Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Salah orang


__ADS_3

Mo Myung terus mencari rumah Koh Acong tanpa tahu dimana rumahnya. Sementara Rachel masih terus mengikuti Mo Myung sambil terus berteriak.


"Mo Myung, tungguin aku! Mo Myung, berhenti!" teriak Rachel.


Tapi dia tak menggubrisnya, dia terus berjalan dengan tergesah-gesah. Rachel lalu berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Mo Myung.


"Apa kamu tahu rumah Koh Acong dimana?" tanya Rachel ketika langkahnya sudah seimbang.


"Ngga"


"Kalau gak tahu, terus sekarang kamu mau pergi kemana?"


"Aku punya mulut buat bertanya" jawab Mo Myung tanpa melihat Rachel.


"Kupikir dia akan tetap bodoh tapi ternyata sekarang dia agak pinteran dikit" batin Rachel.


Rachel lalu menunjukan arah rumahnya Koh Acong.


...********...


Dirumah Koh Acong


Kebetulan pria berdarah cina itu tengah berdiri sambil memberi makan burungnya yang ada didalam sangkar. Tanpa basa basi Mo Myung langsung menanyakan tusuk rambut miliknya yang sudah dijual oleh Rachel.


"Koh Acong! Dimana tusuk rambut itu?" tanya Mo Myung membuat Koh Acong tercekat kaget.


"Siapa kamu? Tusuk rambut apa?" tanyanya bingung.


"Tusuk rambut yang dijual Rachel padamu, Ayo kembalikan padaku, itu milikku" jawab Mo Myung.


Sejenak Koh Acong memutar kembali memori ingatannya untuk mengingat barang yang dimaksud oleh Mo Myung malum pria turunan Cina itu sudah berumur.


"Oh! Itu, oe udah jual dipelelangan barang antik" ujar Koh Acong.


"Apa! Dijual lagi?! Dijual pada siapa?" tanya Mo Myung dengan intonasi meninggi.


"Ya, mana oe tahu, oe gak nanya-nanya dia siapa? Dimana rumahnya. Saat oe lelang siapa pun yang sanggup membayar dengan harga paling tinggi dialah yang bisa membeli barang-barang antik milik oe" terang Koh Acong.


"Masa kamu tak bisa memberi sedikit pun keterangan soal pembelimu itu?" desak Mo Myung sambil menarik kuat kerah baju Koh Acong hingga pria itu melangkah selangkah lebih dekat pada Mo Myung.


"Beneran oe tidak tahu" rintih Koh Acong agak takut juga dengan kemarahan yang tersirat jelas dikedua mata pemuda tampan itu.


Rachel yang juga ada disana lalu menarik Mo Myung agar dia menghentikan aksinya itu.


"Myung, berhenti! Kamu tidak boleh menyakiti Koh Acong, dia tidak salah. Aku yang salah karena sudah menjual tusuk rambut milikmu padanya. Lepaskan Koh Acong, Myung! Aku janji akan mencari pembeli itu agar tusuk rambatnya kembali lagi padamu" bujuk Rachel.


Mendengar kalimat itu akhirnya Mo Myung melepaskan tangannya dari kerah baju Koh Acong.


"Kamu harus menemukan tusuk rambut itu Rachel" desak Mo Myung sambil menatap gadis tomboy yang cantik itu.


"Iya aku janji, sekarang kita pulang dulu ya nanti aku dan Koh Acong akan mencari pembeli itu" tutur Rachel.


Setelah itu Mo Myung melengos pergi tanpa sepatah kata pun dan Rachel segera mengikutinya dari belakang, tapi karena langkah pemuda itu lebih panjang dan cepat dari Rachel, gadis itu akhirnya tertinggal agak jauh meski dia mempercepat jalannya.


Divila


Nampak sebuah mobil berhenti tepat digarasi vila tersebut dan tak lama muncullah seorang wanita paruh baya yang turun dari mobil. Wanita itu lalu memasuki vila sambil membawa kopernya.


Diarah berbeda Mo Myung terus melangkahkan kakinya dengan tergesah, kemarahan yang ia tahan masih bergejolak didalam dadanya tapi sebisa mungkin dia tak meluapkannya, Dia hanya terus berjalan memasuki vila menuju kekamarnya.


Saat berada didalam vila, netranya menatap sosok yang terasa begitu familiar baginya. Ya, dialah sosok yang selama ini selalu memusuhinya dirinya dan ibunyanya.

