Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Salah paham


__ADS_3

Setelah selesai makan Abah Umar lalu pergi keteras rumah sementara Rachel dan Gyeon-i membereskan bekas makan mereka. Diluar Abah Umar melihat Mo Myung sedang duduk dan masih setia dengan lamunannya.


Abah Umar lalu duduk disamping Mo Myung, dia menatap wajah teduh pemuda tampan itu yang terus bergeming dan tak menghiraukan kehadiran kakek tua itu. Dari raut wajahnya, dari diamnya, pemuda itu tetap tak bisa menyembunyikan kegundahan dan beban yang tengah dipikulnya sendirian.


Abah Umar menghela nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan kemudian dia mulai bicara.


"Myung, Abah tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan tapi Abah minta kamu jangan tidak makan karena suatu alasan, Abah tahu kamu itu merasa lapar jadi kamu makan ya"


Mo Myung masih tak bergeming, tatapannya yang kosong masih terus menatap lurus dan tak sedikit pun melirik lawan bicaranya.


"Ya udah, coba sebutin kamu mau makan sama apa? Biar Abah beliin diluar" tanya Abah Umar.


Dari situ Mo Myung baru melirik sekilas kakek tua itu meski dia masih belum mau bersuara.


"Ayo! Jangan sungkan, kamu mau makan apa nanti Abah beliin" bujuk Abah Umar lagi.


Tapi Mo Myung masih saja terus terdiam akhirnya Abah Umar berniat membelikan makanan apa saja yang kira-kira akan dimakan oleh Mo Myung. Meski pun pemuda tampan itu baru dikenalnya tapi kakek tua yang baik hati itu tak segan membantu orang-orang yang butuh bantuannya meski baru dikenalnya. Abah Umar pun pergi untuk membeli makanan.


...******...


25 menit kemudian


Kini Abah Umar sudah kembali dengan membawa nasi padang dengan rendangnya. Dia berharap kali ini Mo Myung mau makan.


Saat dia kembali ternyata pemuda tampan yang dingin itu masih duduk melamun diteras rumah, tapi kali ini dia ditemani oleh Gyeon-i yang terlihat terkantuk-kantuk saat menemani Mo myung yang terus setia pada diamnya.


"Assalamualaikum" salam Abah Umar.


Mendengar ucapan salam dari sang kakek, Gyeon-i yang sedang terkantuk-kantuk jadi terhenyak kaget, dia lalu membetulkan posisi duduknya yang tadi hampir tersungkur. Sementara Mo Myung hanya menatap lekat kakek tua itu tanpa menjawab salam sang kakek.


"Kakek, habis dari mana?" alih-alih menjawab salam kakek tua itu, Gyeon-i malah langsung bertanya.


"Beli ini buat Myung biar dia mau makan, Apa kamu juga mau makan lagi seperti yang Abah beli?"


"Tidak usah kek, aku sudah kenyang, kalau gitu aku bawain piring dulu ya" jawab Gyeon-i segera masuk kedalam rumah untuk membawa piring.


Setelah dibelikan nasi padang dan harus dibujuk lagi berkali-kali akhirnya Mo Myung mau makan juga. Dia segera melahap makanannya sampai habis karena sebenarnya perutnya sudah sangat kelaparan.


Waktu pun terus berputar langit malah kini telah menampakan keindahannya dengan ribuan bahkan jutaan gugus bintang yang bertebaran dilangit malam yang terlihat cerah karena cahaya bulan dan bintang yang bersanding dilangit malam.


Karena hari semakin larut dan keluarga Abah Umar tak bisa membiarkan ada dua pemuda menginap dirumahnya sebab takut akan ada fitnah dari para tetangga akhirnya Abah Umar dan Rachel mengantar mereka ke vila untuk tinggal disana sementara waktu sesuai dengan perjanjian tadi siang antara Rachel dan Abah Umar. Setelah mengantar kedua pemuda itu,mereka kembali pulang.


...*******...


Saat sang mentari telah menampakan cahayanya yang cerah, Mo Myung dan Gyeon-i pergi jalan-jalan untuk menghirup udara pagi yang segar sambil menikmati indahnya hamparan perkebunan teh yang berundak-undak.


Tapi diperjalanan, tiba-tiba saja Gyeon-i menarik tubuh Mo Myung untuk jongkok dan bersembunyi dibalik semak-semak.


"Ada apa Gyeon-i? Kenapa kita harus bersembunyi?" tanya Mo Myung yang terpaksa harus ikut jongkok.


