Loving Cold Girl

Loving Cold Girl
13. Menyesal


__ADS_3

Kringggggggggggggggggggg


Bunyi alarm milik gadis bernama amelia friscia dirgantara berbunyi nyaring tepat ditelinga gadis itu.


Gadis itu membuka matanya dengan malas rasanya nyawanya saja belum terkumpul sepenuhnya dia menguap tanda bahwa ia masih mengantuk.


Diambilnya alarm yang ada dimeja sebelah tempat tidurnya menggunakan satu tangan lalu dilihatnya jam telah menunjukan pukul 07. 15 yang artinya ia telah telat.


Gadis itu langsung buru buru bangun dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya sebelum ia pergi kesekolah.


Amel tidak terlalu rempong dalam berpenampilan ia akan tampil dengan seadanya.


Setelah sudah siap semua gadis itu keluar kamar dengan berlari kecil ia menuruni tangga satu persatu hingga sampai ditangga terakhir.


Saat di tangga terakhir amel tidak sengaja menyeggol keras bahu seseorang.


Amel menoleh kearah seorang yang ia tabrak tadi dan ternyata adalah keila.


Amel menatap lekat gadis itu."lo punya mata kan". sinis amel.


Keila hanya mampu diam menunduk.


"Atau lo lupa dimana tempat mata lo mungkin karna keasikan berduaan sama satya kemaren". Amel tertawa renyah. "Cup cup cup bahagia ya".


Keila tidak menjawab ia masih sangat trauma dengan kejadian kemaren.


"Keila". Amel membelai rambut keila lembut. "Lo kenapa sih diam aja kalo gue ngomong". Ucap amel nada suara amel yang seperti ini yang sangat keila takuti.


Mendengar nada suara amel yang seperti itu keila menangis karna ia sangat takut.


Hiks hiks hiks hiks


"Cup cup cup". Amel menepuk pelan kepala keila."kok nangis sih".


Amel memain mainkan rambut panjang milik keila."kei rambut lo cantik ya gue suka". Ucap amel santai.


Keila masih diam menunduk."mel gue mohon". Ucap keila sesegukan.


"kalo gue minta rambut lo sedikit boleh gak". Pinta amel.


Keila menggeleng.


"Ih kok lo pelit sih padahal gue udah bawa gunting lo". Amel mengambil gunting berukuran kecil yang ia taruh disaku baju seragamnya.


"Gue minta rambut lo ya". Amel memperlihatkan gunting kepada keila dan siap memotong rambut panjang milik keila.


Hiks hiks hiks."mel jangan". Lirih keila sambil menangis.


"Dikit aja".


Saat amel ingin menggunting rambut keila tiba tiba.


Pankkkkkkk


Suara gunting besi jatuh kelantai.


Amel menunduk melihat gunting yang ia pegang tadi jatuh kelantai.


Amel mengangkat kepalanya melihat siapa yang sudah melakukannya.


Ternyata ia melihat karin sudah berada dihadapannya.


Amel membalas tatapan karin dengan tatapan dingin.


Lalu amel tersenyum iblis.


"Ya ampun sekarang induknya udah keluar ya". Ucap amel mengejek.


"Mel sayang sudah cukup nak ingat keila ini saudara kamu". Ucap karin lembut ia masih setia memeluk keila yang menangis sesegukan.


Amel menatap karin remeh.


"Hus hus hus". Amel mengibas ngibaskan satu tangannya tepat didepan wajah karin.


"Buang jauh jauh kata saudara itu di kepala kalian karna gue". Amel menunjuk dirinya sendiri."gak akan pernah mau nganggap lo berdua itu keluarga". Ucap amel sinis.


Karin yang melihat tingkah laku amel yang tidak sopan hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


Karin tau kalau amel sebenarnya anak yang baik.


Amel melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 07.40.


Amel menatap karin dan keila sekilas lalu ia pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua.


Karin menatap punggung amel yang hilang seteleh melewati pintu utama.


"Ada saatnya bakal kamu mengerti nak". Ucap karin lirih ia masih setia memeluk keila.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Amel sudah memprediksi bahwa ia akan sudah sangat terlambat untuk datang kesekolah.


Mobil amel masuk ke daerah sekolah jam sudah menunjukan pukul 08.00


Yang pasti ia sudah sangat terlambat.


Mobil amel melaju ke arah parkiran ia memarkirkan mobilnya dengan rapi disana.


Setelah mamarkirkan mobilnya amel keluar dan berjalan keluar parkiran.


"He kamu sini". Cegat pak samsul.


Amel yang melihat pak samsul hanya bisa memutar kedua bola matanya. "Apaan pak". Amel berjalan lemas wajahnya datar.


"Kamu masih tanya kenapa kamu tau kan kalau kamu itu ???". Belum pak samsul menyelesaikan ucapannya amel langsung memotong.


"Iya saya tau saya telat". Ucap amel datar.


Pak samsul menghembuskan nafas kasar. "Bagus kalau kamu tau sekarang kesana ikut baris sama temanmu yang lain". Suruh pak samsul.


Amel berjalan santai menuju murid - murid yang sedang berbaris ia mengisi barisan yang kosong dibelakang.


"untuk murid kelas XI ipa yang perempuan sini maju". Pinta pak mardian.


Amel merasa bahwa dia anak Ipa dan dia juga perempuan.


Amel maju mengahmpiri pak mardian.


Ia mengantri menunggu giliran namanya dipanggil oleh pak mardian guru yang bertugas mencatat murid murid yang suka telat.


"Amelia friscia dirgantara". Panggil pak mardian.


Amel melangkah maju.