__ADS_1


"Selir Yeon hwa? Bagaimana bisa dia ada didalam rumah ini? Bagaimana bisa dia menemukan persembunyianku? Apa dia sendiri disini? Apa dia sedang mengejarku?" tanya Mo Myong pada dirinya sendiri.


Belum reda emosinya gara-gara Rachel menjual tusuk rambut yang dulu milik Ara, kini dia malah dihadapkan pada sosok yang amat dibencinya tentu saja itu membuat kemarah Mo Myung semakin menggebu-gebu.


"Sepertinya dia cuma sendiri, Aku sudah terlalu kesal pada wanita ja**ng itu, Aku yakin dia pasti ada hubungannya dengan kematian Go Ara" batin Mo Myung sambil terus menatap sosok wanita paruh baya yang tengah duduk disofa.


"Aku harus membunuhnya, Dia harus mati!!" gumamnya dengan tatapan penuh kebencian pada sosok wanita yang telah merampas kehabagiannya itu.


Mo Myung lalu mendekati wanita itu. Tanpa aba-aba lagi dia langsung mencekik wanita itu sontak wanita paruh baya itu terkejut kaget karena tiba-tiba ada orang asing yang menyerangnya.


"Uhuuk,,Uhuk,, Le,,,pas,,, kan sa,, ya,, uhuk,, uhuk,, kamu,, siapa?,,,To,, long,, aakhh,,to,," rintih wanita itu tercekat.


Mo Myung tak menggubris wanita itu, dia masih terus melancarkan aksinya mencekik si wanita. Tak berapa lama Rachel datang, dia segera berlari untuk menghentikan aksi brutal Mo Myung.


"Mo Myung,lepaskan! Kamu bisa membunuhnya" kata Rachel sambil menarik tubuh Mo Myung agar menjauh.


Setelah bergumul cukup lama akhirnya Mo Myung menghentikan aksinya karena Rachel yang menghentikan. Sementara wanita itu masih terbatuk-batuk akibat dicekik Mo Myung.


"Kamu kenapa mencekik dia?" tanya Mo Myung penuh penekenan dalam kalimatnya.


"Dia pantas mati, aku yakin dia dalang dibalik kematian Ara" jawab Mo Myung dengan tatapan sinis.


"Emang kamu mengenal dia?"


"Tentu saja aku kenal. Dia itu selir Yeon hwa" jawab Mo Myung serius.


Pletak !!


"Auh !!"


Tiba-tiba Rachel menjitak kepala Mo Myung.


"Kenapa kamu menjitak kepalaku?" protes Mo Myung.


Mo Myung lalu menggelengkan kepalanya dengan wajah datarnya.


"Dia itu bukan selir Yeon hwa, dia itu pemilik rumah ini, dia nyonya Lin" jelas Rachel.


"Tapi kenapa mukanya mirip dengan selir Yeon hwa?" tanya Mo Myung bingung.


"Ya mungkin itu kebetulan saja, makannya kalau mau apa-apa itu cari tahu dulu jangan main cekik aja, salah orang kan kamu. Ayo! Sekarang minta maaf" titah Rachel.


Mo Myung lalu menatap wanita itu, dia masih tidak percaya wanita yang ada dihadapannya itu bukanlah selir Yeon hwa melainkan nyonya Lin.


"Ayo! Cepat minta maaf" titahnya lagi


Bukannya meminta maaf Mo Myung malah melengos pergi, membuat Rachel jadi makin tidak enak hati pada nyonya Lin.


"Nyonya apa anda tidak apa-apa?" tanya Rachel khawatir.


"Saya hampir saja mati dicekik oleh orang gila itu, Kenapa bisa dia masuk kesini?" nyonya Lin amat kesal.


"Eee,, maaf,, maaf,, nyonya, dia orangnya emang aneh, dia itu orang yang aku ceritakan saat kita teleponan, dia yang jagain vila ini" jelas Rachel.


"Kenapa bisa kamu menguruhnya menjaga vila ini, orang seperti itu disuruh jaga vila" bentak nyonya Lin.


"Maaf nyonya sekali lagi saya minta maaf, saya tahu saya salah, saya akan meminta dia untuk minta maaf pada nyonya, tolong maafkanlah kami nyonya, saya janji kejadian ini tidak akan terulang lagi" Rachel memohon dengan sungguh-sungguh.


