LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episide 14


__ADS_3

Satu bulan kemudian...



Usia kehamilan tasya semakin bertambah, kini menginjak usia 6 bulan, perut tasya terlihat semakin besar dan tasya semakin kesusahan untuk beraktivitas.



bahkan untuk sekedar jalan saja tasya sudah tidak sanggup lama-lama. setiap pagi tasya selalu jalan mengelilingi sekitar dalam rumahnya agar peredaran darahnya.



"sayang aku kira kamu kemana, tiba-tiba sudah tidak ada disampingku". hans yang terbangun dengan rambut yang acak-acakan dan baju tidur yang lusuh.



"aku sedang berolahraga". kaki tasya terus mengelilingi sekitar rumah.



tasya merasa lelah, wajahnya penuh dengan keringat dan kakinya terasa sakit, tasya memutuskan untuk berhenti dan duduk disofa.



"udah sayang, kalau capek jangan dipaksakan". hans datang dengan segelas air putih untuk tasya.



"kapan kamu ada waktu hans, temani aku ke dokter kandungan lagi".



"hari ini aku ada rapat sayang, mungkin besok aku bisa temani kamu".



"janji kamu ya".



"iyaa sayang, aku janji".



"kamu mau sarapan apa, biar aku buatkan, sepertinya bik ijah terlambat datang". melihat jam dinding menunjukkan pukul 06:30 pagi.



"roti dan susu aja, aku akan bersiap-siap dulu". hans bergerak menuju kamar.



tasya menyiapkan sarapan pagi untuk hans, yaitu roti isi selai kacang dan susu putih hangat kesukaan hans. tasya begitu semangat menyajikan makanan untuk suaminya itu.



"maaf non, bibik telat". bik ijah yang baru datang dengan beberapa kantong sayuran.



"iya bik tidak apa-apa".



"biar bibik aja yang buat sarapannya non".



"gak usah bik, lagian uda selesai kok, bibik lakukan yang lain saja".



"baik non".



hans keluar dengan pakaian jas hitamnya dan dasi berwarna darkblue. hans tampak menawan mengenakan jas yang dibelikan oleh tasya sebagai hadiah.



"ini sarapannya sayang". ucap tasya sembari menyajikan roti kepiting untuk hans.



"wow makasih sayang sarapannya". hans begitu lahap memakan roti buatan istrinya itu.



"aku hari ini boleh pergi menemui monica".



"jangan, kamu dirumah aja istirahat".



"please sayang, kali ini aja ya.  aku sudah lama tidak bertemu monic". tasya memohon agar diberi izin oleh hans.



"hmm iya oke, tapi kamu harus ditemani sama mang ujang dan bik ijah ya".



"oke baiklah". tanpa membantah tasya menerima syarat dari hans.



"bik tolong temani tasya keluar ya, dan tolong jagain tasya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku".



"baik tuan".



"sayang, aku berangkat dulu ya, nanti kamu hati-hati kalau keluar jaga diri kamu dan juga anak kita". hans melakukan ritual paginya



"iya sayang, kamu bawel banget sih". tasya sedikit merapikan dasi hans sebelum berangkat ke kantor.



setelah hans pergi, tasya membereskan piring yang ada diatas meja makan dan menaruhnya di wastafel.



"non, biar bibik aja. jangan non beresin".



"tidak apa-apa bik.  oya bik kita perginya jam 10 ya, tolong bilang sama mang ujang untuk siapkan mobil".



"baik non".



****


Perusahaan...



hans tiba diperusahaan seperti biasa, wajah hans yang keren, berbadan tinggi putih dan memiliki kulit putih banyak dikagumi oleh wanita, bahkan karyawan kantor pun banyak yang menyukai hans.



"coba lihat pak hans, makin keren aja dia". ucap salah satu karyawan yang berjalan dibelakang hans.



"iya bener banget, aku jadi ingin mendekati pak hans".



"ihh kamu gak lihat ada buk Nadia yang selalu ada disamping pak hans, mau kamu jadi korban buk Nadia yang selanjutnya".



banyak rumor yang beredar diperusahaan ,siapa yang berani menggoda hans maka dia akan mengalami masalah dan berakhir di pecat dari perusahaan. sejak ada rumor itu para karyawan wanita tidak berani terang-terangan dalam menyukai hans.



