LOVE IS IN YOUR HEART

LOVE IS IN YOUR HEART
Episode 5


__ADS_3

pagi hari...



"tuan sudah bangun". sapa bik ijah yang sedang beres-beres rumah.



"bik, pagi ini aku ada rapat. tolong jaga Tasya bik, berikan dia makan dan minum obat tepat waktu ya bik". hans masih sedikit khawatir tapi dia tidak bisa libur kerja untuk menemani tasya.



"baik tuan" jawab bik ijah



"kalau ada apa-apa hubungi saya saja".



"oya bik, suruh mang ujang ke tempat kerja Tasya untuk izin beberpa hari".


baik tuan.



hans bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan meninggalkan tasya tanpa berpamitan.



******


toko roti...



mang ujang sampai di toko Tasya bekerja.



"selamat datang". sambut monic di depan pintu toko



"saya ingin bertemu pemilik toko ini".



"maaf pak, pemilik toko ini belum datang, ada yang bisa saya bantu".



"saya ingin memberitahukan kalau non Tasya izin tidak bekerja karena sakit".



"Tasya!? ". monic terkejut karena ucapan pria paruh baya itu.



" maaf, bapak siapanya Tasya ya?. monic yang begitu penasaran.



"saya sopir nya non Tasya, tolong sampaikan ke pemilik toko ya non, saya pamit dulu". mang ujang pergi meninggalkan toko roti.



"non Tasya? sopir Tasya?". monic masih tidak percaya apa yang dia dengar.



jelas saja, selama ini monica hanya tau kalau tasya hanya tinggal sendiri disebuah apartemen kecil di sudut kota. bagaimana bisa tasya punya seorang supir. bahkan monic tau bagaimana keadaan kehidupan tasya yang jauh dari kata cukup. bahkan untuk membayar sewa apartemen saja dia sulit. begitu banyak hal-hal yang difikirkan oleh monic tentang sahabatnya itu.



"aahh sudahlah.  besok akan aku tanyakan langsung pada tasya".



semoga tasya baik-baik saja, tidak ada hal buruk terjadi padanya.




*****


apartemen...



Tasya terbangun, dia mencoba ingin berjalan keluar kamar tapi kepalanya masih sedikit pusing. dia terkejut karena tangannya terpasang infus dan melihat perutnya di perban.



"apa yang terjadi? kenapa aku di infus, aku tidak bisa mengingat apapun". Tasya memegang kepalanya yang masih pusing.



Tasya keluar kamar dengan tangan masih terpasang infus. dia berjalan menuju ruang dapur, karena dia melihat bik ijah sedang masak.



"bik ijah". Tasya memanggil bik ijah yang berada di dapur.



"ya ampun non, kenapa keluar kamar, non istirahat saja".



"aku baik-baik aja bik. kenapa aku di infus bik? apa yang terjadi? ".



"semalam non pingsan di kamar, lalu tuan hans memanggil dokter untuk memeriksa non tasya".



apa hans?  bagaimana bisa dia menolongku. bukanya dia sangat benci padaku.



tasya tidak percaya pada ucapan bik ijah, bagaimana bisa seorang yang tidak peduli mau membantunya.



"sekarang hans di mana bik?".



"tuan sudah berangkat kerja non,katanya ada rapat pagi ini. oya non, semalaman tuan menjaga non dan bahkan tidur di samping non Tasya".



"ahhh benar kah bik,hans melakukan itu semua". Tasya tidak percaya sekaligus bahagia mendengar ucapan bik ijah.



apa bik ijah tidak bohong padaku. setelah hans menolongku lalu dia menjagaku. apa dia khawatir padaku ? tapi hans tidak mungkin mau melakukan itu semua. itu semua seperti bukan hans yang aku kenal selama ini.



"ini non sarapan dulu, habis itu minum obatnya".



"makasih ya bik". pagi ini Tasya tersenyum dengan cerah walaupun wajahnya sedikit pucat.



tasya memang suka tersenyum dalam keadaan apapun. karena dia tau sesulit apapun hidupnya dia akan tetap jalani itu semua sendiri, tasya tidak ingin membuat orang lain merasa kasihan padanya.



bel apartemen berbunyi...



"biar bibi aja yang buka non".



