
raka dan hans berangkat menuju penjara, perjalanan yang di tempuh memakan waktu 2 jam dari perusahaan hans.
"kenapa kita tidak memakai supir aja sih, aku bisa kelelahan".
"cerewet banget sih kamu, apa perlu aku yang menyetir".
"ohh tidak tidak, bahaya kalau kamu yang nyetir, gaji aku bisa hilang setengah bulan ini".
"dasar". hans melempar raka dengan tisu yang dipegangnya.
"oya hans, lama kelamaan nadia seperti orang gila mengejar kamu".
"udalah gak usah bahas nadia".
"kenapa, aku kan ingin tahu juga perasaan kamu dengan nadia". raka selalu senang saat menggoda hans.
"aku itu tidak punya perasaan apapun lagi sama nadia, kamu taukan, aku tidak suka dengan orang yang sudah mengkhianati ku".
"bagaimana jika suatu saat tasya mengkhianati kamu, apa kamu akan membencinya seperti kamu membenci nadia". raka tampak serius mengajukan pertanyan itu.
"hei sejak kapan kamu seserius itu bertanya dengan ku".
"aku hanya ingin tau aja hans, seserius apa kamu terhadap tasya".
"aku sangat menyesal memperlakukan tasya tidak adil saat kami baru menikah, aku menjadikan dia tumbal dalam hubunganku dengan nadia, menuduh dia sebagai wanita murahan ,setelah aku mengenal dia, aku merasa bersalah bahwa dia wanita yang baik".
"wahh hans, kamu yang terkenal boss paling dingin di kantor tapi ternyata hati kamu lembut ".
"udah udah apaan sih, malah cerita-cerita seperti itu". hans merasa malu.
setelah mengendarai mobil selama 2 jam,mereka sampai di lokasi penjara.
"selamat datang tuan". sambut salah satu sipir penjara.
"apa dia mau bertemu denganku".
"awalnya dia menolak tuan tapi karena kami mengancamnya akhirnya dia bersedia".
"Bagus Bagus". raka mengacungkn jari jempolnya kepada sipir itu.
"terima kasih tuan".
hans dan Raka mengikuti langkah sipir itu untuk menuju ruang kunjungan.
sepanjang jalam raka memperhatikan ruangan-ruangan penjara yang di huni oleh para kriminal, mereka semua tampak seram.
"ihhh aduh serem banget". raka ketakutan melihat tatapan para penghuni penjara.
"apa kamu ingin masuk". hans bercanda dengan raka.
"tega kamu hans ,lebih baik aku mengahadapi nadia yang hampir gila itu". raka yang sibuk bersembunyi di belakang hans.
setelah berjalan beberapa menit mereka tiba di ruangan yang mereka tuju.
"silakan pak, ini ruangannya". penjaga penjara mempersilakan hans masuk.
"terima kasih ". ucap hans.
"ooh jadi ini tempatnya". raka yang memperhatikan keadaan sekitar.
dari kejauhan tampak seorang pria yang duduk di balik kaca pembatas, dengan kondisi tangan di borgol. pria itu adalah tersangka yang mengintai tasya waktu di rumah sakit.
pria itu tersenyum sinis saat melihat hans dan Raka datang.
"ada apa tuan-tuan datang menemui saya".
"apa kamu tau siapa saya". ucap Hans
"saya tidak tahu siapa anda. tapi yang saya dengar anda yang telah memasukan saya ke penjara".
"iya memang benar, saya yang menjebloskan kamu ke penjara karena telah menguntit istri saya".
pria itu tertawa setelah mengetahui bahwa perempuan yang dia intai adalah istri hans, sebenarnya bukan pria itu tidak tahu siapa hans tapi dia lebih tepat pura-pura tidak mengetahuinya.
"kenapa ketawa-ketawa, apa ada yang lucu". ucap raka yang sedikit kesal.
"raka keluarkan dan tunjukkan padanya".
raka mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya,
"oke baiklah ,sekarang kamu lihat ini dan perhatikan. apakah benar ini adalah foto yang kamu ambil".
pria itu memperhatikan satu-satu foto yang di tunjukkan oleh raka, mata nya tampak gemetar setelah tau foto itu.
"bagaimana kamu tahu kalau itu foto yang saya ambil".
