
Gadis kecil itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Tak berapa lama datanglah pria berpakaian bangsawan. Pria itu lalu melihat wajah gadis yang kini sudah tergeletak tengkurap ditanah.
"Putri Ara? Bagaimana bisa dia ada disini? Kenapa kamu membunuhnya? Apa kamu tahu dia itu putri raja" tanya pria bangsawan itu.
"Tuan kan menyuruh saya untuk membunuhnya. Apa tuan lupa?"
"Ya maksudku bukan putri Ara juga"
"Tapi tuan dia itu orang yang tadi mendengar pembicaraan kita"
"Aish! Bagaimana ini bisa terjadi? " umpat pria bangsawan itu.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar samar-samar suara orang-orang yang mencari pangeran Mo Myung dan putri Ara, rupanya orang-orang istana itu sudah menyadari kalau pangeran Mo Myung dan putri Ara tak ada dikamarnya. Akhirnya mereka mencari sampai keluar istana.
"Aish, Sialan! Para prajurit istana itu sedang mencari putri Ara dan pangeran Mo Myung. Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini" ucap pria bangsawan.
Mereka lalu pergi. Sementara Mo Myung terus berusaha naik keatas dengan susah payah. Dari arah yang berbeda muncullah rakyat jelata yang kebetulan lewat tempat itu.
"Apa mereka meninggalkanku? Ah! sudah kubilang suruh menungguku sebentar karena aku kebelet.Tapi mereka malah tetap pergi" umpatnya kesal karena kawanannya meninggalkan dia.
Saat dia sedang mengedarkan pandangannya untuk mencari teman-temannya,tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesosok gadis kecil yang tergeletak ditanah. Dia lalu mendekati sosok gadis itu.
"Siapa dia? Kenapa dia tidur ditanah?" batinnya.
Pria itu lalu membalikan tubuh gadis kecil itu. Betapa kagetnya dia ketika melihat gadis kecil itu bersimbah darah.Mo Myung yang melihat setiap kejadian itu lalu hendak memanggil pria itu karena dia mengenalinya.ya, rupanya sosok itu adalah Beom Seok.
Dia dan kawanannya baru pulang dari istana setelah mengantarkan bahan makanan segar untuk raja dan keluarganya. tapi karena pelayan dapur sedang membutuhkan pekerja, Beom seok dan rombongannya diminta membantu pekerjaan orang-orang dapur itu. Karena akan dibayar mereka pun setuju akhirnya mereka bekerja sampai larut malam.
Saat Mo Myung akan naik keatas dan akan memanggil Beom seok,pegangannya putus dan akhirnya Mo Myung jatuh kebawah jurang yang dibawahnya mengalir aliran sungai yang dalam.
Byurr,,,
Tubuh Mo Myung tenggelam dan hanyut terbawa arus air sungai.Tak lama kemudian prajurit istana itu menemukan Beom seok yang sedang menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu,dengan berharap dia masih bisa sadarkan diri, tapi harapannya pupus sudah karena gadis kecil itu tak sanggup menahan pedihnya sayatan pedang yang menghunus tubuh kecilnya itu.
Mereka lalu mengepung pria itu dan menangkapnya setelah mengetahui kalau putri Ara sudah meninggal dunia.
"Tangkap bedebah itu! Pasti dia yang sudah membunuh putri Ara" titah salah satu dari mereka.
"Saya tidak membunuhnya, saya bukan pembunuhnya, lepaskan saya" Beom seok meronta-ronta minta dilepaskan.
Tapi para prajurit itu terus menyeretnya keistana. Ada pula prajurit yang membawa jazad putri Ara.
Di istana
Kedatangan para prajurit yang membawa putri Ara dalam keadaan tak bernyawa membuat sang permaisuri menangis histeris, permaisuri lalu memeluk erat jasad putrinya itu sambil terus menangis.
Esok harinya.
Pemakaman jasad putri Ara pun kini segera diurus, berita kematian putri Ara pun tersebar keseluruh pelosok.
Suasana duka yang amat pilu dan mengiris hati ini, kini masih menyelimuti istana, permaisuri masih saja terus menangisi kematian putri kecilnya itu. Sementara pangeran Mo Myung hingga detik ini masih menghilang dan belum ditemukan.
__ADS_1
Tapi pengadilan istana terus berlanjut,setelah melalu banyak proses, bukti dan saksi mata, para mentri kerajaan dan raja akhirnya menjatuhi hukuman mati pada si pembunuh putri Ara.
Karena di tempat kejadian perkara tak ada orang lain lagi selain pria itu dan kebetulan para pasukan istana memergokinya sedang berada didekat jasad putri Ara, akhirnya pria itulah yang dijatuhi hukuman mati.
