
Maaf ya up nya lama soalnya authornya lagi gak mood nulis novel dengan judul ini. Semoga mood authornya bisa diperbaiki hingga bisa nulis dengan banyak episode aamiin 🙏
💖
💖
💖
Terlihat ada ketegangan diwajah para pejabat istana itu ketika Mo Myung menatap lekat satu persatu dari wajah mereka. Namun sayang, Mo Myung tak yakin dan ragu harus menuduh pada siapa karena yang membunuh Ara itu orang suruhannya jelas saja orang itu pasti tidak ada disini.
Sementara Mo Myung tak bisa melihat siapa dalang dari si pembunuh Ara, yang pasti pria berpakaian bangsawan itu pastilah dalangnya dan sepertinya dia juga salah satu pejabat istana yang mempunyai seorang putri, n'tah itu sudah menjadi selir raja atau pun belum Mo Myung tak mengetahuinya.
Ketika suasana masih dalam keheningan karena menunggu kesaksian Mo Myung yang tak kunjung menunjukan titik terang, akhirnya seorang mentri dari departemen kehakiman mulai angkat bicara.
"Yang mulia Raja, pangeran Mo Myung tak kunjung bicara sepertinya dia hanya mengulur-ngulur waktu eksekusi saja, dia juga tak bisa menunjukan pembunuhnya sementara kita sudah menemukan pembunuhnya dan juga buktinya lalu kenapa kita masih menunda-nunda si pembunuh sadis putri Ara. Mendiang putri Ara pun pasti ingin si pembunuh cepat dihukum, maka dari itu segeralah lakukan eksekusi pada Beom seok,si pembunuh sadis itu" ucap mentri kehakiman.
Dia lalu memohon dengan bersujud sambil berkata "Kami mohon Jeonha, segera lakukan eksekusi"
Dan kalimat itu diulang serempak oleh semua mentri yang hadir sambil bersujud memohon.Sang Raja nampak sedang menunggu jawaban dari Mo Myung.
"Myung, Apa kamu melihat disini ada pembunuhnya?" tanya raja In Hong.
Mo Myung sendiri tak mampu berkata-kata,dia hanya terdiam.
"Sudah yang mulia! Lakukan saja eksekusinya sekarang juga" ucap mentri kehakiman.
"Baiklah, Cepat lakukan eksekusinya" titah sang raja.
Kepala Boem seok lalu ditutupi dengan kantong hitam agar dia tak melihat apa yang akan terjadi padanya. Sementara kedua anaknya terus menangis sambil meronta-ronta minta dilepaskan karena ingin mencegah eksekusi itu.
"Ayaaahh,, tolong hentikan,, jangan eksekusi ayahku!" teriak Gyeon-i sambil terus menangis.
"Ayaaahh,, jangang eksekusi ayahku,,!" teriak Areum.
Tapi tangisan dan permohonan kedua bocah itu tak digubris oleh sang raja. Algojo itu lalu mengangkat tinggi-tinggi pedangnya dan bersiap untuk menebas leher Beom Seok.
Mo Myung yang melihat itu lalu berlari kearah ayahnya dengan terseok-seok karena dia belum pulih sepenuhnya setelah dia terjatuh kejurang tempo itu.
"Ayah, aku mohon jangan eksekusi paman Beom seok dia tidak bersalah, aku akan mencari pembunuh Ara yang sesungguhnya" Mo Myung memohon dengan sungguh-sungguh sambil berlutut dikaki ayahnya.
Namun naas, pedang algojo itu sudah menebas leher Beom Seok hingga putus dan menggelinding. Gyeon-i dan Areum yang amat hancur hatinya ketika melihat ayahnya dihukum pancung langsung terkulai pingsan.
__ADS_1
Seketika bendungan air mata Mo Myung jebol karena sudah tak tertahankan lagi, betapa hancurnya hati dia saat melihat semua itu, rasa sedih dan bersalah yang menghimpit hatinya membuat Mo Myung bergetar hebat.
"Pa,, man" lirihnya sedih sambil berlutut menatap ayah Gyeon-i yang tak bersalah sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Tak lama Gyeon-i pun tersadar kembali, dia terus menangis histeris sambil terus memanggil ayahnya sedang tubuh kecilnya masih dipegangi pengawal istana.
"Ayaaahh,, Ayaaahh,, Ayaaahh,,!!" jerit tangis histeris Gyeon-i.
Sang mentri lalu meminta pada raja untuk menghukum mati Gyeon-i yang sudah sadar dan Areum yang saat itu masih pingsan. Bocah kecil itu pun akhirnya diseret ketempat eksekusi dan hendak dipakaikan kantong hitam untuk menutupi matanya.
Tapi kali ini Mo Myung buru-buru berlari kearah Gyeon-i dan dia langsung memeluk Gyeon-i dengan erat.
"Kalau kalian ingin membunuh Gyeon-i maka bunuh aku juga" teriak Mo Myung.
"Mo Myung! Cepat menyingkir dari sana, eksekusi harus segera dilaksanakan" titah sang raja.
"Kesalahan apa yang sudah dibuat Gyeon-i hingga dia pun harus dihukum mati?" tanya Mo Myung.
