
Jian teringat pertemuan pertama dengan gurunya. Saat dia kehilangan semangat dan tidak tau harus pergi kemana, dia bertemu dengan gurunya.
Flashback
"Aku benar-benar tidak mencuri" bantah Jian dengan berurai air mata.
"Ibu ingin mempercayaimu, tetapi bukti semua ada disini, ibu tidak bisa membelamu" jawab ibu tirinya dengan sedih.
Jian difitnah mencuri uang temannya. Meskipun dia tidak mencurinya, namun tidak ada yang mau percaya karena semua bukti mengarah kepadanya. Jian hanya bisa menangis dengan putus asa di kantor kepala sekolah, di depan dewan guru dan ibu tirinya.
Jian akhirnya mendapat hukuman percobaan dari sekolah, selama 1 bulan. Hukumannya tidak berat, tetapi dampak psikologisnya lebih besar dari yang dikira. Setelah Jian menyelesaikan hukuman dia dijauhi teman-temannya, dan mereka mulai melakukan buli kepadanya.
---
"Tia tidak berangkat sekolah dengan kakak?" tanya Jian pada Tia.
"Aku tidak punya kakak sepertimu" jawab Tia ketus.
__ADS_1
Jian sebenarnya ingin meringankan beban hatinya dengan berbicara pada Tia, namun Tia ikut menjauhi dan membencinya. Jian masih bisa tahan jika orang lain yang membencinya, namun ini adalah keluarganya sendiri, dia tidak tau apa yang harus dilakukan.
Jian bermaksud pergi kerumah keluarganya yang lain, namun tidak ada yang menerimanya. Padahal pada saat ayahnya masih hidup mereka sangat baik padanya. Jian berjanji untuk tidak kembali ke rumah ibu tirinya karena Tia. Satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah jembatan pelangi, jadilah saat itu dia duduk di pagar jembatan untuk menenangkan diri.
Dia terbiasa pergi kesana. Sudah selama satu bulan ini dia pergi ke jembatan pelangi untuk menghilangkan sedih. Jembatan pelangi adalah jembatan berwarna-warni karena banyaknya lampu yang dipasang disana. Jembatan itu menghubungkan sebuah sungai kecil. Tempat itu sepi sehingga jian senang berada disana.
Hari ini dia nampak putus asa, dan pandangan matanya terlihat kosong. Seorang kakek berjalan kearah jembatan. Kakek itu terkejut melihat Jian disana. Dia langsung menghampiri Jian.
"Nak, jangan berpikiran pendek, kau masih muda, masa depanmu masih panjang" kata kakek itu pada Jian.
Jian terkejut dab bingung mendengar perkataan kakek itu. "Maksud kakek apa?" tanya Jian.
"Siapa yang mau bunuh diri? kakek ada-ada saja, saya setiap hari pergi kesini" kata Jian kesal. 'Meskipun aku sedang sedih aku tidak segila itu' pikir Jian.
"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya kakek itu.
"Saya hanya ingin duduk disini" jawab Jian.
__ADS_1
"Nak, aku melihat ada elemen api dalam dirimu, aku yakin di masa depan kau akan menjadi orang hebat" kata kakek itu pada Jian.
"Saya tidak mengerti apa itu elemen api, dan saya tidak tertarik" jawab Jian.
"Nak, jika kau bersedia menjadi muridku, aku akan mengangkatmu sebagai anak dan memberikanmu tempat tinggal. Keliatannya kau dalam kesulitan sekarang" kata kakek itu.
"Kakek tau keadaan saya?" tanya Jian.
"Aku bisa membaca seseorang. Kau tidak perlu mengatakan masalahmu, aku sudah tau" jawab kakek itu.
"Benarkan kakek akan mengangkat saya sebagai anak, dan memberikan tempat tinggal" tanya Jian polos, dia tiba-tiba teringat bahwa dia sangat memerlukan tempat tinggal.
"Apapun yang kau perlukan aku akan memenuhinya, asalkan kau mau menjadi muridku dan pergi ke Fantasy Land" jawab kakek itu.
"Apa itu Fantasy Land?" tanya Jian penasaran.
"Fantasy land adalah tanah penuh keajaiban. Ceritanya akan panjang, nanti kau akan tau sendiri setelah pergi kesana" jawab kakek itu
__ADS_1
-Bersambung-