LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 25


__ADS_3

Tiga hari kemudian...



"sayang, besok aku ada perjalanan bisnis 3 hari". ucap hans sambil memakai dasi.



"kenapa kamu harus pergi hans, apa tidak bisa raka saja". tasya sedikit kecewa dengan ucapan hans. kop



"aku juga berharap bisa di gantikan oleh raka sayang". hans memeluk tasya.



"bagaimana jika aku melahirkan saat kamu keluar negeri". tasya memalingkan wajahnya



"aku berjanji sayang, aku akan menemani kamu saat melahirkan. masih ada waktu saat kepulanganku dari luar negeri".



tasya hanya diam tidak menjawab ucapan hans. hans yang melihat tasya diam langsung menghampirinya dan memeluk dari belakang.



"sayang, aku hanya tiga hari perginya, jangan manyun gitu dong. lagian ada mama dam papa disini dan hari ini Alexa juga akan datang".



"walaupun ada mama, papa dan alexa, tetap saja aku butuh kamu hans".



"aku janji sayang,  akan cepat selesaikan kerjaan disana dan langsung pulang".



"janji ya". tasya sedikit senang dengan ucapan hans.



"janji sayang, ya sudah aku berangkat ke kantor dulu ya. nanti malam aku langsung ke Bandara untuk berangkat ke Australia. kamu baik-baik ya sayang, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku". hans mencium kening tasya sekaligus pamit.



"iya hans, kamu hati-hati disana ya, cepat pulang". tasya meneteskan air matanya.



dengan cepat hans mengelap air mata tasya dan memeluk erat.



hans keluar kamar dan mencari mama dan papa nya.



"ma, aku nanti malam akan pergi ke Australia ada bisnis. aku titip tasya ya ma. kalau ada apa-apa segera hubungi aku". hans mencium tangan mamanya dan memeluknya.



"iya hans, pasti mama jaga tasya".



"terima kasih mama. o iya papa kemana ma". ucap hans



"papa sudah pergi ke kantor karena ada meeting". jawab mama hans.



tasya masih terlihat sedih akan ditinggal hans selama tiga hari. sesekali dia mengusap air matanya yang menetes.



mama hans yang melihat kesedihan tasya langsung memeluknya dan memberi semangat tasya.



"jangan sedih sayang, hans pergi untuk bekerja dan dia akan segera kembali". mama hans mengusap punggung mantunya itu.



"i..iya ma". air mata tasya terus menetes dengan deras sampai dia terisak-isak.



"kenapa kamu sampai begitunya menangis sayang". mama hans melihat mata tasya yang penuh air mata mengalir.



"sedih aja ma, disaat tasya benar-benar butuh hans tapi dia pergi". ucap tasya



"masih ada mama sayang, sudah ya jangan sedih lagi". jawab mama hans.



tasya menghapus air matanya dan pergi masuk ke dalam kamarnya. beberapa menjelang kelahiran mood tasya sering berubah-ubah, kadang tasya merasakan sedih yang amat dalam tanpa ada penyebabnya.



tokk tokk tokk


terdengar suara ketukan pintu kamar tasya.



"non, sarapan dulu". ucap bik ijah



"oh iya bik, sebentar lagi aku keluar untuk sarapan". tasya bergegas untuk mandi sebelum sarapan.



"bik, nanti tolong sampaikan sama tasya, kalau aku keluar sebentar ya". ucap mama hans.



"baik nyonya".



selesai mandi tasya berjalan menuju meja makan untuk sarapan, terlihat tasya kesusahan saat berjalan kerena perutnya.



"mama kemana bik?. kok sepi". tasya mengambil beberapa sendok nasi dan sayur.



"nyonya tadi pamit keluar non, bibik juga tidak tau kemana". jawab bik ijah.



"bibik nanti sibuk gak? bisa temani aku jalan-jalan di taman". tanya tasya



"iya non, nanti bibik temani". jawab bik ijah sambil membereskan dapur.



selesai sarapan, tasya dudul di ruang tamu sambil mengelus perutnya, sesekali tasya merasakan gerakan bayinya yang aktif.



