
Persiapan perang sudah hampir selesai. Semua telah mempersiapkan diri dengan baik. Ditengah kebingungannya Jian merasa aneh dengan adanya seseorang yang bergabung dengan pasukan mereka. Orang itu sepertinya bangsawan, karena guru Jian sangat hormat padanya. Dia memakai baju Hijau dengan pola yang unik. Orang itu bertubuh kekar dan terlihat tampan menurut pendapat Jian.
Jian entah kenapa mencurigai orang itu. Apalagi gurunya tidak menjelaskan siapa laki-laki itu. Jadi Jian bermaksud membuntuti laki-laki itu saat peperangan terjadi.
---
Sementara itu Adrian sedang sibuk berkeliling istana, memeriksa kesiapan istana. Dia telah mendengar upaya pemberontakan dari fraksi barat dan fraksi selatan. Namun tidak ada secercah rasa khawatir di wajahnya. Dia sangat tenang mempersiapkan semuanya.
Sampai pasukan pemberontak datang mereka dibingungkan oleh jebakan yang ada dimana-mana, sehingga mereka memutuskan berpencar. Hanya ada deberapa penjaga di istana. Itu sangat aneh, karena dalam keadaan normal istana mempunyai banyak penjaga.
Jian mengikuti jalan yang dipilih laki-laki berjubah hijau itu. Laki-laki itu sampai pada bagian istana yang tidak Jian ketahui, mungkin ruangan rahasia. Adrian sedang duduk disana mengunggu laki-laki itu. Sementara itu Jian melihat sekretaris kerajaan tergeletak tidak bernyawa di samping Adrian. Kemudian laki-laki itu memberi penghormatan dan kemudian berbicara pada Adrian. 'Apakah dia akan membantu Adrian melarikan diri?' pikir Jian.
Karena terlalu asyik mengamati mereka, jian lupa bahwa dia sedang bersandar di dinding yang tipis. Dia terlalu mendorong dinding itu sehingga dinding roboh dan menimbulkan suara keras. Jian terjatuh di hadapan mereka berdua.
Dia menatap mata Adrian dan ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin mengatakan bahwa dia akan membiarkan Adrian pergi. Tapi saat ini ia sangat malu sehingga dia tidak tau apa yang harus dikatakan pada Adrian.
Adrian mengarahkan panah kepada Jian karena keterkejutannya. Namun ia enggan menurunkan panah itu, dan tetap memasang wajah dingin.
"Minggir" teriaknya dengan keras pada Jian.
"Aku tidak akan minggir" jawab Jian tanpa sadar.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku jika kau tidak mau minggir" kata Adrian.
Jian menutup matanya, dia tidak tau Adrian akan benar-benar memanahnya atau tidak. Tapi dia tetap berdiri di tempatnya, tanpa keinginan menghindari panah.
Mereka tampaknya terlalu membuang waktu, pasukan pemberontak telah sampai ke tempat mereka berada. dan langsung menghujani Adrian dengan panah. Sehingga Adrian yang tidak siap pun terluka. Laki-laki berbaju hijau itu segera menarik Adrian. Tiba-tiba muncul kabut hijau yang menghalangi pandangan mata. Saat kabut mereda mereka berdua sudah hilang dari pandangan.
---
Jian sebenarnya kebingungan, tidak tau apa yang dia pilih benar atau salah. Dia hanya berharap semua ini dia hanya berharap semua ini akan berlalu, dan kehidupan yang tenang akan kembali. Tetapi semua itu terasa salah.
Saat melihat orang dia cintai terluka dan berlumuran darah, hatinya sebenarnya tidak kuat. Bagaimana bisa dia tega melihat Adrian terluka, dia berharap Adrian bisa selamat.
Dia duduk di tahta kerajaan. Saat ini dia sadar semuanya terasa salah, semuanya terlalu mudah. Sejak awal Adrian tidak pernah benar-benar melukainya. 'Dan sekarang dia terluka ' kata Jian lirih.
---
Saat ini samua orang menuntutnya tentang pernikahan, karena mereka menganggap tidak sah seorang ratu berkuasa jika tidak mempunyai pendamping. Sementara itu dia benar-benar kalut, dia tidak tau keberadaan Adrian sekarang. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak bisa memikirkan pernikahan saat ini.
---
Haru mengajaknya bicara hari ini, dan keinginan untuk berbicara jujur pada Haru semakin besar. Dia tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan selamanya. Haru begitu tulus membantunya, dan tidak pernah meninggalkannya pada saat sulit. Dia tidak bisa membuat haru berada dalam kebohongan yang ia ciptakan.
__ADS_1
"Jian, aku menyukaimu" kata Haru padanya.
"Haru maaf ... aku...."
"Tidak apa, katakan saja suara hatimu yang sesungguhnya, aku ingin mendengar jawaban jujur darimu" kata Haru.
"Aku mencintai orang lain" jawab Jian. Namun dia tidak berani menatap Haru, takut akan melihat kekecewaan di wajah Haru.
"Aku tau, aku hanya ingin tau siapa orang itu. Karena siapapun yang kau pilih aku akan mendukung. Aku hanya ingin kau bahagia. Kenapa kau tidak mau mengatakan bahwa kau sudah mempunyai seseorang di hatimu?" kata Haru.
"Bukan aku tidak mau, hanya saja...itu tidak mungkin" jawab Jian dengan ragu.
"Kenapa itu tidak mungkin?" tanya Haru penasaran.
"Karena aku mencintai Adrian, aku mencintai kakakmu" jawab Jian dengan enggan sehingga suaranya sangat pelan. Namun Haru masih bisa mendengar jawabannya.
Haru terkejut dengan kata-kata yang mengalir dari bibir Jian. Dia diam tanpa bereaksi, begitu juga Jian yang tidak tau harus berbuat apa.
"Aku mengerti" kata haru tiba-tiba di tengah kesunyian yang tercipta diantara mereka.
"Aku pergi dulu" sambung Haru, dia pergi tanpa mengunggu jawaban dari Jian.
__ADS_1
'Maafkan aku Haru' gumam Jian pelan.
-Bersambung-