Loving Cold Girl

Loving Cold Girl
11. Bingung


__ADS_3

Vino Pov


Aku sedang berada di cafe dekat rumah rendy. Sepulang sekolah tadi aku memutuskan untuk tidak langsung pulang tapi mampir dulu ke cafe hanya sekedar memesan cemilan dan minuman


Aku tidak sendiri.


Aku ditemani rendy dan agam sahabatku.


Tanpa sepengetahuanku rendy sedang memperhatikanku yang sedang fokus pada just alvokat dan mengaduk aduk jus itu menggunakan sedotan tanpa meminumnya.


"Woy vin lo kenapa ngelamun".tegur rendy.


"Hah". Aku terbangun dari lamunanku."apaan". Balasku.


"Gue nanya kenapa lo ngelamun". Ulang rendy sekali lagi.


"Gue gak ngelamun". Jawabku


"Gue tau kenapa vino ngelamun paling paling juga lagi ngebayangin body cewe". Celetuk agam


Vino menoyor kepala agam yang sedang duduk desebelahnya."***** emang gue elo".sahutku


"Sakit ***". Agam mengelus kepalanya.


"Siapa suruh".jawabku


"Lo bisa gak si gam sekali kali gak usah berfikiran jorok". Nasehatku kepada agam.


"Emmmm". Agam nampak berfikir ia mengelus elus dagu dengan tangan kanannya.


"Gak bisa vin karna itu sudah kebutuhan gue". Agam tertawa terbahak bahak.


"Yeee dasar otak mesum". Sahutku.


Dret dret drettt


Kurasakan hanphonku bergetar didalam saku celanaku. Lalu aku mengambilnya dan melihat siapa yang telah menghubungiku.


Aku membulatkan mataku dengan sempurna setelah melihat siapa yang menelponku aku berfikir sejenak tumben ada angin apa dia menghubungiku setauku dia tidak tau jika aku menyimpan nomorku diponselnya.


Aku memberanikan diri untuk mengangkatnya.


Hiks hiks hiks."jo gue minta lo cepetan kerumah gue sekarang". Pintanya kudengar dari sebrang sana ia sedang menangis.


Aku ingin menjawab tapi.


Tut tut tut


Sambungan terputus.


setelah tadi aku mendengar ia menangis aku merasa sangat khawatir.


Aku meletakan hpku di atas meja cafe dengan tidak bersemangat. Agam dan rendy hanya memperhatikanku bingung.


"Lo kenapa vin ke orang belum dapat jatah lemes banget". Tanya agam.


"Kayanya gue harus duluan deh". Vino berdiri dan mengambil dompet yang ada disaku celananya dan mengeluarkan uang ratusan dua lembar lalu meletakannya dia atas meja."ni untuk bayar makanan gue sekalian sama punya lo".


"Emang lo mau kemana buru buru amat".


"Gue ada urusan ren penting". Tukas vino." Gue duluan bro". Vino melambaikan tangan ke arah sahabatnya. Dan dibalas acungan jempol oleh rendy.


Aku berlari menuju parkiran cafe lalu masuk kedalam mobilku dan mengendarainya dengan kecapatan yang lumayan tinggi keluar meninggalkan daerah parkiran cafe.


Butuh waktu beberapa menit akhirnya aku sampai ditempat tujuan.


Aku memasuki rumah mewah milik keluarga dirgantara. Aku memarkirkan mobilku dengan rapi lalu berjalan menuju pintu utama.


Aku memencet bel beberapa kali dan keluarlah seorang wanita tua umurnya sekitar 50 han kalau menurutku.

__ADS_1


"Mau cari siapa ya den".tanya ibu itu sopan.


"Saya mau cari amel bu". Jawabku


"Oh non amel ada dikamar kalo boleh tau den ini siapanya non amel ya".


"Saya". Menunjuk diri sendiri."oh saya cuman teman kok bu".


"Oh teman, ayo masuk den". Suruh ibu itu.


Aku memasuki rumah mewah milik keluarga dirgantara itu. Ketika aku masuk kedalam suasanya sangat sepi seperti tidak ada tanda tanda kehidupan didalamnya.


"Ayo den, lewat sini saya langsung antar aja ya ke kamarnya non amel". Aku mengangguk tanda mengiyakan perkataan ibu itu. Aku menaiki tangga satu persatu mengikuti ibu itu. Ternyata kamar amel berada dilantai dua.


"Sudah sampai den ini kamarnya den langsung masuk aja ya". Sarannya.


"Makasih ya bu". Ucapku


"Jangan panggil ibu den". Katanya sambil memukul pelan lenganku."panggil bi ija aja, saya pembantu dirumah ini den".


"Oh iya bi ija sekali lagi makasih ya".


Sekarang aku sudah berada didepan kamar amel. Aku membuka pelan kamar itu setelah terbuka aku langsung disugukan oleh pemandangan yang menurutku sangat menyedihkan. Aku melihat seorang gadis yang sangat terlihat berantakan.


Aku melihat amel menunduk seperti orang menangis sambil memegangi kedua tututnya.


