
Seperti biasa mentari pagi ini bersinar dengan cerah. Rachel yang sudah bangun sebelum adzan subuh kini sudah siap melakukan aktifitasnya.Sebelum dia pergi menyusul Abahnya kekebun, dia pergi kevila terlebih dahulu untuk mengajak Mo Myung dan Gyeon-i untuk berkebun.
Sesampainya divila, karena Rachel punya kunci cadangan jadi dia bisa dengan mudah memasuki vila tersebut meski dikunci dari dalam. Rupanya saat dia masuk kedua pemuda itu masih terlelap dalam mimpi indahnya dan dengan terpaksa Rachel membangunkan mereka.
Betapa terkejutnya Rachel saat membuka pintu kamar yang tak dikunci itu, dia mendapati Mo Myung sedang terlelap tidur dengan nyamannya dikasur yang empuk sementara Gyeon-i tidur meringkuk dilantai tanpa alas apa pun. Dengan perlahan dan lembut Rachel lalu membangunkan Gyeon-i.
"Gyeon-i, bangun! Gyeon-i ayo banguna!" ucap Rachel setengah berbisik.
Tak lama Gyeon-i lalu terbangun sambil menguap dan mengucek-ngucek matanya untuk mengumpulkan semua kesadarannya.
"Ra eul, ko kamu bisa masuk sih?" tanya Gyeon-i saat semua kesadarannya sudah terkumpul.
"Aku punya kunci cadangannya. Kamu kenapa tidur dibawah?"
"Kastaku rendah, aku tidak berani tidur bersama dia yang merupakan seorang calon raja" jawab Gyeon-i dengan polos dan jujur.
"Hulffh,, aku gak ngerti ya, sebenarnya kalian itu hidup dizaman apa sih? Kenapa harus ada kasta yang membatasi kalian? Apa kalian tidak bisa berteman dengan tulus tanpa ada kasta yang membatasi hubungan kalian biar tidak ada kata sungkan lagi, perlu kamu tahu ya, Gyeon-i! Hidup sekarang tuh! Sudah modern tak ada lagi kasta yang membatasi kita" tutur Rachel sambil membuang nafasnya dengan kasar
Mendengar penuturan gadis remaja itu membuat Gyeon-i jadi garuk-garuk kepala tak gatal karena masih belum bisa mencerna apa yang diucapkan oleh Rachel. Melihat kebingungan yang tersirat diwajah tampan itu lalu Rachel berkata.
"Udahlah, lebih baik sekarang kamu mandi setelah itu kita sarapan, aku akan membangunkan Si Mo Myung dulu setelah itu aku tunggu kalian dimeja makan" ucap Rachel lalu berdiri dari jongkoknya. Gyeon-i kemudian mengangguk.
"Beraninya, ya, kau tidur dikasur empuk sementara temanmu tidur dilantai!" umpat Rachel dalam hati seraya menatap sinis pada Mo Myung yang masih terlelap dalam tidur ternyamannya dibalik selimut tebal dan kasur empuk.
Rachel lalu menyingsingkan kaos lengan panjangnya sambil terus menatap tajam pada Mo Myung kemudian dengan sekuat tenaga dia menarik selimut Mo Myung hingga tersingkap,bukannya bangun dari tidurnya dia malah menggeliat dan kembali tidur dalam posisi meringkuk.
"Masih belum mau bangun juga ya?" pekik Rachel kesal.
Rachel lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya dengan perlahan setelah itu dia mendekati telinga Mo Myung, dengan suara terkerasnya lalu Rachel berteriak bagaikan memakai pengeras suara atau toa.
"Wooy!! Bangun! Wooy! Kalau kamu tidak bangun juga aku akan menyirammu dengan air!"
Tentu saja suaranya yang aman kencang hingga memekikan telinga Mo Myung, membuat dia terbangun dari tidurnya dan juga membuat Gyeon-i yang saat itu masih tempat itu ikut kaget juga.
"Berisik! Kamu sudah mengganggu tidurku!" bentak Mo Myung lalu dia kembali tidur.
"Ih! Nih! Orang benar-benar ya!"
Rachel lalu menarik paksa tubuh Mo Myung agar dia beranjak dari tidurnya.
"Kamu ini kenapa sih! Gangu orang tidur aja deh!" gerutu Mo Myung.
"Jadi orang jangan pemalas ya, mulai hari ini kalian harus bekerja kalau mau makan dan tinggal disini" gerutu Rachel sambil berkacak pinggang dan menatap Mo Myung yang masih duduk ditempat tidurnya.
