
Dirumah pria berkumis,,
Pria berkumis itu menatap aneh pada Mo Myung dan Gyeon-i karena penampilan mereka yang berbeda, mereka terlihat seperti manusia zaman dulu tapi tampan, berkulit putih, bermata sipit dan berpakaian seperti bangsawan zaman dulu. Begitu juga dengan Mo Myung dan Gyeon-i, mereka pun merasa pria berkumis itu terlihat aneh dari cara berpakainnya yang berbeda dengan mereka dan dari warna kulitnya juga pria berkumis itu memiliki warna kulit sawo matang cenderung gelap.
"Sebenarnya mereka ini siapa? Kenapa mereka terlihat aneh?" kata pria berkumis dalam hati sambil memperahtikan Mo Myung dan Gyeon-i dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"Hey! Orang aneh! Sebenarnya kau mau apakan kami?" tanya Mo Myung dengan angkuh.
"Yang aneh itu kalian bukan saya. Maksudnya apa ini dan ini, kalian kaya manusia zaman dulu aja" kata pria berkumis sambil menunjuk ke arah rambut Mo Myung yang disanggul dan kebaju yang dikenakan Mo myung sambil mengacungkan goloknya yang tajam.
Dan itu membuat Mo Myung melotot antara rasa angkuh dan rasa agak ngerinya melihat golok si pria berkumis.
"Bisa tidak kau jangan selalu mengacungkan golokmu itu? Aku ini calon raja kau bisa kuhukum mati jika terus berlaku tidak sopan padaku" hardik Mo Myung yang belum sadar akan situasi dan tempatnya kini berbeda.
Mendengar itu membuat pria berkumis itu tertawa geli,ini semakin menguatkan dugaannya kalau kedua pria aneh itu mempunyai penyakit kejiwaan alias gila.
"Dasar orang gila! Calon raja pala lu peang! Wooy!! Sadar!! Mimpi lu kebangetan ya!" ledek pria berkumis sambil menoyor kepala Mo Myung.
Sontak itu menyulut kemarahan Mo Myung dia lalu hendak menghajar pria berkumis itu,tapi Gyeon-i menarik tubuhnya untuk tidak berkelahi.
"Pangeran, tahan emosimu! Kita tidak tahu sekarang kita ada dimana? Situasinya seperti apa? Jadi sebaiknya saat ini kita ikuti aja dulu apa mau dia dan jangan memancing-mancing pertengkaran lagi" bisik Gyeon-i
"Tapi, Gyeon-i! dia sudah ngatain kita gila bagaimana aku bisa menerima semua itu?" gerutu Mo Myung dengan tatapan membara penuh emosi.
Dengan wajah teduh, Gyeon-i menatap Mo Myung dengan tatapan lekat dan serius.
"Pangeran, dengarkan aku ya, tadi yang dikatakan gila itu adalah calon raja sementara aku tidak pernah bilang kalau aku ini calon raja, itu artinya aku tidak dikatain gila dan dia cuma menyatakan gila itu padamu saja, pangeran. Jadi kamu jangan bilang 'KITA' karena yang dia katain gila itu cuma dirimu,pangeran!" ujar Gyeon-i
"Kurangajar! kau Gyeon-i! Udah aku dengerin dengan serius kirain mau menenangkanku tahunya kau pun malah ngatain aku gila" gerutu kesal Mo Myung sambil jitakin kepala Gyeon-i.
__ADS_1
Gyeon-i lalu tersenyum sambil menghindari Mo Myung yang terus menjitakinya dengan menyilangkan kedua tangannya diatas kepala.
"Hey! Kenapa kalian malah jadi berantem sih?" hardik Pria berkumis dengan nada suara meninggi membuat Mo Myung dan Gyeon-i kaget hingga akhirnya mereka pun bergeming.
Suasana lalu menjadi hening untuk sesaat hingga Gyeon-i mulai mengajak bernegosiasi agar masalah tak berkepanjangan.
"Sudah! Sekarang kita berdamai saja, tuan! Sebenarnya apa maumu terhadap kami? Kami tidak mau memperpanjang semuanya dan sekali lagi kami tegaskan kami tidak mencuri kelapamu, ini hanya kesalah pahaman saja, yang mencuri itu seorang gadis tapi kami tidak tahu siapa dia? Karena kami baru melihatnya" Gyeon-i menjelaskan.
Pria berkumis itu menatap Gyeon-i yang lebih ramah dan sopan dari pada temannya itu dan raut wajahnya pun nampak kalau dia seorang yang baik dan jujur, tapi meski begitu pria berkumis itu tak lantas melepaskan mereka begitu saja.
"Saya bisa saja melepaskan kalian tapi bagaimana kalau suatu hari kalian benar-benar mencuri ditempat saya?" tanya pria berkumis karena masih ragu.
"Kami berjanji tidak akan mencuri kalau kami melanggar perjanjian maka kau bisa memenjarakan kami,iya kan pangeran?" tanya Gyeon-i meminta dukungan pada Mo Myung.
