Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Pria berkuda?


__ADS_3

Meski Ara masih marah padanya tapi tetap saja Mo Myung selalu diam-diam pergi menemui teman barunya Gyeon-i.


Ternyata itu membuat Ara cemburu karena sekarang kakaknya tak seperhatian seperti dulu lagi dia lebih sering kabur untuk menemui teman barunya.


Disuatu hari Mo Myung diajak Gyeon-i bermain disungai bersama Areum, adik perempuannya Gyeon-i. Disana mereka asyik bermain air hingga pakaian mereka basah. Cukup lama mereka bermain disungai. Hingga menjelang sore, mereka pun mengakhiri permainan.


Setelah selesai bermain Gyeon-i mengajak Mo Myung kerumahnya untuk mengganti pakaian Mo Myung yang basah, Gyeon-i lalu memberikan baju terbagusnya yang dia miliki pada Mo Myung meski tetap saja, sebagus apa pun pakaian Gyeon-i tidak akan lebih bagus dari punya Mo Myung.


Tak berapa lama datanglah Ayah Gyeon-i yang baru pulang dari ladang. Dia langsung menyapa anak-anaknya tak lupa dia juga menyapa Mo Myung.


"Hai! Apa kita sedang kedatangan tamu, Gyeon-i?" tanya Beom Seok


"Iya ayah, dia temanku namanya Mo Myung" jawab Gyeon-i sambil tersenyum.


Mo Myung lalu memberi hormat pada Beom Seok sambil tersenyum.


"Apa kalian semua mau makan?" tanya Boem Seok.


Mereka semua menggelengkan kepala.


"Bagaimana kalau kita makan bersama kebetulan tadi dijalan ayah beli sup ayam, kita makan ya" ajak Boem Seok sambil membuka buntelannya yang terdapat sebuah kotak berisi sup ayam.


"Ayah apa kau punya uang? Bagaimana bisa kau membeli sup ayam yang mahal ini?" tanya Gyeon-i karena mereka jarang makan daging bahkan tidak pernah.


"Gyeon-i, Areum, Ayah punya kabar gembira. Sekarang ayah akan selalu ikut mengantar bahan makanan segar ke istana untuk paduka raja,dan hari ini ayah mendapatkan uang yang banyak jadi ayah belikan makanan yang enak untuk kalian" ucapnya penuh semangat dengan senyum ceria yang berkembang disudut bibirnya.


Gyeon-i dan Areum hanya saling menatap tak mengerti. Apa spesialnya menjadi pengantar bahan makanan segar keistana? pikir mereka.


Melihat ke tak mengertian kedua anak-anaknya, Ayah tunggal yang membesarkan kedua anaknya sendirian itu karena istrinya sudah meninggal dunia lalu menjelaskan.


"Kalau ayah menjadi pengantar bahan makanan ke istana itu artinya ayah akan punya uang banyak dan kita bisa makan enak karena mereka akan membayar ayah dengan uang yang sangat banyak" seru Beom Seok.


Seketika binar mata Gyeon-i dan Areum jadi amat senang sebab dengan begitu mungkin mereka tidak akan sering kelaparan karena ayahnya tak membawa apa pun setelah pulang dari ladang.


Sementara Mo Myung hanya menatap getir pemandangan dari keluarga miskin itu, hatinya merasa terenyuh melihat mereka bisa sebahagia itu hanya karena bisa mendapat makanan enak sementara hal itu sudah biasa bagi Mo Myung. Padahal diistana dia sangat pemilih dan suka membuang-buang makanan.Tapi ternyata diluaran sana masih banyak orang yang kurang beruntung, hanya sekedar untuk makan pun amat susah.


Boem Seok lalu menuangkan nasi dan sup ayam kedalam mangkuk kemudian membagikan makanan itu pada kedua anaknya dan juga Mo Myung. Meski mereka jarang makan daging tapi Beom seok yang baik hati dan ramah malah membagi daging ayamnya lebih besar untuk Mo Myung ketimbang anak-anaknya.


"Paman, aku sedikit aja daging ayamnya biar Gyeon-i dan Areum yang makan banyak" tolak Mo Myung ketika dia melihat Gyeon-i dan Areum makan begitu lahapnya.


"Kenapa, apa kamu tidak suka makan ayam?" tanya Beom Seok.


"Bukan begitu paman, aku sedang tidak ingin makan ayam" alibi Mo Myung yang masih menutupi siapa dirinya yang sebenarnya.


Sebagai calon raja yang adil dimasa depan, dia pun ingin berbagi dengan rakyatnya karena sebelumnya Mo Myung tak pernah tahu kalau diluar istana masih ada rakyatnya yang kelaparan jadi dia lebih memilih makan sedikit sebab diistana, apa pun yang ingin dia makan pasti tersaji dengan mudah.


