
Apartemen....
"non bersihkan diri dulu agar tidak lengket". ucap bik ijah
"iya bik, aku akan pergi mandi dulu".
hans yang tiba-tiba pulang tanpa memberitahu tasya.
"tuan sudah pulang".
"iya bik, ada dokumen yang tertinggal, tasya dimana bik".
"non lagi mandi tuan. apa tuan ingin makan siang dirumah? ".
"tidak usah bik, aku akan makan dikantor saja. aku hanya pulang untuk mengambil dokumen".
"maaf tuan, apa tuan punya waktu. saya ingin menceritakan sesuatu". bik ijah memberanikan diri ingin menceritakan semua masalah yang tasya alami.
"maaf non, bibik tidak bisa menepati janji. bibik tidak ingin non mengalami masalah lagi yang disebabkan oleh non nadia".
"ada apa bik. mau cerita apa? ".
"begini tuan, bibik mau cerita tentang masalah yang dialami non tasya".bik ijah mulai menceritakan semua masalah, mulai dari nadia yang melabrak tasya dirumah sakit, Alexa yang memaki tasya, hingga kejadian tadi di caffe.
"apa bik. kenapa bibik tidak menceritakannya padaku".
"maaf tuan, non tasya melarang bibik menceritakannya".
"ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menemui nadia". hans beranjak dari tempat duduk tapi bik ijah menahannya.
"jangan tuan. lebih baik tuan bicarakan dulu sama non tasya".
hans duduk kembali dan menunggu tasya selesai mandi. saat tasya keluar kamar, tasya terkejut melihat hans yang duduk diruang tamu dengan wajah marah.
"sayang, kenapa kamu pulang,mau makan siang. baiklah aku akan siapkan makanannya".
"tunggu tasya, aku pulang bukan untuk makan siang. kemari, aku ingin membicarakan sesuatu".
"ada apa sayang, kenapa kamu kelihatan serius banget".
"kenapa kamu tidak menceritakan semua masalah yang kamu alami. kenapa kamu menyembunyikannya dariku". hans berbicara dengan sedikit nada tinggi dan membuat tasya terkejut.
"ma.. masalah apa hans. aku gak ngerti".tasya terlihat gugup.
"masalah nadia yang telah menghina kamu".
"kamu mengetahui itu dari mana hans? ".
"kamu tidak perlu tau dari siapa aku tau".
tasya melirik kearah bik ijah, tapi bik ijah hanya menundukkan kepalanya.
"hans, dengarkan aku dulu. itu semua tidak masalah buat aku. aku baik-baik saja".
"tapi itu masalah buat aku, aku tidak ingin siapapun menyakitimu".
"hans, sudahlah. lupakan semuanya, aku tidak ingin membahas masalah itu lagi".
"tapi tasya.... ".
"hans aku mohon". tasya memeluk hans agar suaminya tidak memperpanjang masalah itu lagi.
"kamu janji sama aku. mulai sekarang kamu harus menceritakan jika mengalami masalah apapun".
"iya sayang, aku janji".
tasya merasa lega karena hans bisa mengontrol amarahnya. selama ini tasya tidak ingin cerita karena tidak ingin hans terbakar emosi.
"aku akan kembali lagi kekantor. kamu jaga diri, jangan kemana-mana lagi".
"baik hans, kamu hati-hati dijalan".
"iya sayang,mungkin aku akan telat pulang malam ini, kamu jangan menunggu aku untuk makan malam".
"iya sayang".
****
perusahaan...
hans kembali ke kantor untuk melakukan pertemuan dengan klien membahas proyek baru yang akan dia buat. saat hans melewati lobi kantor, hans melihat wanita dengan rambut panjang dan memakai baju berwarna coklat dengan rok pendek, wanita itu tersenyum kearah hans, wanita itu adalah nadia yang sedang menunggu hans.
"hai hans, kamu dari mana?. aku sudah lama menunggu kamu". tasya mengikuti langkah hans dibelakangnya.
hans hanya terdiam tidak menjawab ucapan nadia. hans masih merasa kesal dengan apa yang terjadi pada tasya.
"hans, kenapa kamu diam saja. aku datang untuk membicarakan proyek yang akan kita kerjakan".
"silakan kamu tunggu aku diruang rapat". hans meninggalkan tasya didepan pintu ruangannya.
nadia merasa kesal karena hans bersikap cuek kepadanya.