"sayang, mami jadi tidak sabar menunggu kamu. semoga lahir nanti kamu jadi anak yang baik, sehat dan sempurna". ucap tasya



"non, ayo kita jalan-jalan". bik ijah siap menemani tasya.



"iya bik". tasya sedikit kesusahan untuk berdiri.



tasya dan bik ijah keluar apartemen untuk jalan-jalan di taman.  tasya terlihat menikmati udara pagi hari dan cuaca yang sejuk.



tasya yang menggunakan daster berwarna biru dan blazer hitam panjang dengan sendal jepitnya menelusuri jalanan taman.



"bik,  dulu waktu bibik hamil anak pertama, gimana perasaan bibik? ". tanya tasya



"wah, dulu bibik hamil masih muda non, usia 19 tahun, maklum orang jaman non. dulu bibik hamil pertama tidak pernah merasa mual non, semua biasa aja". ucap bik ijah



"wah luar biasa bibik ya, aku jadi iri sama ibu-ibu yang hamil tidak merasakan mual sedikitpun". y



"wah kalau bibik malah ingin merasakan mual non, merasakan gimana rasanya hamil sesungguhnya". jawab bik ijah.



"ihh bik ijah ada-ada saja. gak enak tau bik ngerasain mual dan muntah saat hamil. semua yang kita makan jadi tidak enak". tasya tersenyum sambil membayangkan saat awal kehamilannya.



"itulah suka dukanya non. o iya non, bibik senang banget melihat non dan tuan hans jadi romantis tidak ada keributan lagi. bik ijah sedikit tersenyum melihat tasya.



tasya memegang bahu bik ijah

__ADS_1


"maafkan aku bik, yang selalu merepotkan bibik dan selalu membuat bibik menyaksikan pertengkaran kami".



"tidak apa-apa non, bibik sudah anggap non dan tuan seperti anak sendiri. kalau non dan tuan lagi bertengkar hati bibik sakit banget lihatnya non, tapi syukurlah sekarang semuanya baik-baik saja non".



"iya bik, aku sekarang jauh lebih bahagi karena hans sudah berubah dan sudah mencintaiku bik. aku bangga memiliki suami seperti hans". tampak terlihat kebahagian di mata tasya.



tasya dan bik ijah terus berjalan menyusuri taman ,mereka berdua terus bercerita tentang kenangan mereka masing-masing.  walaupun tasya belum lama kenal dengan bik ijah tapi mereka sudah seperti ibu dan anak.



tanpa tasya sadari, mereka sudah berjalan lebih dari satu jam. tasya sudah merasa capek dan kakinya terlihat bengkak.



"non, ayok kita pulang". bik ijah khawatir tasya akan semakin lelah.



"iya bik". tasya mulai berjalan pelan-pelan.



di dalam apartemen terlihat mama hans yang panik dan gelisah, terlihat mama hans menelepon seseorang tapi tidak ada jawaban sehingga semakin panik.



beberapa saat kemudian, tasya dan bik ijah pulang.



"mama sudah pulang". ucap tasya yang melihat mertuanya berdiri linglung kesana kemari.



"tasya, kamu kemana aja sayang. mama panik tau lihat kamu dan bik ijah tidak ada di rumah".



"tasya cuma jalan-jalan sebentar ma di taman sama bik ijah".



"terus, kenapa Handphonenya tidak kamu bawa".



"tasya lupa ma, karena tasya sudah lama tidak jalan-jalan di taman".



"mama itu panik banget tau gak,lihat kamu tidak ada. mama pikir kamu sudah merasa sakit dan dibawa kerumah sakit". terlihat jelas kepanikan di wajah mama hans.



"maaf mama, sudah buat mama khawatir".


tasya sedikit bersalah kepada mertuanya.



"bik ijah, lain kali kalau mau keluar kasih tau saya atau hans ya bik. agar saya tidak panik lagi".



"baik nyonya". bik ijah segera kembali ke dapur.



"ya sudah sayang, kamu istirahat saja ya. mama mau pergi lagi ke perusahaan papa". mengambil tas untuk bersiap-siap pergi.



