar.



pagi hari hans sudah siap dengan pakaian kantornya yang rapi dan Wangi. sebelum pergi Hans berpamitan kepada tasya yang masih terbaring di ranjangnya.



"kamu sudah mau pergi. aku buatkan sarapan dulu ya".



"gak usah sayang. bik ijah sudah buatkan sarapan untukku". hans menahan Tasya agar tidak banyak bergerak dan istirahat.



"hans, apa kamu pulang cepat hari ini'. 



"kenapa sayang?. sepertinya aku akan pulang terlambat".



"aku ingin ke dokter kandungan".



"harus hari ini ya". hans melihat agenda jadwal kerjanya hari ini.



"kalau pekerjaan kamu tidak bisa ditinggal, ya sudah tidak apa-apa. biar aku ditemani sama bik ijah saja".



"maafkan aku ya sayang, tidak bisa menemani kamu".




*****


rumah mama hans....



"Alexa, mau kemana kamu pagi-pagi begini". mama hans melihat Alexa bergegas ingin pergi.



"apa sih ma. aku hanya ingin keluar sebentar".



"belakangan ini kamu sering pergi tanpa memberitahukan mama dulu. jangan kamu kira mama tidak tahu kamu keluar bertemu siapa ya".



"apa salah aku bertemu teman-temanku".



"tidak ada yang salah kamu bertemu teman-teman kamu. tapi salah jika kamu bertemu nadia".



"a.. apa nadia? ". alexa nampak gugup.



"jangan kamu kira mama tidak lihat kamu bertemu dengannya dicaffe".



"apa ada yang salah ma, jika bertemu dengan dia. kami hanya berbincang-bincang saja". alexa mencoba mencari alasan.



"kamu tau sejahat apa nadia itu. kamu juga tau kan kalau dia selalu mengejar kakak kamu hans, dan dia juga uda nyakiti kakak kamu sampai kakak kamu itu berubah jadi kasar karena dia".



mama hans sangat mengerti apa yang di alami oleh hans, perubahan sikap hans beberapa tahun lalu karena merasa dikhianati oleh nadia, sehingga membuat mama hans sangat tidak menyukai nadia.



"ada apa sih ma, pagi-pagi begini sudah ribut". papa hans yang datang dari lantai atas.



"itu anak papa tidak bisa di bilang".



"loh kenapa aku. kan mama yang marah-marah gak jelas".



"kamu ya kalau di bilang orang tua suka melawan".



"sudah-sudah ,kenapa kalian selalu bertengkar. ini masih pagi, malu di dengar tetangga". papa hans mencoba menenangkan anak dan istrinya.



Alexa melanjutkan langkahnya untuk pergi keluar, sedangkan mamanya terlihat kesal karena alexa tidak mendengar kata-kata mamanya.



"kenapa mama bisa tau aku menjumpai nadia. biarlah, setidaknya mama hanya sekali mengetahuinya. kedepannya aku harus berhati-hati". Alexa pergi menaiki mobilnya.



"dasar anak.... ".



"ma,sudah cukup.alexa juga sudah pergi.mama jangan marah-marah mulu.ayo kita pergi sarapan". papa hans merangkul istrinya menuju meja makan.



***


Rumah sakit...



tasya tiba dirumah sakit  untuk memeriksakan kehamilannya.saat tasya sedang mendaftar,dia tidak sengaja menabrak seorang pria yang di depannya.



"maaf". tasya mengambil kertas yang jatuh dilantai.



"iya tidak apa-apa". jawab pria itu.



saat tasya melihat sosok pria yang dia kenal,


"pak roy".



"tasya?  kamu kenapa disini".


__ADS_1


ternyata pria itu adalah pak roy, boss toko roti tempat tasya bekerja dulu.



"saya ingin memeriksakan kehamilan,pak roy ada perlu apa disini".



"saya, mengambil hasil pemeriksaan kehamilan istri saya".



sudah lama mereka tidak bertemu, saat bertemu seperti itu,mereka menanyakan kabar satu sama lain dan bercerita tentang masa lalu saat masih bekerja di toko roti. tampak senyum dan tawa di wajah mereka berdua saat mengobrol.



di sudut ruangan ada seorang pria yang diam-diam memperhatikan mereka dan mengambil beberapa foto.



roy memperhatikan tasya yang selalu melihat ke arah sudut ruangan.


"ada apa tasya. kenapa kamu melihat ke arah sana".



"tidak apa-apa pak roy. saya merasa ada orang yang memperhatikan kita".



"rumah sakit ini kan ramai orang yang datang, mungkin itu hanya perasaan kamu saja".



setelah beberapa lama mereka mengobrol, tasya mendengar namanya di panggil untuk melakukan pemeriksaan.



"saya permisi dulu pak, sudah giliran saya masuk".



