LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 23


__ADS_3


yang anda tuju sedang tidak aktif.



"kemana sih hans, kenapa tidak di jawab".



tasya merasa gelisah karena hans tidak bisa di hubungi.



"non, kita sudah sampai". ucap mang ujang



"oh iya mang, mang ujang tunggu di mobil saja ya".



"iya non".



tasya turun dari mobil, dia perlahan jalan masuk ke perusahaan dan bertanya kepada resepsionis.



"maaf, apa pak hans ada di kantor".



pegawai resepsionis terkejut dan langsung menyapa tasya.


"oh selamat sore ibu tasya, maaf pak hans belum kembali bu".



"kemana? ".



"maaf bu, kami tidak tahu. pak hans tadi pergi bersama dengan pak raka".



"ahh boleh saya menunggu di sini".



"oh iya bu, silakan".



tasya menyandarkan tubuh nya di kursi ruang tunggu, sesekali dia mencoba menelfon hans tapi masih tidak bisa di hubungi.



para pegawai yang berjalan, seketika mata mereka memperhatikan tasya dan menyapa.



"selamat sore ibu tasya". ucap salah satu pegawai.



"sore". tasya menjawab dengan senyum ramah.



ada sebagian beberapa karyawan berbisik di belakang.



"ternyata ibu tasya dia seorang yang ramah, aku kira dia bakalan sombong dan balas dendam ke kita".



"mungkin dia hanya berpura-pura baik sama kita, nanti ujung-ujungnya dia memecat kita semua".



"uushhh jangan berfikir begitu, mungkin saja memang ibu tasya orang yang baik".



"hhmm mungkin saja".



begitulah para karyawan bergosip tapi tasya tidak pernah memikirkan orang-orang yang tidak suka dengannya.



jam menunjukkan jam 6 sore, para karyawan satu persatu telah pulang, tapi tasya masih tetap menunggu di kursi tunggu.



"ibu sebaiknya pulang saja, sebentar lagi akan malam. mungkin pak hans akan pulang larut malam". ucap salah satu petugas keamanan.



"tidak apa-apa pak. saya tunggu di sini saja".



"baik ibu".



petugas keamanan itu meninggalkan tasya sendiri di dalam gedung perusahaan. sesekali tasya tidak bisa menahan ngantuknya, sehingga tasya ketiduran.



jam 8:30 hans dan Raka kembali ke perusahaan, tapi perusahaan terlihat sepi karena semua karyawan sudah pulang.



"aaghhh apa itu". raka terkejut karena dia melihat sesosok wanita yang sedang tidur.



"apaan sih, teriak-teriak gitu".



"ka.. kamu lihat itu hans, itu apa? ". raka menunjuk ke arah kursi tunggu.



"tunggu.. sepertinya itu.... tasya". hans langsung berlari ke arah tasya.



hans membangunkan tasya yang tertidur.


"sayang, kenapa kamu disini. kenapa kamu sendirian. ".



"oowhhhh tasya, syukurlah. aku pikir kamu hantu". ucap raka



"hans... kenapa kamu lama sekali". ucap tasya setengah sadar.



"banyak urusan di luar kantor yang harus ku kerjakan. tapi kenapa kamu disini sayang".



"aku tadi melihat berita nadia di televisi, aku tidak percaya apa yang di beritakan, jadi aku datang untuk bertanya langsung dengan kamu hans".



"sayang, kamu bisa menunggu aku pulang kerumah, kenapa harus menunggu aku di sini. bagaimana jika kamu sakit". hans khawatir terhadap tasya.



"aku baik-baik saja hans".


hans memeluk tasya yang merasa kedinginan.



melihat hans dan tasya berpelukan, Raja menutup matanya dengan jari-jarinya.


"hadeuh mulai deh drama korea nya".



hans mendorong raka dengan tangannya.


"pergi jauh-jauh sana, jomblo dilarang melihat".



"hans, kamu menyakitiku". raka memasang wajah sedih dan melangkah pergi.



hans mengajak tasya untuk pulang karena sudah malam, di perjalanan tasya sedikit diam, sampai akhirnya dia bertanya pada hans.



"hans, apa benar kalau nadia berencana ingin membunuh ku".



hans terdiam sejenak, bagaimana bisa dia memberi tahu tasya, hans khawatir kalau tasya akan syok mendengarnya.



hans memegang tangan tasya


"sayang, jangan kamu fikirkan ya. semuanya sudah di atasi oleh polisi".



