Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Gadis petai


__ADS_3

Bandung,Tahun 2021


Hamparan perkebunan teh yang menghijau dan amat luas itu terlihat berundak-undak diatas bukit yang menjulang tinggi, udaranya yang sejuk dan masih asri tanpa ada campuran polusi,itu menambah keindahan dan kenikamatan atas anugrah sang pencipta yang sudah menciptakan lukisan alam yang amat indah dengan memanjakan mata akan keelokannya.


Samar-samar dari kejauhan dibalik hamparan perkebunan teh terlihat seorang gadis tomboy,kira-kira berusia sekitar 18 tahunan, tengah mengayuh sepeda lipatnya yang ada keranjang dibagian depannya. Tanpa ada rasa takut sedikit pun sepeda gadis itu meluncur bebas melewati jalan setapak yang ada diperkebunan teh tersebut dengan menuruni bukit yang berundak-undak.


Wajah cantiknya nampak sumringah saat sepeda yang ditumpanginya meluncur bebas menuruni bukit menuju sebuah kebun milik salah satu warga didaerah itu. Ketika ia telah sampai ditempat tujuan, dia menghentikan sepedanya dan langsung turun dari sepeda.


Manik mata indahnya menatap kesegala penjuru karena hendak mencari sosok sang kakek yang katanya hari ini akan memanen pohon petainya. Gadis muda nan cantik itu lalu memanggil-manggil sang kakek ketika kedua bola mata indahnya tak menemui sosok yang dicarinya.


"Abaaaaahh,,,! Abaaaahh,,,! Abaaaahh,,,!" panggil sang gadis pada kakeknya sambil menengadahkan wajahnya keatas pohon petai,kali aja kakeknya ada diatas pohon, pikirnya.


Namun sang kakek tak jua menyahut panggilannya akhirnya gadis itu berkeliling mencari sang kakek. Tapi saat manik matanya melihat petai yang nama latinnya adalah parkia speciosa termasuk jenis kacang-kacangan dengan aroma yang khas dan kelezatan yang menggugah selera bagi pencintanya, terlihat begitu ranum diatas pohon itu, membuat sang gadis tak bisa menahan ha*r*tnya untuk memetik dan memakannya langsung tanpa nasi dan lauknya.


Gadis tomboy itu lalu menaiki pohon dengan mudahnya karena dia sudah terbiasa naik pohon. Diatas pohon dia melahap langsung petainya dan membuang cangkangnya kebawah hingga bertebaran dibawah pohon. Tak berapa lama lewatlah seorang kakek yang kira-kira usianya sudah melewati setengah abad dan dia melihat cangkang petai itu berserakan dibawah pohon.


Sang kakek lalu melirik keatas pohon dan dilihatnya cucu satu-satunya itu tengah melahap rakus petai diatas pohon membuat sang kakek menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Astagfirulahaladzim! Rachel,,,Rachel,,,doyan sih! Doyan tapi nggak kaya gini juga kali, kamu udah kaya kelalawar makanin buah rambutan aja" gumam Abah Umar


"Rachel,,, Rachel,,,!! Ayo cepat turun" teriak Abah Umar


"Iya abah" sahut Rachel dari atas pohon


Kemudian dia turun, setelah dibawah dia langsung menyungingkan senyuman termanisnya dengan menampakan gigi-gigi putihnya. Abah Umar lalu mendekatkan wajahnya pada gadis remaja itu kemudian menjauhkan wajahnya kembali.


"Hhmm,,, gimana ada laki-laki yang mau deketin kamu kalau kamu bau petai kaya gini" ucap sang kakek menggoda cucunya itu.


"Kakek apaan sih! Rachel kan baru lulus SMA ngapain juga langsung mikirin laki-laki, bodo amat gak ada yang suka sama Rachel juga, Rachel gak peduli, yang pasti petai ini surga dunia buat Rachel" ujar Rachel seraya memeluk erat petai-petai yang tadi dipetiknya saking cinta dan sukanya dia sama jenis kacang-kacangan ini.


"Iya,, iya,, gadis petainya kakek! Terserah kamu ajalah. Eh! Ngomong-ngomong kamu sudah bersihin vila belum? Yang punya udah neleponin kakek melulu loh! Minta dibersihin" tanya abah Umar.


"Ya udahlah kek, kalau belum Rachel ngga akan datang kesini" jawab Rachel


Ya, Semenjak lulus SMA dia menggantikan kakeknya yang sudah tua sebagai penjaga dan tukang membersihkan vila milik orang asing yang tinggal diIndonesia. Dia juga membatu kakeknya mengurus perkebunan mereka yang ada beberapa petak. Dikebun itu mereka menanami berbagai macam buah dan sayur yang hasilnya akan dijual kepasar.


Setelah memanen petai Rachel yang menjualnya kepasar dengan mengendarai sepedah lipatnya,sedangkan sang kakek tetap berada dikebun untuk menyiangi kebunnya hingga sore hari barulah abah Umar pulang kerumahnya.


...******...