Akhirnya Beom Seok menuruti keinginan Mo Myung yang hanya ingin makan sedikit, sebenarnya Mo Myung tidak ingin makan tapi untuk menghormati mereka akhirnya dia makan juga meski hanya sedikit.


Dari sini dia bisa melihat dan belajar untuk banyak bersyukur karena hidupnya jauh lebih baik dari mereka.


Tapi satu pelajaran yang amat berharga bagi Mo Myung adalah berkumpul sama keluarga dan saling menyayangi itu amat penting karena meski hidup miskin mereka bisa bahagia asal berkumpul dengan keluarga dan saling menyayangi.


...***********...


Disuatu malam, Mo Myung yang tak ingin membuat adik kesayangannya marah lagi berencana untuk menunjukan sesuatu pada adiknya itu.


Dikala hari mulai malam Mo Myung datang kekamar adiknya dan membangunkan dia yang sudah terlelap tidur.


"Ara, Ara, bangun" ucap Mo Myung setengah berbisik.

__ADS_1


Tak berapa lama gadis kecil itu pun bangun.


"Kakak, kenapa malam-malam membangunkanku?" tanya gadis kecil itu sambil menggisik-gisik kedua matanya.


"Kakak ingin menunjukan sesuatu padamu. Selama ini kakak tidak pernah berbohong sama kamu, kalau diluar sana begitu banyak tempat yang indah dan malam ini kakak ingin menunjukannya padamu jadi ayo bangun"


"Kenapa harus malam-malam? Aku ngantuk" keluh Ara


"Kalau siang terlalu banyak yang mengawasi kita, jadi lebih baik kita pergi keluar istana dimalam hari" jelas Mo Myung.


Akhirnya kedua bocah itu pun pergi keluar istana dengan mindik-mindik agar tak ketahuan oleh pengawal yang bagian jaga malam.


Mo Myung lalu membawa Ara kebukit belakang istana dengan hanya bermodalkan lentera sebagai penerangan mereka, mereka lalu menaiki bukit.


Sampailah mereka diatas bukit. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan seluruh bagian istana yang hanya diterangi lentera. Cahaya kecil yang dihasilkan oleh lentera itu membentuk sebuah formasi indah.


Ditambah pemandanga langit dengan bulan sabit yang bersinar terang ditemani banyaknya gugus bintang kecil yang berkerlipan.


"Lihatlah pemandangan ini Ara, bukan kan ini indah" tunjuk Mo Myung.


Ara yang terpesona akan keindahannya lalu tersenyum senang.


"Iya kakak, ini sangat indah. Aku suka ini" puji Ara.


"Jadi mulai detik ini kamu jangan marah lagi ya, kakak pergi karena memang benar-benar ingin melihat dunia luar bukan karena kakak tak suka bermain denganmu"


"Iya kak, maafkan aku karena aku sudah marah padamu"


"Iya tidak apa-apa, adikku sayang"


Waktu pun terus berputar, hingga malam semakin larut dan cahaya lentera yang mereka lihat dari atas bukit perlahan mulai padam, pertanda pemiliknya mulai pergi tidur.


Tapi tiba-tiba ditengah jalan mereka melihat ada sekelompok pria berkuda sambil memakai topeng. Karena takut itu kawanan perampok Mo Myung segera mematikan lenteranya kemudian mengajak Ara untuk bersembunyi disemak-semak.


Tapi siapa sangka kawanan yang Mo Myung kira perampok itu malah berhenti dekat persembunyian Mo Myung dan Ara, dia lalu membekam mulut Ara agar tak bersuara sambil berbisik.


"Ara, kamu jangan bersuara, nanti kita ketahuan"


Ara pun mengangguk dan menuruti perintah kakaknya. Salah satu pria berkuda itu lalu membuka topengnya.


"Bagaimana, apa kalian sudah berhasil mencuri upeti yang akan dikirim keistana?" tanya pria berpakaian bangsawan itu.


"Kami sudah berhasil tuan" jawab pria yang membuka topengnya.


"Bagus,bawa upeti ini kerumahku, jangan sampai ada yang tahu"


"Baik tuan, Lalu bagaimana dengan rencana pemberontakan kita?"


"Jangan dulu lakukan kekuatan kita masih kecil, lagi pula raja boneka itu masih menuruti semua keinginanku kalau dia sudah berani membangkang maka dia pun akan kita singkirkan. Sekarang lebih baik kita jalankan rencana awal yaitu membunuh permaisuri agar posisinya diganti oleh putriku dengan begitu kita akan semakin leluasa mengambil alih pemerintahan"


"Baik tuanku"


Percakapan kedua pria itu tak sengaja didengar oleh Mo Myung dan Go Ara. Tentu saja itu membuat mereka terkejut karena orang-orang itu sedang menyusun rencana pemberontakan.


