
Jojo masuk kedalam ruang uks dengan wajah paniknya. Gerakan gadis itu sangat tergesa gesa seperti orang yang dikejar setan. Matanya menyapu keseleluruh ruang uks.
Dan
Yapp
Jojo menemukan amel sedang menangis dengan menutup wajahnya mengunakan kedua telapak tangan.
"Yaampun kenapa lagi tu orang". Lirih jojo saat melihat amel. Ia sedang berdiri tepat didepan pintu uks.
Jojo berjalan perlahan untuk mendekati sahabatnya itu.
Langkah jojo yang tidak berbunyi. Membuat amel tidak menyadari kehadirannya.
"Heii lo kenapa. siapa yang berani bikin lo nangis". Tanya jojo pelan ia mengelus pundak sahabatnya itu dengan lembut.
Merasa ada yang menyentuhnya amel mengangkat wajahnya. ternyata ia melihat jojo berada didepannya.
Amel sudah tidak kuat lagi. Ia langsung memeluk erat sahabatnya itu untuk melampiaskan semua kekesalannya.
jojopun membalas pelukan amel.
"Cup? Cup? Jangan nangis". Tepuk jojo dipundak amel.
Jojo merasakan jika sahabatnya ini sedang banyak sekali masalah. Getaran tubuhnya menandakan ia sangat rapuh.
"Jo ". Panggil amel dengan suara khas orang menangis.
"Lo kenapa vino yang bikin lo nangis". Tanya jojo.
Amel menggeleng.
"Terus siapa kalau bukan vino kan tadi dia yang bawa lo kesini".
"Satya jo". Jawab amel lemas. ia pun kembali menagis.
"Satya". Gumam jojo. Kini wajahnya berubah marah. "Dia ngapain lo bilang ke gue".
"Dia gak ngapa ngapain gue". Jawab amel lirih. Itu membuat jojo sangat bingung. Kalau bukan satya siapa dong.
"Kalau bukan satya siapa dong? Terus kenapa lo nangis. ayolah mel lo itu kuat masa anak karate nangis lemah lo".
"lo ngejek gue ***". Ucap amel disela sela tangisannya.
"Bukan ngejek tapi gue itu memotivasi". Tukas jojo geram.
"Jo".
"Hmm". Sahut jojo. Matanya menatap sahabatnya itu lekat.
"Satya bilang ke gue? kalau gue sekarang masih ada di hatinya berarti itu tandanya dia masih cinta dong sama gue jo". Tanya amel. Dengan suara yang terdengar rapuh.
Jojo memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan nafas kasar.
"Mel dengerin gue". Jojo memegang lembut kedua bahu amel. ditatapnya sahabatnya itu sejenak.
"Satya itu gak pernah cinta sama lo. dia itu cuma cinta sama keila? ingat itu". Jojo mencoba memperingatkan.
"Tapi dia bilang". Jawab amel lirih. Matanya bertanya meminta jawaban.
"Hei hei". Jojo menepuk nepuk ke dua pipi amel.
"Mana amel yang kuat mana amel yang gue kenal sekarang. amel yang gak pernah perduli yang namanya cowo? ayolah move on buka hati lo buat orang lain jangan selalu mikirin cowo berengsek kaya satya dia itu gak cocok buat lo".
"Tapi". Amel masih ragu dengan dirinya.
"Gak ada tapi tapi lo harus lupain dia buat dia nyesel karna pernah ninggalin lo + sahabat lo si keila itu buat juga dia nyesel karna pernah ngerebut satya dari lo? lo ngerti kan apa yang gue omongin? Gue percaya kok sama lo sahabat gue kan pinter". Jawab jojo menyeringai.
Amel mengangguk mengiyakan perkataan jojo. "Jadi gue harus apa".
"Lo harus lupain satya".
"Lupain satya". Tukas amel . Otaknya masih nampak berfikir menimbang nimbang apakah dia bisa melakukan itu.
"Ayolah gue yakin lo bisa".
Amel mengangguk mengerti. "Bakal gue coba".
"Bagus". Jojo tersenyum.
"Ke toilet sana muka lo jelek. kalo abis nangis". Suruh jojo
"****** lo? Emang situ cantik".
__ADS_1
"Iyalah". Kata jojo pd.
"Serah lo. Yaudah gue ke toilet dulu lo duluan aja kekelas". Jawab amel finis. lalu ia berjalan keluar meninggalkan jojo.
