
Pangeran Mo myung yang diikuti oleh para dayang dan kasim yang berjalan berjejer memanjang dibelakangnya, terus mengikuti kemana pun sang pangeran pergi. Saat dia berhenti maka dengan langkah kompak dan serentak para dayang dan kasim pun akan berhenti.
Dia terus melewati banguna demi bangunan yang ada didalam istana karena kediamannya ada disebelah timur banguna utama. Tak sengaja dijalan dia berpapasan dengan rombongan para dayang yang ditugaskan dibagian dapur, dari deretan para dayang tersebut pangeran Mo myung melihat ada dayang Choi yang tadi jadi dayang penyicip diacara jamuan makan sang raja.
"Dayang Choi!! Berhenti!!" teriak pangeran Mo myung seraya menghentikan langkahnya dengan mendadak.
Membuat para dayang dan kasim yang mengikutinya saling bertabrakan satu sama lain karena mereka berjalan memanjang seperti kereta api seraya agak membungkukan badannya.Dan untungnya kasim yang ada dibelakang pangeran Mo myung bisa menahan tabrakan itu hingga dia tidak menabrak pangeran, kalau itu sampai terjadi pastilah pangeran Mo myung akan sangat marah.
Dayang Choi yang dipanggil oleh pangeran langsung keluar barisan dan menghadap pada sang pangeran tanpa berani menatapnya.
"Iya, yang mulia! Ada apa memanggil hamba" tanya dayang Choi dengan perasaan yang tidak enak.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?" tanya pangeran Mo myung dengan intonasi meninggi.
Tatapan matanya yang tajam dan aura wajah dinginnya yang tampan dan tak bersahabat membuat dayang Choi bergetar hebat karena ketakutan akan murka sang pangeran.
"Ampun yang mulia, hamba tahu hamba telah melakukan kesalahan, hamba memang pantas mati maka hukumlah hamba" ucap dayang Choi dengan segera duduk ditanah sambil menunduk dihadapan sang pangeran.
Tanpa menjelaskan apa salah dayang Choi dan tanpa basa basi lagi pangeran Mo myung langsung menyuruh pengawal yang sedang berjaga diarea itu untuk menghukum dayang Choi.
"Pengawal!! Hukum dayang Choi dengan hukuman cambuk 100 kali" titah sang pangeran kejam itu pada pengawal.
"Ampuni hamba yang mulia" rintih wanita berusia sekitar 40 tahun itu ketika mendengar hukuman dari pangeran untuknya.
Tapi pangeran Mo myung tak menggubrisnya dia tetap menyuruh pengawal itu menghukum dayang Choi.Setelah itu pangeran Mo myung kembali kekediamannya. Saat agak jauh, para dayang lain silih berbisik mengenai kekejaman sang pangeran yang menghukum dayang Choi cuma gara-gara dia berkata jujur pada sang raja tentang rasa kue beras buatan putri Hae soo.
"Pangeran kejam banget ya, masa cuma gara-gara masalah itu doang dayang Choi dihukum cambuk sampai 100 cambukan"
Itulah bisik-bisik para dayang dibelakang pangeran Mo myung dan tak sengaja sang pangeran mendengar bisikan itu, dia lalu memutar balik tubuhnya dan langsung menghampiri para dayang itu.
"Siapa yang tadi bisik-bisik dibelakang saya? Kalian pikir saya tidak bisa mendengarnya" kata pangeran Mo myung dengan tatapan mengintimidasi pada para dayang itu.
Tak satu pun dari mereka yang berani bicara bahkan tak berani menatap wajah garang sang pangeran, semua tertunduk ketakutan.Tapi itu malam semakin membuat pangeran murka akhirnya dia menghukum semua dayang itu dengan hukuman berdiri dengan sebelah kaki sambil menatap sang surya yang dikala itu bersinar amat terik.Dan dia juga menyuruh prajurit yang ada disana untuk mengawasi para dayang itu untuk menjalani hukumannya. Setelah itu dia pergi.
...*********...
Ditempat lain Gyeon-i sedang celingukan didapur istana, pandangan matanya yang sedang diedarkan itu rupanya sedang mencari sosok yang ingin ditemuinya. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk bahunya membuat dia terkejut dan spontan dia lalu berbalik pada sosok yang tadi menepuk bahunya itu.
"Areum! Kau ini mengagetkanku saja" seru Gyeon-i
"Ya, habisnya kakak ngapain celingukan disini seperti kucing mau maling ikan aja?" kata gadis berumur belasan tahun itu.
"Aku hanya ingin melihat pekerjaanmu disini,Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya pemuda murah senyum itu pada adik perempuannya seraya terus celingukan.
"Tentu saja semuanya berjalan dengan lancar, pekerjaankukan bagus, rapi dan cekatan" jawab Areum seraya membanggakan dirinya sendiri.
"Hhmm,,,! Baguslah kalau begitu" kata Gyeon-i masih celingukan membuat sang adik jadi curiga.