"Kan ada Gyeon-i, dia kan pelayanku, suruh aja dia yang kerja" titah Mo Myung sambil memalingkah wajahnya dan mencibir.
"Emang kamu siapa? Emang kamu punya uang berapa?" tanya Rachel dengan menantang Mo Myung.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Mo Myung gelagapan karena saat ini dia tak punya uang sepeser pun.
"Eee,, ya,, emang saat ini aku tak punya uang tapi dirumahku, aku punya banyak uang" ujar Mo Myung masih sempat menyombongkan diri meski pada kenyataan sekarang dia tak punya apa-apa.
__ADS_1
"Oh! ya udah,kalau gitu kamu pulang aja,nggak usah ngerepotin aku disini"
"Ya,,, ya,,, gak bisa gitu dong! Kamu kan tahu sendiri aku,,, " belum selesai Mo Myung merampungkan kalimatnya Rachel sudah memotong ucapannya.
"Ya udah! Sekarang bangun, mandi, sarapan lalu pergi kerja jangan nyuruh Gyeon-i karena mulai detik ini dia bukan pelayanmu lagi, mulai sekarang kamu dan dia sama aja,ngga ada kata tuan dan pelayan, ngga ada kasta yang menghalangi kalian, gak boleh nyuruh-nyuruh dia lagi kalau sampai aku ngelihat itu! maka kamu tidak akan dapat jatah makan dan tidur ditempat empuk kaya sekarang ini, inget itu!" bentak Rachel tanpa jeda dengan suara tertingginya.
Mo Myung jadi melongo tak menyangka karena gadis itu bisa lebih galak darinya.
"Udah buruan jangan bengong aja!" bentak Rachel lagi.
"Iya,, iya,, bawel! ih!!"
Dengan terpaksa akhirnya Mo Myung mau menuruti perintah gadis itu padahal seumur hidupnya dia tak pernah tunduk pada siapa pun.
...********...
Dikebun Abah Umar
Setelah Mo Myung dan Gyeon-i siap mereka dibawa kekebun untuk berkebun. Gyeon-i dan Mo Myung celingukan memperhatikan disekitar kebun itu.
"Kenapa kita dibawa kesini?" tanya Mo Myung.
"Kita akan panen buah dan sayur yang ada disini nanti hasilnya akan dijual kepasar, uangnya buat makan kalian" jawab Rachel.
"Hari ini mau panen apa?" tanya Gyeon-i.
"Bentar dulu ya" ucap Rachel pergi sebentar ke saung (tempat berteduh disawah atau kebun) untuk mengambil sesuatu.
"Gyeon-i, kamu cari pisang yang udah matang ya nanti aku tunjukin kebunnya sedangkan kamu,Mo Myung, petikin cabe rawit ya, sambil bawa bakul ini,nanti kalau udah penuh sebakul cabe rawitnya masukin kekarung" Rachel memberi intruksi pada kedua pemuda itu.
Mereka cuma manggut-manggut saja tanpa bertanya lagi. Setelah itu mereka ditunjukan pada tempat kerja masing-masing sementara Rachel membantu kakeknya memanen kangkung didataran yang lebih rendah dari kebun Abah Umar dan agak berair.
...********...
Satu jam kemudian
Mo Myung mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya padahal cabe rawit yang harus dipanennya masih banyak sementara selama satu jam ini dia baru dapat memanen dua pohon cabe rawit.
"Kecil-kecil banget sih! Cabenya, jadi susahkan metiknya, ini masih banyak lagi yang belum dipetik. Uhh! Melelahkan, panas lagi!" keluh Mo Myung yang tak pernah bekerja,dengan kesal sambil menendang bakul yang disimpannya ditanah hingga terguling dan isinya tumpah ketanah.
"Ih! Malah tumpah lagi" keluhnya lagi kesal.
Padahal dia tak perlu mengeluh karena isi bakul itu tidak akan tumpah kalau tidak dia tendang hingga harus membuat pekerjaan yang sia-sia. Akhirnya Mo Myung memunguti kembali cabe rawit yang tumpah itu setelah selesai dia lalu memasukannya kekarung.
Saat dia melihat pekerjaannya tiba-tiba dia terpikir sebuah ide yang akan membuat pekerjaannya selesai lebih cepat.
"Kenapa aku harus metikin satu-satu cabe rawitnya, itu kan jadi lama? Mending aku cabut aja sama pohonnya,sekali cabut semua cabenya dapet. Ah! ideku emang paling keren" batin Mo Myung seraya menyeringai.