"iya ma, mama hati-hati ya". tasya mencium tangan mertuanya.



setelah mertuanya pergi, tasya berjalan menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terpapar sinar matahari dan keringat.



tasya mengecek Handphonenya yang tertinggal di kamar.


"ya ampun 23 panggilan dari mama. apa segitu paniknya mama melihat aku tidak ada dirumah".



tasya berjalan kekamar mandi tapi dia kembali lagi mengecek Handphonenya.


"kenapa hans, tidak menghubungi. dia kan masih di kantor".



tasya menghubungi hans tapi tidak ada jawaban dari hans dan membuat tasya gelisah.




***


perusahaan...



hans terlihat sibuk mempersiapkan dokumen yang akan dia bawa selama perjalanan bisnis. tampak terlihat raka dan sekretaris hans juga ikut membantu.



"hans, apa lagi yang harus aku persiapkan. aku lelah". raka berusaha mengeluh kepada hans.



"kamu lelah, silakan pulang". ucap hans sinis.



raka yang berbaring langsung terbangun mendengar ucapan hans.


"aiihh kamu hans suka begitu sama temen".



mendengar itu semua sekretaris hans tertawa pelan.


"apa kamu ketawa-ketawa". ucap raka pada sekretaris hans.



"eng.. enggak apa-apa pak raka". sekretaris hans langsung menundukkan kepalanya.



"raka, jangan kamu marahi dia. kamu yang harus bekerja dengan benar".ucap hans.



"udah aku lagi yang kenak". gerutu raka.



mereka terlihat membereskan dokumen-dokumen. raka sesekali melihat ke arah sekretaris hans.  memang secetaris hans berparas cantik, putih, tinggi, seperti artis-artis Hollywood.



sesekali juga mata mereka saling bertatapan dan tersipu malu.



"hmm kamu sudah berapa lama kerja jadi sekretaris hans? ". tanya raka penasaran.



"sa.. saya baru 2 minggu pak, menggantikan sekretaris sebelumnya yang lagi cuti". ucap Minha sekretaris baru hans.



mata raka terus memperhatikan minha tepat didepannya. minha yang tengah sibuk menulis beberapa dokumen keperluan hans.



terlepas dari raka dan minha, hans terlihat merebahkan tubuhnya dikursi dan menatap kelangit-langit sambil mengehembuskan nafas lelahnya.



hans memeriksa Handphonenya dan mendapatkan panggilan tak terjawab dari tasya yang membuat hans terkejut.



"ada apa tasya menelfonku, apa terjadi sesuatu padanya".



hans cepat-cepat menghubungi tasya kembali tapi tidak ada jawaban, hans terus menelfon berkali-kali tetap tidak ada jawaban.


akhirnya hans menelfon mamanya untuk menanyakan keadaan tasya.



"ma, tasya kemana?  aku telpon tapi dia tidak menjawab". tanya hans pada mamanya.



"mama lagi kantor papa, sayang. tadi sebelum mama pergi dia ada dirumah bersama bik ijah.  apa terjadi sesuatu padanya?".


mama hans ikut panik setelah mendengar ucapan hans.



"aku tidak tau ma, hanya saja dia tidak menjawab telponku. baiklah ma, aku akan menghubungi bik ijah".


hans menutup telponnya.


__ADS_1


"hei hans.. ahh maksudku pak hans, ada apa?  kenapa terlihat begitu panik".


raka mengubah cara bicaranya pada hans ketika dia sadar ada minha di depannya.



"tidak apa-apa, lanjut saja kerja kalian, waktunya sudah tidak banyak lagi".


ucap hans sembari menelpon bik ijah.



"hallo tuan, ada apa"


ucap bik ijah



"bik, gimana keadaan tasya?  apa dia baik-baik saja.dia tidak menjawab telponku".



"non tasya baik-baik saja tuan, non tasya tadi pagi habis jalan-jalan di taman, sekarang non tasya sedang istirahat dikamar".