"tapi pak hans, begitu menggoda, keren, kaya. wah luar biasa deh pak hans itu".



"keren mana sama saya, kaya mana sama saya". tiba-tiba raka mengejutkan karyawan yang sedang bergosip itu.



"aa.. pak raka, pagi pak. ". mereka berdua terkejut melihat raka berada dibelakang dan mendengarkan ucapan mereka.



"lain kali jangan menggoda hans saja, saya juga mau kalau kalian goda". ucap raka



"ma.. maaf pak". para karyawan pergi meninggalkan raka.



raka yang melihat hans berjalan didepannya langsung berlari dan memanggilnya.



"hans, tunggu".



" apaan sih,  pagi-pagi udah buat ribut". hans sedang menunggu pintu lift terbuka.



" hari ini bukannya kamu ada janji meeting sama papanya Nadia".

__ADS_1



"iya, memang nya kenapa? ".



"jam berapa meetingnya, aku ikut ya.. ya.. ya.. ".



"30 menit lagi, tapi kamu pelajari dulu ini".



"apa ini? ". raka membuka sebuah amplop berwarna coklat.



"kamu pelajari, 30 menit lagi kita jumpa diruang rapat". hans masuk ke lift dan meninggalkan raka.



" pelajari?  berarti aku yang akan presentasi didepan klien.  wahh aku kan cuma hanya.... ". raka melihat sekeliling dan hans sudah tidak ada disampingnya.



"hans..... tega banget ninggalin aku dan buat aku ngomong sendirian, awas kamu hans". raka memukul-mukul berkas yang dia pegang.



semua komisaris perusahaan telah hadir dan duduk diruang meeting, hans tiba bersamaan dengan direktur PT One Group yang tidak lain adalah papanya Nadia.



setelah 2 jam berjalan, rapat telah selesai dan sesuai dengan harapan hans berjalan lancar.  hans menggandeng perusahaan papa Nadia sebagai salah satu investor proyek Apartemen terbaru milik hans..



" terima Kasih pak Andika atas kerja samanya". ucap hans yang menyalami papa Nadia.



"sama-sama nak hans, seperti Janji awal kita, proyek ini nantinya akan dikerjakan oleh Nadia, saya berharap kerja samanya".



'baik pak".



flash back......



dua hari yang lalu sebelum meeting dilakukan, Nadia tidak sengaja melihat kontrak perjanjian kerja sama antara Buildings group dan One group, yaitu perusahaan hans dan perusahaan papanya.



Nadia membaca semua isi dari kontrak kerja sama itu, sehingga Nadia berniat ingin mengerjakan proyek tersebut.



Nadia mencari papanya dan melihat papanya sedang berada diruang kerjanya.



"pa, boleh Nadia masuk". Nadia berdiri didepan pintu melihat papanya yang duduk dibalik meja kerja dengan menggunakan piyama hitam dan sebuah buku yang ia baca.



"ada apa sayang, masuk saja". bergegas menutup buku dan mempersilahkan Nadia masuk.



Nadia berjalan masuk dengan sedikit ragu, takut kalau papanya tidak menyetujui permintaannya.



"sini sayang, duduk dekat papa. ada apa?".



"pa, tadi aku tidak sengaja melihat kontrak kerja sama antara papa dan hans. bagaimana kalau aku yang melakukannya,  aku mohon pa. please.. ". Nadia memegang tangan papanya memohon agar diizinkan.



"sayang, kamu tau kan ini adalah proyek besar. kalau kita tidak profesional maka semuanya akan berakhir".



"iya pa aku tau, aku janji sama papa, akan mengerjakan proyek ini sungguh-sungguh".



papa Nadia terdiam selama 10 menit untuk memikirkannya.



"baiklah, tapi ingat jangan sia-siakan proyek ini dan jangan jadikan proyek ini untuk membantu masalah pribadi kamu". papa Nadia mengerti kenapa anaknya meminta proyek itu.




"terima kasih pa, akhirnya aku ada alasan untuk bertemu hans setiap hari.



setelah itu papa Nadia bertemu hans secara pribadi karena ingin memberitahukn hans bahwa dia akan mengerjakan proyek itu bersama Nadia, karena hans selalu bersikap profesional dalam setiap pekerjaannya, maka hans menyetujuinya.



