LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 22


__ADS_3

setelah melakukan perkerjaan yang melelahkan, hans tiba di unit apartemennya, tasya yang telah menunggu kepulangan hans menyambut dengan antusias.



"hans, kenapa kamu terlihat lelah sekali".



"banyak hal yang aku urus hari ini". hans merebah kan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu.



"mau aku buatkan minuman".



hans menarik tangan tasya


"tidak usah sayang, aku sudah banyak minum di kantor".



"ahh hans, apa yang kamu lakukan".



"aku hanya ingin memeluk kamu sayang".



"iya, ta.. tapi anak kita terjepit hans". tasya memegang perutnya.



dengan cepat hans bangun dan mengusap perut tasya


"maafkan papi sayang, papi tidak ingat kalau ada kamu".



tasya mencubit pinggang hans sampai hans kesakitan.


"rasain ini".



"aduh aduh sakit sayang, iya aku janji tidak begitu lagi".



tasya langsung memeluk hans dan bibirnya mengarah ke telinga hans.


"kamu  bau sayang ,buruan mandi".



awalnya hans merasa senang bahwa tasya akan menciumnya seperti adegan-adegan erotis.


"hei sudah berani menggoda kamu ya ".



tasya tertawa dan pergi menuju dapur untuk mencari makanan.



"buruan mandi, kita makan malam bersama. aku sudah lapar". ucap tasya yang mempersiapkan makanan.



hans menghampiri tasya dan memeluknya dari belakang.


"baik sayang".


cup cup cup hans menumpahkan rasa sayangnya dengan beberapa kecupan.



tidak lama kemudian hans selesai mandi dan kembali ke meja makan untuk makan malam bersama.


"sudah lama kita tidak makan malam berdua". ucap tasya yang merindukan momen saat berdua dengan hans.



"mulai sekarang aku akan meluangkan waktu untuk makan berdua dengan kamu sayang".



tasya memanyunkan bibirnya


"kamu selalu bilang gitu, tapi di ingkari juga".



"maafkan suami mu ini sayang".



"hmm,  o iya apa kamu jadi bertemu dengan pria yang mengikutiku waktu itu".



"jadi sayang, tadi aku dan raka menemuinya".



"terus, apa dia mau mengakuinya".



sebaiknya aku tidak menceritakan kejadian yang aku alami tadi. aku tidak mau membuat tasya khawatir.



"ah iya. dia mengakuinya tapi tidak memberi tahu ku sedetailnya siapa di balik itu semua".



"itu berarti masih ada kemungkinan ada orang yang akan mencelakai kita ". tasya memasang wajah sedih dan khawatir.



Hans yang melihat ekspresi tasya langsung mengelus-elus kepalanya.


"jangan khawatir sayang, aku sudah pastikan keamanan untuk kita".



di saat tasya dan hans lagi makan malam, handphone hans berdering, hans segera mengangkatnya.


"sebentar ya sayang, aku angkat telepon dulu".hans pergi ke ruang kerjanya.



"siapa sih yang nelfon?  biasanya juga kalau ada yang nelpon gak pernah menjauh angkatnya". tasya sedikit curiga dengan prilaku hans.



di ruang kerja hans tampak sangat serius saat menerima telpon dari seseorang.



"hallo, ada apa? ".



"maaf boss menganggu, ada berita buruk boss. pria yang mengikuti nyonya tasya di kabarkan sudah meninggal boss".



"apa?  bagaimana bisa itu terjadi. tadi saat aku menemuinya dia masih baik-baik saja".



"kabarnya kalau pria itu terkena serangan jantung boss".



"tidak mungkin. kamu selidiki apa yang terjadi dan pastikan keluarganya tetap aman".



"baik boss".



setelah hans selesai menerima telepon, dia segera kembali ke meja makan untuk menemui tasya.



"siapa siah yang nelfon, sampai kamu gak mau aku dengar".



"bukan gitu sayang, ini telfon dari kantor ada urusan mendadak tadi".



"bukan karena kamu menghindari aku".



