
Semburat sang rawi dilangit kerajaan dinasti Joseon, siang itu nampak bersinar ceria. Lain halnya dengan sang pangeran yang saat itu sedang berdiri dipinggir danau yang ada diistana, tatapannya yang sulit digambarkan membuat orang yang melihatnya tak akan paham dengan apa yang dipikirkan oleh sang pangeran.
Berjam-jam sudah dia menatap danau buatan manusia itu dengan terus bergeming tanpa ada pergerakan sedikit pun layaknya seperti patung yang ditaruh dipinggir danau,bahkan tamparan angin yang menggoyangkan jubah kebesarannya hingga berkelebatan tak sedikit pun dia hiraukan, tatapannya masih tetap lurus menatap riak air danau yang digerakan angin kencang.
"Pangeran! Apakah engkau akan tetap berdiri disini selama ini?" tanya Gyeon-i tiba-tiba yang memecah keheningan waktu itu.
Tapi Mo myung tak menghiraukan pertanyaan Gyeon-i, dia tetap diam seribu bahasa. Sebenarnya Gyeon-i yang terus menemani pangeran Mo myung dengan terus berdiri dibelakang sang pangeran sudah nampak merasa pegal karena terus berdiri, sesekali dia nampak menggeliatkan badannya supaya persendian dan otot-ototnya terasa lebih rileks.
Hening kembali!
Karena tak dihiraukan oleh sang pangeran, Gyeon-i memilih untuk diam kembali seraya menunggu pangeran Mo myung merasa bosan untuk terus bergeming. Tak lama kemudian, datanglah seorang pengawal.
"Yang mulia! Maaf saya mengganggumu, tapi yang mulia raja memerintahkan saya untuk memintamu untuk segera menghadap yang mulia raja" ucap pengawal itu, membuat Gyeon-i, para dayang dan kasim yang menemani pangeran mengucap puji syukur karena akhirnya mereka tak mesti terus berdiri berjam-jam lagi.
"Saya akan segera menemuinya" ucap Mo myung
Pengawal itu lalu segera berpamitan pergi. Tak lama setelah itu,Mo myung pun segera pergi menghadap baginda raja yang tak lain adalah ayah kandungnya.
...******...
Bilik raja Kim in hong,,,
Sang baginda raja nampak tengah duduk dengan tenang dihadapan mejanya, disebelah kirinya terdapat beberapa dayang sedang berdiri sambil menunduk. Tak lama Mo myung datang bersama para dayang dan kasimnya. Dia lalu dipersilahkan masuk dan langsuk duduk berhadapan dengan sang raja.
Karena ada hal pribadi yang ingin disampaikannya maka sang raja menyuruh semua dayang dan kasim menunggu diluar biliknya hingga yang tersisa dibilik itu hanya raja dan pangeran Mo myung. Sebelum ayahnya bicara Mo myung hanya terus diam tanpa bertanya, Ada gerangan apakah dirinya dipanggil oleh sang raja.
"Mo myung, aku ingin bicara padamu sebagai seorang ayahmu bukan sebagai seorang raja,,," ucap raja In hong mengawali pembicaraan.
Hening untuk sejenak!
"Ayah, mendengar kabar kalau kamu menghukum dayang Choi, para dayang dapur dan Gyeon-i hanya karna hal sepele apa itu benar?" tanya raja In hong
Mo myung tak menjawab pertanyaan ayahnya dia masih saja terus bergeming dengan tatapan wajah datarnya. Hingga membuat sang raja mencercahnya dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa kamu lakukan itu? Kenapa kamu lebih mementingkan ego dibandingkan rasa kemanusiawianmu? Kenapa kamu masih saja terus bersikaf dingin pada semua orang? Kenapa kamu tidak bisa berubah seperti dirimu yang sebelumnya? Padahal sebentar lagi kamu akan menggantikan ayah menjadi raja, kamu harus bisa mengubah sikaf urakanmu itu" pekik raja In hong dengan penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Aku tidak pernah meminta pada ayah supaya aku bisa menjadi seorang raja, aku hanya ingin keadilan darimu" ucap Mo myung dengan tegas dan lugas.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih saja membahas soal itu Myung? Ini sudah belasan tahun berlalu, dan ayah sudah memberi jawabannya padamu" ujar raja In hong
"Jawaban apa? Yang aku tahu kau berlaku adil pada rakyatmu tapi tidak bagiku dan Go ara" ucap Mo myung dengan nada suara meninggi.