"Ini minta tanda tangan sama ketua osis ya". Pinta pak mardian.


"Guru piketnya sakit gak turun". Jelas pak mardian.


"Ih tapi pak saya gak mau minta tanda tangan sama ketua osis". Tolak amel.


"Yasudah gak usah masuk tu kamu berdiri aja tu didepan tiang bendera panas panasan". Ancam pak mardian.


"Aelah bapak".


"Mau gak". Pak mardian memberikan kertas kepada amel.


"Hmm". Amel mengambil kertas dari pak mardian lalu ia langsung berlalu pergi.


"Woyyyyyyy amelllll". Teriak irda heboh.


Merasa namanya dipanggil amel menoleh."apaan". Respon amel.


Irda nyengir."tunggui kita sama sama keruang osis". Pintanya.


Amel melihat irda sekilas."tumben telat". Tanya amel.


"Ohh gue mah tadi malam abis begadang". Jawab irda sambil memakan permen lolipop.


"Ngapain kerjain tugas". Mereka berbicara sambil berjalan beriringan.


Irda menggeleng." Bukan".


"Terus". Tanya amel ia menoleh kearah irda sekilas lalu kembali fokus kedepan.


"Nonton drakor". Jawab irda polos


"Makan permen mulu lo".


"Biarin suka suka gue lah". Tukas irda


Amel menggelengkan kepala melihat tingkah temannya yang satu ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Tidak terasa mereka berdua berjalan dan akhirnya sampai didepan ruang osis.


"Lo mau duluan". Tawar irda ia masih setia dengan permen lolipop ditangannya.


"Gak lo aja". Tolak amel.


"Yauda gue duluan ya mau ketemu sama bebeb kedua gue setelah vino ahayyy satya irdamu datang".ucapnya lalu berjalan masuk keruang uks.


Amel menunggu diluar ruang osis rasanya berat sekali jika ia harus bertemu dengan satya.


Otak memilih pergi tapi hati memilih tetap disini.


Sedari tadi amel mondar mandir didepan ruang osis sambil menunggu irda keluar dari ruangan tersebut.


Butuh waktu beberapa menit akhirnya irda keluar dari ruang osis.


"Woy mel ngapain lo mondar mandir". Tegur irda


"Hah gue gu". Ucap amel gagap


"Ah lama lo cepetan tu masuk bebeb satya gue udah nunggu". Suruh irda


"Temenin gue yo". Pinta amel


"Gak mau gue".tolak irda


"Aelah lo da pelit amat bentar doang temenin ya ya plisss". Ucap amel seperti memohon.


Irda nampak berfikir.


"Gimana". Tanya amel


"Kayanya gue gak bisa mel dadah gue kekelas duluan ya bay". Ucap irda lalu ia berlari pergi meninggalkan amel sendirian didepan ruang osis.


Amel melongo melihat kepergian irda."awas ya lo da". Teriak amel.


Amel menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan lewat mulut.


Amel memejamkan matanya sejenak lalu ia memberanikan dirinya dan menguatkan hatinya untuk bisa bertemu dengan seorang satya atma wijaya.


Amel berjalan kearah pintu ruang osis dan membukanya.


Ceklek


pintu ruang osis terbuka dan memperlihatkan sosok laki laki yang sedang duduk dikursi kebanggaanya terlihat dia sedang sibuk sekarang karna tatapannya hanya fokus pada kertas yang ia pegang.


Amel menyodorkan kertas yang ia bawa. "Ni gue minta tanda tangan". Amel menetralkan deru nafasnya.


Merasa ada seseorang dihadapannya satya mengangkat wajahnya keatas agar ia bisa melihat siapa yang ada didepannya.


Satya sempat terpaku untuk beberapa saat.


"Amel". Panggil satya.


Amel yang mendengar suara satya memanggil namanya.


Serasa udara disekitar menipis sehingga membuat amel sulit untuk bernafas dadanya terasa sangat sesak matanya memanas ia tidak cukup kuat untuk bertemu dan melihat wajah lelakinya.


"Cepat tanda tangan disini sekarang". Ucap amel dengan nafas memburu.


Satya mengambil kertas yang diberikan oleh amel lalu dicoretnya kertas itu dengan pulpen dan diberikannya kembali kepada amel.


Amel langsung menerima kertas itu lalu ia langsung pergi meninggalkan ruangan osis tanpa mau melihat wajah satya walau untuk beberapa saat.


"Tunggu". Cegat satya


Amel berhenti ia masih memegang ganggang pintu yang siap untuk dia buka.


Amel mencoba menetralkan nafasnya yang memburu.


"Apa". Jawab amel tanpa menoleh kebelakang.


Hening untuk beberapa saat.


"Bilang ke keila suruh dia jangan telat makan".


Takkk


Patah sudah hati amel air matanya sudah keluar tanpa seizinnya. Ia tidak tau berapa banyak sudah air matanya keluar gara gara seorang laki laki yang bernama satya atma wijaya.


Amel tidak menggubris ucapan satya ia langsung berlari keluar ruang osis.


Satya yang melihat amel tidak menanggapi ucapannya langsung memukul meja dengan keras."****** bodoh lo sat bodoh". Ucap satya sambil mengacak acak rambutnya frustasi.


"Ahhhh **** ****** kenapa gue ngomong kaya gitu". Sesal satya ia memukul tembok ruang osis beberapa kali hingga tangannya terlihat merah dan memar.


Satya mengacak acak rambutnya frustasi lalu ia kembil duduk ditempat duduknya tadi."Maafin gue mel gue terpaksa". Ucapnya lirih

__ADS_1


__ADS_2