
Amel sedang berada dikamarnya.
Pikiranya sudah sedikit berkurang dan suasana hatinya sudah sedikit membaik setelah kejadian disekolah tadi bersama satya.
Ia mencoba untuk tegar tidak terlalu memikirkan laki laki yang pernah singgah dihatinya itu
Tapi tetap saja tidak bisa walaupun sudah mencoba berkali kali untuk melupakan satya tetap saja amel tidak bisa karna saat ini hati tidak pernah selaras dengan otak.
Otak memilih pergi tapi hati memilih untuk tatap diam disini.
Melupakan cinta pertama itu tidak semudah membalikan kedua telapak tangan.
Semuanya perlu waktu dan proses yang tidak sebentar.
Walaupun saat ini ada vino laki laki yang menurut amel ia sangat hangat dengannya sekaligus penyayang tapi tetap tetap saja hati amel masih memilih satya.
Sesulit itukah untuk melupakan seorang satya atma wijaya.
"Hufttt". Amel menghembuskan nafas kasar lalu menenggelamkan wajahnya dibantal.
"Ah gue bosan disini gue bosan". Ucap amel frustasi ia memukul mukul bantal dengan kedua tangannya.
Amel bangun dari posisinya.
"gue harus ngapain ya mikir dong mikir? lo kan pinter mel ngapain gitu gue cape ke gini mulu serasa hidup gue suram banget". ucap amel berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah berfikir akhirnya senyum puas tercetak dibibir amel.
Amel mengambil ponsel lalu mencari no ponsel jojo.
Dret dret dret dret
Telpon tersambung
"Hallo apaan". Jawab jojo dari seberang sana.
"Santai aja dong jangan ngegas woy mba woy". Sahut amel.
"Iya iya gue gak ngegas ni gue ngomong lembut? Ada perlu apa nona adakah yang bisa saya bantu". Ucap jojo menggunakan bahasa baku seperti pramugari di pesawat.
Amel tertawa.
"Ketawa aja terus lo mel? Mau perlu apa lo". Ujar jojo dari seberang sana
"Jo ke club ya malam ini gue mau nenangin fikiran". Ajak amel.
"Wah apaan gak mau gue ntar lo mabuk lagi males cape nanti gue ngurusnya". Jelas jojo menolak.
"Ih apaan sih lo gitu banget ama teman, ayolah mau ya ya ya plisss gue sumpek". Mohon amel.
"Iya iya tapi ada syaratnya". Pinta jojo.
"Apaan lo pake syarat syarat segala gila banyak maunya lo". Omel amel.
"Mau gak lo".
"Iya gue mau apaan". Tanya amel.
"Lo jangan minum titik". Jawab jojo final.
"Hah apaan gak bisa gitu dong". Protes amel.
"Yaudah turutin aja apa mau gue oke dadah cantik".
Tut tut tut tut
Telepon mati
"Ih ni anak ngeselin banget dimatiin lagi gue kan belum selesai ngomong". Kesal amel
Amel berfikir sejenak lalu.
"Ah persetan gue sama omongan jojo mana ada ke club tapi gak minum". Ucap amel tidak perduli.
Ia bangkit dari kasurnya berjalan ke arah lemari pakaian mencari cari baju yang nanti bakal ia pakai.
Krekk krekk krekk.
Amel melihat perutnya. "Gue laper".
Amel berjalan ke luar kamar.
Ia mengarah ke meja makan dilihatnya meja makan tidak ada makanan sama sekali yang tersaji disana.
"Ni orang rumah pada kerja apa sih masa makanan aja gak ada". Omel amel dengan nada kesal.
Ia duduk sejenak dikursi meja makan.
Menenangkan rasa kesalnya dan ia melihat pak budi lewat sepertinya dari toilet.
"Pak budi". Panggil amel.
Pak budi berhenti. "Ia ada apa non amel". Tanya pak budi sopan.
"Karin mana". Tanya amel dingin.
"Hah maksud non nyonya". Pak budi memperjelas.
"Hmmm? kemana dia".
"Oh nyonya pergi kerumah temannya non tadi habis bapak antar". Jelas pak budi.
Amel mengangguk.