Jojo hanya melihat amel pergi meninggalkannya. Dan hilang ketika melewati pintu uks. lalu ia tersenyum ke arah sahabatnya itu. Senyum yang sangat sulit untuk diartikan.
Kring kring kring
Bel pulang telah berbunyi amel telah kembali dari toilet. sekarang wajahnya sudah terlihat segar tidak ada tanda tanda bahwa dia habis menangis.
Dia masuk ke kelas dengan wajah seperti biasa yaitu datar.
Amel berjalan menuju tempat duduknya.
Ia tidak melihat vino disana. Amel berfikir mungkin dia sudah pulang. Tidak butuh waktu lama gadis itu langsung menyambet tasnya.
"Amellll". Teriak seseorang.
Amel berbalik dan melihat pipit didepannya wanita dengan wajah kearab arabpan.
"Apaan".
"Lo tadi beneran pingsan". Pipit bertanya penasaran.
"Menurut lo". Jawab amel. lalu berjalan menuju pintu keluar. Pipit masih membuntuti dengan berjalan bersebelahan.
"Menurut gue gak".
"Tu tau". Ucap amel. Lalu ia mempercepat jalannya meninggalkan pipit sendiri dengan wajah melongo.
Butuh waktu beberapa menit akhirnya amel sampai dirumahnya .
Ia memasuki halaman rumah dan memarkirkan mobilnya digarasi miliknya.
Setelah ia memarkirkan mobilnya dengan rapi ia keluar dari mobil lalu berjalan memasuki rumah megah milik keluarga dirgantara itu.
Seperti biasa didalam rumah itu terlihat sepi.
Itulah suasana sekarang yang amel lihat tidak ada orang disana. Amel memasuki rumahnya dengan berjalan santai dilihatnya karin mama tirinya sedang berada dimeja makan.
"Amel sudah pulang nak? ayo makan sayang mama sudah bikin masakan kesukaanmu". Tawar karin dengan wajah penuh harap.
Amel hanya melirik karin sekilas.
"Gak laper". Jawab amel dingin.
Lalu amel melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua rumahnya.
Karin terlihat menghembuskan nafas pasrah dia tidak tau lagi bagaimana amel bisa menerimanya sebagai mama barunya ia tau tidak mudah untuk melupakan seorang ibu kandung.
Satu persatu anak tangga amel naiki untuk mencapai tujuannya yaitu kamar.
Sekarang amel sudah berada didepan kamarnya rasanya ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring diatas kasur yang empuk.
Amel ingin membuka pintu kamarnya tetapi suara seseorang memberhentikan aktifitasnya.
"Amel". Panggilnya lirih tetapi amel masih bisa mendengar suaranya walaupun terdengar sangat pelan.
Amel menghembuskan nafas kasar. Lalu berbalik melihat siapa yang memanggilnya
Keila
"Mau apa lagi sih ni orang". Gumam amel dalam hati.
Amel melihat keila dengan wajah datar disertakan mata sinisnya. Rasanya ia sangat malas untuk bertemu orang ini.
Ia melipat tangan dibawah dada dilihatnya keila dari bawah sampai atas dengan tatapan membunuh.
"Mau apa lo". Jawabnya dingin
"Eng- enggak gue cuman mau tanya lo gak papa kan". Tanya keila gugup. Ia meremas bajunya kuat.
Satu langkah amel berpindah dari tempat sebelumnya ditatapnya keila dari jarak yang lumayan dekat.
Amel tertawa iblis. "Apa peduli lo keila putri cantrika". Tanya amel. Menatap keila sinis.
Keila terdiam lalu menunduk. "Gue perduli karna lo sahabat gue". Jawab keila tulus.
Amel yang mendengar kata sahabat. Langsung tertawa miris.lalu bertepuk tangan singkat.
"Hah? apa gue gak denger". Tanya amel tangan kirinya ditaruh ditelinganya lalu didekatkan telingannya ke arah keila tanda ia tidak mendengar perkataan keila yang tadi ia ucapkan.
Keila hanya diam.
__ADS_1
Amel menjauhkan telinganya dari keila lalu ia melipat tangannya dibawah dada.
"Maksud lo? sahabat munafik? iya". Jawab amel lalu tertawa."keila keila". Amel menggeleng gelengkan kepalanya.
"pacar dari satya atma wijaya ternyata polos ya".
"Gue gak pernah pacaran sama satya". Ucap keila.membantah ucapan amel.