"tapi aku juga ingin tahu yang sebenarnya".



"sayang, aku tidak ingin kamu khawatir karena usia kehamilan kamu sudah semakin besar".



tasya melepaskan genggaman tangan hans dan terdiam menatap jendela mobil.



"iya iya sayang, sekarang aku ceritain ya. sebenarnya nadia memang berniat ingin melukai dan membunuh kamu karena dia cemburu dan sakit hati karena aku".



"a.. apa jadi selama ini dia ingin membunuh aku. aku tidak menyangkanya".



"sudah sayang, kamu jangan khawatir lagi ya. sekarang tidak akan ada yang menyakiti kamu lagi".



"lalu dimana nadia sekarang hans".



"dia sekarang berada di kantor polisi untuk di lakukan penyelidikan".



"bagaimana dengan kerja sama kalian".



"sayang, kamu jangan mikiri hal lain. kerja sama itu tidak terlalu penting, yang penting itu keselamatan kamu". hans mengelus kepala Tasya dan tersenyum ke arah hans.



mereka tiba di apartemen dan di sambut oleh bik ijah yang masih menunggu di dalam.



"akhirnya non pulang juga, bibik khawatir non. maaf tuan , bibik tidak bisa menjaga non tasya dengan baik".



"sudah bik tidak apa-apa. tasya baik-baik saja". ucap hans



"iya bik, aku baik-baik saja, sebaiknya bibik pulang saja".



"baik non".



tasya bergegas masu ke kamarnya karena merasa lelah, hans pergi ke ruang kerjanya.



hans yang sibuk dengan berkas-berkasnya, sepanjang malam hans berada di ruang kerjanya.



***

__ADS_1


pagi hari..



"sayang, aku berangkat ke kantor dulu yaa". hans mencium kening tasya.



"buru-buru banget sayang, gak sarapan dulu".



hans mencium bibir tasya dan melumatkannya berkali-kali.


"ini aku sudah sarapan".



"iihh hans, kamu ya". tasya tersenyum karena mendapat ciuman dari  hans.



"baik-baik di rumah ya sayang". ucap hans sambil berjalan keluar.



tasya melambaikan tangannya mengantar hans pergi ke kantor.



tasya kembali masuk ke dalam rumah dan menikmati sarapan yang dia buat sendiri.sesekali tasya merasakan gerakan dari bayinya.



"aduh,  semangat banget kamu sayang". tasya mengelus-elus perutnya.



"pagi non, kenapa senyum-senyum sendiri". ucap bik ijah yang baru datang.



"aku merasakan gerakan bayiku yang terus-menerus menendang bik". jawab tasya



"semoga sehat terus ya non, sampai melahirkan nanti".



"iya bik".



***


kantor polisi...



"keluarkan aku, aku tidak bersalah". Nadia terus berteriak di dalam sel.



"hei bisa diam gak kamu". ucap salah satu narapidana.



"apa urusan kamu kalau aku teriak". ucap Nadia kesal.



"lantas, kami harus mendengar teriakan kamu yang tidak berguna itu".



Nadia mengabaikan ucapan narapidana yang berada di sampingnya.


"pak, tolong keluarkan aku. aku tidak bersalah".



narapidana tersebut bangun dan menarik rambut Nadia.



"agghh". Nadia mengeram kesakitan.



"sudah aku bilang, jangan berisik. mau mati kamu".



"le..lepaskan rambutku".teriak Nadia.



tok tok tok


petugas memukul besi sel dan melerai pertikaian antara nadia dan narapidana lainnya.



"hentikan kalian, dan kamu baru masuk sudah membuat masalah". ucap petugas sel.



"bu.. bukan aku, dia... ".



"sudah, saya tidak ingin melihat keributan seperti ini lagi".



Nadia duduk di sudut ruangan sel yang sempit di huni oleh 7 orang. Nadia duduk dengan menundukkan kepalanya di tangannya.



"Nadia, ada kunjungan untuk kamu". petugas sel membuka pintu.



Nadia terkejut ketika namanya di panggil.


"siapa yang datang pak". tanya Nadia.



"kamu lihat saja". petugas itu pergi mengantar nadia ke ruang kunjungan.



seketika langkah nadia terlihat, dia melihat sosok pria paruh baya duduk menunggunya, pria itu tidak lain adalah papa nadia.