"ah makasih bi". tasya menghentikan langkahnya dan kembali duduk.



"pagi nyonya". bik ijah menyambut kedatangan mama hans



"pagi juga bi, tasya dan hans ada bik". mama hans berjalan masuk



"tuan sudah berangkat nyonya, non tasya lagi sarapan".



"siapa bik yang datang". tasya penasaran karena bi ijah tidak datang juga.



"nyonya yang datang non".



"huuk hukk apa mama".



sontak membuat Tasya terkejut, karena mama hans datang berkunjung tanpa memberi tahukan dulu.



mata mama hans melotot dan juga terkejut melihat kondisi Tasya yang pucat, kurus dan selang infus terpasang di tanganya. seminggu yang lalu tasya masih terlihat sedikit gemuk dan cerah.

__ADS_1



"apa yang terjadi Tasya, kamu kenapa? ". begitu khawatirnya mama hans melihat kondisi Tasya.



"aku tidak apa-apa ma, aku baik-baik aja". Tasya mencoba meyakinkan mertuanya itu.



mama hans tidak percaya dengan ucapan tasya yang mengatakan baik-baik saja, jelas dimata mama hans semua itu tidak baik.



"mama kenapa tidak menelfon aku jika ingin berkunjung, akukan bisa membuatkan sarapan untuk mama juga". tasya mencoba mengalihkan pembicaraan



"mama tidak sengaja lewat dan langsung singgah. bik ijah, ceritakan apa yang terjadi".mama hans masih penasaran apa yang terjadi dengan menantunya itu.



Tasya cepat-cepat memberikan isyarat kepada bik ijah untuk tidak menceritakan yang sebenarnya. tasya tidak ingin mertuanya khawatir dan menyalahkan hans jika tau semuanya. walaupun bukan salah hans tasya terluka tapi dia tidak ingin melibatkan hans.



"non Tasya hanya kecapekan aja nyonya". bik ijah terpaksa bohong kepada mama hans.



"apa hans tidak memperlakukan mu dengan baik, apa hans kasar dengamu".



"tidak ma, hans sangat baik denganku,hans menjagaku dengan baik ma". tasya terpaksa bohong agar mertuanya tidak khawatir.



tasya berfikir bagaimana jika mertuanya tau bahwa hans sama sekali tidak peduli dan tidak menganggap tasya istrinya. dia tidak mau terjadi keributan antara hans dan mamanya. karena tasya tau kalau hans sangat sayang pada mamanya.



"sayang, kamu jangan menyembunyikan hal buruk dari mama. jujur saja sama mama".



"iya ma, tidak terjadi apa-apa antara kami. kami baik-baik saja ma". tasya tersenyum manis dihadapan mertuanya.



maafkan aku ma, aku berbohong pada mama. aku hanya ingin menunjukkan bahwa rumah tangga kami baik-baik saja seperti yang mama harapkan. aku juga tidak ingin membuat mama kecewa karena mama sudah baik denganku dan sudah mau menerimaku jadi menantu mama.



"baiklah.  mama akan telfon hans agar dia pulang".



"jangan ma.  mungkin hans lagi sibuk, aku beneran baik-baik saja ma". tasya mencegah  mertuanya untuk menelfon hans, karena tasya tidak ingin hans marah padanya.



"sudah tasya,  biarkan mama telfon hans".



segala alasan sudah tasya berikan, tapi itu semua tidak mengubah pendirian mama hans untuk menghubungi hans.



mama, aku mohon jangan menelfon hans. aku gak mau hans semakin membenciku. tasya terduduk lemas dimeja makan.



******


perusahaan hans...



setelah selesai meeting dengan para karyawan, hans berjalan menuju keruang kerjanya, tapi tiba-tiba raka menghadangnya di lorong kantor.



"aku ingin introgasi kamu hans". bisik raka



"apaan sih ini anak". hans mengerutkan keningnya



hans terus berjalan tanpa memperdulikan kehadiran raka.  raka terus mengikuti langkah hans hingga masuk keruang kerja nya.