"oh iya silakan. ini kartu nama saya".



"ah iya pak roy terima kasih". tasya pergi masuk ke ruangan dokter.



selesai tasya melakukan pemeriksaan, tasya pergi ke apotik yang berada dirumah sakit itu untuk membeli beberapa obat. saat tasya sedang berjalan, tasya merasa ada yang mengikutinya di belakang.



tasya berhenti ,dan melihat ke belakang tapi tidak ada orang yang mengikutinya. sampai akhirnya tasya mempercepat jalannya dan bertemu dengan bik ijah yang menunggunya di mobil.



"non kenapa?  ada apa non". bik ijah melihat tasya yang jalan terburu-buru dengan nafas yang tidak teratur.



tasya cepat-cepat membuka pintu mobil,


"ayo bik cepat masuk, kita pulang sekarang".



tasya terlihat panik dan ketakutan, keringat bercucuran keluar dari dahinya. tasya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.



bik ijah memperhatikan tasya yang gelisah.


"non, ada apa non. kenapa non ketakutan seperti itu".



"tidak ada apa-apa bik. mang cepetan bawa mobilnya". tasya terlihat gugup.



"baik non". jawab mang ujang yang menambahkan kecepatan mobilnya.



setelah sampai dirumah, tasya cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar rapat-rapat.



"tidak mungkin itu orang yang dulu, sudah 5 tahun tidak mungkin orang itu bisa menemukanku". tasya mengambil selimut dan menutupi seluruh badannya.



tookk tookk...


karena panik, bik ijah mengetuk pintu kamar tasya yang tertutup.


"non, ini bibik. ada apa non? ".



tasya tidak menjawab panggilan bik ijah, rasa trauma yang tasya alami dulu sangat dalam sehingga dia merasa ketakutan.



"aku harus menghubungi tuan, takut terjadi apa-apa sama non tasya". bik ijah segera mengambil handphonenya dan menghubungi hans.



sudah berkali-kali bik ijah menghubungi hans tapi tidak ada jawaban. bik ijah semakin khawatir dan akhirnya bik ijah mencari kunci cadangan.



saat pintu kamar terbuka, bik ijah mendapatkan tasya sedang menutupi tubuhnya dengan selimut dan gemetar ketakutan.



"non, ini bibik". bik ijah pelan-pelan mendekati tasya.



tasya yang terkejut karena sentuhan tangan bik ijah.


"aghh tidak, jangan dekati aku".



"non, tenang ini bibik non". bik ijah berupaya menenangkan tasya yang ketakutan.



"bibik... ". tasya menangis dan memeluk bik ijah.



"ada apa non, kenapa non sangat ketakutan".



"bik, tadi di rumah sakit ada yang memperhatikanku dan mengikuti ku bik.  aku takut bik".



"siapa non?  non gak di apa-apain kan".



"aku gak tau bik". tasya terus menangis dan memeluk bik ijah sangat erat.



"sudah non, jang takut disini ada bibik dan mang ujang yang jagain non".



bik ijah membuatkan segelas teh hangat untuk menenangkan tasya. bik ijah kembali menghubungi hans tapi hans tidak menjawab juga.



"aduh, kemana tuan. aku takut terjadi apa-apa sama non tasya". bik ijah mencari nomor telfon orang-orang kantor yang dapat di hubungi.



"non tasya sepertinya mengalami trauma yang berat, dia sampai tidak bisa mengontrol rasa takutnya".



***



Perusahaan ....



tampak raka yang sedang sibuk membagikan beberapa dokumen kepada orang-orang yang hadir dalam meeting.



"silahkan bapak ibu periksa kembali dokumen yang telah saya bagikan, itu merupakan hasil akhir sebelum kita benar-benar dalam proses pembangunan". hans sedikit menjelaskan sebuah data proyek.



"bagaimana kita bisa membahas masalah ini jika perwakilan dari One group tidak hadir". ucap salah seorang yang hadir dalam meeting.



hans melihat ke arah raka dan raka mengangkat bahunya.



"maaf semuanya, mungkin ibu nadia sedikit terlambat.



di luar ruang meeting ,terlihat sekretaris Hans menunggu dengan membawa sebuah Handphone milik hans.



nadia yang melihatnya langsung menegur,


"kamu ngapain ke sini".



"oh ibu nadia, selamat siang ibu.  ini saya ingin memberikan Handphone pak hans".



"ada apa? ".  nadia sedikit penasaran.



" pak hans dapat telfon dari apartemennya, kalau istri pak hans sakit".



"apa istrinya sakit. oke biar aku saja yang sampaikan".



"baik buk. terima kasih".



"bagaimana bisa aku memberitahukan hans masalah itu. bukan kah itu lebih Bagus jika hans tidak tahu". nadia tersenyum dengan niatan jahatnya.


__ADS_1



__ADS_2