"Ada lagi non".
"Gak ada". Jawab amel dingin.
Pak budi pergi dari hadapan amel.
"Hufttt sumpah gue laper banget". Ucap amel sambil memegang perutnya.
Berinisiatif sendiri ia berdiri lalu berjalan ke arah dapur berniat untuk memasak makanannya sendiri.
Saat sampai didapur ia melihat keila sedang memasak juga disana lalu fikiran liciknya muncul amel kembali dikuasai oleh kebencian.
Amel tersenyum simpul.
Keila merasa ada seseorang dibelakangnya lalu ia berbalik.
"A-am mel". Ucap keila terbata bata.
Amel menaikan satu alisnya."Kenapa". Tanya amel.
Keila menggeleng lalu menunduk.
"Masakin gue mie instan? Gue tunggu". Pinta amel.
Keila langsung mengangguk mengiyakan.
Amel duduk dikursi meja makan yang ada didapur.
Rumah amel memiliki dua meja makan satu untuk keluarga besar dan satu lagi untuk pembantu yang biasa makan tempatnya didapur.
Amel diam memperhatikan semua pergerakan keila.
Butuh beberapa menit menunggu.
Akhirnya keila datang membawa semangkok mie instan.
__ADS_1
Keila menaruh mie instan diatas meja dengan hati hati ia tidak ingin membuat kesalahan sedikitpun.
Keila diam berdiri sambil menunduk.
"Gue minta kopi dong ada gak?". Tanya amel.
"Ada". Jawab keila.
"Bisa tolong ambilin". Pinta amel.
Keila menurut ia pergi mengambil kopi yang diminta amel.
Keila kembali. "Ni mel kopinya".
"Air panas? Sama jeruk nipis". Pinta amel sekali lagi.
Keilapun kembali menurut ia mengambil semua permintaan amel.
"Ni mel". Keila memberikan semuanya.
Amel menatap keila dingin." Sekarang gue minta lo duduk".
"Gu gue". Ucap keila gugup sambil menunjuk dirinya sendiri.
Amel memutar bola matanya malas." Lo tuli". Sinis amel.
Mendengar nada bicara amel keila langsung menurut ia duduk dihadapan amel tapi matanya selalu melihat kebawah.
"Sekarang gue minta lo buka kopinya terus taburin semuanya ke mie". Pinta amel.
Keila langsung mengangkat kepalanya." Ap- apa lo serius tapi nanti mienya jadi-".
"Gue minta gak pendapat lo? turutin aja apa yang gue mau ngerti". Ucap amel finis.
Keila hanya diam untuk menelan ludahnya sendiripun sulit karna gugup.
Keila menuruti permintaan amel ia membuka kopinya lalu menaburkan semua kopi itu ke mie instan.
Lalu keila mengaduknya menjadi satu.
Keila meringis melihat warna kuah mie instan itu berubah menjadi hitam pekat ia tidak terbayang bagaimana rasanya.
"Sudah mel".
Amel menatap keila intens seperti ada rencana selanjutnya yang akan membawa penderitaan buat keila.
"Sekarang gue minta lo makan". Ucap amel sambil tersenyum iblis.
"Ap apa mel gu gue gak". Ucap keila terpotong.
"Kenapa lo gak mau". Tanya amel dengan ekspresi sedih yang dibuat buat.
Keila menggeleng.
Amel tersenyum lalu ia mengambil pisau dapur yang sudah memang tersedia di atas meja itu.
Lalu amel menggesekkan pisau itu kemeja sehingga terdengar suara yang sangat mengerikan menurut keila.
"Lo tau kalau gue gak suka dibantah? Sekarang gue minta lo makan ngerti". Jawab amel final.
Mau tidak mau keila harus menuruti apa kata amel kali ini ia sangat takut dengan saudara tiri yang ada dihadapannya ini.
Keila mengambil sendok lalu memakan makanan itu rasa pahit mendominan didalam mulutnya ia ingin muntah tapi ia tahan.
Amel yang melihat keila menuruti apa yang ia mau hanya tersenyum bak iblis.
"Kenapa pahit". Tanya amel.
keila diam ia hanya mampu menangis dan menangis.
