Love Story' (The Series)

Love Story' (The Series)
Chapter 22


__ADS_3

...Cinta Buta...


Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.


Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata. Setiap asa melukiskan kata, setiap hal memberikan informasi tentang perjalanan hidup dan setiap waktu akan menggoreskan tinta tentang arti kebahagiaan dan juga kesedihan. Gue cuma orang biasa bukan seorang protagonis yang layak di sanjung dan juga bukan sosok antagonis yang layak buat di bully, bukan juga seorang figuran yang cuma numpang lewat, gue bukan cewek gaul yang sok gaul dan juga bukan cewek keren yang sok keren, gue gak seromantis Nicolas Saputra dan juga gak secantik Dian Sastro Wardoyo, btw ini bukan kisah antara Rangga dan Cinta.


Entah kenapa gue jadi sosok yang puitis padahal gue bukan sosok cewek yang humoris atau romantis, dan juga bukan sosok cewek yang gaul bak mie gaul, bahkan juga bukan artis yang sok artis, jangankan buat bersikap sok akrab wajah gue yang pendiam justru mungkin dianggap orang kurang ramah dan tak pandai bergaul, padahal gue sebenernya gak ngerti apa-apa. Kenapa ya akhir-akhir ini gue sering banget nulis di buku harian gue sampai suatu ketika gue sadar buku harian gue udah penuh sama curhatan gue, yang intinya panjang di kali lebar sama dengan entah sejak kapan gue jadi sosok yang romantis bak pesinetron papan atas padahal aslinya gue orang biasa dan tak terkenal. Mungkin bukan seorang gue namanya kalau gak punya rasa, sebab setiap rasa akan membawa kita kepada suasa cinta, ataupun persahabatan kayak cerita yang gue tulis di sini. Entahlah Lo mau baca atau enggak seterah Lo ya istilahnya bodo amatlah, karena dari dulu gue orangnya gak suka banyak omong tapi sekalinya ngomong banyak banget.


***


Emangnya bener Ikbal sosok cowok yang gue sayang dan gue cinta, apa bener gue gak bisa benci dia meski semua yang udah dia lakuin gue udah membuat gue marah dan kecewa. Gue tahu dia emang dari dulu begitu tapi kapan sih dia sadar sama perasaannya sendiri dan berhenti buat membeda-bedakan antara cinta dan persahabatan.


"Kenapa kamu liatin aku?" Tanyaku


"Deh siapa juga yang liatin Lo !" Jawabnya dengan nada keras


Kenapa ya sikap cowok yang satu ini aneh banget, padahal dia bukan siapa-siapa gue sih meskipun dia terkenal sangat populer di kalangan gadis-gadis di sekolah kami tapi di mataku dia biasa saja tuh, meski aku sedikit posesif saat melihat dia akrab dengan temen-temen ceweknya. Lah kok gue bisa secemburu itu padahal dia bukan siapa-siapa gue, jangankan buat deket cuma sekedar kenal ajah gue males.


"Yaampun Zal, kepala Lo gede banget sih, sampe gue mau nulis gak keliatan nih!" Ujar gue


"Tau nih udah tau tinggi duduknya di belakang aja kali!" Ujar yang lainnya


"Iya iya nih gue pindah!" Jawabnya


Akhirnya gue pindah tapi malah duduk sama Ikbal, ya ampun gue jadi canggung banget malah gak ada kursi lain lagi.


"Eh minggir dong!" Ucap gue


"Apaan sih gue udah duduk disini dari tadi" jawabnya


"Udah duduk aja tuh sama Ikbal" jawabnya

__ADS_1


"Lo ngapain disini!" Ujar Ikbal


"Numpang duduk di sebelah situ gak keliatan!" Jawab gue santai


Tapi kenapa tiba-tiba gue jadi gemetaran gini ya.


"Ngapa sih Lo !" Ujar gue


"Kok kayak ada yang beda Lea sama Lo ?" Tanyanya


"Apaan?" Tanya gue


"Enggak tiba-tiba Lo tambah nyebelin" ujarnya


"Ihhh apaan sih Lo !" Jawab gue


Tapi kenapa si Ikbal ngeliatin gue aja nih bikin gue gak bisa fokus belajar aja nih.


