
Kehidupan Jian menjadi lebih baik, dia melanjutkan sekolah dan pindah ke Jakarta. Setelah beberapa lama, gurunya membawa Jian ke Fantasy Land.
Jian di bawa ke Fraksi barat dan diajari kemampuan pengendalian api, dan ilmu-ilmu rahasia yang lain. Gurunya juga memberi kucing roh penjaga untuk menemani Jian. Jian tidak tau bagaimana harus mengatakan kebaikan gurunya. Walaupun gurunya suka bertingkah aneh, Jian sangat hormat dan kagum dengan gurunya
Suatu hari ketika Jian sedang berlatih sendirian tanpa ia sadari kucing roh penjaganya hilang. Jian sangat menyayangi kucing itu, karena kucing itu adalah satu-satunya temannya di Fantasy land. Jian menjadi panik mencari kucing itu.
Setelah mencari selama setengah hari di Fraksi barat Jian tetap tidak menemukan kucing itu. Jian bermaksud mencari kucing itu di luar fraksi barat, tetapi dia telah diperintahkan untuk tidak meninggalkan fraksi barat oleh gurunya.
Sampai esok harinya kucing itu belum kembali, Jian menjadi semakin cemas. Dia nekat menyelinap keluar dari fraksi barat tanpa sepengetahuan gurunya.
Jian mencari kucing itu ke berbagai tempat. Hingga sampailah Jian di sebuah tempat yang berbeda dari tempat lain di Fantasy land. Bangunan di tempat itu lebih tinggi dari bangunan lain dan lebih berkilau.
Jian ragu-ragu untuk memasuki tempat asing itu. Tetapi tiba-tiba ia mendengar suara kucingnya sayup-sayup dari dalam tempat itu. Sehingga tanpa ragu-ragu lagi Jian memasuki tempat yang belum dikenalnya itu.
__ADS_1
Terlihat seseorang pemuda sedang duduk di kursi sambil memangku kucingnya. Jian tanpa sadar langsung menghampiri orang itu, tanpa bertanya lagi siapa dia. Orang itu terkejut dengan kedatangan Jian dan langsung berdiri.
"Tolong kembalikan kucingku" kata Jian tanpa basa-basi sambil mengulurkan tangannya, meminta kucing yang sedang digendong pemuda itu.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk kesini?" tanya pemuda itu heran.
"Kau tidak dengar ya? kembalikan kucingku"
"Sebaiknya kau pergi, ini bukan tempat yang bisa dimasuki oleh sembarang orang."
"Baiklah" jawab pemuda itu sambil menyerahkan kucing ditangannya.
Jian segera meninggalkan bangunan yang sangat megah itu. Sementara pemuda itu memandang kepergian Jian sambil tersenyum. 'Gadis yang menarik' pikir orang itu dalam hati.
__ADS_1
Jika Jian pikirkan lagi, dia sedikit menyesali pertemuan itu. Itulah saat pertama dia mengenal Adrian. Dan hari-hari berikutnya saat Adrian mulai mendekatinya, dan hari-hari saat mereka bersama, saat ini hancur seakan tidak pernah terjadi. Adrian telah melupakan dirinya sama sekali. Tidak ingat siapa dia , bahkan namanya. Setiap kali mereka bertemu Adrian selalu memperkenalkan diri, seakan itu adalah saat pertama mereka bertemu.
---
Jian sedang berbaring di pangkuan adrian, matanya tampak berat dan mengantuk. Namun mulutnya masih mampu untuk berbicara dan bertanya.
"Apakah kak Adrian akan melupakan aku jika sudah menjadi raja?" tanya Jian masih dengan mata yang terpejam.
"Tidak akan" jawab Adrian
"Aku tidak percaya" balas Jian pada Adrian.
"Bagaimana kau bisa percaya kalau kau masih menutup matamu. Coba buka matamu dan tatap mataku. Apakah aku berbohong padamu?" tanya Adrian.
__ADS_1
Jian membuka matanya dan melihat ketulusan dari sorot mata itu. Adrian tidak berbohong padanya. Tetapi apakah janji bisa di tepati hanya karena ketulusan seseorang yang mengucapkan janji itu. Pada akhirnya Adrian tetap melanggar janji itu dan melupakannya, meskipun dia tidak ingin semua itu terjadi.