"ya gak lah sayang. buruan di makan nasi nya habis itu kita istirahat".



selesai makan malam hans dan tasya beristirahat, sebelum tidur hans memijat kaki tasya, agar istrinya dapat istirahat dengan nyaman dan tenang.



****



pagi hari, matahari bersinar cerah dan kicauan burung pun terdengar Indah.



"pagi sayang". cup cup cup hans mencium tasya yang baru saja membuka matanya.



"kamu kok udah rapi". tasya mengusap kedua matanya



"aku hari ini ada tender dengan perusahaan asal Jepang, jadi harus tepat waktu sampai di kantor".



"tapi kita hari ini mau cek up ke dokter hans".



"ya ampun sayang, maafin aku ya,  aku tidak bisa untuk menemani kamu".



"kamu selalu begitu". tasya bangun langsung masuk ke kamar mandi.



"sayang, jangan marah ya. tender ini sangat penting ". hans mengetuk pintu kamar mandi namun tasya tidak menjawabnya.



setelah beberapa menit di kamar mandi tasya keluar dan hans masih berdiri di depan pintu.


"kenapa kamu masih di sini".



"aku mau pastikan kamu gak marah baru aku berangkat kerja".hans memeluk tasya dari belakang.



"udah buruan pergi sana".tasya mendorong hans keluar kamar.



ada sedikit rasa sedih di hati tasya, lagi-lagi hans tidak bisa menemaninya untuk konsultasi ke dokter, hans yang masih sibuk dengan kerjaannya.

__ADS_1



"bik, aku ada meeting hari ini, jadi tolong temeni tasya untuk konsultasi ke dokter ya".



"baik tuan".



hans berangkat kerja dengan perasaan bersalah terhadap tasya karena telah mengecewakannya untuk kesekian kalinya.



"non, hari ini ada jadwal konsul ke dokter. apa non akan pergi". tanyak bik ijah yang melihat tasya sedang di kamarnya.



"tidak bik. aku tidak ingin pergi ".



"tapi non, tuan berpesan agar bibik temani non ke dokter".



"tidak bik". tasya tidak bergerak dari tempat tidurnya.



mendengar perkataan tasya yang tidak ingin pergi, bik ijah kembali ke dapur untuk beres-beres .



***


perusahaan ...



kali ini hans ikut dalam tender yang besar, dari berbagai negara maju hadir untuk ikut serta.



" hans". sapa seorang pria paru baya.



"oh pak wijaya, apa kabar pak". hans menyalami tangan pria itu.



"baik hans, sudah lama kita tidak bertemu.apa kamu sudah siap ikut tender ini?".



"saya selalu siap pak . apa lagi kita akan bersaing". ucap hans sambil bercanda dengan pria itu.



pak wijaya merupakan teman dekat pak Gunawan papa hans, yang dulu selalu membantu hans, saat perusahaan hans masih kecil.



mereka berdua bertukar cerita tentang masa lalu dan tertawa bersama. di saat yang bersamaan raka mendatangi hans dengan nafas tergesa-gesa.



"ha.. hans gawat".


terdengar nafas raka yang terputus-putus.



"ada apa raka?". jawab hans.



raka menarik tangan hans untuk mengikutinya.


"ayo ikut aku".



hans melihat ke belakang, dan berpamitan pada pak wijaya.


"maaf pak, saya pergi dulu".



pak wijaya yang melihat hans di tarik oleh raka hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.



"ada apa sih raka. kamu tau kan 30 menit lagi aku ada rapat tender".



"ini jauh lebih penting dari sekedar tender".



"apa maksud kamu".



langkah raka yang terhenti di depan pintu masuk di ikuti oleh hans.


"kamu tau, nadia akan pergi keluar negri, dia sekarang menuju ke bandara".



"bagaimana bisa, kita sudah melaporkan kan dia ke polisi. apa surat penangkapannya belum di keluarkan juga". hans sedikit marah saat mengetahui nadia akan kabur.



"polisi baru saja menghubungiku, mereka bilang,saat mereka ke rumah nadia untuk melakukan penangkapan nadia sudah pergi".



"jangan buang-buang waktu cepat kita pergi ke bandara".




"cepat kalian semua menuju bandara dan cari nadia sampai dapat".