Meski pun saat diintrogasi pria itu tetap tak mau mengaku kalau dialah pembunuh putri Ara tapi rupanya salah satu mentri kerajaan terus menghasut dan memojokan pria yang saat itu tak sengaja lewat dan malah dituduh sebagai pembunuh putri Ara sehingga raja dan para mentri begitu yakin bahwa pria itulah pembunuhnya.
Tanpa bisa membela diri lagi atas tuduhan itu akhirnya pria itu hanya pasrah pada keadaan sebab rakyat jelata yang miskin seperti dia tak akan mampu melawan apa lagi membela diri dihadapan orang-orang berkuasa yang selalu menggunakan uang untuk melancarkan segalanya.
Tentu saja berita ini didengar oleh kedua anaknya yang masih kecil, Gyeon-i dan Areum. Kedua anak ini pun diseret keistana dan ikut dipenjarakan bersama ayahnya dengan tuduhan yang tak masuk akal.
Gyeon-i dan Areum pun ikut dijatuhi hukuman mati oleh departemen kehakiman istana atas dasar "Takut balas dendam akan kematian ayahnya dan mereka kelak akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan sang raja" jadi mereka pun harus dijatuhi hukuman mati.
Hukum yang aneh dan ketidak adilan itulah yang kini terjadi diera dinasti joseon yang dipimpin oleh raja In hong yang baru naik tahta itu. Keluarga miskin itu hanya bisa meratapi nasibnya yang tak beruntung sambil terus berdoa agar ada keajaiban yang meloloskan mereka dari maut.
Tanggal dan hari eksekusi pun kini sudah ditetapkan. Kini mereka hanya pasrah menunggu hari kematiannya.
******
Pagi itu, istana mendapat kabar kalau pangeran Mo Myung telah ditemukan oleh salah satu rakyat yang sedang menangkap ikan disungai.
Kebetulan saat itu ada prjurit istana yang sedang lewat, seorang rakyat itu kemudian memberi tahukan penemuannya yang telah menemukan sesosok tubuh kecil tersangkut dipinggir sungai.
Saat melihat wajah jasad yang dikira sudah mati itu, salah satu prajurit mengenalinya akhirnya mereka membawa tubuh kecil itu keistana karena setelah diperiksa urat nadinya, rupanya detak jantungnya masih berdetak hanya saja dalam keadaan lemah dan sekarat.
Sesampainya diistana Mo Myung langsung ditangani oleh tabib istana. Beberapa hari kemudian barulah dia sadar tapi dia masih tergolek lemah ditempat tidurnya.
"Ayah, Ara, mana Ara?" tanyanya saat Mo Myung sadar.
"Putraku, syukurlah akhirnya kamu sadar juga" ucap sang raja sambil menyuruh Mo Myung untuk rebahan lagi.
"Tenangkan dirimu putraku, kamu harus bisa menerima semua kenyataan ini"
"Maksud ayah apa?" tanya Mo Myung dengan mata berkaca-kaca.
"Adikmu sudah meninggal dunia Myung" jawabnya lirih.
"Araaaaa,,,!!" jerit perih Mo Myung dengan histeris.
Dalam keadaan lemah dan tak terima akan semua itu dia mencoba berontak karena ingin bertemu dengan Ara.
"Tenang Mo Myung, tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh seperti ini biarkan Ara pergi dengan tenang agar dia tak sedih" raja In hong berusaha menenangkan Mo Myung dengan memeluk erat tubuh kecil Mo Myung yang saat itu masih berusia tujuh tahun.
Tapi tangisan histeris itu tak bisa terbendung lagi, suaranya kian pecah saat rasa sesal mencabik-cabik relung hatinya. Mo Myung amat menyesal kalau saja dia tak mengajak Ara pergi kebukit malam itu, mungkin saat ini Ara masih hidup.
"Huaaaa,,, hiks,, hiks,, hiks,, huaaa,, " tangis histeris Mo Myung.
"Berhentilah menangis Myung, karena pembunuh Ara sudah ditangkap dan dia akan dijatuhi hukuman mati untuk menebus kejahatannya itu, jadi berhentilah menangis"
Meski ayahnya berkata kalau sipembunuh biadap itu sudah tertangkap tapi tetap saja hati Mo Myung sedih karena rasa menyesal, rasa bersalah dan rasa kehilangan adik kesayangannya itu sangat melukai hatinya.
Apa lagi dia melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri peristiwa tragis itu, dan penyesalan terdalam baginya adalah dia tak mampu menyelamatkan sang adik padahal dia berada ditempat kejadian.