"bukannya sudah jelas, polisi menemukan sebuah camera di rumah kamu dan bebarapa salinan foto, sebelum kamu memberikannya pada orang lain". ucap raka
"ti.. tidak, saya tidak pernah memberikan foto itu pada siapapun".
"jika kamu mau bekerja sama dan mengakuinya, maka saya akan mengeluarkanmu". hans mencoba bernegosiasi dengan pria itu.
"tidak, aku melakukannya sendiri".
"apa kamu masih tidak mau mengaku siapa yang telah menyuruh kamu". hans mulai terpancing emosi.
"sabar hans, jangan membuat dia semakin diam". Raka mencoba menenangkan hans.
pria itu senyum dengan sinis,
"sampai aku matipun, aku akan tetap bicara seperti itu".
"wow benarkah, apa kau ingin mati sekarang". ucap raka
setelah berbicara dengan baik-baik, pria itu masih tetap tidak ingin mengakuinya. akhirnya raka dan hans menggunakan rencana yang telah mereka susun sebelum datang menemuinya.
"raka, tunjukkan padanya sesuatu hal yang menarik ".
"oh oke hans, tentu saja ini sangat menarik buat kita lihat". Raka mengeluarkan sebuah Tablet untuk memperlihatkan sebuah video.
"kamu lihat baik-baik dan perhatikan. apa kamu masih tidak mau mengaku".
percakapan dalam video:
"papa selamatkan kami". ucap seorang anak kecil yang menangis ketakutan.
"sayang, apa yang kamu lakukan. kami takut berada di sini. selamatkan kami".
"papa.. papa.. papa.. "anak kecil tersebut terus menangis.
"ba.. bagaimana kalian bisa menahan keluarga ku". pria itu langsung gemetar melihat video tersebut.
"bagaimna? menarik bukan". ucap raka yang tertawa.
__ADS_1
"kamu lihat, orang-orang ku berada disana. aku tunggu kamu 1 jam lagi, jika tidak mengakuinya juga,maka akan ku habiskan keluargamu itu". ucap hans dengan nada mengancam.
"sial, bagaimana wanita itu tidak memegang janjinya. dia berjanji akan melindungi keluargaku jika aku di tangkap polisi. dasar wanita sialan". pria itu mengumpat dengan rasa kesalnya.
"apa? wanita? siapa yang kamu maksud? ". raka yang penasaran dengan kata-kata pria itu.
tiba-tiba pria itu berlutut dan memohon kepada hans.
"jika aku mengakuinya, apa kamu akan berjanji tidak akan menyakiti keluargaku".
"iya, aku akan menepati janjiku".
"aku mohon, jika aku mati di bunuh wanita itu karena telah melanggar janji, tolong lindungi keluargaku dari wanita iblis itu".
"baiklah, tapi beritahukan aku siapa wanita itu? ".
"sebenarnya, aku bertemu wanita itu di sebuah rumah sakit, saat anakku masuk rumah sakit karena penyakit yang serius butuh uang banyak. sampai akhirnya, wanita itu menghampiri ku dan memberikan aku sejumlah uang dan sebuah foto dengan syarat harus menakuti wanita yang ada di foto itu".
"apa kamu mengenal wanita itu". ucap raka
"tidak, aku tidak mengenal wanita itu. tapi wanita itu sering datang kerumah sakit itu, dan semua karyawan rumah sakit sangat menghormati dia".
"rumah sakit? rumah sakit yang tasya datangi adalah rumah sakit One group punya keluarga nadia".Raka mendapatkan sebuah petunjuk.
"tapi kita tidak mempunyai bukti yang akurat, pernyataan dari dia saja tidak cukup". ucap hans
"ah sebentar-sebentar, aku akan menunjukkan sesuatu". hans mengeluarkan handphonenya menunjukkan sebuah foto.
"apakah wanita ini? ".
"hmm hmm sepertinya iya". ucap pria itu
"benar itu nadia hans".
"tunggu raka, kita jangan terburu-buru dulu".
"aduhhh... apa kamu punya bukti lain".
"ah iya ,aku merekam percakapan kami waktu itu". pria memberikan sebuah perekam suara.
raka mencoba mendengarkannya, suara itu terasa tak asing bagi hans dan raka.