Raja In hong lalu menghela nafas berat, dia sudah bingung harus berkata seperti apa lagi pada putra sulungnya itu.
"Maafkan ayah Myung, ayah tak bisa memberikan sesuatu sesuai keinginanmu karena keadaan saat itu berbeda dengan sekarang" ucap pilu raja In hong yang saat itu tak bisa mengungkap kebenaran karena dia baru saja dilantik menjadi seorang raja dan kekuasan saat itu masih dikendalikan penuh oleh perdana mentri yang membantunya naik ketahta.
"Tak ada kata terlambat jika kau ingin mengungkap kebenaran. Sekarang pun kau bisa mengungkap kebenarannya jika ada niatan dalam hatimu wahai! baginda raja!" ketus Mo myung yang kesal pada ayahnya
"Bagaimana caranya ayah bisa menuduh mereka sebagai pelaku pembunuh adikmu sedangkan ayah tidak punya bukti apa pun, lagian kejadiannya sudah sangat lama berlalu kalau pun ada bukti pastilah semua itu sudah musnah ditelan waktu" ujar raja In hong.
"Aku yang jadi saksi, aku sendiri yang melihat pembunuh itu membunuh Ara didepan mataku sendiri,aku tahu siapa pelakunya tapi kenapa ayah tak mau mendengarkanku saat itu? Apa karena saat itu umurku 7 tahun jadi ayah tak bisa mempercayaiku? Dan kenapa ayah malah percaya pada mereka kalau ayahnya Gyeon-i yang membunuh Ara,padahal itu semua tidak benar, Ayah malah menjatuhi hukuman mati pada orang yang tak bersalah hingga Gyeon-i dan Areum harus kehilangan orang tuanya yang hanya tinggal satu-satunya itu, lalu dimana keadilanmu sebagai seorang raja? Apa gunanya kau jadi raja kalau tidak bisa membela orang yang tak bersalah?" bentak Mo myung yang sudah tak bisa menahan kemarahannya lagi.
Hal itu pun membuat sang raja jadi naik darah, dia lalu membentak Mo myung balik.
"CUKUP!! MYUNG!!" bentak raja In hong.
Dia lalu tertunduk sedih,sementara Mo myung menatapnya dengan penuh kemarahan dan kebencian karena setelah itu hidupnya selalu dihantui oleh rasa bersalah sebab Mo myung tak bisa menyelamatkan adiknya dari sipembunuh itu dan dia juga tak bisa menghukum pembunuhnya hingga sekarang dia masih bisa berkeliaran dan menghirup udara bebas tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.Dan itu membuat Mo myung dipenuhi amarah dan dendam dalam hatinya.
Dengan mata berkaca-kaca dan penuh kelembutan seorang ayah, karena ketidak berdayaannya saat itu sang raja lalu memberi pengertian pada Mo myung agar dia tidak selalu marah dan menyalahkan raja In hong terus-menerus.
Mo myung yang sudah tak ingin lagi bicara dengan ayahnya lalu berdiri dan pergi dari bilik ayahnya, tapi sebelum itu Mo myung berkata ketus dan sinis pada ayahnya.
"Selama kau tetap diam dan tak mau mengungkapkan kebenarannya aku akan terus membencimu, camkan! itu baginda raja yang agung!"
Lagi-lagi sang raja hanya bisa menghela nafas berat saat melihat putranya yang keras kepala itu.
...*******...
Beberapa hari kemudian.
Bangunan yang terletak dipinggir danau buatan manusia dengan ditumbuhi bunga sakura diberbagai sudut danau,memanjakan mata setiap orang yang melihatnya, apa lagi saat musim semi bunga-bunganya yang menebarkan bau wangi terlihat begitu mempesona dan karena alasan itu pulalah tempat ini menjadi tempat favorit bagi pangeran Mo myung didalam istana ini.
Siang itu, sang surya nampak bersinar terang hingga cahayanya mampu menerobos kesela-sela terkecil dalam bangunan yang kini terdapat pangeran Mo myung didalamnya. Dia nampak sedang duduk dengan serius sambil membaca buku dihadapannya. Saat dia tengah asyik membaca tiba-tiba dia kedatangan putri Hae soo.