"eeiitss siapa ini yang menunggu diluar ruangan pak CEO". Raka melihat dan mengelilingi nadia dengan menggodanya.
"apaan sih". tasya meninggalkan raka dan berjalan ke arah ruang rapat.
"uuh dasar wanita jadi-jadian".
raka masuk keruangan hans dengan mengomel sendiri, sehingga membuat hans terheran-heran.
"apa yang kamu omelin pagi-pagi begini. sudah seperti emak-emak komplek tau gak". goda hans
"itu wanita jadi-jadian, diajak ngomong malah pergi gitu aja, syukur cewek, kalau bukan cewek udah aku kepret dia".
"siapa wanita jadi-jadian?. terus apa lagi itu kepret?. bahasa kamu terlalu tinggi, susah dimengerti oleh makhluk hidup".lagi-lagi hans menggoda raka yang sedang mengomel sendiri.
__ADS_1
"itu si nadia wanita jadi-jadian, bisa berubah bentuk dimana aja. wahh kamu perlu sekolah lagi hans, biar tau apa itu kepret". raka memberikan beberapa lembar dokumen.
hans membaca lembar demi lembar berkas yang diberikan oleh raka, kali ini hans harus teliti karena itu merupakan proyek besar, hans tidak ingin membuat kesalahan.
"bagaimana, apa kita bisa meeting sekarang". Raka berdiri sambil membereskan dasinya.
"ayo". hans beranjak dari kursinya dan menuju ruang meeting.
diruang meeting, beberapa petinggi perusahaan sudah hadir termasuk nadia yang mewakili perusahaan papanya.
"baiklah,saya akan memulai meeting kita hari ini". ucap hans dan langsung mempresentasikan beberapa data akumulasi dana pembangunan proyek.
nadia yang duduk tepat didepan hans hanya terdiam menatap hans sambil tersenyum tipis,dia tidak meperhatikan apa yang dibahas oleh hans,sehingga raka yang tepat berada disampingnya menyenggol tangan nadia agar fokus.
"apaan sih". nadia mulai risih karena raka terus menyenggol tangannya.
"perhatikan kedepan,ini proyek serius". raka berbicara sambil merapatkan giginya.
nadia tidak peduli dengan teguran raka, sehingga raka menginjak kaki nadia.
"agghhh ". teriak nadia karena kesakitan,dan semua orang yang hadir beralih perhatiannya kearah nadia.
"ada apa Buk nadia". hans menghentikan sejenak presentasinya.
"ahh tidak ada apa-apa, maaf. silakan dilanjutkan". nadia merasa malu karena orang-orang memperhatikannya.
raka hanya tertawa melihat nadia jadi perhatian orang-orang yang hadir dalam meeting.
"awas kamu ya". nadia mendorong tubuh raka yang asik tertawa.
setelah selesai meeting, nadia menghampiri hans.
"hans, kamu mau makan siang bareng aku".
"maaf nadia, aku ada janji sama raka akan jumpa klien". hans membereskan berkas-berkas diatas meja.
"apa? aku". raka kebingungan mendengar perkataan hans.
"ahh iya iya benar, kami akan bertemu klien dari Jepang 10 menit lagi". ucap raka
"hmm sayang sekali kamu tidak bisa, ya sudah besok saja kita makan siang bareng ya. besok siang aku jemput kamu dikantor".ucap nadia, lalu nadia beranjak pergi meninggalkan ruang rapat.
"tunggu nadia".
langkah nadia terhenti, ketika hans memanggil namanya, dan nadia tersenyum senang.
akhirnya kamu berubah fikiran hans.
"aku ingatkan kamu nadia, jangan pernah ganggu tasya lagi".
mendengar perkataan hans, wajah nadia yang awalnya senang berubah jadi datar dan mengepalkan kedua tangannya.
"maksud kamu apa hans. aku tidak mengerti". Nadia membalikkan badan dan tersenyum ke arah hans.
"baik hans". nadia pergi meninggalkan perusahaan hans.
"yo keren banget kamu hans, bisa membuat wanita jadi-jadian itu tidak berkutik". raka mendekati hans yang sedang berjalan keluar.
"kalian sepertinya terlihat cocok, setiap kali aku lihat, kalau kalian berjumpa selalu menggoda satu sama lain".
