Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)

Love Story Jeoha (Legenda Putri Matahari)
Pengumuman!!


__ADS_3

Halo! semua, kali ini aku mau ngasih pengumuman dulu ya sebelum lanjut keceritanya. Maaf ya, ada sedikit perubahan nih! dijudul novelnya. Tadinyakan novel ini berjudul Gadis petai dan pangeran pinguin tapi sekarang aku ubah menjadi Love Story Jeoha (Legenda putri matahari) tapi tetap ya, covernya masih sama karena menurutku ini udah mewakili isi alur ceritanya cuma tulisannya aja yang diubah. Cuma itu aja sih! pengumumannya, mohon terus dukung karyaku ini ya, dengan meninggalkan jejak like, komen, vote, hadiah dan favoritkan juga ya. makasih semua😊😍


,


,


,


...😍Happy reading😍...


,


,


Karena merasa kesal atas ulah kedua pria itu, Rachel lalu menghukum mereka dengan menyuruh mereka untuk membersihkan kolam renang itu, tentu saja Mo Myung langsung menolak dengan keras dengan alasan tadi dia hampir saja mau mati karena tenggelam. Eh! sekarang dia malah disuruh bersihin kolamnya.


"Tidak ada alasan, aku ngga mau tahu pokoknya kalian harus bersihin kolam renang ini, tuh! lihat airnya jadi tidak jernih lagi gara-gara kalian nuangin sabun kedalam airnya" kata Rachel dengan intonasi tinggi


"Tuh! Suruh Gyeon-i aja yang bersihin kan dia yang nuangin sabunnya" titah Mo Myung dengan tatapan datar tanpa melihat mereka.


"Kan kamu yang menyuruhku, pangeran!" sangkal Gyeon-i membela dirinya.


Kedua bola mata Mo Myung langsung mendelik menatap tajam pada Gyeon-i hingga membuatnya menciut dan menundukan pandangannya karena rasa hormatnya pada sang pangeran dan rasa takutnya. Rachel jadi heran, Kenapa Gyeon-i begitu takut,tunduk dan patuhnya pada Mo Myung dan dia juga selalu memanggilnya dengan panggilan 'pangeran' sebenarnya siapakah dia itu? Pertanyaan itulah yang selalu ada dibenak Rachel.


Awalnya Rachel menganggap mereka itu terlalu terobsesi pada drama saeguk korea karena penampilan mereka yang seperti bangsawan pada zaman dahulu tapi dia malah makin bingung dan heran ketika medengar cerita mereka dan ditambah lagi Mo Myung mempunyai bekas luka yang menguatkan cerita mereka itu membuat Rachel makin pusing antara harus percaya atau tidak.Akhirnya Rachel tak mau ambil pusing dan tak mau mempedulikan lagi asal usul mereka.


Saat Mo Myung terus bersikeras menolak titah Rachel untuk membersihkan kolom,Rachel terus menyuruhnya dengan nada mengancam dan mendesaknya hingga akhirnya dia mau juga menuruti titah gadis tomboy itu meski kerjaan Mo Myung tak terlihat tulus dan tidak rapi.


Beda halnya dengan Gyeon-i pemuda murah senyum itu terlihat lebih telaten, cekatan dan benar-benar menjalankan hukuman dari Rachel. Mungkin karena Gyeon-i terlahir dari keluarga yang kurang mampu jadi menjadikan kepribadiannya baik, pekerja keras, selalu tulus dan ikhlas,ramah serta selalu tersenyum dikeadaan apa pun meski dia sedang tersakiti.


Setelah selesai membersihkan kolam renang, Rachel berniat akan membawa dan memperkenalkan mereka pada kakeknya tapi masih ada keganjalan dalam hati Rachel yang membuatnya ragu sebab penampilan mereka yang dirasa sangat aneh. Untuk memperlancar niatnya dia memutuskan untuk mengubah penampilan mereka.


Mereka lalu dibawa kesalon untuk dipotong rambutnya dengan gaya rambut yang kekinian. Dan seperti biasa Mo Myung menolak perintah Rachel hingga mereka harus berdebat dahulu sebelum tukang cukur rambut disalon itu berhasil memotong rambut Mo Myung.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau rambutmu dirapikan, mulai detik ini juga kalian tidak boleh mengikutiku lagi" ancam Rachel


"Pangeran, sudahlah! Kita ikuti saja dulu maunya dia jangan terlalu banyak berdebat dengannya agar kita bisa dapat tempat tinggal dan makanan gratis sampai kita bisa kembali pulang keistana" bujuk Gyeon-i setengah berbisik


Sementara Mo Myung hanya menatap Rachel dengan tatapan sinis.


"Jadi gimana, Apa kamu akan tetap teguh pada pendirianmu? Kalau aku sih! Gampang aja kalau kamu tidak mau rambutmu dirapikan, segeralah tinggalkan aku mungkin dari itu hidupku tidak akan direpotkan oleh kalian" ujar Rachel dengan santainya.