Waktu menunjukan pukul 13.00, Rachel baru saja pulang dari pasar dan dia segera pulang kerumahnya dengan melewati perkebunan teh yang terhampar luas, dia juga melewati anak sungai yang mengalir disepanjang jalan yang dilaluinya. Meski matahari sudah mulai turun dari puncaknya tapi cuaca panas masih begitu terasa dikulit membuat peluh bercucuran.


Begitu pula dengan Rachel,keringatnya membasahi kaos lengan pendek yang dikenakannya itu, apa lagi dia terus mengayuh sepeda, itu membuatnya cukup kelelahan juga hingga membuat kerongkongannya terasa kering. Rachel lalu berhenti mengayuh sepedanya kemudian mengambil botol minum


dikeranjangnya.


Rachel yang saat itu masih duduk disepedanya lalu meminum airnya seraya mengedarkan pandangan matanya kesekeliling tempatnya berada. Saat matanya tertuju pada sebuah pohon kelapa yang tumbuh dipinggir jalan yang dibawahnya terdapat aliran sungai, Rachel lalu bergumam.


"Kayanya enak tuh! kalau minum air kelapa segar"

__ADS_1


Rachel lalu menyandarkan sepedanya kemudian dia yang saat itu sudah berdiri tepat dibawah pohon kelapa lalu mendongakan wajahnya keatas pohon.


"Oke, kalau cuma segini aku bisa naik kepohon kelapa ini" gumamnya seraya mengangguk-angguk dan tersenyum.


Dia lalu naik kepohon kelapa itu dan memetik beberapa buah kemudian melemparkannya kebawah tapi ada satu kelapa yang menggelinding kebawah dan berhenti ditepi sungai.


"Ya,, ya,, kelapanya jatuh kesungai" pekik Rachel kemudian dia segera turun dari pohon kelapa untuk mengambil kelapa yang menggelinding ketepi sungai.


Dia lalu mencari kelapa yang tadi menggelinding ketepi sungai.


"Nah! Itu dia, ih! Ko jatuh diatas lumpur sih! kan jadi kotor" gumamnya bermonolog sendiri.


Rachel lalu mencuci kelapanya agar tidak terlalu kotor tapi saat sedang mencuci kelapa,kelapa itu terlepas dari pegangannya dan tenggelam, dia kemudian mencarinya dengan meraba-raba dengan mencelupkan kedua tangannya kedalam air karena airnya berwarna coklat jadi dia tak bisa melihat kemana tenggelamnya kelapa itu.


Tak berapa lama tangannya menyentuh sesuatu yang berbentuk bulat tapi saat diraba permukaannya tidak rata, penasaran dengan benda yang dipegangnya Rachel lalu mengangkat kepermukaan air. Tak berapa lama menyembullah sebuah kepala manusia dari dalam air membuat Rachel kaget setengah mati.


"Kepala manusia?!😱 Aaaaaaa,,,!!" pekiknya histeris sambil melepaskan kepala itu dan sontak Rachel yang saat itu berjongkok langsung beringsut mundur dan terduduk ditanah.


Belum hilang rasa kaget dan takutnya,kepala yang masih mengambang dipermukaan air itu tanpa terlihat bagian tubuh bawahnya, tiba-tiba membuka matanya, dengan segera Rachel yang ketakutan merangkak hendak naik keatas ketempat sepedanya disimpan dipinggir jalan yang ada diatas sungai. Tapi rupanya kepala itu masih memiliki tubuh yang utuh, itu terlihat ketika sipemilik tubuh yang ternyata masih hidup itu mencoba naik kepermukaan menuju tepi sungai.


Sementara Rachel terus merangkak karena ketakutan tapi tiba-tiba tubuh yang tadi muncul dari dalam air menarik sebelah kaki Rachel.


Deg,,


Dia melirik kebelakang,Rachel malah makin sawan karena takut apa lagi wajah pucat itu menatap Rachel dengan tatapan dingin.


Tapi karena Rachel takut sosok itu akan berbuat jahat padanya makannya dia segera menendang sosok itu dengan sebelah kakinya hingga sosok itu yang sudah hampir naik ketepi sungai tercebur kembali kesungai.


Byuuurr,,,!!


Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Rachel lalu segera berlari naik keatas kemudian mengendarai sepedanya kembali dan meninggalkan kelapa yang tadi dipetiknya itu. Sementara itu, Gyeon-i baru keluar kepermukaan air dan berenang ketepi sungai seketika air bercucuran jatuh kebawah dari tubuhnya.Dia lalu celingukan mencari sang pangeran sambil memanggil-manggil namanya.


"Pangeran Mo myung! Pangeran Mo myung! Kau dimana?" teriak Gyeon-i


Sementara Mo myung sedang berusaha menepi karena sebenarnya dia tidak bisa berenang diair yang dalam untungnya Gyeon-i cepat melihat keberadaannya kemudian dia segera berlari untuk menolong Mo myung yang sudah hampir mau tenggelam. Dia lalu membawa tubuh Mo myung ketepi sungai.


Uhuk,,uhuk,, uhuk,,!!