"syukurlah, baiklah bik. tolong beri tahu tasya, jam 3 sore aku akan berangkat ke Australia. jika ada apa-apa segera hubungi aku atau raka ya bik".



"baik tuan".



setelah menelpon bik ijah, hans sedikit tenang dan legah, dia bisa melanjutkan kerjaannya lagi.



"aahh selesai".


teriak raka yang sedang menyusun rapi dokumen.



"bersiap-siaplah jam 3 kita akan berangkat". ucap hans



"a.. apa jam 3?. sekarang sudah jam 1 siang. aku bahkan belum lama berbincang-bincang dengan minha".


raka yang terus ngegombal di depan minha.



hans yang melihat tingkah raka hanya bisa menggelengkan kepalanya.



"karena sudah selesai, saya pamit kembali ke meja kerja saya tuan".


ucap minha dengan sopan.



"baiklah. terima kasih atas kerja kerasnya hari ini".


ucap raka



minha perlahan berjalan keluar ruangan hans, meninggalkan raka dan hans yang bersiap untuk berangkat ke bandara.



"ingat, kamu udah punya istri, sebentar lagi mau melahirkan. jangan suka menggoda cewek lain". ucap raka



"apaan sih kamu raka, kelamaan jomblo jadi pikirannya entah kemana-mana". hans sambil melayangkan pukulan kecil ke perut raka.



"hahaha ampun-ampun hans, aku hanya bercanda". jawab raka



"ayo kita berangkat sekarang, nanti terlambat". hans mengambil jas dan handphonenya di atas meja.



"baik boss". jawab raka



raka yang membawa dua koper merasa keberatan, sedangkan hans hanya bisa tersenyum melihat raka kesusahan.



***


Apartemen...



tokk tokk tokk...


"non,ayo bangun makan siang .non sudah tidur dari jam 10 pagi ,ayo bangun non".


panggil bik ijah.



seteleh menunggu beberapa menit, tasya tidak juga menjawab. bik ijah mencoba membuka pintu kamar tasya, pintu langsung terbuka dan bik ijah melihat tasya sedang tertidur pulas di ranjangnya.



bik ijah dengan suara pelan membangunkan tasya.


"non, bangun non. makan siang dulu non".



tasya terkejut melihat bik ijah di hadapannya.


"ahh bik ijah, membuatku terkejut saja. ada apa bik?".



"sudah jam 2 siang non, non belum makan siang".


jawab bik ijah



"iya bik, sebentar lagi ya".


tasya bangun dan duduk menatap jam yang berada didinding kamarnya.



"kenapa hans tidak menelponku, apa dia benar-benar sibuk".


tasya teringat akan hans yang tidak menjawab panggilan telponnya.



"non, tadi tuan nelpon... ".


belum selesai bik ijah bicara, tasya langsung memotongnya.



"apa?  hans nelpon bik. kapan bik?  trus dia bilang apa? kenapa dia tidak menelponku? ".


tasya mengajukan begitu banyak pertanyaan begitu mendengar hans menelpon.



"non, tenang non. satu-satu tanya nya non, bibik bingung jawabnya".


bik ijah memegang kepalanya karena tidak bisa fokus dengan semua pertanyaan tasya.



"oke oke bik, maaf aku terlalu bersemangat".


jawab tasya sambil tersenyum lebar kepada bik ijah.



"tuan, hari ini berangkat ke luar negerinya jam 3 sore non. jika terjadi apa-apa, segera hubungi tuan atau pak raka non. tadi tuan sudah menghubungi non tapi tidak non jawab".


bik ijah menjelaskan pada tasya apa yang hans bicarakan di telpon denganya.



tasya memeriksa handphonenya


"menghubungiku?  sepertinya tidak ada... ah iya 10 panggilan dari hans. kenapa aku bisa tidak mendengarnya ya".



"ya sudah non, bibik mau kembali bekerja lagi".


bik ijah meninggalkan tasya di kamarnya sendiri



"baik bik".


ucap tasya.



hari berganti hari, sudah 2 hari hans pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis tapi serasa satu tahun bagi tasya yang tidak sabar menunggu hans kembali.



__ADS_1


__ADS_2