Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Rencana jahat sang selir


__ADS_3

Malam itu istana nampak lengang karena kebanyakan para penghuninya sudah terlelap tidur. Hanya para penjaga istana yang bertugas jaga dimalam hari saja yang masih nampak terjaga karena mereka mengemban tugas untuk menjaga istana dimalam hari.


Lain halnya dengan kediaman selir Yeon hwa,diluar biliknya masih nampak ada cahaya temaram didalam bilik sang selir yang menandakan bahwa penghuninya masih belum tertidur karena dia masih menyalakan lampu cempor untuk menerangi biliknya,karena saat itu listrik belum ada dizaman itu.


Selir Yeon Hwa nampak sedang berbincang serius dengan seorang pria paruh baya. Keningnya yang mulus terlihat berkerut menandakan dia sedang berpikir keras.


"Gong wu, Apa yang harus kita lakukan, kita tak bisa terus diam seperti ini?" tanya selir Yeon hwa,tapi sebelum Gong wu menjawab selir Yeon hwa sudah berujar kembali.


"Aku tidak bisa membiarkan pangeran Mo myung menaiki tahtanya. Semenjak ayahku meninggal raja sudah tak bisa dikendalikan lagi, kita tak punya kekuatan untuk melawan sang raja dan pangeran Mo myung. Aku rasa raja tahu kalau kita tidak akan membiarkan pangeran Mo myung menduduki tahtanya dengan mudah,makannya dia buru-buru mencari calon istri dari keluarga yang mempunyai kekuatan besar untuk dijadikan sekutu bagi pangeran Mo myung" tutur selir Yeon hwa yang nampak gelisah dengan semua masalah ini.


Sejenak selir Yeon hwa dan Gong wu berpikir untuk mencari cara agar pangeran Mo myung tak bisa mendapatkan tahtanya sebagai penerus raja In hong.


"Jika kita tak bisa mencarikan istri untuk pangeran Mo myung karena keturunannya kelak akan kita jadikan sekutu, tapi kita kalah cepat dengan raja,maka dari itu sesuai dengan tradisi yang ada, jika putra sulung raja tak bisa jadi raja makan anak kedua rajalah yang akan menggantikannya dan kebetulan putramu itu anak kedua dari sang raja maka dari itu cara satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menyingkirkan pangeran Mo myung" tutur Gong wu menjelaskan sebagai cara yang bisa mereka lakukan satu-satunya.


Selir Yeon hwa lalu menyeringai pertanda dia setuju dengan saran dari Gong wu.


"Lalu bagaimana caranya kita menyingkirkan dia tanpa ada yang mencurigai kita?" tanya selir Yeon hwa.


"Bagaimana kalau kita sewa pembunuh bayaran yang hebat untuk melenyapkan pangeran Mo myung karena kita tidak bisa menyerang istana untuk melakukan pemberontakan itu,kita menyerang secara terang-terangan itu terlalu beresiko jadi lebih baik kita sewa beberapa pembunuh bayaran saja" jawan Gong wu.


"Siapa dan kemana kita harus mencari pembunuh bayarannya? Dan, Kapan kita melakukan rencana pembunuhan pangeran Mo myung?" tanya selir Yeon hwa lagi.


"Serahkan semua itu padaku. Dan soal waktunya bagai mana kalau kita lakukan itu dimalam menjelang pernikahan pangeran Mo myung dan putri Hae soo"


"Jika raja dan ratu mencurigaiku alasan apa yang harus kuberikan pada raja?"


Gong wu lalu menjelaskan rencananya dengan begitu detai agar tak ada yang mencurigai selir Yeon hwa. Dia berencana untuk memasukan ramuan kedalam minuman pangeran Mo myung agar dia kehilangan kesadarannya setelah itu para pembunuh bayaran itu akan memaksa pangeran Mo myung untuk menandatangani surat yang didalamnya menyatakan pernyataan bahwa Pangeran Mo myung lebih memilih untuk bunuh diri dari pada harus menikah dengan putri Hae soo.


Setelah itu berhasil kesadaran pangeran Mo myung akan berangsur hilang dan sepenuhnya dia tidak akan sadarkan diri, disaat itulah mereka akan mencekik pangeran Mo myung hingga mati kemudian mayatnya nanti akan dibuang kejurang yang ada dibukit belakang istana. Dengan begitu raja dan ratu tak akan mencurigai kalau kematin pangeran Mo myung itu disebabkan oleh selir Yeon hwa.


Setelah paham dengan rencana Gong wu, selir Yeon hwa langsung tersenyum.


...***********...