__ADS_1
Sang putri langsung menyapanya dengan senyuman termanisnya, namun kehadiran putri cantik itu tak begitu dihiraukan oleh sang pangeran dia terus fokus pada buku yang dibacanya. Putri Hae soo lalu duduk dihadapannya.
"Pangeran, aku ingin bicara denganmu" ucap putri Hae soo.
"Aku tidak punya waktu untukmu, aku sedang sibuk membaca, aku harus segera menyelesaikan bacaanku segera" alibi pangeran Mo myung tak mau ngobrol sama putri Hae soo.
"Baiklah aku akan menunggumu disini sampai kau selesai membaca" kata putri Hae soo yang tak mau pergi
Sang pangeran hanya meliriknya sejenak dengan tatapan datarnya lalu dia kembali membaca bukunya dengan serius. Sambil menunggu sang pangeran, putri Hae soo menyangga dagunya dengan kedua tangan yang ia letakan diatas meja tempat pangeran menyimpan buku-bukunya.
Tiba-tiba saja terukir senyuman indah dikedua sudut bibir putri Hae soo saat dia menatap pria tampan yang ada dihadapannya itu. Sebenarnya Mo myung menyadari kalau Hae soo terus menatapnya seraya tersenyum. awalnya Mo myung membiarkan putri cantik itu memandangi wajahnya yang amat tampan tapi lama-lama dia merasa risih juga ditatap oleh lawan jenisnya itu dengan tatapan dengan tatapan penuh kagum.
"Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu?" tanya Mo myung tanpa melihat wajah Hae soo
"Emangnya aku salah ya? Menatap calon suamiku yang amat tampan ini,,,,tapi sayang kau sangat dingin" puji Hae soo akan ketampanan calon suaminya itu dan juga dia amat menyayangkan akan ketampananya yang dibalut oleh sifat dinginnya itu.
Sebenarnya Mo myung agak salah tingkah juga saat seorang gadis mengatakan kalau dirinya amat tampan mengingat selama ini dia tak pernah dekat dengan seorang gadis mana pun kecuali dengan mendiang adiknya Go Ara. Tak ingin imagenya luluh karena rasa baper itu, Mo myung segera menepis perasaannya dengan mengangkat buku yang dipeganginya untuk menutupi wajah tampannya itu hingga Hae soo tak bisa melihat wajahnya lagi.
Akhirnya Hae soo bergeming dan setia menunggu sang pangeran menyelesaikan membaca bukunya. Tak terasa waktu pun terus berputar akhirnya Mo myung telah menyelesaikan membaca bukunya dia lalu menutup dan membereskan buku-bukunya.
Tapi rupanya gadis cantik itu telah terlelap tidur saat dia tengah asyik membaca buku. Mo myung menatap putri Hae soo untuk sejenak kemudian dia berdiri dan meninggalkan putri Hae soo yang masih terlelap tidur. Melihat Mo myung pergi, Gyeon-i yang juga dari tadi ada ditempat itu lalu mengejar pangeran Mo myung.
"Pangeran, tunggu! Putri Hae soo gimana? Kenapa kau tak membangunkannya? Kasihan dia sudah menunggumu dari tadi sampai dia ketiduran" tanya Gyeon-i
"Salah sendiri kenapa dia malah tidur" kata pangeran Mo myung tanpa melihat Gyeon-i yang terus mengikuti dari belakang kemana pun dia pergi.
Tak ingin berdebat dengan sang pangeran Gyeon-i lalu memilih untuk diam sambil terus mengikuti kemana pun pangeran Mo myung pergi.
Sementara itu, Putri Hae soo baru terjaga dari tidurnya. Menyadari sang pangeran sudah tak ada didepannya Hae soo langsung mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari sosok sang pangeran.
"Pangeran Mo myung kemana? Kenapa dia tak ada disini?" tanya Hae soo pada para dayang yang masih menungguinya.
"Dia sudah pergi dari tadi putri" jawab salah satu dayang.
"Kenapa dia tidak membangunkanku?" tanyanya lagi.
Dayang itu hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu. Setelah itu putri Hae soo mendengus kesal kemudian dia pun pergi.
__ADS_1
Next,,,,