"baik boss".



***


nadia masih terlihat di dalam taxi, nadia terlihat gelisah, sesekali dia melihat ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.



"pak bisa lebih cepat sedikit lagi".



"i.. iya non". supir taxi itu pun merasa aneh karena gerak gerik nadia yang mencurigakan.



"apa non di kejar seseorang". supir taxi itu memberanikan diri untuk bertanya.



"cepat, jalan saja pak". nadia membentak supir taxi itu dan supir itu terdiam .



15 menit kemudian nadia sampai di bandara, dia membawa sebuah koper yang besar dan langsung menuju security chek untuk melakukan chek in.



nadia tahu persis bahwa akan ada orang-orang yang mencarinya, nadia menggunakan masker dan kerudung untuk menutupi diri nya agar tidak di kenali.



"syukurlah tidak ada yang mengikuti ku".



nadia mempercepat langkahnya,agar dia cepat duduk di ruang tunggu yang tidak bisa sembarangan orang masuk sebelum melalui pemeriksaan.



beberapa pria yang memakai jas hitam datang, mereka adalah anak buah dari hans yang datang untuk mencari nadia.



saat nadia melihat sekeliling, dia melihat beberapa pria sedang mencari-cari seseorang.


"apa mereka yang mencari aku". nadia cepat-menutup wajahnya agar tidak terlihat.



ddrrtt... ddrtt...


"halo".



"non, gawat anak buah tuan hans sekarang ada di bandara dan polisi juga sudah tiba".



"sial, kenapa kalian tidak bisa menghalangi mereka semua". nadia tampak geram.



"maaf non, kami kalah jumlah dengan mereka".



"kalian semua tidak berguna". nadia mematikan teleponnya.



di luar pintu ruang tunggu tampak terjadi keributan ,bebapa anak buah hans ingin menerobos masuk tapi di halangi oleh petugas keamanan.



"maaf anda tidak boleh masuk jika belum melalui pemeriksaan".


ucap salah satu petugas keamanan bandara.



"biarkan kami masuk, kami harus mencari seseorang".



"maaf, kami tidak bisa mengizinkan".



terjadi perdebatan sehingga mengganggu pengguna bandara lainnya.


hans dan raka sudah tiba di bandara, mereka juga berlarian ke sana kemari untuk mencari nadia.



"hans hans lihat disana, ayo kita kesana".


raka dan hans berlari menuju ruang tunggu bandara.



"maaf pak, mereka anak buah saya. kami sedang mencari seorang tersangka yang akan kabur". ucap hans



"maaf tuan, kami tidak bisa memberi anda akses untuk masuk sebelum anda mendapat izin dari pihak terkait bandara". petugas keamanan bandara masih bersikeras tidak mengizinkan masuk.


__ADS_1


mata hans tertuju dengan seseorang yang duduk dengan memakai kerudung putih, hans merasa yakin kalau orang itu adalah nadia.



hans berusaha masuk tapi di halangi.


"maaf pak, anda tidak boleh menerobos masuk".



"tapi saya....".



polisi tiba di bandara dengan membawa surat penangkapan.


"kami dari polisi, kami ingin mencari seorang tersangka yang akan kabur. dan tuan ini bekerja sama dengan kami". ucap salah satu polisi yang datang.



saat itu juga terdengar sebuah pengumuman.



maaf bagi penumpang pesawat city air yang akan berangkat menuju Paris di tunda selama 2 jam karena ada masalah pada mesin pesawat.



nadia yang mendengar itu merasa kesal dan geram.


"aiishhh sial". nadia langsung bangkit dari tempat duduknya.



petugas keamanan bandara itu melihat dan membaca surat perintah penangkapan dan surat izin yang di bawa oleh polisi.



"baik tuan, anda boleh masuk".



seketika hans langsung masuk dan berlari mencari seseorang yang dia lihat tadi.


"nadia".



"maaf, kamu siapa".



"oh maaf saya salah orang".



hans terus berusaha mencari nadia, sampai akhirnya dia melihat seorang memakai kerudung putih menuju pintu keluar.



dia terus berlari mengejar orang itu, dan hans sangat yakin kalau itu adalah nadia.