"nadia, kamu juga berfikir kalau itu suara nadia kan". raka sangat yakin dengan apa yang dia dengar.
"sepertinya iya, baiklah karena kamu telah mengakuinya, maka aku akan menepati janji ku". ucap hans sembari beranjak dari duduknya.
"terima kasih tuan, terima kasih". pria itu menangis
"ta.. tapi hans, kita belum selesai ".
"ayo kita pergi". raka melangkah keluar dari ruang kunjungan.
"hallo, kirim ibu dan anak itu ke kota sebelah. pastikan mereka aman disana". hans menelfon anak buahnya.
"baik boss".
"hans, kamu benar-benar melindungi keluarga pria itu".
"aku harus menepati janji ku, karena keluarganya tidak bersalah". ucap raka
"ayo cepat jalan, kita harus membuktikan jika isi rekaman itu benar-benar suara nadia".
"tapi bagaimana caranya kita tahu kalau itu suara nadia".
"aku mempunyai seorang teman yang ahli dalam bidang itu". hans masuk ke dalam mobilnya
"ah oke". ucap raka yang melajukan mobilnya meninggalkan lokasi penjara.
***
drrt drrt....
suara getaran dari handphone nadia, ada sebuah pesan masuk.
"maaf nona, menurut mata-mata kita, mobil pak hans baru saja meninggalkan lokasi penjara. sepertinya pak hans sudah 3 jam berada disana".
"apa ? sial. kenapa hans kesana, apa dia menyelidiki pria itu. tapi tidak, pria itu tidak mempunyai bukti apa pun". .
setelah membaca pesan itu, nadia sedikit gelisah dan takut jika hans mengetahui semuanya.
"jangan sampai rencanaku semuanya gagal. aku tidak akan tinggal diam, aku harus merencanakan sesuatu".
nadia begitu marah karena apa yang dia rencanakan tidak sesuai.
"apa kalian sudah menemukan keluarga pria itu".
"belum nona, saat kami datang kerumahnya, istri dan anak pria itu menghilang tanpa jejak".
"bagaimana bisa mereka hilang begitu saja. cepat cari sampai dapat dan bunuh keluarganya".
berani-beraninya dia mengkhianatiku,akan tunjukkan siapa aku sebenarny.
"baik nona".
"apa ada di antara kalian mengikuti mobil hans".
"iya nona, kami sudah mengikuti mobil tuan hans".
"kabari aku segera perkembangannya". tasya mematikan telfonnya dan melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.
***
"apa yang kamu lihat ke belakan".
"hans coba kamu lihat, apa kamu kenal mobil itu yang mengikuti kita".
hans menoleh kebelakang dan melihat ada sebuah mobil berwarna hitam mengikuti mobil mereka.
"aku tidak tahu, sejak kapan mobil itu mengikuti kita".
"sepertinya sejak kita keluar dari lokasi penjara".
"lebih kencang lagi bawanya".ucap hans.
"a.. apa maksud kamu hans". Raka merasa takut dan gelisah
"cepat raka, kita harus menghindari mereka. siapa yang berani-beraninya mengejar kita ". hans tampak geram.
sepanjang jalan mereka terus kejar-kejaran, raka mempercepat gerakan mobilnya untuk menghindar tapi mobil yang di belakang terus saja mengejar.
__ADS_1
"hans bagaimana ini". ucap raka yang kebingungan.
hans melihat situasi jalanan,
"belok kiri, cepat".
raka membelokkan mobilnya sesuai perintah hans, dan akhirnya mobil yang mengejar mereka kehilangan jejak.
"hufff jantung ku seperti mau lepas. baru kali ini aku menyetir seperti itu". raka sedikit tenang
"menurut kamu siapa yang berani melakukan itu padaku".
"apa jangan-jangan mereka sudah mengintai kita saat kita dipenjara tadi".
"sudah, masalah itu nanti kita urus, sebaiknya kita pergi untuk mengecek perekam itu".
tidak lama kemudian hans tiba di sebuah gedung ,hans menjumpai temannya yang ada disitu.
"hai jack, apa kabar".
"hai hans, kabar ku baik, aku terkejut ketika menerima pesan mu jadi aku langsung turun ke bawah, ada apa? ".
