LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 24


__ADS_3

satu bulan kemudian ...



"aku deg-degan sayang, aku gugup".



"jangan khawatir sayang, aku akan di samping kamu". hans menggenggam erat tangan tasya.



"nona tasya silakan masuk". ucap suster



"hans". tasya terlihat sangat gugup



"ayo sayang". hans mengajak tasya masuk untuk bertemu dokter.



"selamat siang dokter". ucap hans



"selamat siang bapak ibu, silakan duduk". jawab dokter dengan ramah.



" ada keluhan apa ibu". tanya dokter



"begini dok, tidak lama lagi saya akan melahirkan dan saya ingin memeriksa keadaan kehamilan saya dok". ucap tasya sedikit gugup.



"baik ibu, mari silakan naik ke tempat tidur periksa". ucap dokter.



dokter mulai melakukan pemeriksaan melalui USG, dan di monitor terlihat jelas kondisi bayi dalam kandungan tasya baik-baik saja dan sehat.



"disini kita bisa lihat kondisinya baik-baik saja, ini kepalanya sudah masuk ke PAP(pintu atas panggul)  artinya tidak lama lagi akan melahirkan. dan dengar detak jantungnya terdengar jelaskan". dokter menjelaskan dari hasil USG.



"iya dok, saya bisa mendengar dengan jelas". tasya merasa terharu mendengar detak jantung bayinya.



"kira-kira kapan tepat waktunya melahirkan dok". ucap hans



"kemungkinan beberapa hari lagi pak, jika nanti perut ibu tasya mengalami sakit atau mulas dan keluar bercak darah, segera pergi kerumah sakit".



"baik dok". jawab tasya.



"rencananya ibu ingin melahirkan secara normal atau operasi ". tanya dokter.



"saya ingin melahirkan normal saja dok". jawab tasya.



"baiklah buk, nah karena semuanya sehat dan baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan, selama di rumah ibu harus banyak jalan atau gerak ya, untuk mempermudah nanti saat proses melahirkan". anjur dokter.



"baik dok".



"terima kasih dokter untuk pemeriksaan hari ini". hans menyalami dokter.



"sama-sama pak" jawab dokter.



di perjalanan pulang, tasya masih terlihat gugup dan khwatir.



hans memegang tangan tasya


"sayang, jangan terlalu khawatir, jalani saja seperti biasa".



"aku sangat gugup hans,  aku memikirkan bagaimana nanti saat melahirkan".



"sayang, kalau kamu ketakutan seperti itu, aku takut kamu akan terkena sindrom baby blues setelah melahirkan". ucap hans.



tasya hanya terdiam mendengar ucapan hans dan menghela nafasnya.



"apa kamu akan memberitahu mama saat aku akan melahirkan".



"iya, aku berencana menghubungi mama, untuk menemani kamu nanti".



"apa tidak merepotkan mama nantinya, aku tidak ingin mengganggu mama".



"tidak apa-apa sayang, mama pasti akan senang ikut mendampingi kamu saat melahirkan nanti".



"apa kamu tidak mendampingiku". tanya tasya



"aku pasti selalu mendampingimu sayang".


ucap hans agar istrinya tetap semangat.



setibanya di rumah, hans dan tasya di sambut oleh mama dan papa hans yang datang berkunjung.



"mama". ucap hans saat melihat mamanya duduk di ruang tamu.



"kalian sudah kembali". mama hans menghampiri tasya dan memeluknya.



"pa". hans menyalami papanya.



"kenapa tidak memberitahu aku jika papa dan mama ingin datang"



"papa dan mama baru kembali dari Paris dan mama kamu ingin datang kemari". ucap papa hans



"iya, sudah sebulan lebih mama tidak melihat kalian dan mama ingin sekali melihat tasya". mama hans merangkul tasya dan tasya hanya tersenyum.



"owhh jadi mama sekarang hanya sayang pada tasya, tidak sayang padaku lagi". hans sengaja menggoda mamanya.



plakkk mama hans memukul bahu hans.


"agghh sakit ma".



"sapa suruh belagak manja sama mama".



papa hans dan tasya tertawa melihat tingkah hans terhadap mamanya.