Dia lalu mencabut semua pohon cabenya kemudian memasukan kedalam karung dan mengikatnya. Setelah selesai Mo Myung pun berteduh dibawah pohon rindang, dengan bersandar dipohon, kaki yang selonjoran dan kedua tangan tersilang diatas perutnya.
Semilir angin yang sejuk seakan menina bobokan Mo Myung hingga kedua matanya kian lama terasa semakin berat dan akhirnya dua terlelap tidur dibawah pohon rindang itu.
__ADS_1
Karena sudah lama membiarkan kedua pemuda itu bekerja sendirian akhirnya Rachel memutuskan untuk melihat hasil pekerjaan mereka. Yang pertama ditemuinya adalah Mo Myung. Tapi apa yang dilihatnya? Mo Myung terlihat sedang tidur dibawah pohon rindang. Rachel pun segera menghampirinya dan menghardiknya.
"Mo Myung, bangun! bangun!"
Tak lama pemuda tampan tapi dingin itu pun terbangun dari tidurnya.
"Kenapa sih! Kamu itu senang banget gangguin orang tidur?" tanya Mo Myung sinis.
"Ya habisnya,kamu disuruh kerja malah enak-enakan tidur" ucap Rachel tak kalah sinis
"Kamu ngga usha marah-marah dulu, lihat tuh! Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku" ujar Mo Myung sambil menunjuk ketumpukan karung yang berisi cabe rawit.
Rachel pun melirik tumpukan karung itu, seketika tersungging senyuman disudut bibir Rachel.
"Wih! Hebat! Cepat banget kerjaanmu dalam waktu sekejap bisa dapat banyak gitu" puji Rachel sehingga membuat pemuda angkuh itu makin besar kepala.
"Apa sih! yang tidak bisa dikerjakan oleh Mo Myung" ujarnya dengan pongah
Tapi tiba-tiba Rachel mengerutkan dahinya saat pandangannya diedarkan diarea itu. Seperti ada sesuatu yang hilang, Rachel lalu memeriksa karung berisi cabe rawit itu. Betapa kagetnya dia ketika karung itu berisi cabe rawit beserta pohonya, dengan spontan langsung menatap tajam pada pemuda tampan tapi amat dingin itu. Tak tahu harus berkata apa lagi Rachel hanya mengelus dadanya saat kemaraham hampir mengobrak-abrik jiwanya yang masih labil.
Tapi semua tak bisa tertahan lagi saat Rachel menatap kembali wajah Mo Myung yang datar dan serasa tidak punya dosa itu, rasanya seperti pengen mencabik-cabik muka itu tapi Rachel hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.Dia lalu mendekati Mo Myung lagi sambil berkata.
"Kamu itu kelewat pintar atau kelewat bodoh sih?" tanya Rachel masih mencoba bersabar.
"Ya pintarlah" jawab Mo Myung dengan wajah datarnya
"Iya pintar, tapi otakmu cuma segini" ujar Rachel seraya merapatkan jari jempol dan jari telunjuk tangannya.
"Maksud kamu apa cuma segini?" tanya Mo Myung sambil meragain yang tadi dicontohkan oleh Rachel.
"Iya,dengan mencabut sama pohonnya kerjaan kamu emang jadi lebih cepat, tapi itu artinya panennya cuma bisa sekali padahal kalau pohonnya tidak dicabut itu bisa berbuah lagi dan selama pohonnya tidak mati kita bisa terus panen" Rachel menjelaskan.
"Oh! Gitu ya" ucap singkat Mo Myung dengan wajah datarnya.
"Cuma gitu aja? Kamu nggak punya rasa bersalah sedikit pun? Keterlaluan" gerutu Rachel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus mau apa lagi? Kalau kamu mau panen lagi tinggal tanam aja lagi pohonnya gitu aja ko repot"
"Itu bisa aja aku lakuin, tapi bagaimana dengan pohon cabe yang udah kamu cabutin? Orang pasar tidak akan menerima cabe yang masih dipohonnya"
"Ya terus?" tanya Mo Myung
"Petikin cabenya, cepet kerjakan! Kalau ngga malam ini ngga akan dapat jatah makan" ancam Rachel.
"Ih! Ngancamnya gitu terus. Kalau gini ceritanya aku harus kerja dua kali dong?" keluh Mo myung.
"Makannya jadi orang jangan so pinter, kalau bodoh ya bodoh aja" gumam Rachel seraya melengos pergi hendak menemui Gyeon-i
"Heh! Beraninya kamu ngatain aku ya, mau kuhukum kamu, hah!" teriak Mo Myung sambil berdiri ketika melihat Rachel berlalu pergi. Tapi Rachel tak menggubrisnya.
Next,,,,
__ADS_1