"Karena dia adalah anak seorang pembunuh, ayah tak mau kelak dia akan jadi pemberontak dikerajaan ini" jawab sang raja.
"Gyeon-i, Areum dan paman Beom Seok bukanlah seorang pembunun, mereka hanya difitnah. Kenapa ayah tak mau mendengarkanku? Tolong jangan hukum Gyeon-i dan Areum, jika kelak mereka tumbuh menjadi pemberontak maka aku sendiri yang akan memenggal kepala Gyeon-i dan Areum jadi tolong bebaskan mereka dari hukuman ini ayah, biarkan mereka jadi pelayanku" pinta Mo Myung dengan sungguh-sungguh.
Raja berpikir sejenak, sebenarnya menghukum Gyeon-i dan Areum itu adalah tindakan yang tak masuk akal karena mereka jelas-jelas tidak ada hubunganya dengan pembunuhan Ara.
Beberapa hari kemudian.
Meski kini Gyeon-i dan Areum sudah dibebaskan dari hukuman tapi tetap saja mereka masih dalam suasana duka karena kini mereka menjadi anak yatim piatu.Mereka masih saja suka menangis dan berdiam diri dikamar yang ada diistana.
Dari luar terdengar derap langkah kecil Mo Myung,dayang dan para kasim, dia hendak menemui Gyeon-i dan Areum.
Dikamar
Nampak kedua bocah itu sedang duduk disudut sambil memeluk kedua betisnya dengan kepala yang dibenamkan dilututnya.
"Gyeon-i, Areum!" sapa Mo Myung.
Mereka lalu mengangkat wajahnya untuk melihat kesumber suara.
"Mau apa kamu kesini? Kenapa kamu tidak biarkan kami mati saja seperti ayah kami?" tanya Gyeon-i dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian mati sia-sia sementara kalian tak bersalah" jawab Mo Myung.
__ADS_1
"Percuma saja kami hidup, kami sudah tak punya siapa-siapa lagi" ujar Gyeon-i.
"Kalian bisa tinggal diistana bersamaku Gyeon-i,Jadilah pelayanku, saudaraku dan temanku" pinta Mo Myung.
"Bagaimana bisa orang berkasta rendah seperti kami menjadi teman dan saudaramu, pangeran?"
"Kamu jangan seperti itu,bagiku kita sama.Kamu adalah temanku"
"Bagimana bisa kamu menganggapku temanmu sementara aku adalah anak dari sipembunuh adikmu" tutur Gyeon-i dengan netra yang berkaca-kaca.
"Aku yakin paman Beom seok bukan pembunuhnya jadi kamu jangan beranggapan seperti itu, aku ingin kamu bangkit dari kesedihanmu dan membantuku untuk mengungkap siapa pembunuh sebenarnya agar kita bisa membersihkan nama baik ayahmu, Gyeon-i"
Gyeon-i menatap wajah Mo myung untuk meyakinkan dirinya kalau ucapan Mo Myung itu tulus dari dalam hati.
"Apa kamu serius ingin mengungkap kebenaran ini?" tanya Gyeon-i merasa ragu.
"Aku serius Gyeon-i, aku tahu wajah pembunuh itu karena aku melihatnya sendiri.Aku tak mau pembunuh itu bisa hidup bebas berkeliaran tanpa hukuman.Jadi aku minta padamu janganlah kamu berlarut-larut dalam kesedihan, bantulah aku mengungkap kebenarannya" bujuk Mo Myung
"Apa kamu janji akan membersihkan nama baik ayahku?" tanya Gyeon-i untuk lebih meyakinkan dirinya.
"Aku berjanji Gyeon-i, aku akan membersihkan nama baik ayahmu"
"Baiklah kalau begitu aku akan percaya padamu dan aku akan selalu menagih janjimu padaku selama kamu belum menepati janjimu padaku"
Mo Myung mengangguk lalu dia memeluk Gyeon-i.
Flashback Off
Rachel masih setia mendengarkan cerita yang amat miris itu.
"Itulah penyebab Mo Myung tak pernah tersenyum sampai sekarang" ucap Gyeon-i
"Aku turut prihatin atas masalah yang menimpa kamu dan keluarga kamu, Gyeon-i" ucap Rachel sambil menepuk lembut bahu Gyeon-i.
Pemuda itu hanya tersenyum menanggapi Rachel meski sebenarnya hatinya amat sedih.
Sebenarnya Rachel masih bingung harus percaya atau tidak dengan cerita yang barusan didengarnya.Tapi dari raut wajah pemuda murah senyum itu saat dia bercerita tergambar jelas ada kesedihan yang amat mendalam dari kedua pancaran netranya.
Akhirnya Rachel mencoba untuk percaya dengan cerita yang terdengar mustahil itu karena kalau Rachel percaya pada cerita Gyeon-i otomatis dia juga harus yakin kalau Mo Myung dan Gyeon-i berasal dari masa lalu.
Mungkin keajaiban yang membawa mereka harus berkelana menjelajahi ruang dan waktu hingga sampailah mereka pada kehidupan dimasa depan dimana disitu hiduplah seorang Rachel yang mereka kenal kini.
__ADS_1
Next,,,