Waktu pun terus berputar, detik demi detik, jam demi jam dan hari demi hari hingga tibalah dimalam menjelang pernikahan pangeran Mo myung dan putri Hae soo. Malam itu sudah berada dipuncaknya yaitu tengah malam,Semua sudah terlelap tidur. Para pembunuh bayaran yang terdiri dari 15 orang itu mulai melancarkan aksinya.


Mereka mulai menaiki tembok pembatas istana, lalu berlarian dengan cepat diatas genteng tubuh ringan mereka seperti kapas yang ditiup oleh angin. Saat mereka melewati penjaga istan barulah mereka akan berjalan dengan penuh hati-hati sambil mindik-mindik hingga sampailah mereka dikediaman sang pangeran.


Penjagaan kediaman pangeran yang begitu ketat membuat para pembunuh itu terpaksa melumpuhkan penjaga dengan membunuhnya lalu mayatnya nanti akan dibawa pergi jauh untuk menghilangkan jejak.Tapi sayang rencan mereka yang sudah disusun begitu rapi tak sesuai dengan expetasi mereka. Rupanya sang pangeran tak ada didalam kamar, n'tah dia ada dimana? Para pembunuh itu lalu mencari keberadaan sang pangeran.


Namun usahanya diketahui oleh para penjaga istana lainnya yang menjaga kediaman sang pangeran hingga terpaksa mereka harus bertarung dengan para penjaga istana itu. Suara pedang beradu itu kini memecahkan keheningan malam itu.


...********...


Ditempat berbeda, sang pangeran tengah berdiri dipinggir danau buatan yang ada diistana dengan kedua tangan menyilang kebelakang tubuhnya. Wajahnya yang teduh terus menatap wajah sang purnama yang membulat sempurna meski sebagian tak terlihat karena tertutup awan hitam yang menyelubunginya.


Dari wajah teduh sang pangeran terlihat seperti ada beban yang tak ia ungkapkan yang ditanggungnya sendiri. Saat tengah asyik dalam lamunannya tak sengaja Gyeon-i yang juga saat itu belum tidur, melewati danau itu dan melihat pangeran Mo myung berdiri sendiri tanpa para dayang dan kasim sedang memandangi sang rembulan.


"Pangeran, Kenapa kau belum tidur?" tanya Gyeon-i tiba-tiba membuyarkan lamunan sang pangeran.


"Gyeon-i!! Mengagetkanku saja" ketus pangeran Mo myung.


"Kenapa belum tidur? Besokkan kau akan menikah" kata Gyeon-i

__ADS_1


"Kau sendiri kenapa belum tidur?" Pangeran Mo myung malah balik bertanya.


"Sebenarnya aku sudah tidur tapi karena kebelet jadi aku keluar" jawab Gyeon-i yang lantas malah menemani sang pangeran yang belum mau kembali kebiliknya.


Hening untuk sesaat!


"Gyeon-i ?!" ucap pangeran Mo myung seraya melirik Gyeon-i dengan wajah datarnya.


"Hhhmmm,,!" jawab singkat Gyeon-i sambil menatap keindahan bulan purnama.


"Gyeon-i, maafkan aku" ucap pangeran Mo myung tiba-tiba padahal dia seorang yang berhati dingin dan tak pernah meminta maaf pada siapa pun meski dia yang salah.


Dan itu membuat Gyeon-i yang sudah hapal betul akan sikafnya terhenyak kaget dan heran.


"Kenapa tiba-tiba kau meminta maaf padaku,pangeran?" tanya Gyeon-i heran.


"Aku malu padamu karena sampai detik ini aku belum bisa membersihkan nama baik ayahmu" jawab Mo myung.


"Tidak apa-apa pangeran, aku yakin saat kau kelak jadi raja, kau akan bisa membersihkan nama baik ayahku" ucap Gyeon-i penuh keyakian sambil tersenyum.


"Aku juga minta maaf karena selama ini aku selalu bersikaf tidak baik padamu hingga membuatmu mengalami banyak kesulitan" ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa pangeran,aku sudah memaafkan dan melupakannya" kata pria murah senyum itu.


"Apa kamu tidak membenciku?"


"Tidak, Kenapa juga aku harus membencimu,pangeran? Aku bahkan berhutang nyawa padamu, jika saja kau tak membebaskanku dan Areum dari hukuman mati mungkin saat ini aku dan Areum sudah mati" tanya Gyeon-i dengan senyuman ramahnya.


"Kau tak seharusnya dihukum mati karena kau tak bersalah dan aku juga minta maaf karena sikafku yang kurang baik padamu serta,,," sejenak Mo myung menggantung kalimatnya karena merasa tak enak hati pada Gyeon-i. Tak lama kemudian dia melanjutkan lagi kalimatnya.


Gyeon-i lalu menatap pangeran Mo myung sambil tersenyum walupun sesungguhnya hatinya amat sakit melihat kenyataan itu.