"tunggu".


hans langsung membalikkan tubuh orang itu sampai kerudung yang di pakainya lepas terjatuh.



mata tasya terbuka lebar, saat orang yang dia lihat adalah hans.


"ha.. hans".



"mau lari kemana kamu nadia".



"ma.. maksud kamu apa hans. lari?  memangnya apa yang terjadi". nadia terlihat gugup dan takut.



"jangan pura-pura bodoh kamu nadia". hans menggenggam erat tangan nadia.



raka yang melihat hans berhasil menemukan nadia, langsung berlari menuju ke arah hans.



"wah rubah licik, akhirnya kamu ketemu juga".



"ka.. kalian mau apa hans".



Raka bertepuk tangan


"wah hebat kamu, acting kamu terlalu Bagus".



para polisi dan anak buah hans berdatangan.


"nona nadia, kami dari kepolisian. anda di tangkap karena percobaan pembunuhan terhadap istri tuan hans".



"a.. apa?.hans aku tidak melakukannya". nadia mulai membela dirinya.



"anda bisa jelaskan di kantor polisi".



"apa kalian memiliki bukti". ucap nadia



"kamu ingin bukti.  cepat bawa mereka kemari".



nadia terdiam melihat anak buahnya semua tertangkap, nadia tidak bisa berkata apa-apa lagi.



"apa kamu masih ingin membantah ini semua". ucap raka sambil menunjuk ke arah anak buah nadia.



nadia langsung berlutut di depan hans memohon ampun.


"hans maafkan aku, aku khilaf hans. aku tidak akan melakukannya lagi".



"aku tidak bisa memaafkan mu, berulang kali kamu ingin membunuh tasya dan anak yang dia kandung".



"hans aku mohon". nadia menangis di depan hans.



"pak polisi tolong bawa dia". ucap raka.



"baik pak".


polisi itu langsung memborgol kedua tangan tasya dan anak buahnya.



"hans aku mohon, selamatkan aku". nadia terus berteriak



segerombolan wartawan hadir di bandara, mereka semua meliput berita tentang tasya yang di tangkap karena percobaan pembunuhan.



berita itu seketika menjadi heboh dan menggemparkan, bagaimana tidak, status apa nadia yang merupakan salah satu orang terpenting di kota itu.



beritanya tersebar di seluruh media cetak dan elektronik .tasya yang berada di apartemen juga melihat berita itu dan membuat dia terkejut.



"bik, lihat berita itu.  apakah itu benar". tasya masih tidak mempercayainya.



bik ijah langsung berlari menuju ke ruang tamu.


"iyaa non, itu benar. non nadia telah di tangkap polisi karena mencoba membunuh non".



tasya terkejut dan meneteskan air matanya.


"jadi kejadian selama ini yang aku hadapi adalah perbuatannya".



"jangan menangis non, sekarang non nadia sudah menerima balasan dari perbuatannya".



"tapi aku masih tidak menyangka bik, dia tega melakukan itu padaku". tasya menangis terseduh-seduh.



"sudah non, nanti bayi non juga ikut sedih". bik ijah berusaha menenangkan tasya.



"bik, aku harus menemui hans. aku ingin mendengar penjelasan berita ini". tasya ingin bangun dari duduknya tapi bik ijah menahannya.



"jangan non, kita tunggu saja tuan pulang. non jangan pergi kemana-mana".



"tapi bik... ".



"sudah non, non tenang aja di rumah ya".



tasya menuruti kata-kata bik ijah dan menunggu hans pulang kerumah.


tasya terus melihat berita itu, sesekali dia memegang dadanya yang terasa sesak karena terus menangis.



tasya tidak sabar menunggu hans pulang, pada akhirnya dia bertekad pergi ke perusahaan untuk menjumpai hans.



"bik aku pergi ke perusahaan hans".



"non tunggu, biar bibik ikut".


bik ijah mengejar tasya yang keluar rumah.



"tidak usah bik, biar aku dan mang ujang saja yang pergi".


__ADS_1


tasya berlalu dan pergi menuju perusahaan hans.



__ADS_2