__ADS_1
******
Waktu eksekusi pun kini telah tiba. Para rakyat, pejabat istana, prajurit dan keluarga raja sudah berada dialun-alun untuk menyaksikan eksekusi si pembunuh sadis yang telah merenggut nyawa putri Ara.
Beom seok, Gyeon-i dan Areum kini sudah dibawa ketengah-tengah persidangan eksekusi. Semua orang yang ada disana berbisik akan ketidak percayaannya pada sosok Beom Seok yang dituduh sebagai pembunuh sadis, karena kebanyakan dari mereka mengenali sosok Beom Seok itu sosok yang baik hati, ramah, suka menolong,penyayang anak dan ceria.
Lalu bagaimana bisa dia membunuh putri Ara?
Apa motifnyanya membunuh gadis kecil itu? Sedangkan dia juga punya anak kecil?.
Banyak orang yang tak habis pikir akan semua ini, tapi apa yang bisa mereka lakukan, toh orang yang berkuasa yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya bahkan sampai mengorbankan nyawa seseorang yang tak bersalah pun bisa mereka lakukan demi mencapai tujuannya.
Prajurit itu lalu menarik paksa Beom Seok untuk menghadap sang algojo yang akan mengeksekusi mati dirinya dengan memenggal kepalanya.
Gyeon-i dan Areum memeluk ayahnya dengan erat karena tak rela kalau sang ayah akan dihukum mati. Kedua anak itu pun menangis histeris tapi beberapa pengawal menarik paksa tubuh Gyeon-i dan Areum agar menjauhi ayahnya.
"Ayaaaahh,,, Ayaaaahh,,, jangan bunuh ayahku!!" jerit histeris Gyeon-i yang tangan dan tubuhnya terus ditarik prajurit istana.
Semantara Areum hanya bisa terus menangis karena dia pun dipegangi si prajurit agar tak mendekati ayahnya.
Sementara Beom soek yang sudah pasrah hanya bisa mengikuti prajurit yang membawanya dengan amat berat sambil terus melirik kearah kedua anaknya itu dengan berkaca-kaca.
Disisi lain, Mo Myung yang saat itu baru tiba dialun-alun bersama kasim dan pengawalnya berjalan dengan terhuyung-huyung karena kondisinya masih lemah, bibirnya masih terlihat pucat dengan luka lebam disudut bibirnya.
Tapi dia terus memaksakan diri pergi ke alun-alun sebab dia ingin menyaksikan sendiri kematian sipembunuh sadis itu. Agar hatinya sedikit puas melihat si pembunuh merasakan sakitnya kematian seperti yang dirasakan oleh Ara.
Tapi betapa terkejutnya Mo Myung ketika melihat yang akan dihukum mati itu adalah ayahnya Gyeon-i.
"Paman?!" ucap Mo Myung tercekat kaget.
Buru-buru dia lari ketengah-tengah tempat eksekusi sambil berteriak.
"Hentikan! Jangan bunuh paman Beom Seok dia tidak bersalah!"
Teriakannya itu mengalihkan semua pandangan kepada Mo Myung.
Mo Myung mendekati Beom seok dan menarik mundur tubuhnya.Para pengawal itu tak berkutik karena mereka tahu yang kini sedang ada dihadapannya itu adalah putra mahkota.
Gyeon-i, Areum dan Beom seok terhenyak kaget.
"Bukan paman Beom seok yang membunuh Ara, Aku melihat sendiri wajah pembunuhnya itu jadi aku mohon bebaskan dia" pinta Mo Myung pada Ayahnya.
"Semua bukti sudah mengarah padanya Mo Myung, jadi jangan halangi eksekusinya, pergilah dari sana" titah raja In hong.
"Tidak ayah, aku tak akan biarkan orang tak berdosa jadi korban.Bukan paman Beom Seok yang membunuh Ara" sangkal Mo Myung.
Gyeon-i, Areum dan Beom seok tak menyangka kalau Mo Myung itu seorang putra mahkota.
Bagaimana bisa mereka berhubungan dengan putra mahkota? Itu adalah ssesuatu yang amat mustahil bagi mereka.
"Lalu siapa pembunuhnya? Apa kamu bisa menunjukan orangnya? Apa ada bukti kuat untuk menetapkannya sebagai pembunuh Ara?" tanya raja In hong.
__ADS_1
Mo Myung lalu mengedarkan pandangannya pada para pejabat istana itu karena dia yakin salah satu pejabat istana itu adalah dalang dibalik kematian Ara.
Next,,,