"apa? maksud kamu, aku sama wanita jadi-jadian itu. wahh gila kamu ya hans". raka tidak terima jika dirinya disandingkan dengan nadia.
hans terus berlalu meninggalkan raka yang mengomel sendiri.
****
"sial, bagaimana hans bisa tau kalau aku yang mengganggu tasya. apa tasya yang memberitahu hans. tidak-tidak, aku harus tetap berpura-pura tidak melakukannya. aku harus bersikap tenang, seperti tidak terjadi apa-apa. jika tidak rencanaku akan berantakan, lagian Hans tidak memiliki bukti apa-apa, jika hanya ucapan tasya saja tidak akan akurat". nadia melajukan mobilnya bergerak cepat.
****
apartemen...
"bik, aku lapar. aku ingin makan green tea cake, pizza, pasta, hamburger, coffe, vanila coklat,es cream". begitu banyak jenis makanan yang ada difikiran tasya.
"non,itu semua makanan gak baik buat kehamilan non.bibik masakkan sayuran atau buatkan salad aja ya non".
"gak bik,aku lagi gak mau makan makanan rumahan". semakin besar usia kehamilan tasya ,semakin banyak makan.
"bibik gak berani belikan makanan itu semua non,nanti tuan marah".
tasya terdiam dan mengerutkan keningnya, dia merasa sangat lapar hingga mengelus-elus perutnya. tasya beranjak dari sofa masuk kedalam kamarnya.
"ya ampun non, maafkan bibik". bik ijah merasa kasihan melihat tasya.
bik ijah kembali kedapur untuk membuatkan makan malam, sedangkan tasya masih tetap berada didalam kamarnya.
"aku lapar sekali". ucap tasya sambil memegang perutnya.
tasya berbaring diranjangnya, tasya mengalami kesulitan saat tidur dan merasa sesak karena perutnya yang semakin besar. sesekali tasya merasakan gerakan bayinya.
"sayang, aktif banget kamu nak". tendangan bayi dalam perut tasya semakin terasa.
tasya terus menginginkan makanan yang dia sebut tadi, sesekali tasya menelan ludah karena mengingat makanan itu, sampai akhirnya tasya tertidur dikamarnya.
tookk tokkk
'non, bibik sudah masakkan makan malam non, semuanya sudah siap. ayo non makan dulu". bik ijah memanggil tasya yang berada di kamarnya.
setelah 15 menit tidak ada jawaban dari tasya, bik ijah kembali lagi memanggil tasya.
"non, apa non tidur ya, makan malam sudah siap non, bibik mau izin pulang dulu ya non". karena sudah malam bik ijah segera pulang.
jam menunjukkan pukul 20:30 malam, tasya belum keluar juga dari kamarnya. terdengar suara pintu terbuka, ternyata hans pulang dari kantor. hans masuk dan melihat rumah sepi tidak terlihat bik ijah ataupun tasya. hans melihat meja makan masih lengkap semua makanannya tanpa tersentuh.
"kemana tasya, apa dia dikamar". ucap hans sambil melangkah kekamar.
__ADS_1
hans membuka pintu kamar, dan melihat tasya tertidur tapi dia tidur dengan mengerutkan keningnya dan berkeringat.
"sayang, kamu kenapa? kenapa berkeringat, apa AC nya tidak dingin". hans mencari remote AC untuk menaikkan suhunya.
"aku lapar". tasya berbicara dengan nada pelan.
"apa sayang". hans mendengar samar-samar yang diucapkan oleh tasya.
"aku lapar". tasya mengucapkannya lagi.
"sayang, kalau lapar kenapa tidak makan, bik ijah sudah memasakkannya. kenapa harus menunggu aku". hans mengelus kepala istrinya.
tasya membalikkan badannya, membelakangin hans.
"kenapa sayang". hans naik keranjang dan memeluk istrinya dari belakang.
"aku ingin makan diluar tidak ingin makan dirumah". ucap tasya meringis menahan lapar.
" oke oke, aku akan mengajak kamu makan diluar. tapi aku mandi dulu ya". hans saat itu masih mengenakan baju kantornya.
"ahh gak mau, nanti kelamaan". tasya tidak ingin hans mandi karena itu akan membuat dia menunggu lagi.
"sayang, aku seharian dikantor, aku harus mandi dulu. lihat aku masih memakai jas dan kemeja begini, memangnya kamu mau pergi dengan suami yang bau karena tidak mandi".
tasya tidak menjawab hans, tasya beranjak dari tempat tidur mengambil tas dan ingin keluar dari kamar.
