Loving Cold Girl

Loving Cold Girl
12. Vila


__ADS_3

Mereka berdua berhenti disebuah vila yang terbilang mewah. Yang letaknya sendiri lumayan jauh dari kota samarinda. Vila tersebut terletak disebuah desa yang bernama desa tani harapan desa yang masih asri belum ada tercemar oleh polusi polusi udara seperti yang ada dikota.


Vino keluar dari mobil terlebih dahulu.


Diikuti dengan amel yang menyusul keluar dari pintu sebelah kiri penumpang.


Amel berdiri menatap vila mewah yang berada dihadapannya. Untuk memperjelas penglihatannya amel membuka kacamata hitam yang tadi dikenakannya.


"Waww". Amel menatap dengan kagum vila mewah tersebut.


Vino menoleh. Menatap gadis yang ada disebelahnya sekarang.


"Ayo masuk? udah selesai ngagumin seberapa banyak kekayaan gue". kata vino sombong.


Amel yang mendengar itu langsung menoleh. Dan menatap vino sekilas.


"Lo mau nyombongin kekayaan lo".


Vino nyengir. Apakah tidak boleh ia bercanda.


"Gak gak deng? Gue becanda kale yang kaya itu ortu gue bukan gue". Jelas vino memberitahu.


Amel mengangguk tanda mengiyakan.


"Ayo masuk". Ajak vino.


"Masuk kemana".


"Masuk kedalam lah sayang? Mau kemana lagi". Sahut vino. Senyum laki laki itu sudah tidak bisa dibendung betapa lucunya gadis yang ada disebelahnya sekarang.


"Apa lo bilang".


"Bilang apa".


"Tadi lo bilang apa". Ucap amel terkesan memaksa.


"Sayang". Ucap vino polos. Wajahnya mengahadap amel. Yang sudah terlihat sangat kesal.


"Sekali lagi lo bilang kaya gitu? Gue robek mulut lo". Ancam amel dengan nada dingin. Yang mampu membuat vino tersenyum kecut.


"Iya? Iya gak lagi. Ayo masuk". Ajak vino.


Ia berjalan mendahului. Lalu Diikuti oleh amel dibelakang.


Saat berada didalam. Semuanya terlihat takjub sama seperti didepan. Suasana vila terkesan mewah sangat kentara.


"Lo tunggu sini bentar ya? Gue mau taroh kunci mobil dulu".


Amel mengangguk.


Vino tersenyum. Lalu pergi sebentar  meninggalkan gadis itu sendiri.


Mata amel menatap sofa panjang. Yang sudah memang disediakan oleh pemilik rumah. Ia berjalan dan duduk disana untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


"Huhh". Amel memejamkan matanya sambil bersender di senderan sofa.


"Lo mau istirahat dulu apa langsung jalan jalan. ikut gue".


"Hah". Amel langsung membuka matanya.


"Lo mau kemana". Tanya gadis itu.


"Gue mau pergi jalan jalan. Keliling desa? Lo mau ikut atau istirahat aja disini". Kata vino memberi pilihan.


Amel nampak berfikir.


"Gue ikut lo aja". Ucapnya memilih pilihan pertama.


"Yaudah ayo". Vino berjalan mendahului diikuti amel dibelakang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mereka berjalan jalan menikmati indahnya pemandangan desa tani harapan udara disana masih terasa segar tidak ada polusi udara yang sangat merusak organ pernafasan.

__ADS_1


Amel dan vino berjalan beriringan layaknya pasangan. Banyak mata yang memandang mereka dengan tatapan kagum.


Seperti pangeran dan tuan putri. Terlihat sangat cocok.


"Gimana. Udah tenang". Tanya vino.


Amel menoleh kearah vino sekilas. "Hmm lumayan". Ucapnya datar.


Amel berjalan sambil menghirup udara segar. rasanya ia sangat tenang kali ini fikirannya kembali jernih ia melupakan sejenak masalah yang sedang ia hadapi.


"Mau ke bukit gak liat matahari terbenam". Ajak vino.


"Bukit? Mauuuu". Ucapnya refleks. Wajahnya terlihat sangat antusias. Bahkan senyum itu keluar dengan sendirinya. Senyum yang vino tidak pernah lihat sebelumnya.