"apa kata dokter tasya". ucap papa hans.



"semuanya baik-baik saja pa, bayinya sehat dan dalam beberapa hari aku akan melahirkan".



"wah, kebetulan nih. pa mama tidak pulang ya, mama mau disini saja temani tasya". mama hans sangat antusias ingin menemani tasya.



"mama tega buat papa tidur sendirian". ucap papa hans.



"ihh papa sudah ikut-ikutan seperti hans,  papa sama anak sama saja". mama hans tersenyum malu.



"iya ma, tadi aku juga sudah membicarakan sama tasya, bahwa aku ingin mama disini menemani tasya dan ternyata mama sudah disini. tapi tasya merasa tidak enak merepotkan mama". hans melirik kearah tasya yang duduk di sebelahnya.



"mama sangat senang bisa menemani anak mama ingin melahirkan. mulai sekarang mama akan tinggal disini".



"apa tidak membuat mama repot dan capek". ucap tasya.



"tidak sayang, kamu jangan berpikiran yang macam-macam, kamu harus fokus sama kesehatan kamu, agar persalinannya berjalan lancar".



"iya ma". tasya tersenyum bahagia karena begitu banyak orang yang mencintainya.



"kalau begitu, papa juga ikut tinggal disini".



"ih papa". mama hans sedikit mengerutkan keningnya.



"kenapa ma, kan tidak apa-apa".jawab papa hans



"hahaha iya pa tidak apa-apa, mama dan papa tinggal disini saja ". ucap hans

__ADS_1



"lihat itu ma, hans saja memberikan izin". ucap papa hans.



"iya iya pa".jawab mama hans



bik ijah datang menghampiri


"maaf tuan, nyonya ingin makan malam apa?".



"makan malamnya biar saya saja yang masak bik". ucap mama hans



"baik nyonya". bik ijah kembali ke dapur.



mama hans beranjak dari tempat duduknya


"kalian semua istirahat saja dulu, biar mama siapkan makan malamnya".



"biar aku bantu juga ma". tasya ingin berdiri tapi di tahan oleh mama hans.



"tidak sayang, kamu istirahat saja di kamar, nanti kalau sudah siap mama panggil".



"iya sayang, ayo kita istirahat dulu di kamar". hans mengajak tasya masuk ke dalam kamar.



hans dan tasya masuk dalam kamar dan menyuruh tasya untuk berbaring.



"aku jadi tidak enak dengan mama sayang".



"tidak apa-apa sayang, kamu istirahat saja". hans berbaring di samping tasya.



tiba-tiba hans mendekatkan wajahnya ke wajah tasya dan membuat tasya terkejut, dan mendorong wajah hans dengan tangannya.



"eiitt kamu mau apa hans".



"aku ingin mencium kamu sayang, nanti kalau kamu sudah melahirkan kita tidak bisa bermesraan lagi".



"ihh Kamu ya hans pikirannya". tasya memukul hans dengan bantal.



"ampun.. ampun sayang". hans mengahalangi pukulan tasya dengan kedua tangannya.



"biarin aja, ini hukuman buat kamu yang suka godain istrinya". tasya terus memukul hans tanpa henti.



"sayang, bagaimana kalau malam ini kita gituan". hans terus menggoda tasya



"ihh gak ya". tasya menatap sini hans yang sedang memandangi wajahnya.



"kamu gak ingat kata dokter, kita harus sering-sering ngelakuin itu biar... ".lagi-lagi pukulan tasya mendarat tepat di wajah hans, sehingga hans tidak bisa menghindar.



"mulut kamu sekarang makin cerewet dan samakin banyak maunya ya". tasya mendekap wajah hans dengan bantal.



tangan hans berusaha memukul bantal agar Tasya menghentikannya


"sayang aku tidak bernafas".



tasya merasa kasihan dengan suaminya dan melepaskan bantal di atas wajah hans.  tasya tertawa pelan karena merasa puas membuat suaminya tersiksa.



"kamu ingin membunuh aku ya". nafas hans terlihat sangat ngos-ngosan.