__ADS_1
"Sebenarnya kakak cari apa sih? Aku yakin kakak kesini bukan cuma sekedar ingin melihat pekerjaankukan?" tanya Areum penasaran.
"Ehmm,,, tidak,,, tidak,,,aku tidak sedang mencari siapa pun ko" celetuk Gyeon-i tiba-tiba membuat Areum makin curiga dengan tingkah tak biasa kakaknya itu.
"Ah! Aku tahu! Kakak kesini pasti sedang mencari Eun cha kan? Dia tidak ada disini, dia lagi ikut menyajikan hidangan dikediaman ibu suri yang agung (Neneknya pangeran Mi myung)" tutur Areum
Mendengar ucapan adiknya itu seketika raut wajah Gyeon-i berubah jadi murung karena sebenarnya dia datang kedapur istana ini ingin melihat Eun cha sebab sudah lama Gyeon-i menaruh hati pada dayang yang bertugas didapur itu bersama adiknya, tapi Gyeon-i tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya itu sebab mencinta seorang dayang itu amat dilarang bagi pelayan dan semua pria yang bekerja diistana karena para dayang itu milik raja.
Dan jika raja mau dayang itu bisa dijadikan istrinya. Didalam peraturan istana seorang dayang dan kasim dilarang untuk menikah kecuali Gyeon-i, meski dia seorang pelayan tapi karena dia pelayan sekaligus teman dekat pangeran Mo myung dari kecil hingga sekarang, jadi dia diberi sedikit kebebasan untuk bisa menikah tapi tidak boleh dengan dayang istana.
Hak kebebasan ini diberikan langsung oleh raja atas permintaan pangeran Mo myung karena dia pikir Gyeon-i berhak mendapatkan itu sebab pangeran Mo myung yang hidup didalam istana dengan segala peraturan yang membatasi segala gerak geriknya membuat pangeran Mo myung tak punya teman.Dan saat dia bertemu dengan Gyeon-i ketika masih kecil, dia amat senang akhirnya dia punya teman bermain juga.
"Kakak, lalu bagaimana pekerjaanmu? Apa kau tidak melayani pangeran?" tanya balik Areum
"Tidak, dia menyuruhku untuk mencari buku-buku diperpustakaan karena dia akan belajar setelah acara jamuan makan bersama yang mulia raja" jawab Gyeon-i.
"Apa kakak sudah mencari bukunya?" tanya Areum lagi.
"Belum, aku mau mampir kesini dulu" jawab Gyeon-i sambil tersenyum dengan santainya.
"Kakak, sebaiknya kau cepat cari buku-buku yang akan dipelajari pangeran sebelum kau pun kena hukuman dari pangeran karena baru saja pangeran Mo myung menghukum dayang Choi dengan hukuman 100 kali cambuk dan dia juga menghukum para dayang yang bertugas untuk menyajikan hidangan diacar yang mulia raja" tutur Areum merasa khawatir pada kakaknya
"Emang acara jamuan makan yang mulia raja dan tuan Lee sudah selesai?" tanya Gyeon-i
"Udah dari tadi"
Lalu dia segera bergegas keperpustakaan dengan berlari secepat kilat untuk mencari buku-buku yang akan dipelajari oleh pangeran Mo myung.
...******...
Dikediaman pangeran Mo Myung,,,
Dia langsung masuk kekamarnya dan tatapan dinginnya langsung tertuju pada mejanya yang masih kosong tanpa ada tumpukan buku.
"Gyeon-iiiiii,,,!!" pekik sang pangeran tanda kemurkaannya meledak lagi
Membuat para dayang dan kasim bergidik seraya menunduk dan memejamkan mata ketika mendengar pekikan suara sang pangeran yang memanggil Gyeon-i, suaranya yang keras melengking seperti lolongan srigala didalam hutan yang memanggil kawanannya.
"Mana Gyeon-i!! Kenapa dia belum menyimpan buku-buku itu dimejaku, aku kan sudah bilang sebelum acara jamuan makan itu selesai buku-buku itu harus sudah ada dimejaku" bentak pangeran Mo myung.
"A-ampun yang mulia, sa-saya akan segera menyuruh orang untuk mencarinya" ucap sang kasim dengan terbata-bata.
Dengan penuh kemarahan dia lalu duduk. Sang kasim segera menyuruh bawahannya untuk mencari Gyeon-i. Setelah menunggu cukup lama Gyeon-i baru datang dengan tergesah-gesah. Gyeon-i lalu bersimpuh meminta ampun pada pangeran atas keterlambatannya, karena dia pangeran Mo myung harus menunggunya cukup lama.
"Ampuni, hamba yang mulia karena keterlambatan saya yang mulia harus mengunggu sangat lama" kata Gyeon-i dengan lirih
Braakk,,,!!
__ADS_1
Suara meja dipukul itu begitu keras hingga mengagetkan semua orang yang ada disitu.
"Kenapa kamu bisa terlambat?" bentak sang pangeran
"Ampuni sa-saya pangeran, ta-tadi sa-saya,,, " kalimat Gyeon-i yang dipotong oleh pangeran Mo myung terdengar terbata-bata.