Saat masih dalam persembunyiannya, tiba-tiba tangan Ara digigit semut rangrang dengan spontan itu membuat Ara berteriak.


"Aaaaaa!!"


Suara teriakan dari Ara bisa didengar oleh para pria berkuda yang memakai topeng itu.

__ADS_1


"Hey! Siapa itu?" seru pria yang tadi membuka topengnya.


"Ara, ayo kita lari, mereka sudah menyadari keberadaan kita" ajak Mo Myung.


Mereka lalu berlari sambil berpegangan tangan. Para pria berkuda itu lalu mencari sumber suara teriakan tadi.


"Brengsek! Ada yang mendengar pembicaraan kita. Cepat cari dan habisi saja mereka, karena saya takut mereka akan membocorkan rencana pemberontakan kita" titah pria berpakaian bangsawan.


Sementara Mo Myung dan Ara terus berlari sekencang mungkin tanpa mempedulikan jalan yang mereka lalui, rumput liar yang tumbuh disemak belukar pun terus diterobosnya.Mereka juga melewati jalan setapak yang disebelah sisinya terdapat jurang.


Karena tak begitu memperhatikan jalannya sebab terus menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa mereka sudah jauh dari para pria berkuda itu, Tapi tiba-tia, Mo Myung terperosok kesisi jurang.


"Kakaaakk,,,!!" teriak Ara sambil berusaha menarik tangan Mo Myung agar naik lagi keatas.


"Ara! Jangan lepaskan tanganku" pinta Mo Myung ketakutan.


"Tidak kak, aku akan menarik tanganmu jadi bertahanlah"


Gadis kecil itu terus berusaha menarik tubuh Mo Myung tapi karena berat badan mereka tak seimbang akhirnya pegangan mereka terlepas membuat Mo Myung makin terjerembab.


"Aaaaaa,,,!" teriak Mo Myung seraya tangannya segera meraih tumbuhan apa pun yang tumbuh disana agar dia tak semakin terjerembab.


"Kakak,,,!" terika Ara histeris.


"Bertahanlah kak, aku akan mencari alat untuk menarikmu keatas" teriak Ara sambil mencari dimana posisi kakaknya berada karena malam yang gelap menutupi tubuh Mo Myung.


Hanya gerakan tumbuhan disana yang digerakan oleh Mo Myung untuk bisa menandakan keberadaannya,saking gelapnya tempat itu.


Ara segera mencari ranting panjang untuk dijadikan pegangan oleh Mo Myung karena Ara akan menariknya. Tapi naas para pria berkuda itu berhasil menemukan Ara.


"Hey! Gadis kecil, apa tadi kau yang mendengar pembicaraan kami?"


Ara beringsut mundur ketakutan sambil membantah "Bukan, bukan aku, aku tidak tahu apa-apa"


"Bohong kamu, pasti tadi yang menguping pembicaraan kami itu, kamu kan" bentak pria tak bertopeng itu sementara yang lain masih bertopeng.


"Tidak, bukan aku, aku tidak mendengar apa pun" sangkal Ara sambil meneteskan butir bening karena ketakutan.


Sementara Mo Myung yang berada dibawah sana terus berusaha naik keatas dengan mempercepatnya karena dia juga mendengar ada kegaduhan diatas sana. Mo Myung khawatir akan keselamatan Adiknya itu.


Pria tak bertopeng itu lalu mengangkat pedangnya dari sarungnya yang terikat dipinggangnya.


SREENGNG,,,


Pedang itu terlihat mengkilat didalam kegelapan membuat Ara makin ketakutan. Pria itu mendekati Ara dengan perlahan tapi pasti sambil mengacungkan pedangnya kearah gadis kecil itu.


Ara terus beringsut mundur hingga ditepi jurang, tubuh gadis itu bergetar hebat karena ketakutan, matanya pun mulai berkaca-kaca.


Zraak,,,


Arrggkh,,,


Satu tebasan mendarat ditubuh gadis kecil itu seketika darah segar pun memancar dari bekas tebasan pedang si pria itu. Mo Myung yang saat itu terus berusaha naik keatas, tak sengaja menyaksikan peristiwa tragis itu, seketika matanya langsung mendelik kaget, tubuhnya langsung bergetar dan butir bening berhasil meloloskan diri dari pertahanan bendungan air matanya.


"Aaa,, ar,,Arra,," ucap Mo Myung terasa berat dan kelu.


Zraak,,


Satu tebasan lagi melayang diudara dan berhasil menembus tubuh kecil itu hingga akhirnya Ara pun tumbang.

__ADS_1


Next,,,


__ADS_2