"maaf sayang, makanya lain kali jangan suka menggodain istrinya". tasya memegang pipi hans dengan kedua tangannya.



"tangan kamu terasa lembut dan hangat buat aku semakin nyaman". hans mencium tangan tasya.



tokk tokk tokk


"hans tasya makan malam sudah siap. ayo kita makan bersama". ucap mama hans.



"iya ma, aku akan segera keluar". jawab hans .



"ayo sayang, mama dan papa sudah menunggu kita".



"iya sayang". jawab tasya yang ikut langkah hans keluar kamar.



terlihat papa dan mama hans sudah duduk di meja makan menunggu hans dan tasya.



"papa kenapa tidak makan duluan". ucap hans.



"papa kan ingin makan bareng kalian".



"sini sayang, duduk dekat mama". mama hans menarik kursi di sebelahnya untuk tasya.



"iya ma". tasya duduk di sebelah mertuanya.



"wahh enak banget ini, sudah lama aku tidak makan masakkan mama". Hans merasa senang melihat begitu banyan makanan least Ada dihadapannya.



"siapa suruh gak mau tinggal sama mama".



"sekarang kan mama sudah tinggal sama aku". ucap hans



"kamu ya, selalu aja ngejawab". mama hans sibuk melayani tasya



"ma, aku juga mau". hans mengangkat piringnya berharap mamanya memberikan ikan di piringnya.



"manja kamu ah, ikut-ikutan aja". mama hans tersenyum.



"sudah-sudah hans, ini papa yang naruh ikannya buat kamu". papa hans mengambil sepotong ikan untuk hans.



"gak apa deh, mama atau papa sama aja". hans langsung melahap makanannya.



"makan yang banyak sayang". mama hans memperhatikan tasya yang sedang makan.



"iya ma, terima kasih untuk makan malamnya". tasya terlihat bahagia dengan makan malam ini.



"iya sayang, sama-sama.  ayo makan lagi". jawab mama hans



"iya ma". jawab tasya.



"ngomong-ngomong Alexa kemana ma. kenapa tidak ikut kemari". tanya hans karena tidak melihat adiknya.



"Alexa masih di Paris, dia bilang masih ingin liburan". jawab papa hans.



"apa dia tidak melanjutkan studinya ".



"sepertinya dia belum mau, dia masih ingin traveling dulu". ucap mama hans.



"dia sudah dewasa ma, sampai kapan dia akan main-main terus. sudah waktunya dia bekerja di perusahaan papa". ujar hans



"papa sudah memikirkan semua itu hans, nanti kalau dia sudah kembali dari paris,papa akan mengajak dia kerja di perusahaan papa". jawab papa hans.



"iya,mama juga setuju dengan pendapat papa hans".



"baiklah ma". ucap hans



setelah selesai makan malam, tasya membantu mama hans membereskan meja makan karena bik ijah yang sudah pulang.



"kamu istirahat saja sayang". ucap mama hans sambil mencuci piring.

__ADS_1



"tasya bosen istirahat terus ma. tasya ingin membantu mama".



"iyaa sudah tidak apa-apa". mama hans tersenyum melihat tasya.



di ruang tamu terlihat hans dan papanya duduk sambil menonton TV, mereka berdua bercerita sambil bergurau. sudah lama hans dan papanya tidak menghabiskan waktu bersama.



"gimana menurut kamu sayang, anak sama papa sama aja kan". mama hans tiba-tiba muncul di samping tasya yang sedang memperhatikan hans dan papanya".



"ahh mama, buat aku terkejut". tasya mengelus dadanya.



"maaf sayang". mama hans kembali membereskan piring.



tasya berjalan ke dapur dan memanaskan air di kompor.



"kamu mau ngapain sayang". tanya mama hans.



"aku mau membuatkan hans dan papa kopi ma".



"oh iya sayang. papa tidak suka manis, berikan aja 2 sendok teh gula". ucap mama hans.



"iya ma". tasya mulai menyeduh kopi.



"kalau begitu biar mama siapkan camilannya, tadi mama ada beli cake kesukaan hans dan papa".



tasya dan mama hans berjalan ke ruang tamu menyajikan kopi dan cake untuk teman ngobrol hans dan papanya.