"Keila lo tau gak sekarang gue puas karna lo udah ngerasain perasaan hati gue hari ini? PAHIT". Jelas amel menekankan kata pahit.
Keila hanya mampu menangis.
"Lo haus ni minum". Amel menyodorkan air minum kepada keila.
Keila refleks mengambil minuman yang diberikan oleh amel ia ingin segera menetralkan rasa pahit dilidahnya.
keila meminum air itu dan.
"Aww panas panas". Keila langsung melempar gelas itu lidahnya serasa melepuh rasa asam pun kali ini mendominan dilidahnya.
Amel tambah tersenyum puas.
Bagaimana tidak amel dengan tega memberikan keila air panas yang diberi dengan perasan jeruk nipis.
Kali ini keila tambah menangis ia tidak mampu melawan.
"Uhhh yaampun kasihan banget panas ya terus asem kaya gitu juga perasaan gue saat ngeliat lo berdua sama satya rasanya panas dan karna panas itu hidup gue jadi asem memprihatinkan semua itu kana siapa? Karna lo keila udah ngerebut satya dari gue". Jelas amel lalu pergi dari dapur menuju kamarnya meninggalkan keila sendiri yang sudah menangis tersedu sedu.
"Hiks hiks hiks lo salah paham mel gue gak pernah ngerebut satya dari lo". Ucap keila lirih.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
01.00 WITA
Amel berjalan menuruni tangga satu persatu dengan pakaian dress berwarna merah marun yang membuat kesan seksi saat memakainya dan tentunya dilengkapi dengan dandanan natural.
Rumah nampak sepi mungkin sekarang orang pada tidur dikamarnya masing masing papanya amel (dirgantara) sedang tidak ada dirumah ia pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya jadi amel sedikit bebas untuk pergi kemana saja yang amel mau tanpa harus di interogasi terlebih dahulu oleh dirgantara.
__ADS_1
Amel berjalan santai sudah hampir mendekati pintu utama.
"Sayang kamu mau kemana jam segini". Suara seseorang membuat langkah amel terhenti.
Amel berhenti diam ditempat.
Sepertinya amel tau suara siapa itu ia berbalik menghadap orang itu.
Amel melihatnya dengan tatapan dingin.
"Sayang ini sudah jam 01.00 dini hari kamu mau kemana malam malam begini". Tanya karin khawatir.
"Apa urusan anda bertanya saya mau kemana". Jawab amel dingin.
"Mama gak mau nanti kamu sakit ini baju kamu juga terlalu seksi nak nanti kamu kenapa napa". Jelas karin memberitahu.
"Ini baju baju saya? Saya yang pakai dan itu gak ada sama sekali urusannya dengan anda, kalaupun nanti saya kenapa napa bukannya anda senang ya". Amel menaikan satu alisnya lalu tersenyum sinis.
"Tidak nak? Tidak begitu mama sayang sama kamu". Ucap karin iya ingin menyentuh amel tapi.
"Stop". Ucap amel memperingatkan.
"Jangan berani sentuh gue dengan tangan lo? Gue gak mau sifat pelakor lo itu nular ke gue cukup anak kandung lo aja, jangan gue". Ucap amel dingin.
Tidak ada lagi etika dan budi pekerti bagi amel jika ia sudah berbicara dengan karin mama tirinya.
Karin yang mendengar itu langsung tertunduk menahan tangis.
Amel tidak memperdulikannya.
Ia tetap melajukan langkahnya untuk pergi ke tempat tujuan.
Suara dentuman keras mengalun diikuti oleh orang orang yang asik menari.
Bau alkohol sudah mulai tercium saat amel menginjakan kakinya ditempat itu.
"Akhirnya". Ucap amel lega.
"Ingat? lo udah janji ya sama gue gak bakal minum". Ujar Jojo memperingatkan
Amel menoleh ke samping. "Aelah jo mana ada kali ke club orang gak minum".
Jojo nampak berfikir dengan ucapan amel. "Iya juga ya"
"Ah tapi bodolah gue gak perduli yang penting lo gak minum titik". Tukas jojo final.
"Hmm". Jawab amel pasrah.