*****



tasya dalam perjalanan  untuk bertemu dengan monica, seperti yang hans bilang, tasya pergi ditemani oleh bik ijah dan mang ujang.



ditengah perjalanan monic mengirim pesan kepada tasya bahwa mereka akan bertemu dicafe favorit mereka dulu.



saat tasya tiba di cafe favoritnya, langkah tasya terhenti didepan pintu cafe. tasya teringat kejadian saat dia pertama kalinya bertemu dengan hans, saat dimana hans mengajaknya menikah.



tasya masuk kedalam cafe sendirian, bik ijah dan mang ujang menunggu didalam mobil. tasya melihat-lihat sekeliling isi cafe  untuk mencari monica.



"tasya, sini". teriak monica dan melambaikan tangannya agar tasya mengetahui keberadaannya.



"ohh oke". tasya berjalan pelan-pelan karena perutnya yang besar.



tasya terlihat cantik menggunakan dress sederhana warna hitam dengan motif bunga yang menutupi perutnya yang besar dan memakai sepatu berhak tipis.



"kenapa kamu ingin kita bertemu disini". ucap tasya yang datang menjumpai monic.



"sudah lama kita tidak duduk disini, aku sudah pesan kan vanila coklat dan green tea cake kesukaan kamu". memberikan tasya cake kesukaannya.



"terima kasih monic". tasya langsung menyantap cakenya.



tasya dan monic mengobrol membahas tentang cerita mereka dulu yang slalu bersama, sekarang mereka hanya bisa berjumpa sesekali saja.



terlihat jelas bahagia di wajah tasya ketika mengingat masa lalunya sebelum menjadi seorang istri.



"perut kamu sudah besar aja tasya". monica mengelus perut tasya.



"jangan kamu pegang-pegang monic, nanti anakku seperti kamu yang tidak tahu malu". tasya menggoda monic dengan candaannya itu.



"ih kamu tasya,  kalau ngomong suka bener". jawab monic sambil tertawa.



"aghhhh". tasya teriak terkejut karena ada seseorang yang menumpahkan minuman ketubuhnya.



"hei kalau jalan itu mata di pakai, cantik doang itu muka tapi otak gak dipakai". monica emosi karena melihat tasya basah semua karena tumpahan minuman.



"oopss sorry, aku gak lihat tuh ada orang disini. tangan aku licin jadi tumpah deh".



"wah keterlaluan kamu, kamu tidak lihat teman aku basah semua karena kamu". monic mendorong cewek itu karena terlalu kesal.



"biasa aja donk,  dianya juga gak marah, lagian cuma segelas coklat doang".



"kamu kalau ngomong... ".


__ADS_1


"sudah monic tidak apa-apa, lagian aku.... Nadia?  kenapa kamu... ". tasya baru menyadari jika itu Nadia begitu dia melihatnya.



"Haai tasya, gimana siraman coklatnya, nikmatkan".



"kenapa kamu lakukan ini padaku Nadia".



"aku tidak melakukan apa-apa. tangan ku licin gak sengaja minumannya jatuh".



"enteng banget kamu ya ngomongnya, mata kamu gak lihat teman aku basah semua".



"udah monic, aku gak apa-apa. kita pulang saja". tangan tasya yang masih sibuk membersihkan dirinya menggunakan tisu.



"gak bisa tasya, wanita gila ini harus minta maaf sama kamu".



"aku harus minta maaf, siapa dia. terus siapa yang gila,kamu yang gila". Nadia merasa tidak bersalah apa yang telah dia perbuat.



"sudalah monic,tidak ada gunanya kita berurusan denyannya". tasya menarik tangan monic untuk pergi meninggalkan cafe itu.



"dasar wanita tidak tahu diri, wanita pelacur. aku tau anak yang kamu kandung itu adalah anak haram". teriak nadia dan orang-orang didalam cafe itu memperhatikan tasya dan berbisik satu sama lain.



tasya yang mendengar ucapan nadia,seketika langkahnya terhenti dan menghela nafas panjang.



"gak ada gunanya aku melayani nadia,aku juga tidak ingin membuat masalah ini lebih besar lagi".



"ayo monic". tasya dan monic melanjutkan langkahnya.



"non, kenapa rambut dan baju non basah seperti ini, apa yang terjadi non". bik ijah panik melihat sekujur tubuh tasya basah dan lengket.