"Ya sudahlah, kamu pergi saja, urusin orang itu jangan sampai kejadian tadi terulang lagi kalau itu sampai terjadi lagi saya akan pecet kamu, Rachel"


"Eee,, iya,, nyonya,, iya,kalau gitu saya pamit dulu nyonya"

__ADS_1


"Hhhmmm,,, "


Rachel lalu undur diri. Kemudian dia mencari Mo Myung.


...********...


Tak jauh dari vila, Mo Myung nampak sedang duduk dipinggir jalan. Rachel lalu menghampirinya.


"Mo Myung!" bentak Rachel membuat pemuda dingin dengan wajah datarnya itu terhenyak.


"Kenapa sih! Kamu ini selalu buat masalah? Masalah satu aja belum kelar sekarang kamu udah bikin masalah lagi,aku itu cape tau, kamu bikin beban hidupku bertambah aja" omel Rachel


Mo Myung hanya diam seribu bahasa, diam atau menimpalinya tetap saja gadis itu pasti ngomel-ngomel tidak karuan jadi Mo Myung memilih untuk diam.


"Heh! Kenapa kamu diam aja? Apa kamu mendadak bisu?" bentak Rachel yang kesal karena dicuekin oleh Mo Myung.


"Terus aku harus gimana?" tanya Mo Myung malas.


"Minta maaf sana! Sama nyonya Lin" titah Rachel.


"Ngga mau ah! Salah sendiri kenapa mukanya mirip selir Yeon hwa" tolak Mo Myung bikin Rachel geleng-geleng kepala.


"Oke, kalau itu mau mu siap-siap aja kamu diusir oleh nyonya Lin dan kamu juga jangan berharap aku akan memberimu tempat tingga" ucap Rachel sambil melengos pergi.


Ternyata Mo Myung tak mau kalau dirinya harus tidur dikolong langit akhirnya dia mengejar Rachel dan mau minta maaf pada nyonya Lin.


"Oke, kalau gitu ayo! Kita temui nyonya Lin" ajak Rachel, Mo Myung hanya mengangguk.


"Myung, nanti kalau kamu menemui nyonya Lin jangan pasang wajah dinginmu itu ya, saat kamu minta maaf kamu harus tersenyum dan sungguh-sungguh"


"Coba aku ingin lihat senyummu, selama kamu disini aku tak pernah melihat mu tersenyum"


Mo myung lalu menarik kedua sudut bibirnya dengan expresi datar.


"Senyummu terlihat datar, coba senyum lagi"


Dia lalu mencoba tersenyum lagi, tapi hasilnya tak sesuai keinginan Rachel.


"Yang sungguh-sungguh dong senyumnya, yang ikhlas gitu" pinta Rachel lagi


Lagi dan lagi Mo Myung terus mencoba tersenyum bahkan dia mengikuti gaya senyum yang dipraktekan oleh Rachel namun hasilnya tetap tidak sesuai dengan keinginan Rachel.


"Kamu ini kaku banget sih! Kaya pinguin aja, masa kamu gak bisa senyum?" tanya Rachel keheranan.


"Ya terus, aku harus gimana, gini, gini atau gini" ucap Mo Myung sambil memeragakan senyuman ala dirinya yang kaku dan dingin.


"Udahlah, kamu gak usah senyum tunjukan wajahmu yang biasa aja, kalau kaya gini bukannya kaya orang senyum tapi kamu mirip kaya orang lagi ngeden, tahu gak" ujar Rachel,wajahnya terlihat Frustasi menghadapi laki-laki kaku dan dingin itu.


Mo Myung yang juga kesal karena salah melulu akhirnya jalan duluan.


"Ya udah, ayo kita temui nyonya Lin" ajak Mo Myung pergi duluan.


Sejenak Rachel hanya terdiam sambil menatap punggung laki-laki itu yang terus berlalu.


"Kenapa dia begitu kaku seperti pinguin sampai-sampai senyum aja gak bisa, tingkahnya pun kaya pinguin.Apa dia itu pangeran keturunan pinguin?" batin Rachel keheranan. Setelah itu Rachel mengejar Mo Myung untuk menemui nyonya Lin.


Next,,,,


Jangan lupa mampir juga ke chat story aku yang ini ya, mohon dukungannya juga dengan meninggalkan jejak. makasih


😊😊😊😊😊😊😊😊

__ADS_1



__ADS_2