
Untungnya nyonya Lin baik hati jadi dia mau memaafkan Mo Myung tapi meski begitu Rachel tetap merasa tidak enak hati pada nyonya Lin.
Setelah minta maaf Rachel mengajak Mo Myung pulang kerumahnya karena berhubung yang punya vila sedang berlibur divilanya jadi terpaksa Mo Myung dan Gyeon-i tidur dirumah Rachel dulu.
Diperjalanan menuju rumah Rachel mereka bertemu dengan Gyeon-i yang tadi menghilang n'tah kemana.
"Kalian tadi pergi kemana sih? Ko aku ditinggal, aku cari kalian kemana-mana tau" protes Gyeon-i.
Rachel mau pun Mo Myung tak ada satu pun yang menggubris pemuda murah senyum itu, mereka terus berjalan mau tidak mau Gyeon-i akhirnya terpaksa mengikuti mereka.
"Kalian mau kemana sih? Sebentar lagi kan mau malam Ko pergi kesini? Vila kan disana?".
Bukannya menjawab Mo Myung malah menggaet leher Gyeon-i agar dia mengikuti Rachel dan Mo Myung.
"Hey! Jawab dulu dong pertanyaan aku biar aku gak penasaran? Kenapa kalian diam aja sih?" tanya Gyeon-i
"Kamu berisik banget sih! Gyeon-i. Ikut aja kenapa, malam ini kita tidur dirumah Rachel" ujar Mo Myung.
"Kenapa kita tidur dirumah Rachel?"
Lagi-lagi tak ada yang menjawab pertanyaan Gyeon-i akhirnya dia hanya bisa menelan bulat-bulat semua pertanyaannya sendiri sebab Mo Myung dan Rachel kompakan tak mau menjawab pertanyaannya.
...*********...
Malam ini bulan telah menampakan keseluruhan bentuknya, pancaran cahayanya yang terang mampu menyinari gelapnya malam.
Didepan teras rumah nampaklah seorang pemuda yang tengah menatap wajah sang rembulan, dari kedua netranya terpancarkan ada sebuah kerinduan yang hanya tersimpan dihatinya tanpa ada seorang pun yang tahu.
Saat dia tengah asyik dalam lamunannya tiba-tiba Rachel datang dan membuyarkan lamunannya.
"Gyeon-i, kenapa kamu belum tidur?" sapa Rachel.
"Eh! Rachel, aku belum ngantuk" jawab Gyeon-i sambil melirik gadis itu.
Rachel lalu duduk disamping Gyeon-i. Sementara Gyeon-i kembali menatap sang rembulan sambil tersenyum.
"Gyeon-i aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Tentu saja boleh, emang kamu mau nanya apa?"
"Aku itu heran banget deh, Ko Mo Myung susah banget sih senyum, selama dia disini aku juga nggak pernah lihat dia tersenyum.Emang kenapa ko gitu?" tanya Rachel
"Oh itu, dia emang udah lama gak pernah senyum, terakhir kali aku lihat dia tersenyum saat usianya 7 tahun dan sekarang dia berusia 20 tahun" tutur Gyeon-i
"Ko gitu kenapa?" Rachel makin penasaran
__ADS_1
"Jadi gini ceritanya"
Flashback on
Dinasti joseon tahun 1484.
Siang itu, para anak-anak rakyat jelata sedang asyik bermain bola yang terbuat dari sabut kelapa yang digulung jerami untuk membuat alas kaki rakyat jelata yang dibentuk sedemikian rupa hingga membentuk bola, didekat ladang para petani. Ketika para orang tua anak-anak itu sibuk mengurus ladangnya maka para anak-anak akan menunggu orang tuanya sambil bermain dengan anak-anak lagi.
Pakaian lusuh dan penampilan mereka yang terlihat kurang layak tak mengurangi sedikit pun keceriaan dan gelak tawa anak-anak dari keluarga miskin itu, mereka masih terus asyik bermain bola.