"bagaimana keadaan kamu". tanya papa nadia



"a.. aku tidak baik pa. aku takut berada disana". nadia terlihat sedih.



"kamu harus bertahan sedikit lama disana, papa akan mengurus semuanya".



"ta.. tapi pa, aku ingin keluar, aku tidak ingin berada di sana lagi pa".



"kamu tau, sudah berapa kerugian yang papa tanggung akibat ulah kamu. saham papa jatuh sangat jauh dan kerja sama kita dengan Hans telah berakhir".



"a.. apa pa?. bagaimana bisa perjanjian itu berakhir pa, kontrak itu kan atas nama papa".



"iya, karena kamu yang bertanggung jawab atas proyek itu, sebagian investor asing tidak ingin lagi bekerja sama dengan kita".



"maafkan aku pa. karena ku papa mengalami kerugian". tasya menundukan kepalanya



"kamu harus memohon kepada hans dan istrinya agar mereka mencabut tuntutannya dan kamu akan bebas".



"aku tidak bisa pa". Nadia menolak karena merasa terhina jika dia memohon-mohon.



"hanya itu satu-satunya jalan agar kamu bisa keluar dari sini". papa Nadia bangun dan beranjak pergi keluar.



"pa..papa.. papa jangan tinggalkan aku pa". Nadia berteriak dan mencoba mengejar papanya tapi di halangi oleh petugas.



***


perusahaan...



"bagaimana tindakan selanjutnya terhadap Nadia". ucap hans pada raka.



"pengacara kita telah mengurusnya tapi ada sedikit masalah hans". Raka mengecilkan suaranya.



"masalah apa? ".



"papa Nadia ingin damai dengan kita dan membebaskan Nadia tanpa ada tuntutan".



"apa?. dengan mudahnya ingin berdamai tanpa berpikir apapun yang telah anaknya lakukan, jangan pernah menerima tawaran apapun yang mereka berikan". ucap hans dengan kesal



"baik hans".



"apa jadwal kita selanjutnya".



"jam 10 kita ada rapat dengan investor asing dan jam 1 siang ada makan siang bersama kolega dari Group TheX".



'batalkan makan siangnya dan kita pergi mengunjungi Nadia".



"apa hans?  kamu ingin kesana, kenapa? ".



"nanti kamu juga akan tau".



'baiklah hans".



raka dan hans pergi menuju ruang rapat dan menyelesaikan kegiatannya di kantor.



jam menunjukkan pukul 1 siang, raka dan hans beserta pengacaranya bersiap pergi menemui Nadia.



"ayo kita pergi". ucap hans



***


penjara....



"kenapa papa lebih mementingkan bisnisnya dari pada aku anaknya sendiri. apa aku tidak penting baginya. kalau saja tidak ada tasya, aku tidak akan melakukan perbuatan sejauh ini dan menderita di ruangan sempit ini".



"sial,  tasya jalang, awas kamu". Nadia teriak setelah memikirkan tasya.



"hei apa kau tidak bisa diam". melempar kain ke arah wajah Nadia.


__ADS_1


"sial". Nadia mengumpat dengan suara pelan dan mengepal kedua tangannya dengan geram.



"aku harus mencari cara agar aku bisa keluar dari sini, aku tidak peduli lagi walaupun aku harus bersujud mohon padanya, itu salah satu cara agar aku bisa keluar dari sini". Nadia merasa yakin dengan pemikirannya itu.



tookk tokk tokkk


"hei hei Nadia, keluar kamu. ada tamu untukku".ucap salah satu petugas



"aku?.". Nadia sedikit ragu



"apa papa kembali lagi untuk membebaskan ku". Nadia sedikit tersenyum.



"ayo cepat, buruan".



Nadia berjalan ke arah ruangan pengunjung.



"papa, kamu kembali untuk membebaskan... ". ucapan Nadia terhenti setelah dia melihat orang yang mengunjunginya bukanlah papanya.



"ha.. hans, ada apa".



"kamu terlihat bahagia di sini". hans bersikap dingin.



"ti.. tidak hans. aku... ".



"aku kemari hanya ingin memperingatkan kamu, jangan pernah berharap untuk berdamai".



Nadia tiba-tiba berlutut dan memohon pada hans.


"hans, aku mohon. ampunkan aku hans, aku bersalah dan aku sangat menyesalinya hans".