"kamu jahat ya hans, tega kamu nyiksa istri kamu sendiri". tuduh raka



"apaan sih.. wahh pasti Daniel yang kasih tau kamu ya .aku gak pernah nyiksa Tasya. nyentuh dia aja aku gak pernah". bela hans




"iya tapi bukan karena aku, kamu percaya sama daniel yang suka bohong itu ".



menurut hans, Daniel orang yang sangat berlebihan, sehingga hans menjuluki Daniel "si tukang bohong".Daniel selalu melebih-lebihkan suatu masalah tapi itu hanya dia lakukan pada sahabatnya saja.



"terus kenapa Tasya bisa sakit kalau bukan karena kamu siapa lagi? kan gak mungkin aku". raka mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi wajah yang mengejek hans.



" ya aku gak tau". sikap dingin hans mulai muncul



"kamu uda seminggu lebih nikah sama Tasya tapi kamu masih gak peduli sama dia, mending kamu ceraikan aja dia". ucap raka agar membuat hans sadar akan keegoisan dia.



hans terdiam sebentar mengdengar ucapan hans.



"bukan gitu... aku.... ".



ucapan hans terhenti, karena tiba-tiba ada yang menelfonnya. melihat kelayar handphone dan ternyata mamanya.



"sebentar ka, mama ku nelfon".



"huu dasar anak mami, sudah punya istripun mamanya masih nelfon aja". ejek raka terhadap hans



hans pergi ke jendela ruang kantornya untuk mengangkat telfon.



"halo ma, ada apa".



"cepat kamu pulang sekarang, mama gak mau mendengar alasan apapun, mama sekarang di apartemen kamu".



"tapi ma, aku masih banyak kerjaan".



" tidak ada tapi-tapian hans,  apa perlu mama yang kekantor kamu".



"baik ma, aku pulang sekarang".


dengan cepat mama hans menutup telpon.



kenapa tiba-tiba mama datang?  apa wanita itu yang menghubungi mama. apa mau dia sebenarnya?  dari nadanya sepertinya mama marah.


hans merasa geram dan menggepalkan tangannya.



cepat-cepat hans berlari keluar menuju parkiran. dia tidak menghiraukan raka yang masih ada diruangannya.



"hans ada apa?  apa ada masalah dengan perusahaan". raka berteriak tapi tidak dihiraukan oleh hans



*****


apartemen....



30 menit kemudian hans sampai di apartemen.



"ma... ".belum sempat hans bicara mamanya sudah memotong ucapan hans.

__ADS_1



"cepat kamu kemari duduk dan jelaskan sama mama apa yang terjadi sama Tasya". wajah mama hans yang terlihat sangat kecewa dan marah terhadap anaknya.



"ma, aku gak apa-apa, aku baik-baik saja ma, aku hanya kecapekan aja". potong Tasya merasa khawatir kalau hans akan semakin membencinya.



wanita ini pandai berakting didepan mama, apa dia sengaja ingin membuat mama marah padaku.



"Tasya kamu Diam Aja di samping mama, biar hans yang menjelaskan semua pada mama".



terlihat mama hans sangat sayang terhadap Tasya, ia begitu khawatir dengan kondisi Tasya.



"hans juga tidak tau ma, hans melihat Tasya pingsan di kamarnya".



"apa kamarnya? berarti kalian tidur dikamar yang berbeda". hans tidak menyadari apa yang dia ucapkan dan membuat mamanya semakin kesal



"ma, dengeri Tasya ya, ini semua bukan salah hans, Tasya yang salah belum bisa jadi istri yang baik buat hans, maafin Tasya uda buat mama kecewa". tutur Tasya dengan nada sangat menyesal.



"hentikan tasya, kamu gak perlu jelasi apapun sama mama". ucapan hans membuat tasya langsung terdiam



"mama gak mau lihat keadaan ini lagi hans. kalian suami istri harus tidur di kamar yang sama".



"iya ma, maafin hans udah buat mama kecewa". ucap hans sambil memeluk mamanya.



"kalau papa mu tau, dia akan lebih marah lagi. bik ijah, mulai sekarang laporkan kepada saya apapun yang terjadi disini".



"baik nyonya". jawab bik ijah



"mulai besok mama mau Tasya bekerja di kantor kamu hans, jangan biarkan dia bekerja di toko roti lagi".



Tasya terkejut mendengar ucapan mertuanya itu.



"jangan ma, Tasya masih ingin bekerja di toko itu, Tasya janji gak akan terlalu capek kerja".