"Pangeran, terkadang hidup yang kita jalani ini terasa tak adil dan rasanya kita ingin marah atas ketidak adilan ini tapi, setiap mahluk yang bernyawa pastilah akan meninggal.Mungkin dengan cara itu ayahku harus meninggal dan ini sudah menjadi takdirnya jadi kita harus bisa merelakan dan mengikhlaskannya. Kau pun kehilangan adik kesayanagnmu jadi rasanya tak adil jika aku harus selalu menyalahkanmu dan membencimu" tutur Gyeon-i seraya tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


"Tapi kalau saja malam itu aku tak mengajak Ara keluar pasti ini semua tak akan pernah terjadi"


"Pangeran, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah menjadi takdir yang sudah tertulis jadi janganlah kau selalu menyalahkan dirimu sendiri"


Tetap saja walaupun Gyeon-i berkata seperti itu Mo myung tetap merasa bersalah kalau saja malam itu dia tidak mengajak adiknya pergi keluar istana tanpa pengawal untuk melihat pemandangan dibelakang bukit istana pada malam hari, pastilah mereka tidak akan bertemu dengan para pemberontak itu dan mungkin jika mereka tak pergi tidak akan ada ada nyawa yang tak bersalah yang harus mati sia-sia.


Gyeon-i yang melihat ada kegundahan tersirat diwajah sang pangeran dia lalu mencoba untuk menghiburnya untuk melupakan itu sejenak walau Gyeon-i tahu itu mungkin tidak akan bertahan lama karena rasa trauma sang pangeran yang harus melihat dengan kedua matanya sendiri, kematian gadis kecil dengan cara yang sadis hingga membuat Mo myung tak bisa tidur dengan tenang selama belasan tahun silam hingga kini karena dia terus dihantui oleh mimpi buruk.


"Gyeon-i, tetaplah jadi temanku sampai akhir nafasmu" pinta Mo myung.


"Tentu saja aku bersedia pangeran, ini adalah suatu kehormatan bagi rakyat jelata sepertiku jika bisa berteman denganmu, calon penguasa negri ini" ucap Gyeon-i dengan penuh kebanggaan.


Setelah berbincang cukup lama Mo myung akhirnya ingin kembali kebiliknya,Gyeon-i lalu mengantarkannya sampai kekediamannya sang pangeran sambil terus mengajak Mo myung ngobrol dengan keceriaan yang selalu tergambar diwajah Gyeon-i, si pemuda murah senyum itu. Beda halnya dengan Mo myung yang selalu bersikaf dingin disituasi apa pun.


Ketika mereka mulai mendekati kediaman pangeran Mo myung, Gyeon-i yang saat itu berjalan seperti anak kecil yang ceria didepan sang pangeran seraya terus berceloteh sementara pangeran Mo myung terus diam dengan wajah datarnya dan dia terlihat amat berwibawa sambil terus berjalan mengikuti Gyeon-i, tiba-tiba Gyeon-i beringsut mundur sambil menarik tubuh pangeran Mo myung untuk bersembunyi karena dia melihat ada keganjalanan didepan kediaman sang pangeran.


"Ada apa Gyeon-i?" tanya Mo myung tak paham dengam sikaf Gyeon-i yang tiba-tiba menyuruhnya untuk bersembunyi.


"Ada orang-orang yang mencurigakan" jawab Gyeon-i sambil terus mempertajam pandangan matanya untuk menelisik kesekeliling kediaman sang pangeran.

__ADS_1


Pangeran Mo myung pun lalu melihat kearah kediamannya sambil terus bersembunyi. Dia melihat ada banya pria yang menutupi wajahnya persis seperti seorang ninja, mereka sedang menggotong mayat para prajurit penjaga kediamannya.


"Pangeran, sepertinya mereka ingin berbuat jahat padamu dan ketahuan oleh para penjaga itu tapi mungkin kekuatan mereka lebih kuat dari para penjaga hingga para penjaga itu bisa dibunuh oleh mereka. Ini bahaya untukmu sebaiknya kamu jangan kembali kekamarmu malam ini, mereka bisa saja kembali dan membunuhmu" ujar Gyeon-i yang amat mengkhawatirkan pangerannya itu.


"Lalu aku harus pergi kemana?"


"Aku rasa mereka tidak akan mencarimu sampai kekamar Areum, jadi malam ini tidurlah dikamar Areum, aku akan menjagamu disana karena besok hari penting untukmu jadi kau harus istirahat jadi biar malam ini aku begadang untuk menjagamu, pangeran" jawab Gyeon-i.