"hanya terkena coklat tumpah bik, tidak apa-apa".



"siapa yang melakukannya non". tanya bik ijah, yang mencoba mengeringkan rambut tasya dengan sehelai handuk kecil.



"iya tasya, siapa perempuan tadi itu. na.. na.. Nadia?  siapa dia". ucap monic yang masih merasa kesal.



"apa non, non Nadia yang melakukannya". bik ijah tidak habis pikir, kenapa Nadia selalu menyakiti tasya.



"bibik kenal sama wanita gila itu". tanya monic kepada bik ijah.



"iya non kenal. non Nadia itu mantannya tuan hans".



"apa?  dasar wanita gila. jadi dia sengaja lakukan itu karena tau kalau kamu itu istrinya hans. gak bisa dibiarkan wanita itu". monic hendak kembali ke cafe itu untuk menemui Nadia dan membalasnya, tapi tasya mencegahnya.



"jangan monic, biarkan saja dia. aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. bukan karena aku lemah tidak melawannya tapi aku tidak ingin anakku kenapa-napa karena emosi melawannya". tasya menarik tangan monic agar tidak pergi menemui Nadia.



"iihh dasar wanita gak tau diri". monica terlihat sangat kesal.



"mari non masuk kedalam mobil, biar saya antar pulang". ucap mang ujang yang membukakan pintu mobil.



"iya mang, ayo monic aku antar kamu pulang".



"baiklah.  tapi lain kali jika aku bertemu dengannya, aku akan membalasnya". ucap monic dengan wajah kesal dan mengepal kedua tangannya.



saat tasya masuk kedalam mobil, diwaktu yang bersamaan Alexa tiba di cafe itu untuk bertemu dengan Nadia.



"Alexa". panggil Nadia yang duduk dimeja sudut ruangan.



"ada apa kakak ingin bertemu denganku". Alexa penasaran kenapa Nadia ingin bertemu dengannya.



"kamu makin cantik aja alexa, bagaimana kabar kamu".



"gak usah basa basi deh kak, langsung aja ada apa ingin bertemu denganku".



"oke oke, aku hanya ingin menunjukkan kamu ini". Nadia memberikan beberapa lembar foto.



"apa ini?  bagaimana kakak bisa mendapatkan foto ini? ". beberapa foto alexa dan mamanya yang bertengkar dirumah sakit.



"mudah bagiku untuk mendapatkan semuanya, termasuk foto ini".



" lalu apa mau kakak".



"jangan terburu-buru alexa, kita ngobrol-ngobrol aja dulu". ucap Nadia sambil meminum segelas coffe americano dingin.



"lalu jika kakak punya foto ini aku harus gimana?". dengan santai Alexa menjawab omongan Nadia.



"dari yang aku dengar, kamu tidak menyukai tasya ya? ". Nadia mencoba memancing pembicaraan.



"dari mana kakak tau itu? ".



"Alexa sayang, rumah sakit itu milik papa aku, jadi aku tau semuanya".



"memangnya apa urusannya kakak jika aku menyukai atau tidaknya".



"aku hanya ingin mengajakmu kerja sama".



"maksud kakak? ".



"kamu tidak menyukai tasya begitu juga denganku.  kamu taukan kalau hans hanya mencintaiku, aku hanya ingin mengambil Cinta hans kembali".



" kakak tau kan kalau tasya lagi hamil, aku tidak ingin membuatnya terluka".



"kamu tenang Alexa, kita hanya membuat tasya pergi meninggalkan hans".



"tapi ingat, jangan sampai kak hans ataupun keluargaku mengetahui jika kita merencanakan sesuatu untuk tasya".



"kamu tenang aja Alexa, semuanya akan tersimpan rapat-rapat".



Nadia tidak menyerah begitu saja terhadap hans, begitu banyak rencana jahat yang ingin dilakukan nadia kepada tasya, termasuk mengajak Alexa untuk bekerja sama.



nadia selalu memantau gerak gerik tasya kemana pun, nadia mencari kelemahan dan kesalahan tasya agar mudah untuk memisahkan tasya dari hans. rasa Cinta Nadia kepada hans membutakan matanya untuk melakukan segala cara melakukan kejahatan.


__ADS_1



__ADS_2