"wahh apaan ini, harum banget". hans mengendus-endus bau kopi.



"ini tasya buat kopi kesukaan papa dan hans". ucap tasya sembari menyajikan kopi buatannya.



"terima kasih sayang". ucap papa hans.



"dan ini mama sajikan cake green tea dan cake brownis".



"mama paling top deh". hans memuji mamanya.



"kamu ya, bisa aja". mama hans mengusap kepala hans.



"ayo kesini tasya, kita makan cake bareng". ucap papa hans.



"tidak pa, aku masih kenyang. aku mau ke kamar aja istirahat". jawab tasya.



"iya sayang, kamu istirahat aja. jangan ikuti 2 laki-laki ini yang suka bergadang". ucap mama hans.



"mama ya bisa aja". papa hans menyeruput kopi yang di sajikan oleh tasya.



"gimana pa rasa kopi buatan istri ku". Hans penasaran dengan respon papanya.



"hmm enak, enak banget pun". papa hans menjawab dengan wajah bahagia.



"benerkan ma, tasya itu jago kalau soal buat makanan atau minuman". hans membanggakan tasya di depan orang tuanya.



"lalu menurut kamu mama gak jago gitu". ucap mama hans.



"bukan begitu ma". hans sedikit gugup



"hahhaa mama kamu hanya bercanda ". ucap papa hans.



begitulah suasana di apartemen hans, terlihat cerah dan bahagia. terdengar suara canda dan tawa hans dan papanya.



"pa, sudah larut malam. sampai kapan papa dan hans akan terus bercerita". ucap mama hans



"iya ma, sebentar lagi". jawab papa hans.



"ya sudah pa, hans juga mau nemani tasya".hans beranjak dari ruang tamu menuju ke kamar.



saat hans membuka pintu kamar, hans melihat tasya yang terus gelisah, tasya terlihat tidak nyenyak tidurnya dan hans langsung menghampiri tasya.



"kenapa sayang". hans mendekap tasya dan mencium keningnya.



"aku tidak bisa tidur hans, semua posisi salah". tasya terus membolak-balik posisi tidurnya.



melihat istrinya terus gelisah, hans memijat punggung tasya.


"sini aku pijat sayang".



tasya yang menerima pijatan punggung oleh hans merasa sedikit tenang dan tasya bisa memejamkan matanya.



"gimana sayang". tanya hans



"enak sayang, nyaman". jawab tasya sambil memejam matanya yang ngantuk.



"kenapa tidak memanggil aku, kalau mau di pijit".



"aku gak mau ganggu waktu kamu dan papa". jawab tasya



"kamu juga penting buat aku, jadi gak ada kata ganggu di antara kita". ucap hans



hans terus mengajak tasya bicara tapi hans merasa aneh kenapa tidak ada respon dari tasya.



"kamu sudah tidur sayang, pantas saja tidak menjawab saat aku ajak bicara". hans menyelimuti tasya dan mencium kening tasya sebagai ucapan selamat malam.



melihat tasya tidur, hans juga tidur lelap di samping tasya. tapi tasya terlihat bangun dan menuju kamar mandi.



hans juga ikut terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul 03:17 pagi.



"sayang, kenapa kamu bangun". hans mengusap kedua matanya.



"aku kekamar mandi sayang". jawab tasya yang kembali merebahkan tubuhnya.



agghhh


tasya sedikit menjerit dan membuat hans panik.



"kamu kenapa sayang, kenapa teriak".



"gak apa-apa sayang, bayi kita cuma menendang dan aku terkejut". ucap tasya sambil mengelus perutnya.



"ya ampun, aku kira kamu mau melahirkan. aku jadi panik".



"maaf sayang sudah membuat kamu terkejut". tasya memeluk hans.



"iya sayang, y sudah ayokm tidur lagi". ucap hans



"iyaa sayang".



tasya mengambil posisi nyaman untuk tidur dengan memeluk hans dan hans memijat punggung tasya agar dapat tidur dengan nyenyak.





__ADS_1




__ADS_2