Pangeran Mo myung mengangguk pertanda dia setuju dengan saran dari Gyeon-i. Lalu dengan perlahan dan hati-hati mereka berusaha untuk pergi dari tempat itu tanpa diketahui oleh para pembunuh bayaran itu. Tapi naas, salah satu dari mereka melihat Mo myung dan Gyeon-i.


"Hi!! Itu mereka!" seru salah satu dari pembunuh bayaran itu.


"Pangeran, kita ketahuan! Ayo lari!" ajak Gyeon-i,lalu mereka segera berlari menyelamatkan diri.


Para pembunuh bayaran itu pun segera mengejar mereka. Gyeon-i dan Mo myung terus berlari kearah bukit dibelakang istana dengan secepat kilat hingga tanaman apa pun yang ada didepannya ditabrak mereka karena mereka berlari dengan kalang kabut sebab para pembunuh itu terus mengejarnya kebukit dan melewati tebing yang curam.Hingga Mo myung dan Gyeon-i terpojok ditepi jurang yang kedalamannya seperti green canyon.


"Apa yang harus kita lakukan pangeran?" tanya Gyeon-i panik karena mereka dikepung oleh para pembunuh itu sedangkan mereka terpojok ditepi jurang yang dalam.


"Lawan mereka" jawab singkat Mo myung sambil mengambil ancang-ancang untuk siap saat mereka mulai menyerang.


"Mereka banyak dan kita tidak punya senjata apa pun sedangkan mereka membawa pedang" ujar Gyeon-i dengan setengah berbisik.


"Ambil ranting yang ada lalu kita serang mereka" titah Mo myung.


Gyeon-i mengangguk paham, mata mereka lalu diedarkan untuk mencari ranting yang akan digunakan untuk senjata tapi tiba-tiba pembunuh itu mulai menyerang mereka, untung Mo myung dan Gyeon-i bisa menghindar dengan berguling-guling ditanah. Saat situasi memungkinkan mereka lalu berdiri dan mulai menyerang para pembunuh bayaran itu.


Pertarungan sengit pun terjadi. Saat sedang melawan penjahat itu tiba-tiba ranting Mo myung terlempar dan melayang sesaat diudara dan terpaksa dia akhirnya melawan mereka dengan tangan kosong karena penjahat itu tak memberi kesempatan untuknya mengambil kembali ranting yang dia gunakan untuk senjata.


Swishh,,, swishh,,, swishh,,,!!


Berkali-kali penjahat itu mengayunkan pedangnya dengan membabi buta kearah Mo myung, dengan sigap dia pun mencoba menghindar tebasan pedang yang diarahkan padanya, tapi tiba-tiba.


Zraak,,,!


Satu tebasan lurus melintang tak bisa terhindarkan diatas dada Mo myung. Wajah tampannya yang dingin terlihat meringis kesakitan,dia lalu beringsut mundur sambil sedikit membungkukan badannya seraya menahan sakit, darah segar pun mulai terlihat berceceran.


Gyeon-i segera menghampiri sang pangeran, tubuhnya dijadiakan tameng untuk melindungi Mo myung.


"Pangeran, aku akan mengalihkan perhatian mereka untuk menyerangku, saat mereka memberi jalan maka segeralah kau berlari selamatkan dirimu biar aku sendiri yang menghadapi mereka" titah Gyeon-i tanpa rasa takut sedikit pun demi melindungi calon pemimpin negri ini.


"Tidak, Gyeon-i! Kau bisa mati jika melawan mereka sendirian" Mo myung menolak permintaan Gyeon-i


"Nyawamu jauh lebih penting dari pada nyawaku pangeran!" sahut Gyeon-i dengan semangat yang membara.


"Aku tidak bisa membiarkanmu mati sendirian Gyeon-i" ucap tegas Mo myung.


"Cepat pergi! Pangeran! Aku tidak akan bisa lebih lama menahan mereka!" seru Gyeon-i sambil terus menahan serangan mereka yang brutal.


Tetap saja Mo myung tak mau meninggalkan pelayan setia sekaligus sahabat terbaiknya itu akhirnya Mo myung menarik tubuh Gyeon-i untuk mengajaknya loncat kebawah jurang yang dibawahnya terdapat sungai cukup dalam.


"Aku tak bisa membiarkanmu mati sedirian Gyeon-i! Kalau kau mati maka aku pun akan mati jadi lebih baik kita loncat kejurang itu saja bersama-sama" ajak Mo myung sambil menatap serius wajah Gyeon-i


Gyeon-i yang melihat kesungguhan sang pangeran akhirnya mau mengikuti perintah pangeran Mo myung, akhirnya mereka loncat kejurang itu bersama-sama.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa!!" serempak Mo myung dan Gyeon-i berteriak


Next,,,,


__ADS_2