Tapi dia malah terus diam hingga akhirnya Gyeon-i menyikut lengan Mo Myung untuk segera mengiyakan.
"Eeee,,, Iya kami berjanji" ucap Mo Myung.
Tapi Gyeon-i terus membujuknya agar dia menurunkan egonya yang amat tinggi itu demi agar segera bebas dari pria berkumis itu. Akhirnya dengan terpakasa Mo Myung mau juga meski saat menjalani hukumannya dia terus ngedumel tidak karuan dan dia juga mengerjakannya sambil marah-marah.
Gyeon-i hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan pangerannya yang seperti itu karena baginya wajar kelakuannya seperti itu sebab mengingat selama ini dia selalu dilayani oleh para dayang dan kasim, dia juga suka bertindak dan menghukum orang lain dengan sesuka hatinya, kehidupannya yang mewah dan tak pernah merasakan hidup susah membuatnya jadi pongah dan merasa gengsi kalau harus melakukan pekerjaan seperti ini.
Setelah selesai menjalani hukumannya Mo Myung dan Gyeon-i langsung kabur saat mereka tak lagi diawasi oleh pria berkumis itu dengan berlari sekencang mungkin untuk menjauhi rumah pria berkumis.
Hingga mereka memasuki sebuah perkampungan yang dirasa begitu asing bagi mereka, orang-orangnya, rumah-rumahnya,kendaraan yang ditumpanginya semua terlihat begitu aneh dan asing bagi Mo Myung dan Gyeon-i.
"Pangeran, sebenarnya kita ada dimana? Kenapa tempat ini begitu asing dan aneh?" tanya Gyeon-i sambil terus mengedarkan pandangannya.
"Kenapa kau bertanya tentang pertanyaan yang juga ingin kutanyakan Gyeon-i?" tanya balik Mo Myung.
__ADS_1
"Ya ampun! Jadi kau pun tak tahu tempat apa ini?" kata Gyeon-i sambil menepuk jidatnya yang sebagian tertutup oleh ikat kepala yang melingkar dikepalanya.
Mo Myung lalu menghentikan langkahnya, sejenak dia memejamkan matanya sambil berpikir dengan keras.
"Kenapa berhenti? Apa kau sakit, pangeran?" tanya Gyeon-i khawatir.
"Tidak! Aku sedang mengingat kembali apa yang terjadi malam itu hingga kita bisa sampai ditempat asing ini" jawab Mo Myung yang membuat Gyeon-i jadi bergeming karena dia pun memutar kembali memorinya untuk mengingat kejadian malam itu.
Flashback On
Malam dimana para pembunuh bayaran itu mengejar Mo Myung dan Gyeon-i kebukit belakang istana hingga mereka terpojok ditepi jurang yang dibawahnya ada aliran sungai. Dan saat pembunuh bayaran itu berhasil melukai Mo Myung dan merasa mereka tidak akan bisa menang melawan para pembunuh itu dikeadaan Mo Myung yang terluka, akhirnya Mo Myung mengajak Gyeon-i untuk loncat kebawah jurang.
Saat itulah mereka mengalami kejanggalan yang tak bisa dicerna oleh nalar manusia. Tiba-tiba saja ada sebuah lubang hitam yang tadinya kecil tapi saat tubuh mereka semakin mendekati, lubang itu semakin membesar dan gravitasinya yang amat kuat terus menyedot tubuh mereka kedalamnya, pergerakan waktu saat itu pun semakin terasa melambat hingga akhirnya tubuh mereka benar-benar masuk kedalam lubang hitam yang membawa tubuh mereka kedimensi ruang dan waktu yang berbeda.
Seketika terjadilah sebuah ledakan cahaya yang menyilaukan dan memutari lubang hitam itu seperti spiral, yang pada akhirnya ledakan cahaya mirip supernova itu membentuk nebula dengan warna-warna yang amat kontras.
Tak berapa lama ledakan cahaya mirip supernova itu akhirnya menghilang seiring hilangnya lubang hitam itu. Suasana pun kembali kesedia kala namun tubuh kedua insan yang terperangkap dalam black hole itu ikut menghilang n'tah kemana?.
Flashback Off
"Ini sungguh aneh, sebenarnya apa yang terjadi dengan kita, Gyeon-i?" tanya Mo Myung yang tak bisa mencerna dengan kejadian yang dialaminya itu.
Gyeon-i pun menggelengkan kepala karena dia juga tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi meski begitu dia merasa bersyukur karena masih bisa selamat dan hidup dari kejaran para pembunuh bayaran itu, meski kini dia tengah bingung karena tak tahu sekarang ada dimana?.
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang tak bisa mereka jawab sebenarnya yaitu mereka telah tersedot kesebuah lubang yang membawa mereka keperjalanan waktu dengan kecepatan cahaya, membawa mereka kemasa depan dengan kisaran waktu kurang lebih 500 tahun dari masa mereka hidup kemasa depan. Lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua insan ini dimasa depan? Dan apakah mereka bisa kembali kewaktu dan tahun dizaman mereka hidup? Hanya waktulah yang bisa menjawab semua itu.
Next,,,,