"Lihatlah diujung jalan itu, ada pria berpakaian loreng sambil membawa senjata, dia nampak mencurigakan aku takut dia akan mencelakaimu, pangeran! Kita kan tidak tahu kita ada dimana? Kita harus tetap waspada, aku takut pembunuh bayaran itu akan mengikuti kita sampai kesini" tutur Gyeon-i dengan mempertajam kewaspadaannya sambil menunjuk pada sosok pria berpakain tentara dengan senjata laras panjang yang diselendangkan dibahunya.


Mo Myung lalu memperhatikan pria yang kini sedang terlihat mondar mandir ditempat sambil celingukan.Karena Mo Myung dan Gyeon-i sampai detik ini masih belum menyadari kalau mereka telah pindah kedimensi yang berbeda dan tak mungkin para pembunuh itu menyusul mereka sampai kesini karena zaman sudah berbeda, tetap untuk selalu hati-hati dan waspada.Tiba-tiba ada seorang gadis yang mendekati tentara itu.


"Itu kan,,,itu kan,,,Ra eul Kenapa dia menemui pria mencurigakan itu?" tanya Gyeon-i penasaran


"Kita lihatin aja dulu kalau pria itu berbuat macam-macam pada Ra eul kita hajar dia" titah Mo Myung.


"Baik" kata Gyeon-i sambil terus mengawasi pergerakan pria itu.

__ADS_1


Sementara itu,Pria itu menyunggingkan senyuman pada Rachel, tentu saja Rachel pun membalasnya.


"Maaf ya A, aku datang telat" ucap gadis remaja itu


"Tidak apa-apa, aku juga baru datang ko, oh iya, aku punya sesuatu untukmu" ucap pria itu lalu mengambil sesuatu dari ransel yang digendongnya


Kemudian dia memberikan sebuah kotak kecil pada Rachel.


"Apa ini A Eza?" tanya Rachel pada pria yang usianya terpaut 5 tahun darinya.


"Buka aja, semoga kamu suka"


Rachel lalu membuka kotak yang berisi sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.


"Makasih ya A, ini bagus aku suka" ucap sumringah Rachel.


"Mau aku pakaiin"


"Boleh"


Faeza atau lebih akrab dipangil Eza, pria tampan berprofesi seorang tentara yang bertubuh tinggi dan atletis itu lalu hendak memakaikan kalung dileher Rachel. Tapi tiba-tiba Mo Myung berlari kearah mereka yang tentunya juga diikuti oleh Gyeon-i yang selalu mengikuti kemana pun dia pergi seperti prangko yang selalu menempel begitulah diibaratkannya Gyeon-i dan Mo Myung.


"Dia mau mencekik Ra eul, Ayo! kita cegah!" pekik Mo Myung penuh semangat.


Setelah dekat dengan Rachel dan Eza, Mo Myung lalu menjambak kepala Eza hingga dia beringsut mundur karena kejadiannya tak terduga hingga Eza tak diberi kesempatan untuk melawan apa lagi menghindar.


"Aaaaaaa,,,!!" pekik Eza


"Hai! Lepasin dia!" hardik Rachel


Tapi Mo Myung tak mau melepaskan cengkramannya,kepala Eza terus diunyeng-unyeng oleh dia.Merasa tak dihiraukan oleh Mo Myung akhirnya Rachel menjambak rambut Mo Myung,dia pun memekik kesakitan bukannya dia melepaskan cengkramannya tapi tangannya malah mencengkram rambut Eza lebih kuat lagi hingga baret yang terpasang dikepala Eza dengan gagahnya terjatuh.


Tak bisa membiarkan junjungannya disakiti akhirnya Gyeon-i ikut menarik tubuh Rachel yang mungil itu. Kekacauan pun sudah tak terhingga lagi, jambak menjambak, tarik menarik dan saling berteriak karena kesakitan. Tak tahan lagi dengan semua kekacauan ini akhirnya Rachel berteriak dengan suara terkerasnya.


"Hentikaaaaann!" pekik Rachel membuat kaget semua karena suaranya yang begitu nyaring seperti suara petir yang menggelegar disiang bolong.


"Hai! Myung, Kenapa menyerang dia?" tanya Rachel.


"Harusnya kamu berterimakasih padaku, bukankah dia mau mencekikmu?" tutur Mo Myung.


Pletak,,


Tiba-tiba saja tanpa aba-aba Rachel menjitak kepala Mo Myung.


"Heh! Kenapa kau menjitakku?" tanya Mo Myung dengan membulatkan matanya sempurna sambil mengelus-elus kepalanya yang tadi dijitak oleh Rachel.


"Siapa juga yang mau mencekikku? Dia mau masangin kalung, makannya kalau tidak tahu apa-apa jangan pasang serang orang aja" bentak Rachel yang kesal pada mereka.


"Tuh! Kan kalungnya jatuh dimana ya,tadi?" gumam Rachel seraya mencari kalungnya yang jatuh ketanah ntah disebelah mana.