Mereka berdua berjalan ke arah meja bar dan duduk santai disana ia hanya memesan jus tidak alkohol karna sedari tadi jojo mengomel tidak memperbolehkan amel meminum alkohol amel hanya pasrah mengikuti apa mau sahabatnya itu.
"Mel lo tunggu sini bentar gue mau pergi kesana dulu jan kemana mana". Titah jojo.
"Hmm". Ucap amel singkat.
Amel duduk memperhatikan orang orang yang sedang menari nari amel merasa malas dan tidak ada niatan untuk bergabung.
"Haii kenalin gue riko". Ucap seseorang datang pada amel ia mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
Amel hanya melirik ke arah lelaki itu sekilas.
"Jutek amat cantik, gue cuman mau tau nama lo kali". Goda laki laki itu sekali lagi.
"Gue gak punya nama puas lo". Sinis amel.
"Cantik cantik kok galak sih". Ucap laki laki itu bahkan ia dengan lancang menyentuh pipi amel dan menyelipkan anak rambut amel ke telinganya.
Amel refleks membeku ditempat lalu.
Buggggg
Seseorang memukul keras wajah riko laki laki yang sudah berani menggoda amel.
Amel melihat riko tersungkur jatuh kelantai.
"Pergi lo dari sini? Kalo gak abis lo sama gue". Suara seseorang memerintah menyuruh riko untuk pergi.
Dan setelah itu riko pergi dengan wajah takut.
Sekarang pandangan amel beralih pada seseorang yang amel anggap sudah menolongnya.
"Lo gak papa". Ucap orang itu.
Amel masih diam memperhatikan. "Gak gue gapapa thaks".
Orang itu tersenyum.
"Sama sama? lo kesini sendiri". Tanya orang itu.
"sama teman". jawab amel singkat.
"Kenalin gue darpa". Ucap orang itu mengulurkan tangannya.
"Amel". Tukas amel tanpa menoleh kearah darpa dan ia juga tidak membalas uluran tangan darpa.
Melihat reaksi amel darpa hanya tersenyum tipis.
"nama lo bagus? ni lo gak mau minum". Darpa menyodorkan gelas alkohol pada amel.
Melihat gelas yang ada didepan wajahnya. Amel sedikit tergiur lalu ingin mengambilnya tapi.
tangan seseorang langsung merebut gelasnya dengan kasar dari tangan darpa.
"Dia gak minum". Ucap orang itu dan menaruh kembali gelas itu pada meja bar.
"Vino". Ucap amel kaget.
Bagaimana bisa vino ada disini apa vino mengikuti amel?. sepertinya tidak mungkin.
Dilihat dari wajah vino sepertinya dia mengenali darpa.
"Mau apa lo". Tanya vino pada darpa.
Darpa tersenyum sinis.
"Sial kenapa dia ada disini". Ucap darpa dalam hati.
"Santai bro? Ini cewe lo ko muka lo kaya cemburu gitu kalo gue deketin dia". Tanya darpa.
Amel hanya diam memperhatikan.
Ia bingung harus bereaksi seperti apa
"Pergi lo". Pinta vino pada darpa.
Darpa mengakat satu alisnya. "Ini tempat umum bro siapa aja boleh disini". Jawab darpa menantang.
"Gue gak perduli yang pasti gue gak mau liat muka lo ada dihadapan gue dan dihadapan amel". Pinta vino.
"Why? Amel bukan cewe lo kan jadi so gue bebas dong mau deketin dia". Tukas darpa yang mampu memancing emosi vino.
"Lo ya". Vino sudah siap ingin melayangkan pukulan pada darpa tapi.
"Vin udah". Pinta amel ia menahan tangan vino. "Udah vin". Bisik amel pada telinga vino.
Setelah mendengar amel seketika itu juga vino luluh.
"Ayo kita pergi". Vino menarik tangan amel dan membawanya pergi jauh dari darpa.
Amel hanya diam ia masih berfikir ada masalah apa vino dengan darpa semua itu masih tanda tanya dikepala amel.
__ADS_1
Insyaallah updetnya bakal tiap hari yang gaysss. βΊπ
Selamat membaca