Matahari bersinar di ufuk timur berikan sinarnya yang terang sembari menunggu datangnya sang fajar menyingsing, aku tak tahan melihat cahaya terang yang begitu besar nan indah namun tak pelak cahyanya memberikan tanda tanya terhadap perasaan ku yang berkecamuk antara kebimbangan dan juga ketidak pastian yang membuat aku tak percaya akan indahnya cinta, naluri ku bertanya ada apakah gerangan dengan misteri yang selalu saja timbul dalam kehidupanku yang membuat aku tak mampu melalui setiap proses dalam kehidupanku. Aku tak gentar namun juga yakin tapi tak pelak hati kecilku pun bertanya apakah aku mampu memenuhi hajat hidupku dengan baik, angin nampak riuh ciruh yang membuat aku kedinginan kemudian aku selimuti badanku dengan jaket tebal yang aku bawa dari rumah.


"Lo ngapain lagi ngeliatin gue" Ujar gue sambil nulis nyelesain mata pelajaran yang tadi


"Lo serius amat si Lea" Ucapnya sambil ngeliatin gue yang lagi nulis


"Lagian tadi udah tau gue lagi liatin papan tulis, eh kepala Lo malah ngalangin ajah" Ujar gue cuek


"Yah, sorry deh gue gak bermaksud kayak gitu kali" Ucapnya polos sambil ngeliatin gue


"Lo ngeliatinnya jangan gitu dong!" Ujar gue sambil ngusir dia


Kemudian si Ikbal malah dateng...

__ADS_1


"Kalian ngapain sih berduaan berantem mulu" Ucap Ikbal


"Lo mau kemana Bal?" Tanya Rizal


"Gue mau ke kantin, Lo mau ikut?" Jawab Ikbal sambil ngajak Rizal ke kantin


"Owh yawdah, gue ikut!" Ujarnya sambil ikut Ikbal


"Lo ngapain sih gangguin dia" Ujar Ikbal


"Abis dia lucu sih" Jawab Rizal sambil mengusap rambut gue


"Ih sana Lo!" Ucap gue sebel gue dia selalu ajah bikin gue risih


Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang tertulis bersama hati dan juga perasaan.


Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.


Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.


Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata. Setiap asa melukiskan kata, setiap hal memberikan informasi tentang perjalanan hidup dan setiap waktu akan menggoreskan tinta tentang arti kebahagiaan dan juga kesedihan. Gue cuma orang biasa bukan seorang protagonis yang layak di sanjung dan juga bukan sosok antagonis yang layak buat di bully, bukan juga seorang figuran yang cuma numpang lewat, gue bukan cewek gaul yang sok gaul dan juga bukan cewek keren yang sok keren, gue gak seromantis Nicolas Saputra dan juga gak secantik Dian Sastro Wardoyo, btw ini bukan kisah antara Rangga dan Cinta.


Entah kenapa gue jadi sosok yang puitis padahal gue bukan sosok cewek yang humoris atau romantis, dan juga bukan sosok cewek yang gaul bak mie gaul, bahkan juga bukan artis yang sok artis, jangankan buat bersikap sok akrab wajah gue yang pendiam justru mungkin dianggap orang kurang ramah dan tak pandai bergaul, padahal gue sebenernya gak ngerti apa-apa. Kenapa ya akhir-akhir ini gue sering banget nulis di buku harian gue sampai suatu ketika gue sadar buku harian gue udah penuh sama curhatan gue, yang intinya panjang di kali lebar sama dengan entah sejak kapan gue jadi sosok yang romantis bak pesinetron papan atas padahal aslinya gue orang biasa dan tak terkenal. Mungkin bukan seorang gue namanya kalau gak punya rasa, sebab setiap rasa akan membawa kita kepada suasa cinta, ataupun persahabatan kayak cerita yang gue tulis di sini. Entahlah Lo mau baca atau enggak seterah Lo ya istilahnya bodo amatlah, karena dari dulu gue orangnya gak suka banyak omong tapi sekalinya ngomong banyak banget.


"Apa Lo bahagia?" Entahlah cuma kata-kata yang ditulis dengan tanda tanya, gak tegas gak elok. Cuma pengen jadi seseorang yang sepesial di depannya, meski aku bukan sosok perfeksionis yang pantas buat di sanjung. Aku memang egois gak seharusnya dia menjadi bagian dalam kisah hidupku ini padahal dia bukan bagian dalam hidupku. Langkahku ini terhenti namun aku tak ingin ini hanya menjadi cerita tentang aku dan dia, nyatanya kini bukan hanya ada aku tetapi juga ada dia.


"Lagi ngapain sih Lo !" Tanyanya


"Deh Lo lagi nulis ya?" Tanyanya lagi sembari melihat gue yang sedang menulis buku diary


"Liat dong!" Ujarnya

__ADS_1


"Apaan sih Lo, bikin kaget ajah!" Jawabku


***


__ADS_2