"Kamu tahu kan! Saya tidak suka orang suka terlambat dan lelet dan kenapa kamu malah melakukan kesalahan itu?" bentak pangeran Mo myung.
"Ampun! Yang mulia, saya tidak akan mengulanginya lagi, saya tahu saya bersalag maka dari itu hukumlah saya" Gyeon-i yang sudah pasrah dengan hukuman yang akan diterimanya lalu meminta ampun lagi dan lagi pada pangeran Mo myung.
Pangeran Mo myung lalu mengangkat sebelah alisnya yang tebal dan hitam sambil memainkan gelas kecil bekasnya minum.
"Karena kau telah membuat kesalahan makan aku akan menghukummu dengan hukuman,,, " sejenak pangeran Mo myung menghentikan kaliamatnya dan tak lama kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
"Penuhi bak mandiku dengan air terjun yang ada dibukit dibelakang istana, nanti sore aku ingin mandi dengan air itu" lanjutnya lagi.
Gyeon-i lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan dengan berat. Yang membuat dia merasa amat berat bukan masalah mengisi bak mandinya tapi masalahnya perjalanan menuju air terjun itu yang berada dibukit otomatis Gyeon-i harus naik turun bukit yang jalannya cukup mendaki dan itu akan terus dilakukannya berkali-kali karena bak mandi sang pangeran tidak akan penuh dengan hanya membawa dua ember air.
"Baiklah pangeran, aku akan melakukannya" kata Gyeon-i dengan lemas.
"Segera lakukan perintahku sekarang juga" titah pangeran Mo myung.
Gyeon-i lalu berpamitan pergi setelah menyerahkan buku-buku yang dipinta oleh pangeran Mo myung. Setelah mengambil dua ember dengan dikaitkan kekayu yang dipikul dikedua bahunya dia mulai berjalan menaiki bukit yang ada dibelakang istana untuk mengambil air diair terjun.
Jalan berliku,terjal dan mendaki Gyeon-i lalui dengan susah payah. Sesampainya diair terjun, dia segera mengambil airnya yang jernih dan sejuk karena keasrian alam disekitar itu masih terjaga dengan amat baik, suara cicitan burung saling bersahutan itu pun terdengar menggema bagaikan nyanyian alam yang amat merdu.
Setelah kedua embernya penuh dia kembali menuruni bukit dengan amat hati-hati karena takut air yang diambilnya dengan susah payah jadi tumpah.Ketika sampai diistana kembali dia mulai menungkan airnya kedalam bak mandi sang pangeran kemudian dia kembali menaiki bukit dan turun kembali setelah mengambik air dari air terjunnya. Begitulah seterusnya yang dia lajukan hingga bak mandi sang pangeran dipenuhi air.
Ketika bak airnya penuh, akhirnya Gyeon-i bisa beristirahat juga untuk melepas lelah dan rasa capenya. Dia lalu pergi kedapur istana dan duduk berselonjoran seraya memijiti kakinya yang terasa pegal-pegal setelah berkali-kali dia naik turun bukit. Tak lama Areum datang,dia lalu memberikan air minum untuk kakaknya.
"Kak, nih! Minum dulu" ucap Areum
Gyeon-i lalu segera meminum air yang diberikan oleh adiknya itu. Kemudian Areum duduk disamping Gyeon-i.
"Pangeran itu memang benar-benar keterlaluan, masa menghukum kakak seperti ini sih! Para penguasa emang kejam" gerutu Areum kesal melihat kakaknya yang bercucuran keringat terlihat amat kelelahan.
"Sstttt,,,!! Kamu tidak boleh berkata seperti itu diistana, bisa-bisa kepalamu dipenggal kalau mereka mendengarnya" hardik Gyeon-i pelan-pelan takut terdengar oleh pejabat istana.
Areum langsung terdiam sejenak sambil manyun karena masih kesal pada sang pangeran.
"Sudah aku tidak apa-apa ko, itu wajahnya jangan merengut terus nanti adiku tidak cantik lagi loh" ucap Gyeon-i menggoda adiknya yang terus merengut.
"Hhhmmm,, kakak, aku kan kasihan melihatmu seperti ini"
"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa, walau bagaimana juga kita tetap berhutang nyawa pada pangeran Mo myung, kalau bukan karena dia mungkin sekarang kita sudah mati jadi apapun yang terjadi kamu tidak boleh marah pada pangeran,aku sangat mengenalnya karena kami tumbuh bersama. Dia berubah jadi arogan dan dingin karena hatinya terluka bahkan senyumannya memudar karena itu.Sudah belasan tahun dari kejadian itu dia tidak pernah tersenyum lagi hingga sekarang mungkin juga dia sudah lupa bagaimana caranya tersenyum saking lamanya dia tidak pernah tersenyum" tutur Gyeon-i seraya mentap kedepan dengan pilu mengenang kisah hidupnya sang pangeran
Next,,,,
__ADS_1