"Ya udah, cepat lakuin" kata Mo Myung mengalah dengan terpaksa karena walau bagaimana juga dia membutuhkan Rachel untuk menolong kesulitannya.


Akhirnya rambut Mo Myung dan Gyeon-i dicukur dan dirapikah sementara Rachel menunggu mereka diruangan lainnya.


"Ra eul, kami sudah selesai" celetuk Gyeon-i tiba-tiba membuat Rachel yang saat itu tengah asyik dengan dunia lamunannya terhenyak kaget.


Sejurus kemudian sepasang mata indah gadis remaja itu menatap pada dua laki-laki yang kini sudah berdiri dihadapannya.Seketika dua laki-laki kuno itu menjelma menjadi manusia masa kini yang amat tampan dan ada sisi cute yang terlihat diwajah dua laki-laki yang seumuran itu, membuat gadis yang masih labil itu terpesona akan ketampanan mereka.


"Ya ampun! Mereka ganteng banget sih!" puji Rachel dalam hati dengan senyuman yang mengembang disudut bibirnya.


"Sadar! Rachel! Sadar! Mereka hanya orang aneh yang baru kamu temui, hatimu tidak boleh goyah" batin Rachel mencoba menepis perasaan yang akan masuk kedalam hatinya tanpa permisi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Rachel lalu berdiri dan mengajak mereka pergi setelah membayar biaya cukur rambutnya.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Gyeon-i


"Pulang kerumahku" jawba singkat Rachel


"Kerumah yang tadi?" tanya Gyeon-i lagi


"Bukan, tadi itu rumah majikanku, mereka tinggal dikota dan hanya sesekali pulan kesini" jelas Rachel


"Lalu dimana rumahnya?"


"Ikuti aku aja"


Kediaman Abah Umar,,,


Didepan sebuah rumah sederhana nampak seorang laki-laki yang sudah tidak muda lagi, dia nampak sedang asyik mengasah parangnya agar lebih tajam lagi, parang yang dia gunakan untuk menyiangi rumput dikebunnya. Tak lama Rachel dan kedua pemuda itu sampailah didepan sang kakek.


"Assalamualaikum" salam Rachel.


"Waalaikummusalam" jawab Abah Umar sambil melirik kearah sumber suara.


"Rachel, kamu udah pulang? Siapa,,, mereka?" tanya Abah Umar sambil melihat kedua pemuda tampan yang berdiri dibelakang Rachel.


Rachel lalu mendekat pada Abahnya kemudian dia berbisik.


"Mereka itu orang-orang yang akan membantu Abah dikebun tanpa harus dibayar asal kita kasih mereka tempat tinggal, pakaian dan makan"


"Bukannya kakek tidak mau menampung mereka tapi rumah kita kan kecil kamarnya pun cuma ada dua, mereka mau tidur dimana?" tanya Abah Umar bingung.


"Boleh juga tapi inget walau bagaimana juga kamu harus minta izin pada pemiliknya"


"Iya kek, nanti aku minta izin pada majikanku"


Setelah itu Abah Umar baru menyapa kedua pemuda tampan itu dengan ramah. Gyeon-i langsung memberi hormat sambil tersenyum ramah sementara Mo Myung hanya menatap datar Abah Umar tanpa berkata apa pun. Melihat Mo Myung yang dingin Abah Umar langsung menatap Rachel dengan penuh tanya.


"Abah, dia orangnya emang dingin jadi Abah jangan terlalu pedulikan sikafnya ya, kalau sikafnya tidak sopan anggap aja dia patung atau anggap aja dia ngga ada" tutur Rachel sambil berbisik pada Abah Umar


"Hah! Ko gitu? Kamu jangan kaya gitu sama tamumu" ujar Abah Umar.


Rachel hanya membalas dengan senyuman kemudian dia mulai memperkenalkan Abah Umar pada Mo Myung dan Gyeon-i demikian pula dengan mereka, mereka juga diperkenalkan pada Abah Umar.


Krucuk,, krucuk,, krucuk,,


Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan n'tah dari perut siapa? Membuat Abah Umar jadi tersenyum.


"Kayanya ada yang lagi kelaparan nih!" sindir Abah Umar dengan bercanda.


Karena tak mau mempermalukan diri sendiri dihadapan Abah Umar dan Rachel, Mo Myung dan Gyeon-i pura-pura tidak tahu dengan mengalihkan pandangannya kearah lain, padahal suara perut keroncongan pertanda minta diisi itu berasal dari perut mereka.


"Hahaha,,,ya udah! Ayo! Kita makan kebetulan Abah udah masak untuk makan siang" ajak Abah Umar pada mereka semua.


Abah Umar lalu masuk kedalam rumah, Mo Myung dan Gyeon-i yang sudah kelaparan karena dari kemarin belum makan lalu segera mengikuti Abah Umar dari belakang dengan saling mendahului hingga Gyeon-i dan Mo Myung bertabrakan.