"sayang, oke oke tunggu". hans menarik tangan tasya yang ingin pergi keluar dan memeluknya.
"kalau kamu gak mau, aku bisa pergi sendiri".
"bukan begitu sayang, kita akan makan diluar. tapi berikan aku waktu 5 menit saja untuk mengganti baju ya". hans yang masih memeluk tasya, menatap mata tasya dengan lembut.
tasya menjawab hans dengan menganggukkan kepalanya, seketika hans melepaskan pelukannya dan lari untuk mengganti pakaiannya. tasya menunggu hans diruang tamu dengan gelisah tidak sabar ingin keluar untuk mencari makanan.
hans dan tasya pergi keluar mencari makanan, tasya tidak sabar ingin memakan makanan yang dia inginkan.
"kita mau makan apa sayang". tanya hans sambil mengemudikan mobilnya.
"aku ingin makan pizza,humburger,pasta,green tea cake ,coffe ...". tasya menyebutkan semua makanan yang ada difikirannya dengan senyum semangat.
"sayang,itu semua gak baik buat kamu yang sedang hamil". hans terkejut dengan permintaan tasya.
"aku ingin makan itu semua hans". lagi-lagi tasya mengerutkan wajahnya.
"tapi sayang....". hans melihat tasya memalingkan wajahnya menjauhinya.
"iya iya kita akan makan itu semua malam ini". hans menyetujui permintaan tasya karena tidak ingin melihat tasya cemberut ataupun sedih.
mendengar ucapan hans,tasya sedikit tersenyum karena hans menyetujui permintaanya.
"ayo sayang kita sudah sampai,di restaurant ini semua yang kamu mau ada". hans menunjukka restaurant yang paling lengkap dikota itu.
hans dan tasya keluar dari mobil dan masuk kedalam restaurant.
hans mengajak Tasya duduk diruangan ViP, hans hanya ingin tasya merasa nyaman saat makan.
"kenapa kita duduk disini".
"biar kamu nyaman makannya sayang". hans mengusap kepala tasya dengan lembut.
"selamat malam ibu bapak, selamat datang di restaurant kami. silahkan dipilih menunya". ucap salah satu pelayan.
tasya mulai membuka menu dan melihatnya. tasya memesan beberapa makanan dan minuman yang dia inginkan.
"sayang, kamu pesan apa? ". tasya menanyakan kepada hans yang duduk terdiam didepannnya.
"aku pasta saja dan jus apel". ucap hans
"sudah itu saja". tasya memberikan kembali buku menu kepada pelayan.
"baik bapak ibu, ditunggu sebentar ya". tasya hanya tersenyum membalas ucapan pelayan itu.
"kamu sanggup sayang makan sebanyak itu".
"kan ada kamu yang bantu aku makan". tasya tersenyum melihat suaminya yang keheranan.
beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan datang, meja penuh dengan makanan.
"sayang, sebanyak ini". mata hans melotot melihat begitu banyak makanan.
"ayo sayang kita makan". tasya memulai makannya dengan semangat.
"pelan-pelan sayang".hans terseyum melihat istrinya sedang makan.
itulah alasan kenapa hans mengajak tasya duduk diruang VIP, karena hans tidak ingin orang lain memandangi tasya saat menikmati makanannya yang penuh semangat.
tasya tidak memakan semua pesanannya, dia hanya mencicipi sedikit setiap jenis makanan.
"sayang, kenapa kamu tidak makan lagi".
"aku sudah kenyang hans".
"tapi ini semua masih banyak sayang, kenapa hanya sedikit yang kamu makan".
"selebihnya kamu yang habisi ya sayang".
"apa aku... ". hans terkejut karena harus memakan semua makanan itu.
"kamu gak mau ya". tasya memasang wajah cemberut didepan suaminya itu.
"iya iya sayang, aku akan menghabiskannya". hans tidak ingin membuat tasya sedih, akhirnya dia menyetujuinya untuk memakan semuanya.
tasya bahagia melihat suaminya makan semua yang dia pesan. tapi disisi lain, hans sudah merasa cukup kenyang hingga perutnya terasa sakit, tasya yang melihat suaminya kekenyangan hanya bisa tertawa.
__ADS_1