Amel memberhentikan tawanya ditatapnya keila lekat. "Gue gak ada nyuruh lo ngomong jadi lo diam". Tukas amel sinis.
"Lo tau kan posisi lo disini apa". Amel bertanya dengan nada menyudutkan
Keila menunduk.
"Iya gue tau".
"Bagus kalo lo tau, lo sama nyokap lo itu cuman numpang, numpang hidup sama bokap gue". Amel tertawa iblis
"And lebih mirisnya lagi lo sama nyokap lo itu sama aja, sama sama P E L A K O R". Amel mengejakan kata pelakor.
Lalu tertawa.
Mendengar kata pelakor keila memberanikan diri menatap mata amel. "Mel cukup ya lo boleh hina gue tapi gak untuk nyokap gue". Ucap keila dengan nafas memburu.
"Kenapa gak suka". Melipat tangan dibawah dada." Emang bener kan".
Keila kembali menunduk ia seperti menahan marah.
"Sabar kei sabar". Gumam keila dalam hati.
Amel mendekat kearah keila lalu mencengkram dagu keila dengan tangan kanannya.
"Lo mau ngebela nyokap lo iya".
"Bukan gitu mel". Jawab keila tertahan lalu ia mengeluarkan air mata.
"Keila lo gak pernah tau betapa hancurnya gue saat bokap gue mutuskan untuk nikah lagi. Sedangkan nyokap gue waktu itu baru aja meninggal satu minggu kuburannya aja belum kering keila dan lo pasti tau kan perempuan yang ingin dinikahin sama bokap gue itu siapa". Amel menjeda ucapannya lalu menghembuskan nafas kasar. "Dia itu nyokap lo". Sinis amel.
Lalu ia melepas cengkramannya dari dagu keila dengan kasar.
"Tapi itu bukan sepenuhnya salah nyokap gue mel". Bela keila.
Amel menaikan satu alisnya. "Terus". Ia menatap keila dengan tatapan ingin membunuh.
"Lo mau bilang". Suara amel seperti bergetar. "Semua ini salah bokap gue? IYA". teriaknya didepan wajah keila.
"Bu- bu kan itu mel maksud gue". Jawab keila takut.
Amel kembali menarik rambut keila kasar. "Hei prinsses lo gak pernah tau kayamana sakitnya kehilangan orang yang lo sayang lo sendiri ngaku sahabat gue tapi apa yang lo lakuin". Amel tambah kencang menarik rambut keila ia sekarang sudah kehilangan akal emosinya sudah tidak terkontrol.
"Mel sakit mel". Keila menangis menahan sakit. Amel tidak perduli.
"Lo ngerebut satya dari gue orang yang satu satunya bisa ngasih kasih sayang ke gue setelah gue kehilangan nyokap ,bokap, dan abang gue". Amel sangat marah terlihat dari wajahnya yang mereh padam.
"Lo lo itu salah paham mel". Jawab keila serak ia menahan sakit karna rambutnya masih ditarik.
Bugggg
Amel membenturkan kepala keila di pagar pembatas.
"Awww". Keila memegangi kepalanya. Rasanya pusing sekali. Dilihatnya tangannya ada cairan merah segar.
"Kenapa? sakit". Amel memperlihatkan wajah cemas yang dibuat buat.
"Berdiri lo". Suruh amel
Keila pun berdiri sambil memegangi kepalanya. Benturan tadi lumayan keras. Membuat sakit yang dirasakan keila sangat luar biasa.
"Kalo gue mau ngabisin lo gak papa deh kayanya". Amel bertanya ia memainkan ujung rambutnya menggunakan telunjuk.
"Mel lo gak mungkin ngelakuin itu kan". Keila bertanya dengan wajah takut menurutnya sekarang yang ada didepannya ini bukanlah amel tapi iblis.
Amel tertawa. "Kenapa gak mungkin lo aja bisa ngerebut satya dari gue masa gue gak bisa buat ngabisin lo".
Keila menggeleng.
Amel tersenyum." Kayanya". Amel menggigit pelan jari telunjuknya." Gue hari ini bakal liat lo untuk yang terakhir kalinya".
Suttt
"Aaaaaaaaa". Teriak keila
Amel mendorong pelan bahu keila dan alhasil gadis itu jatuh dari tangga lantai dua rumanya.
__ADS_1
"Ups". Amel munutup mulutnya dengan tangan kanannya setelah ia mendorong keila tadi. Amel sekarang lebih mirip dengan phisikopat.