
Jian sedang duduk sendiri di bangku taman kampus dia tampak sedang melamun. Sementara itu dari jauh Haru terlihat terus memperhatikannya.
"Jian, apa yang kau lakukan disini?" tanya Haru menepuk bahu Jian.
"Tidak ada, aku hanya sedang duduk santai" jawab Jian.
"Jika kau sedang tidak sibuk, maukah pergi denganku?" tanya Haru.
"Pergi kemana?" tanya Jian.
"Pergi jalan-jalan, agar kau tidak murung lagi."
"Maaf Haru aku tidak ingin pergi jalan-jalan kemanapun saat ini. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk sendiri, aku tidak apa-apa" jawab Jian.
"Aku mengerti, ini makan siang, kau harus makan teratur nanti sakit. Sampai jumpa lagi." Kata Haru sambil meletakkan bungkusan makanan, lalu berjalan meninggalkan Jian.
Haru cemas karena sudah lewat waktu makan siang Jian masih duduk di bangku taman dan melamun. Apa dia akan baik-baik saja pikir haru menoleh pada Jian yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
__ADS_1
---
Adrian nampak sedang duduk dikamarnya, memegang sebuah surat kecil. Sambil menimbang-nimbang apakah akan mengirimkan surat itu atau tidak. Entah sudah berapa kali dia mondar-mandir di kamar itu.
Namun akhirnya ia menarik napas panjang dan menuju sangkar burung elang kesayangannya. Dia lalu mengeluarkan burung elang itu dari sangkarnya.Burung itu punya tiga garis emas samar-samar di bulunya. Adrian lalu mengikatkan surat ke kaki burung itu. Pergilah, antarkan suratku seperti biasa perintahnya. Burung itu pun terbang tinggi di atas istana, semakin jauh dan menghilang dari pandangan mata Adrian.
Raut kelegaan tergambar diwajahnya. "aku memang harus mengakhiri ini semua sebelum terlambat, tolong maafkan aku Jian" gumamnya pelan.
---
Jauh dari tempat itu di kedalaman hutan yang lebat seorang laki-laki sedang asyik mengasah pedang dan membuat anak panah. Laki laki itu bertubuh tinggi dan kekar. meskipun dia tampak lusuh karena keringat. itu semua tidak bisa menyembunyikan ketampanan di wajahnya.
---
Scarlet memutuskan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak bisa menahan rasa penasaran yang terus menghantui pikirannya. Dia memutuskan menemui guru Jian untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Aku sudah khawatir ini semua akan terjadi, karena itu aku tidak pernah membiarkan muridku keluar dari Fraksi barat sebelum waktunya, andai saja aku lebih hati-hati" kata guru jian memulai penjelasannya.
__ADS_1
"Maksud ketua Fraksi barat?" tanya Scarlet heran.
"Waktu pertama kali bertemu dengan muridku, dia sangat menarik perhatianku. Aku menyadari kekuatan api dalam dirinya. Kekuatan itu pernah dimiliki oleh raja terdahulu. Aku ingin menjadi gurunya, karena aku percaya dia akan menjadi orang besar di Fantasy land suatu hari nanti" guru jian menarik napas panjang sebelum meneruskan kata-katanya.
"Aku tidak membiarkan dia keluar dari fraksi barat, karena takut ada orang yang iri padanya sebelum dia siap. Tetapi anak itu sangat nakat dan selalu melanggar perintahku. Dia menemui Adrian yang berstatus calon raja tanpa sepengetahuanku. Aku suatu hari mengetahui kekuatan api dalam dirinya bukan kekuatan biasa. Itu adalah pertanda yang disiapkan pada calon pemimpin Fantasy land sebelum mereka naik tahta."
"Jadi maksud anda Jian adalah pemimpin Fantast land sebenarnya bukan Adrian." tanya Scarlet penasaran.
"Benar aku merasa dekret kerajaan telah dipalsukan oleh seseorang."
"Siapa yang begitu jahat melakukan semua ini?" kata Scarlet geram.
"Ketua fraksi barat tidak perlu khawatir, saya akan membantu Jian untuk mencari keadilan untuknya."
"Terimakasih. aku bukan orang berambisi pada kekuasaan begitu juga muridku. Tetapi jika mereka telah menyakiti muridku aku tidak akan diam saja" jawab guru Jian.
Kemudian mereka berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Kilatan masa lalu dan masa depan singgah di pikiran mereka.
__ADS_1
-Bersambung-