Tapi disudut yang berbeda nampaklah seorang anak bangsawan yang tengah duduk dibawah pohon rindang sambil menyaksikan keceriaan anak-anak rakyat jelata itu. Dari gelagatnya, nampak anak bangsawan itu ingin ikut bermain dengan mereka tapi dia mengurungkan niatnya sebab takut ketahuan oleh pengawalnya yang n'tah ada dimana.
Ya, anak kecil yang kesepian karena tak punya teman bermain itu selalu kabur dari rumahnya hanya untuk sekedar menyaksikan permaian bola dari anak-anak rakyat jelata itu.Tapi tiba-tiba bola itu menggelinding kehadapannya.
"Hey! Kamu yang ada disana,bisakah kamu menendang bola itu pada kami" teriak salah satu anak rakyat jelata itu.
Melihat bola dihadapannya, anak bangsawan itu lalu berdiri dan mengambil bola itu. Dia amat senang akhirnya dia punya kesempatan untuk menendang bola juga. Dia lalu menendang bola itu dengan sekuat tenaganya.
Setelah bola itu kembali pada anak-anak rakyat jelata itu, mereka kembali bermain sementara anak bangsawan itu duduk dan kembali menyaksikan pertandingan bola lagi.
Tiba-tiba ada seoarang anak rakyat jelata yang mengulurkan tangannya yang kotor pada anak bangsawan itu.
"Hey! Kamu siapa? Apa kamu ingin ikut bermain bola dengan kami?" tanya anak itu.
Anak bangsawan itu tak lantas menjabat tangan anak rakyat jelata yang kotor itu,dia hanya melihat tangan anak rakyat jelata yang kotor.
"Sekarang tanganku sudah bersih, jadi mau kah kamu ikut bermain dengan kami" tanyanya sekali lagi.
"Emangnya boleh?" tanya anak bangsawan itu.
"Tentu saja boleh kenapa tidak?"
Anak bangsawan itu lalu tersenyum.
"Siapa namamu? Kalau namaku Gyeon-i" ucap anak rakyat jelata itu.
"Namaku Mo Myung" jawab anak bangsawan itu sambil tersenyum dan menyambut tangan Gyeon-i
Mereka berdua lalu berlari mendekati anak-anak lain sambil tersenyum dan bergandengan tangan. Kemudian mereka ikut bergabung dengan anak-anak lain lagi untuk bermain bola. Gelak tawa pun ikut menghiasi pemandangan penuh keceriaan itu.
Ditempat berbeda para kasim, dayang dan pengawal sedang kebingungan mencari pangeran kecilnya yang tiba-tiba saja hilang dari kediamannya, tentu saja itu membuat panik para kasim, dayang dan pengawal yang mengurus sang pangeran.
Mereka mencari sang pangeran sampai keluar istana secara diam-diam karena kalau itu sampai ketahuan oleh sang raja, permaisuri dan ibu suri yang agung maka semua orang yang bersangkutan akan terkena masalah.
"Pangeran! Pangeran Mo Myung! Dimana kamu?!"
__ADS_1
Teriak para dayang, kasim dan pengawal yang mencari sang pangeran itu bergema.Mereka semua terus mencari hingga pergi jauh dari istana dan sampailah didekat ladang para rakyat jelata itu.
Setelah mencari kemana-mana akhirnya Wang jun yang merupakan ketua kasim yang dipercaya untuk mengurus sang pangeran akhirnya bisa menemukan sosok yang dicarinya saat dia berpencar dari rombongannya. Sosok itu nampak sedang asyik bermain bola bersama anak-anak rakyat jelata dengan penuh keceriaan. Wang Jun lalu mendekati sang pangeran.
"Yang mulia, ayo pulang" ajak Wang jun sambil menarik paksa tangan kecil itu.
"Wang jun, aku masih ingin bermain disini" rengek Mo Myung.
"Ayah dan ibumu bisa marah kalau kamu ada disini" ucap Wang jun seraya terus menarik Mo Myung agar segera pulang.