"begini, aku mempunyai sebuah rekamanan suara dan itu sangat penting, karena kualitas audionya tidak Bagus, jadi aku ingin kamu memeriksanya agar terdengar jelas".
raka memberikan rekaman itu,
"ini dia rekamannya".
" hmm baiklah, akan aku periksa. mari ikut aku".
hans dan raka mengikuti langkah jack masuk ke sebuah ruangan khusus, raka memperhatikan sekeliling gedung dengan kagum.
"wahh, lihat hans keren banget. aku merasa seperti di ruang angkasa".
"jangan norak kamu, masih lebih keren perusahaan ku lagi".
"hehh iya iya punya kamu tidak ada duanya".
mereka duduk untuk menunggu pemeriksaan rekaman itu.
"apa butuh waktu lama? ". hans bertanya pada jack yang sedang memeriksa.
"tidak, aku hanya butuh 30 menit".
"baik lah". ucap hans yang duduk santai di kursi tunggu.
raka yang terlihat penasaran dengan isi gedung itu, dia mulai berjalan mengelilingi ruangan dan menyentuh beberapa benda, sampai akhirnya ada sebuah benda yang jatuh karena raka sentuh.
raka mengambil benda yang jatuh itu dengan perlahan.
"ma.. maaf, aku tidak sengaja".
"apa kamu tau harga benda itu? ". tanya hans
"ti.. dak, memangnya berapa harga benda ini". raka tampak menyepelekan benda yang di pegangnya.
"harga nya 500 milyar".
"a.. pa? 500 milyar, bahkan gajiku saja tidak sampai segitu". raka terlihat syok mendengar harganya.
hans hanya tertawa karena telah menggoda sahabatnya itu. setelah menunggu 30 menit, pemeriksaan selesai di lakukan.
" sekarang coba kamu dengarkan".jack menghidupkan rekaman itu.
". aku mau kamu takuti wanita ini, aku gak mau tau. buat wanita itu merasa takut seperti orang depresi".
"tapi kenapa nona menyuruhku".
"karena aku tau kamu lagi butuh uang untuk anak kamu".
"tapi jika aku ketahuan dan di tangkap polisi, tolong lindungi keluargaku".
"baiklah".
"benar hans, suara wanita itu adalah nadia, jadi dia selama ini di balik insiden yang menimpa tasya".
hans terlihat kesal dan emosi.
"nadia, aku tidak akan memaafkanmu".
"baiklah, aku akan memindahkan file ini ketempat lain agar mudah bagi kamu menyimpannya". ucap jack.
"terima kasih jack". hans menepuk pundak temannya itu.
***
nadia yang masih terlihat gelisah karena menunggu kabar dari anak buahnya.
"hallo, bagaimana apa kalian dapat mengejar mobil hans".
"maaf nona, kami kehilangan jejak mobil tuan hans".
"berengsek kalian, tidak ada yang berguna. melakukan itu saja kalian tidak bisa". teriak tasya.
"maaf nona".
"hanya maaf yang kalian bisa lakukan segera bunuh pria yang ada di penjara itu sekarang".
"baik nona".
***
hans kembali ke perusahaannya tapi sebelum itu, hans dan raka pergi ke kantor polisi untuk membuat sebuah laporan yang di tujukan untuk nadia, hans menyerahkan rekaman itu sebagai bukti.
"baik pak, kami akan menindak lanjuti kasus ini, secepatnya kami akan mengabari bapak perkembangannya". ucap salah satu polisi.
"baiklah pak, saya tunggu kabarnya".
hans dan raka meninggalkan kantor polisi.
"hans, kamu serius ingin memenjarakan nadia? ".
"iya aku serius, aku ingin membuat nadia menyadari semua perbuatannya".
"apa kamu tidak takut bermasalah dengan papanya". raka sedikit khawatir.
"karena dia telah mengganggu istri dan calon anak ku, aku tidak akan pernah takut".
kali ini hans benar-benar marah dengan tindakan nadia yang tidak bisa di toleransi lagi.
"besok kamu pergi ke divisi hukum, bentuk tim untuk menggugat nadia".
"baik hans, besok akan ku lakukan".
"dan ingat, jangan membocorkan masalah ini kepada siapapun, aku tidak ingin nadia kabur ketika nadia mendengarkannya".
hans bergegas pulang kerumah untuk bertemu tasya yang telah seharian menunggu hans.
__ADS_1