"Manis banget? Ada lesungnya". Gumam vino dalam hati.


Matanya terus saja memperhatikan gadis yang ada didepannya.


Bahkan vino hanya mampu mengangguk merespon ucapan amel. Kenapa sekarang rasanya untuk berbicara susah sekali.


"Ayo buruan". Ujar amel tidak lagi sabar. Ia menggoyang goyangkan lengan vino layaknya anak kecil.


"Hah". Vino melongo.


"Buruan vin".


Vino mengerti apa maksud gadis ini. "Ayok". Ucap vino lembut.


Balas amel tersenyum.


Mereka berjalan beriringan menuju bukit yang ingin mereka datangi.


Jalan menuju bukit menanjak. Amel dan vino menaiki bukit secara perlahan lahan jika ingin sampai ke tujuan.


Sesekali vino membantu amel dengan memegang tangan gadis itu agar mudah menaiki bukit. Yang jalannya memang menanjak.


Setelah beberapa waktu mereka habiskan akhirnya vino dan amel sampai dipuncak bukit.


Rasanya sangat lega ketika melihat indahnya ciptaan tuhan. Amel melihat kota samarinda dari ketinggian.


"Gimana indah". Tanya vino yang berada di sebelah gadis itu.


Amel menoleh kearah vino sekilas ."Banget".


Vino tersenyum. "Sekarang gue minta lo pejemin mata lo". Pinta vino.


Amel mengikuti saran vino ia menutup kedua matanya.


"Terus itu tarik napas".


Amel mengikuti ucapan vino ia menarik nafas lewat hidung dengan mata yang masih terpejam.


"Terus buang pelan pelan".


Amel membuang nafasnya perlahan lewat mulut.


"Huhhhh"....


"Sekarang. Buka mata lo terus teriak sekencang kencang yang lo bisa". Pinta vino.


Amel membuka matanya lalu ia berteriak. Dengan meletakan kedua tangannya didepan mulutnya hingga membentuk terompet.


"Aaaaaaaaaaaàaaaaaaaaaaaaaaa".


Lega rasanya sekarang. Lalu gadis itu tersenyum.


"Gimana lega". Tanya vino.


Amel menoleh kearah vino lalu mengangguk yakin.


"Gue beruntung banget bisa ketemu sama ade lo ta". Gumam vino dalam hati.


"Mau pulang gak".


Amel menggeleng. "Gue kan belum liat matahari terbenam". Katanya.


"Yaudah kalo gitu. kita tunggu ya". Ucap vino lembut. Amel mengangguk tanda mengiyakan.


"Mel". Panggil vino.


"Hmm".


"Gue mau tanya".


"Apaan".


"Lo sayang sama satya". Tanya vino ragu.


Amel langsung memalingkan wajahnya ia menatap lurus kedepan. "Menurut lo". Tanya amel balik.


"Menurut gue iya".


"Itu lo tau. gak mudah untuk bisa lupain orang yang pernah singgah dalam hidup kita apalagi dia itu penting bagi gue nama satya itu terus tetap ada disini". Amel memegang dadanya menggunakan tangan kanannya.


"Dia bakal tetap ada di hati gue". Ucapnya yakin.


Vino yang melihat itu. hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


"Lo bakal tetap sayang saat lo tau siapa satya yang sebenarnya".


Amel menyatukan kedua alisnya bingung. "Maksud lo".


"Maksud gue satya itu pe .....


"Vin liat mataharinya". Potong amel. Wajahnya sangat antusias sambil menunjuk kearah matahari yang ingin meninggalkan tempatnya. "Indah ya". Amel manatap vino yang berada disebelahnya. "Gue suka". Jawabnya.


Vino memejamkan matanya sejenak lalu ia menghembuskan nafas kasar.


"maafin gue ta ini terlalu berat buat gue untuk kasih tau semuanya". Gumam vino dalam hati.


matanya masih setia memperhatikan gadis yang ada disebelahnya.


                               ***************


Matahari telah tenggelam tersisalah langit yang gelap dihiasi dengan taburan bintang. Dengan cahaya bulan.


"Mel". Panggil vino


"Apaan".


"Coba lo liat ke langit menurut lo bintang yang mana yang paling indah". Tanya vino .