Dengan terpaksa akhirnya dia kembali pulang.Mo Myung merasa sedih karena dia harus segera pulang,dia hanya bisa menatap pilu pada teman-teman barunya itu. Gyeon-i pun hanya bisa menatap kepergian Mo Myung tanpa bisa berbuat apa-apa karena dia sadar kastanya berbeda dengan anak bangsawan yang asal usulnya belum diketahui oleh Gyeon-i karena ini adalah pertemuan pertama mereka.
Di istana
Dengan wajah yang merengut dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman sang kasim.
"Lepaskan aku Wang jun!" bentaknya.
"Maaf kan saya pangeran, saya terpaksa melakukan ini kalau tidak kamu bisa kena masalah karena ketahuan kabur dari istana dan kamu bisa dihukum karena ini. Bukan cuma kamu kami pun pasti dihukum jadi kami mohon dengan amat sangat,yang mulia jangan kabur lagi" Wang jun memelas.
"Tapi aku bosan terus diistana, disini aku harus belajar, belajar dan terus belajar aku juga ingin bermain" protes Mo Myung.
"Iya pangeran, kamu kan bisa bermain dengan adikmu Go Ara"
"Aku bosan bermain dengan Ara, dia itu perempuan dan dia selalu mengajakku bermain boneka.Aku tidak suka bermain boneka" protes Mo Myung lagi.
"Kalau kamu tak mau bermain dengan Ara nanti aku akan katakan soal ini pada baginda raja agar dia mencarikan teman para bangsawan dan mengundang mereka untuk datang kesini" ujar Wang jun.
"Aku tidak mau berteman dengan mereka, biasanya para anak bangsawan itu sombong, suka pamer kekayaannya,bermuka dua dan mereka tak pernah tulus berteman denganku beda halnya dengan para anak-anak rakyat jelata itu, mereka itu tulus jadi aku hanya ingin berteman dengan mereka"
Tanpa dia sadari gadis kecil berusia 5 tahun itu mendengar obrolan sang kakak dengan kasimnya, dia amat sedih karena ternyata kakaknya tak suka bermain dengannya padahal Ara belajar menjahit boneka dengan gurunya dan ingin membuatkan boneka untuk kakak kesayangannya itu.
Tapi semua dipatahkan oleh perkataan Mo Myung yang membuat gadis kecil itu merasa sia-sia telah membuatkan boneka untuk kakaknya itu. Ara lalu membuang boneka buatannya dan pergi berlari sambil menangis.
Mo Myung yang netranya melihat itu jadi merasa bersalah pada adik kesayangannya itu. Dia lalu mengejar Ara sampai kekamarnya. Tapi Ara menutup pintunya dan tak mau bicara dengan Mo Myung.
"Ara, maafkan kakak, semua yang kakak kata kan itu tidak benar tolonglah percaya sama kakak" teriak Mo Myung sambil menggedor-gedor pintu kamar adinya.
"Kakak bohong, aku tidak percaya dengan kakak" sahut Go Ara.
"Percayalah pada kakak, Ara. Tadi itu kakak berkata bohong karena cuma ingin beralibi saja. Yang sebenarnya kakak bisa berkata seperti itu alasannya adalah karena kakak ingin melihat dunia selain didalam istana. Apa kamu tahu diluaran sana begitu banyak hal menyenangkan dan tempat-tempat yang indah jadi kakak ingin melihatnya. Tapi peraturan istana tak mengizinkan kita untuk bebas berkeliaran diluar sana. Jadi tolong percayalah sama kakak" jelas Mo Myung
"Aku tidak percaya dengan ucapan kakak, aku marah pada kakak, aku tak mau bertemu dengan kakak" sahut Go Ara dari dalam kamarnya.
"Ya ampun, aku harus berbuat apa agar Ara percaya padaku dan memaafkanku" batin Mo Myung gelisah dan cemas.
__ADS_1
Akhirnya dia pergi dari kamar Ara seraya memikirkan cara untuk membujuk Ara agar dia tidak marah lagi pada dirinya.
Next,,,,,