Eza segera membantu mencari kalung itu sementara Mo Myung dan Gyeon-i hanya berdiri mematung dengan wajah tanpa dosa.


"Rachel, aku menemukan kalungnya, ini" ujar Eza sambil memberikan kalung itu pada Rachel.


"Maafin atas tingkah mereka ya" ucap Rachel penuh sesal.


"Tidak apa-apa Rachel, Apa kamu mengenal mereka?" tanya Eza


"Iya, mereka itu orang-orang yang akan bekerja dikebun Abah"

__ADS_1


"Eh! Kamu jangan sembarangan ngomong siapa juga yang mau bekerja dikebun Abahmu" sangkal Mo Myung dengan tegas.


"Sssstttt,,,!" Rachel menyuruh Mo Myung diam sambil memberi kode dengan suara pelan dan kedipan mata.


Tapi orang yang diberi kode tidak mengerti dengan maksud Rachel.


"Kamu jangan genit padaku Ra eul, aku tidak akan tergoda denganmu" ujar Mo Myung dengan wajah datarnya.


"Siapa juga yang lagi godain kamu" sangkal Rachel


"Tadi kamu mengedip-ngedipkan matamu padaku" tukas Mo Myung


Membuat Rachel kesal dan salah tingkah dihadapan Eza karena Rachel tidak ingin ada kesalah pahaman antara dirinya dengan cowok yang dianggap aneh itu.


"Dasar cowok tengik yang angkuh tapi bego, ngga ngerti bahasa aku" gerutu kesal Rachel dalam hatinya.


"A Eza, aku mohon jangan salah paham ya, mereka ini sebenarnya,,, itu,,, mereka,, anu,,,itu,,,Ah!,,,maksudku,,, mereka,,," ucap Rachel dengan gelagapan karena bingung harus menjelaskan dari mana sementara Mo Myung tidak mengaku dengan penjelasan Rachel.


Wajah tampan tentara itu hanya tersenyum seraya menunggu penjelasan dari Rachel yang terlihat bertele-tele namun tetap Rachel tak bisa menjelaskan apa pun hingga akhirnya datanglah sebuah bus yang berhenti tepat dihadapan mereka.


"Jemputanku sudah datang, aku harus segera berangkat, nanti kalau aku sudah sampai aku janji akan langsung meneleponmu" ujar Faeza


"Eee! Iya A, hati-hati ya, dijalannya" ucap Rachel dengan canggung.


Ada kekecewaan yang tersirat diraut wajah gadis remaja itu,mungkin karena dia takut sang pujaan hati salah paham atas hubungannya dengan kedua pria itu.


Eza lalu naik ke busnya,kemudian dia berdiri dipintu bus dengan menghadap kearah Rachel.Saat bus melaju dia tersenyum sambil melambaikan tangan pada Rachel dan Rachel membalas lambaiannya sambil tersenyum.


Sementara Mo Myung menatap gadis cantik itu dari samping, senyuman Rachel pada Eza itu begitu tulus dan penuh cinta hingga terbersit sebuah perasaan aneh yang sulit untuk diartikan oleh Mo Myung saat melihat Rachel yang tersenyum pada Eza. Ketika masih tenggelam dalam lamunannya saat memandang gadis remaja itu, tiba-tiba.


Pletak,,,


Pletak,,,


Rachel menjitak lagi kepala Mo Myung dan Gyeon-i hingga mereka mengaduh kesakitan.


"Auh! Sakit tahu!" protes serempak Mo Myung dan Gyeon-i.


Rachel lalu mengepalkan kedua tangannya yang diangkat setinggi pipinya sambil menggeram kesal.


"Kalian, berdua! Bikin kesel aja ya, ganggu aku aja" bentak Rachel


Gyeon-i dan Mo Myung hanya menatap Rachel dengan wajah tanpa dosa dan kebingungan akan sikaf Rachel yang tiba-tiba marah. Rachel


lalu meninggalkan mereka.


"Hai! Kamu mau kemana?" teriak Mo Myung masih mematung ditempatnya seraya melihat gadis remaja itu melenggang pergi tanpa sepatah kata pun.


Rachel lalu menghentikan langkahnya dan melirik kearah mereka.


"Ngga usah kepo dengan urusanku dan satu lagi kalian tidak boleh mengikutiku,camkan itu!" ujar Rachel dengan nada sedikit mengancam.


"Eh! Tapi kami belum sarapan pagi kamu harus memberi kami makan" kata Mo Myung.


"Bodo amat! Makan aja tuh! rumput" pekik Rachel sambil mempercepat langkahnya.


Sementara kedua pemuda itu hanya melongo menatap kepergian Rachel.


Next,,,

__ADS_1


__ADS_2