Tasya berusaha keras meyakinkan mertuanya, tapi mama hans tetap ingin Tasya bekerja di kantor hans.



"baik ma, besok hans urus Tasya untuk bekerja di perusahaan". Hans menyetujui perintah mamanya tanpa menolak.



"tapi ma... ". Tasya mencoba menolaknya



"jangan khawatir sayang, kalau kalian kerja satu kantor, hans lebih mudah untuk menjaga kamu". tutur mama hans



"ya sudah, mama mau pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik ya sayang". mama hans memeluk Tasya dan mengelus pundaknya.



karena masih jam 2 siang, hans memilih untuk kembali ke perusahaan.



"bik, aku kembali ke perusahaan dulu, mungkin pulang terlambat". ucap hans sembari melangkah keluar apartemen.



"tunggu hans,  aku ingin bicara sama kamu". hans terus berjalan keluar apartemen dan tidak menghiraukan ucapan tasya



tasya berlari keluar mengejar hans ,tasya ingin menjelaskan apa yang terjadi hari ini dan bagaimana mamanya bisa datang berkunjung, tasya tidak ingin hans salah paham padanya.



"hans tunggu aku, tunggu sebentar". tasya menarik tangan hans



"ada apa lagi". hans menghempaskan tangan tasya, sehingga membuat tasya sedikit terdorong.



"aku ingin menjelaskan kedatangan mama".



"tidak perlu penjelasan apapun".



" hans, mama datang dengan sendirinya. aku tidak memberitahukan mama apapun, percayalah padaku".



"apa.. percaya padamu.  siapa kamu dan apa hak kamu menyuruh ku untuk percaya".



"hans, kenapa kamu ngomong seperti itu". mata tasya berkaca-kaca, dia tidak percaya apa yang hans ucapkan.



"kamu mau pura-pura baik didepanku.  aku sama sekali tidak percaya apapun terhadap kamu".



"apa salahku hans, kenapa kamu bersikap kasar padaku".dan tasya pun tidak lagi bisa menahan air matanya.



"menjadi nyonya hans apa tidak cukup untukmu".



"hans, kamu sendiri yang mengajak aku menikah. kamu sendiri yang memilih aku, bagaimana bisa menjadi nyonya hans cukup untukku. bukan hartamu yang aku mau". tasya terus menangis tapi hans menunjukkan sikap tidak pedulinya.



"sudah cukup. aku tidak butuh air matamu dan aku tidak ingin bertengkar denganmu". hans melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan tasya yang menangis.



kaki tasya terasa lemas setelah mendengar semua perkataan hans yang kasar, perlahan tasya terduduk dilantai parkir apartemen, tangisannya tidak bisa dia hentikan, hatinya sakit dan hancur atas sikap hans terhadapnya.



kenapa kamu tega hans, kenapa kamu tega berkata seperti itu padaku. aku hanya ingin menjelaskan dengan baik-baik padamu, haruskah berkata kasar seperti itu.



tasya memandangi mobil hans yang pergi jauh meninggalkannya sendiri.



bik ijah berlari mengejar tasya, karena khawatir dengan kondisi tasya yang belum stabil. melihat tasya yang menangis terduduk dilantai membuat hati bik ijah ikut sedih, dia harus menyaksikan penderitaan tasya.



"sudah non, mungkin tuan buru-buru banyak kerjaan.ayokk kita masuk".



"apa salahku bik. kenapa harus aku yang mengalami semua ini". tasya memeluk bik ijah dan menumpahkan semua air matanya.



"sabar ya non, yang sabar".



"bik, aku mau istirahat dan aku ingin sendiri".



"baik non,mari kita masuk".



tasya berjalan masuk kedalam apartemen,tapi airmatanya masih terus mengalir karena hatinya merasa sangat sedih.



kasian non tasya, tuan tidak peduli dengannya. kenapa wanita sebaik non tasya harus mempunyai suami seperti tuan hans yang keras kepala.sabar non, maaf bibi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu non.



bi ijah hanya bisa menghela nafas melihat hubungan tasya dan hans yang jauh dari kata harmonis,setip hari bik ijah melihat raut wajah tasya yang sedih ditutupi dengan senyum manisnya.


__ADS_1



__ADS_2