Mo myung terbatuk-batuk karena dia sempat menelan air sungai saat tadi hampir tenggelam. Gyeon-i membatu Mo myung untuk mengeluarkan air yang masuk ketubuhnya dengan memukul-mukul pundak dan leher belakang Mo myung. Setelah berhenti batuk barulah Gyeon-i menanyai keadaan sang pangerannya itu.


"Bagai mana keadaanmu pangeran?" tanya Gyeon-i khawatir


"Aku,, aku,, baik-baik saja tapi,,," jawab Mo myung sengaja menggantung kalimatnya untuk mengatur pernapasannya yang masih belum teratur karena tadi mau tenggelam disungai.


"Tapi apa,,,?" tanya Gyeon-i penasaran.


"Kejar gadis yang tadi menendangku, dia harus diberi hukuman karena sudah berlaku tidak sopan padaku" titah Mo myung


Gyeon-i langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dibicarakan sang pangeran tapi dia tak menemukan ada tanda-tanda seorang gadis berkeliaran disekitar tempat itu.

__ADS_1


"Disini tidak ada seorang gadis?" ucap Gyeob-i kebingungan.


"Dia naik keatas sana kejar dia! Cepat!" titah Mo myung pada Gyeon-i.


"Tapi bagaimana denganmu, pangeran?"


"Cepat kejar dia!"


"Eee,, baiklah" jawab Gyeon-i terbata-bata.


Gyeon-i segera berlari mengejar gadis itu tapi tak kekejar karena Rachel mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Tak lama Mo myung pun menyusul Gyeon-i.


"Kenapa malah diam disini?" tanya Mo myung


"Gadis itu pergi secepat kilat dengan benda yang dinaikinya" jawab Gyeon-i yang tak tahu benda apa yang bisa membawa gadis itu melesat dengan kecepatan tinggi karena dizamannya benda yang seperti itu belum ada.


"Kali ini kau bisa lolos dariku tapi nanti kalau bertemu lagi aku tidak akan memberimu ampun" gerutu Mo myung kesal sambil menatap kepergian Rachel hingga dia menghilang dari pandangan mata.


Tiba-tiba Gyeon-i melihat ada beberapa butir kelapa dihadapannya kemudian dia jongkok sambil megangin kelapa.


"Pangeran, kayanya gadis itu meninggalkan kelapanya disini deh!" ucap Gyeon-i


"Udah, kita makan aja biar dia tahu rasa habisnya berani-beraninya dia melarikan diri dariku" saran Mo myung sambil tersenyum kecut.


Gyeon-i lalu mengangkat kelapa itu dan memperhatikannya baik-baik masih sambil jongkok.


"Gimana cara bukanya? Kita kan tidak punya alatnya" tanya Gyeon-i pada Mo myung yang saat itu sedang berdiri dengan angkuhnya.


Tiba-tiba dari belakang ada yang ngejewar telinga Mo myung dan Gyeon-i hingga terpaksa Gyeon-i harus berdiri untuk menyemimbangkan tubuhnya dengan Mo myung dan orang yang sudah menjewer telinga mereka. Sontak itu membuat sang pangeran dingin itu mendelik marah.


"Heh! Apa-apan ini? Lepaskan telinga saya" bentak Mo myung.


Bukanya bergeming pria berkumis baplang itu malah menatap mereka dengan lebih garang lagi.


"Kalian yang apa-apanan, beraninya ya, mencuri kelapa saya" hardik pria bekumis itu.


"Kami tidak mencuri kelapa anda!" tegas Mo myung dengan intonasi tinggi.


"Udah! Ketangkap basah masih ngga mau ngaku, mau kusabet kepalamu dengan golokku ini hah!" ancam pria bertubuh kekar itu sambil menodongkan goloknya.


Melihat betapa tajam dan runcingnya ujung golok itu membuat Mo myung dan Gyeon-i beringsut mundur karena agak ngeri juga melihat golok pria itu. Gyeon-i dan Mo myung lalu menelan salivanya sambil membelalakan kedua matanya.


"Ya,, ya udah,, ambil aja kelapanya,,, lagian kita juga nggak mencuri ko ini semua ulah seoarang gadis" elak Gyeon-i dengan terbata-bata


"Heh! Kalian kira bisa membohongi saya,disini nggak ada seorang gadis,mana ada gadis yang bisa naik keatas pohon kelapa setinggi ini. Saya tahu ini cuma akal-akalan kalian aja" bentak pria berkumis itu membuat Mo myung dan Gyeon-i terlonjak kaget.


Perdebatan pun makin sengit antara yang satu tak mau mengaku karena emang tidak merasa mencuri dan yang satu tetap kekeh menuduh mereka mencuri karena sudah ada barang buktinya. Karena tak ada yang mau mengalah itu membuat sipemilik kelapa itu makin marah akhirnya dia menggiring Mo myung dan Gyeon-i untuk pergi sambil menodongkan golok tajamnya itu. Mereka pun hanya bisa pasrah untuk mengikuti intruksi pria itu karena tak mau kepalanya disabet golok tajam milik pria itu.


Next,,,,

__ADS_1


__ADS_2