Aku berjalan ke arahnya. Aku berjalan pelan sehingga langkah kakiku tidak terdengar oleh telinganya.


Aku ikut berjongkok mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya. Aku memberanikan diri untuk menyentuh lembut bahunya.


"Mel". Panggilku


Ia mengangkat wajahnya kulihat matanya yang sangat rapuh dan wajahnya yang terlihat sangat lelah.


"Vino ko lo ada disini". Tanyanya kulihat wajahnya yang terkejut karna kedatanganku.


"Tadi lo yang nel ....?". Belum selesai dengan ucapanku amel langsung memelukku dengan erat.


Aku sempat terkejut karna perlakuan amel yang tiba tiba tapi aku kembali menetralkan detak jantungku.


Aku membalas pelukan gadis itu mencoba menyalurkan kekuatan kepadanya. Menerima keluh kesa dari gadis yang sedang berada dipelukannku ini aku mencoba menenangkannya.


Gadis itu melepas pelukannya kulihat wajahnya yang sedikit membaik dari sebelumnya ketika ia sudah mengeluarkan semua unek unek yang ada dalam hatinya kepadaku.


Aku akan selalu menjadi pendengar yang baik.


Autor Pov


Vino sedang duduk diruang tengah sendirian.


"Siapa ya". Tanya seseorang ternyata adalah karin mama tiri amel ia seperti baru pulang dari rumah terlihat dari belanjaan yang ia bawa.


Vino memperhatikan karin lekat ia seperti teringat oleh perkataan seseorang.


"Nak". Panggil karin.


Vino terbangun dari lamunannya lalu berdiri menyalami tangan karin."oh saya vino tante temannya amel". Ucap vino sopan.


"Oh temannya amel sudah ketemu sama amelnya". Tanya karin


"Sudah tan ini lagi nunggu dia siap siap".


"Oh yaudah tante ke dapur duluan ya".


"Iya tante". Jawabku sopan


Bayangan wajah karan berputar putar dikepala vino ia seperti mengingat kejadisn 1 tahun yang lalu.


Tok tok tok tok

__ADS_1


Vino mendengar langkah kaki yang berjalan kearahnya.


"Woy". ucapnya


Vino langsung menolehkan kepalanya dan melihat siapa tadi yang telah menyapanya.


Dilihatnya dari bawah sampai atas ternyata amel ia sudah siap dengan pakaian jalannya tak lupa ia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sembab akibat menangis.


"Sudah siap".


"Lo gak liat, apa lo buta". Sinis amel


"Hehehe iya". Vino menggaruk tekuknya yang tidak gatal.


"Yaudah ayo cepetan".


Amel berjalan mendahului dan diikuti oleh vino dibelakang  mereka berjalan menuju mobil.


Vino membukakan pintu mobil."silahkan prinsses".


"Apaan sih lembay anjirr". Amel langsung masuk kedalam mobil yang dibukakan vino.


Melihat amel sudah duduk manis didalam mobil. Ia langsung menutup pintu mobil perlahan lalu ia tersenyum simpul dan langsung pergi kearah kanan tempat kemudi.


Kami melesat meninggalkan rumah dirgantara menuju suatu tempat.


"Nyokap lo cantik ya". Ucap vino


Amel yang sedari tadi fokus pada handphone ditangannya menoleh kearah vino yang sedang memegang kemudi. "Gue gak punya nyokap". Jawab amel lalu ia kembali fokus pada handphone ditangannya.


Vino menyatukan kedua alisnya.


"Maksud lo". Tanya vino menguji.


"Lo masih gak ngerti". Sahut amel ia menatap vino sekilas.


Vino menggelengkan kepalanya.


"Terus yang tadi kalo bukan nyokap lo siapa dong". Sebenarnya vino tau siapa karin sebenarnya.


"******". Sinis amel


Mendengar kata ****** vino langsung mengerem mobilnya secara mendadak.


Cittttttttttttttttttttt


Amel yang sedang memegang handphonenya langsung terlempar kedepan saat vino memberhentikan mobilnya secara mendadak.


"Lo gila ya". Nafas amel memburu. "Bisa bawa mobil gak sih". marah gadis itu. wajahnya terlihat kesal.


Vino masih diam sambil memegang kemudi. fikirannya masih mencoba mencerna pernyataan amel tadi.


"Dia bukan ******". ucap vino akhirnya membuka suara. pandangannya masih fokus menatap jalan.


"Lo tau dari mana". Amel menaikan satu alisnya. ia bertanya seperti menyepelekan.


"Gue tau? gue lebih tau dari lo". Jawab vino dingin. ia menekankan disetiap katanya.


Amel menyatukan kedua alisnya. "Maksud lo". Tanyanya bingung.


"Ada saatnya lo bakal tau yang sebenarnya tentang keluarga lo".


Amel mengerinyitkan dahinya tanda bahwa ia bingung dengan ucapan vino.


vino kembali melajukan mobilnya.


Didalam mobil hanya keheningan yang terasa tidak ada yang ingin memulai pembicaraan dari mereka.


Mereka berdua hanya sibuk dengan fikiran mereka masing masing.

__ADS_1


__ADS_2