"tidak Nadia, apa kamu pernah berfikir sebelum melakukannya. kamu ingin membunuh istri dan anakku hanya demi perasaan mu itu".



"tidak hans, sekarang aku sangat menyesalinya hans. apa aku perlu berlutut juga di depan tasya memohon ampun".


Nadia menangis terisak-isak di depan hans.



"kamu tidak perlu menemui tasya, jangan pernah menyentuh keluargaku lagi Nadia. kamu nikmati saja berada di dalam penjara". hans beranjak pergi meninggalkan Nadia yang masih berlutut di lantai.



"hans.... tolong aku". Nadia masih berteriak memanggil hans yang melangkah jauh.



raka mendekat ke arah Nadia dan berbisik.


"kamu sangat cocok dengan pakaian itu".


raka pergi dengan senyuman.



Nadia yang mendengar ucapan raka merasa tersinggung dan sakit hati, Nadia hanya bisa menggertakkan gigi nya karena kesal.



"hans, kamu seriusan ingin melanjutkan kasus ini".



"apa aku terlihat bercanda raka".



Raka mengamati hans " gak, kamu terlihat serius".



hans hanya mengangkat kedua alisnya dan terus berjalan menuju mobilnya.



"kita pulang saja raka".



"oke, baiklah".



***


apartemen...



"non lagi ngapain?".


tanya bik ijah yang baru kembali dari supermarket.



"lagi buat makan malam buat hans bik".tasya lagi motong sayuran.



"biar bibik aja yang masak non".cepat-cepat meletakkan belanjaannya.



"ihh gak apa-apa bik, bibik kerjakan yang lain aja".



"baiklah non, bibik membereskan belanjaan dulu, kalau butuh bantuan panggil bibik aja non".



"iya bik" tasya terus mempersiapkan bahan makanan.



tasya sibuk membuat sup kepiting dan menggoreng ayam. sesekali tasya berteriak karena kecipratan minyak, bik ijah yang mendengar teriakkan tasya langsung berlari.



"ada apa non".



"hahaha tidak apa-apa bik".



"ya ampun non, buat bibik khawatir saja". bik ijah kembali ke belakang.



terdengar suara pintu terbuka


"ah hans sudah pulang". tasya melihat kearah pintu.



"hmm Wangi banget, masak apa kamu sayang". hans menghampiri tasya dan memeluknya dari belakang.



"aku lagi buat sup kepiting kesukaan kamu sayang". ucap tasya.



cup cup cup


hans mencium pipi tasya berkali-kali.


"hans, aku lagi masak".



"biar aja, biar makin enak masakkan kamu".hans mencium tasya lagi.



"non, bibik sudah.... ".bik ijah terkejut melihat hans dan tasya bermesraan, bik ijah langsung membalikkan badannya.



"maaf non, bibik tidak tahu".



tasya merasa malu


"gak apa-apa bik".



tasya mencubit pinggang hans


"kamu sih".



"awhh sakit sayang".



"biarin, udah tau ada bik ijah. kan jadi malu". ucap tasya



"maaf sayang, aku lupa".memasang wajah melas di depan tasya.



" ya sudah sayang,  buruan ganti baju habis itu kita makan malam". tasya mendorong hans untuk masuk ke dalam kamar.



"iya iya sayang, tapi cium lagi". hans menyodorkan bibirnya ke arah wajah tasya.



"ihhh hans".



bik ijah yang melihat tingkah hans dan tasya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"dasar tuan hans, kalau udah manja sama non tasya lebih seperti anak kecil".



"gimana sayang, enak kan". tasya penasaran dengan pendapat hans tentang masakkannya.



"hmm enak banget sayang, apa lagi kamu yang masak". hans memakan supnya dengan lahap.



"makan yang banyak sayang, aku tau kamu lelah bekerja seharian".



"owhh istriku pengertian banget sih". hans mengusap rambut tasya.



"besok mau aku masakkin apa lagi ".



"gak, mulai besok kamu jangan bekerja di rumah terlalu capek, kamu harus istirahat".



"aku sudah banyak istirahat hans, sampai aku tidak pernah memasak buat kamu lagi".



"jangan pikirkan aku sayang, yang penting kamu dan anak kita banyak istirahat, bulan depan kamu akan melahirkan".



".hmm baik sayangku".



__ADS_1



__ADS_2