__ADS_1


"Gyeon-i! Kenapa kau mendahuluiku? Aku yang harus duluan" gertak Mo Myung sambil menghentikan langkahnya dan menarik baju Gyeon-i dari belakang agar dia juga berhenti.


"Maaf pangeran, ini darurat urusannya dengan perut, jadi siapa cepat dia dapat" kata Gyeon-i yang mendadak tidak mau kalah dia lalu segera menyusul Abah Umar.


"Gyeon-i! Berhenti!" bentak Mo Myung yang mulai marah.


Suaranya yang keras membuat Rachel dan Abah Umar jadi kaget hingga tatapan mereka semua tertuju pada Mo Myung.


Kenapa? Ada apa?


Pertanyaan itulah yang ada dibenak Rachel dan Abau Umar namun tak diungkapkan langsung. Mo Myung jadi gelagapan ketika semua mata menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Mo Myung


"Ah! Sudahlah ayo kita makan" ucapnya lagi sambil melenggang santai melewati Gyeon-i dan Abah Umar untuk masuk kedalam rumah duluan, serasa rumah ini miliknya sendiri.


Membuat Rachel jadi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sementara Abah Umar hanya tersenyum, lalu mereka semua masuk. Abah Umar dan Rachel langsung menyiapkan makan siang dengan duduk lesehan diruang keluarga. Makanan sederhana yang terdiri dari nasi, sambal cobek, ikan asin peda,oseng kangkung, lalapan seperti salada bokor, daun sintrong, daun jonghe, daun jambu mete, terong hijau, leunca dan makanan yang wajib ada setiap kali makan yaitu petai kesukaannya Rachel,kini sudah tersaji dihadapan mereka.


Mo Myung yang terbiasa makan dengan makanan serba ada dan beragam, tercengang kaget melihat makanan yang tersaji.


"Apa ini ko ngga ada lauknya?" tanya Mo Myung sambil mencibir.


"Kamu ngga lihat? Ini lauknya ada ikan asin peda!" jawab Rachel sambil menunjuk kearah ikan asin peda.


"Cuma ada dua ekor, kita kan berempat" ujar Mo Myung.


"Ya dibagi empat aja, kalau kurang tulang ikannya dicocol,begitu juga enak ko" kata Rachel


"Kamu pikir saya kucing disuruh makan tulangnya, lagian kenapa cuma ada dua ikan aja sih! lauknya? Disini kebanyakannya rumput semua. Saya bukan kambing yang harus makan rumput" ujar Mo Myung sambil membuang wajahnya tak mau memakan makanan yang tersedia.


Sementara Gyeon-i yang tak pernah pilih-pilih pada makanan langsung mengambil nasi, oseng kangkung dan ikan asin peda, dia mulai mencoba masakannya saat masakannya cocok dilidahnya Gyeon-i langsung memakannya dengan lahap.


"Mmmm,, ini enak pangeran, Ayo! Coba aja dulu" ujar Gyeon-i.


"Gak mau" ketus Mo Myung yang amat pemilih


"Tuh! Lihat Gyeon-i aja suka masa kamu nggak, nih! Coba makan petai cocok dimakan sama nasi, sambal cobek dan ikan asin peda" kata Rachel hendak menyuapi Mo Myung dengan makanan yang dicampur jadi satu yang tadi disebutnya dengan menggunakan jari tangannya tanpa memakai sendok.


Saat hidung Mo Myung mencium aroma khas petai,rasa mual langsung menyeruak karena dia tidak suka dengan aromanya.


"Ooekk,,, Apaan tuh! Ko bau banget?" tanya Mo Myung sambil menepis tangan Rachel yang saat itu duduk disampingnya.


"Iiihh! Ini emang bau sih! Tapi ini enak banget rasanya mantap" kata Rachel sambil mengacungkan jempol kirinya karena yang kanan masih memegangi makanan.


"Ngga! Saya tidak mau makan, Cepat! Sediain makanan yang lebih enak dari pada ini" titah Mo Myung masih serasa menjadi pangeran yang selalu dilayani oleh para dayang dan kasim.


"Dasar pemilih makanan! Udah ngga usah makan aja, biarin aja perutnya kelaparan. Harusnya kamu itu bersyukur segini juga udah dikasih makan kalau orang lain ngga tahu ya, apa lagi kamu itu orang asing yang minta makan keorang lain" Rachel ngedumel kesal karena sifat Mo Myung yang pemilih dan tidak tahu diri.


Mo Myung yang teguh pada pendiriannya lalu pergi keluar karena tak mau makan dengan menu yang sederhana. Dia lalu duduk diteras rumah sementara Gyeon-i, Rachel dan Abah Umar tetap melanjutkan makan meski tanpa Mo Myung.


"Udah! Abah, Gyeon-i kita lanjutin aja makannya biarin aja dia kelaparan nanti juga kalau dia sudah tidak kuat karena kelaparan, dia juga bakal minta makankan" ujar Rachel.


Mereka bertiga akhirnya makan sampai kenyang.

__ADS_1


Next,,,


__ADS_2