Amel nampak berfikir sejenak lalu ia menunjuk ke arah bintang yang menurutnya paling indah. "Menurut gue itu".


Ia menoleh ke arah vino."kalo lo yang mana". Tanya amel.


"Gue". Vino menunjuk dirinya sendiri.


Amel mengagguk.


Vino tersenyum simpul lalu ia menunjuk gadis yang ada disebelahnya.


Amel bingung. "Kok lo nunjuk gue".


"Menurut gue bintang yang paling indah itu elo". Kata vino serius.


Amel sempat terpaku karna mendengar ucapan vino. Ia melamun memikirkan dan mencerna semua ucapan vino. Agar bisa masuk kedalam akal sehatnya.


Vino yang melihat itu. Lalu mendorong wajah amel pelan. "Aelaeh santai aja kali muka lo? gue tau kok kalo gue ganteng".


"***** lo vin". Ucap amel kesal. Ia membalas dengan menjitak kepala vino.


"Mel sakit". Vino mengusap kepalanya pelan.


"Biarin? Lo jelek gak ganteng gue gak suka". Jawab amel merajuk. ia memajukan bibirnya hingga maju beberapa senti.


Vino tersenyum menggoda." Masa".


Amel mengangguk.


Vino mendekatkan wajahnya. refleks gadis itu mundur. wajah vino dan amel sangat dekat sampai amel bisa merasakan deru nafas vino yang menyapu lembut wajahnya.

__ADS_1


Kali ini jantung amel tidak bisa diajak berkompromi. Melihat wajah vino sedekat ini membuatnya harus memasok udara sebanyak mungkin sebelum ia kehabisan nafas.


Amel melihat kearah vino. Laki laki itu sudah memejamkan matanya.


Amel merasakan jika tangan vino sudah menyentuh pinggangnya dan wajahnya semakin dekat.


10 cm


9 cm


8 cm


7 cm


6 cm


5 cm


Dan


Buggggg


Amel mendorong wajah vino keras hingga laki laki itu terjungkal kebelakang.


"honey ko kasar sih". Kata vino penuh drama.


"Muka lo honey honey. lo mau ngapain dekat dekat sama gue". Sinis amel.


"Ih lo sih kan dikit lagi". Vino nyengir sambil memaikan kedua jari telunjuknya.


"Vin lo tau kan kalo didepan itu jurang". Tanya amel mengintimidasi.


Vino mengangguk.


"Lo mau gue dorong biar sekalian lo mati disitu". Ancam amel.


Vino memperlihatkan dua jari hingga membentuk huruf V ." Gak deh mel? gue gak mau mati kan gue belum nikah sama lo".


Amel langsung memasang wajah datar.


"Mulai".


"Iya iya gak mulai lagi, aelah marah mulu lo mel nanti cantiknya hilang". Goda vino.


"Bacot *****. udah gue cape mau pulang ayo turun". Amel sudah berdiri dari duduknya ia membersihkan bokongnya yang terkena pasir.


Melihat amel berdiri vino juga mengikutinya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju vila milik vino yang letaknya tidak terlalu jauh dari bukit yang mereka datangi.


Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka berdua sampai di vila.


"Anjirr cape juga ya". Amel langsung duduk disofa yang telah disediakan.


"Lo mau nginap". Tawar vino.


"Eh". Amel langsung melihat vino." Enggak lain kali aja deh?  gue mau pulang kerumah aja".


"Oh yaudah tunggu bentar gue ambil kunci mobil dulu". Suruh vino.


Amel mengangguk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan melajukan mobil mereka pergi meninggalkan daerah vila.


Butuh waktu yang lumayan untuk mereka sampai di kota samarinda.


sekarang saja sudah menunjukan pukul 22.00 malam.


Vino menoleh ke arah kiri dilihatnya ternyata amel sedang tertidur pulas pantas saja dari tadi vino tidak mendengar suara apa - apa. yang ada hanya keheningan.


Vino mendekat memperhatikan wajah amel yang sangat damai ketika ia tertidur.


Tangan vino terulur untuk menyingkirkan anak rambut amel yang menutupi wajahnya. Agar vino bisa leluasa melihat wajah adik dari artha putra dirgantara ini.

__ADS_1


"Ta kayanya gue suka deh sama ade lo". Gumam vino lirih.


__ADS_2