LUKA YANG DALAM

LUKA YANG DALAM
LYD eps 45


__ADS_3

"Aku bosan disini bagaimana jika kita menemui Amanda?" Usul Ilene


"Ide bagus, ayo" Ajak Bryan dengan semangat.


Mereka sudah di tempat pemotretan. Amanda sedang berdiri dengan pose pose indahnya, banyak sekali suara suara kamera yang terdengar dari ruangan itu. Amanda juga sangat cantik dengan memakai gaunnya yang indah sekali dan sangat cocok dengan warna kulit putihnya dan [badannya yang ramping.


Semua orang menundukkan badannya saat Bryan masuk, dan banyak juga orang yang memeluk Ilene karena merindukannya.


"Dia sangat cantik" Puji Bryan yang menatap sang pujaan hati dengan kagum.


"Jangan terlalu menatapnya" Seru Ilene yang berdiri di samping Bryan.


"Kenapa?"


"Tidak boleh, tidak ada yang boleh mendekati Amandaku" Ujar Ilene.


"Bukankah kita sudah membuat kesepakatan?"


"Oh iya, hehehhe lupa"


Bryan menghembuskan napasnya dengan kasar tanpa menariknya terlebih dahulu "Aku merasa kurang yakin denganmu"


"Kenapa?" tanya Ilene dengan heran.


"Aku takut kalau kamu tidak jadi mendekatkanku dengan Amanda"


"Tenang lah, kamu juga belum ngabulin permintaanku kan"


Bryan menatap datar Ilene "Kan kamu yang beluk bilang apa permintaanmu"


"Oh iya lupa, sorry hehehe"


Bryan menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah selesai melakukan pemotretan, Amanda mendekati sahabatnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Amanda.


"Apa aku tidak boleh melihat sahabatku?"


"Gak!!"


"Ohh baiklah kalau begitu aku pulang." Ilene membalikkan badannya berjalan pergi tapi tangannya ditarik Amanda lalu mereka tertawa karena semua itu hanya candaan belaka. Mereka memang sering bercanda hal yang tidak bermutu.


" Oh " Amanda membungkukkan badannya saat melihat Bryan yang berdiri di samping Ilene.


Seorang perias Amanda datang dan membawanya air botol lalu Amanda meminumnya setelah itu, perias Amanda mewarnai bibirnya agar warna lipstiknya tidak memudar karena masih ada pemotretan lagi.


" Wahh kamu benar benar cantik sekali." Puji Ilene.


" Iya dong, Amanda gitu loh." Amanda kegirangan karena pujian Ilene.


Ilene yang tadi tersenyum langsung menyurutkan senyumannya karena melihat tingkah Amanda karena dia memujinya. Ilene sangat menyesal karena memuji Amanda karena Amanda menjadi sok cantik di depan wajahnya.

__ADS_1


" Tapi lebih cantik aku." Ucapan yang harus Ilene keluarkan agar sahabatnya tidak terlalu banyak tingkah.


" Terserahh" Amanda mengeluarkan lidahnya mengejek Amanda lalu mereka tertawa lagi. Amanda melihat CEO nya yang sedang menatapnya serius membuat Amanda kurang nyaman, apakah ada yang salah di wajahku?, pikirnya.


" Ada apa tuan?" Tanya Amanda.


" Tidak ada apa apa hehehe." Bryan hanya tercengang melihat tawa Amanda yang sangat cantik, biasanya dia tidak pernah terlihat seriang ini kecuali kalau disuruh tertawa di kamera.


Ilene mengingat sesuatu, dia menarik badan Bryan berhadapan dengannya lalu dia juga menarik Amanda agar berdiri di samping Amanda. Amanda terlihat bingung tapi dia mengikut saja.


" Nahh, bagaimana ? aku sudah mendekatkan kalian kan?" Ilene mengangkat kedua alisnya menatap Bryan dan tersenyum licik dia hanya mempermainkan Bryan dengan membuat candaan.


Bryan tersenyum pasrah tetapi dalam hatinya, dia ingin sekali menyumpah serapahi sahabat dari sang pujaan hatinya.


Bryan mendekati Ilene dan menyuruhnya untuk berbalik badan.


" Bukan dekat seperti itu Ilene." Bisik Bryan.


" Ouh iya kah, aku kira tugasku hanya perlu mendekatkan kalian seperti tadi itu aja" Ujar Ilene sok polos padahal dia hanya berpura pura tidak tau karena menjahili orang merupakan hobi Ilene.


" Ilene" panggil Bryan pelan.


"ya?" Ilene tersenyum sok polos dan mendekatkan telinganya.


" Siapa guru bahasa Indonesiamu waktu sma?" Sebenarnya Bryan ingin menerkam Ilene pada saat itu juga.


"Aku lupa soalnya setiap aku naik kelas guru bahasa Indonesia ku berubah, kenapa? apa kamu ingin mendekati guruku lagi?" Ilene pura pura terkejut, dia sangat menikmati aksi jahilnya.


"Ohh begitu. Tugasmu bukan seperti, maksudku ehmm bagaimana jika kamu menawarkannya untuk kencan buta denganku" Usul Bryan.


"Itu yang aku inginkan tapi pertama pertama Amanda harus mau berkencan buta denganku, okey" Bryan memukul punggung Ilene.


Amanda sangat heran melihat kedua orang yang sedang membelakanginya itu.


"Ada apa dengan mereka? sejak kapan mereka menjadi dekat sampai berbisik bisik seperti itu, rahasia apa yanh mereka bicarakan?" Batin Amanda.


"Apa yang kalian bicarakan? apa kalian sedang membicarakanku?" Lebih baik dia menanyakan langsung agar tidak penasaran.


Mendengar ucapan Amanda tadi, Ilene dan Bryan berbalik dan tertawa karena tebakan Amanda sangat pas sekali.


" Apa yang kalian bicarakan? apa kalian merencanakan sesuatu? " Lagi lagi tebakan Amanda benar.


"Apa maksdumu kenapa kamu sangat geer, kami lagi bicarin bisnis" Ilene menyenggol tangan Bryan dengan tawa paksanya.


Bryan menatap Ilene karena tidak mengerti tapi setelah melihat dengan jelas, Bryan paham " Ah iya bisnis hahahaha"


"Bisnis? Sejak kapan kalian menjadi dekat sampai sampai membicarakan tentang bisnis" Amanda menatap curiga mereka.


"Kami sangat kau tau, ya kan?" Ilene menyenggol tangan Bryan lagi dan kali ini Bryan langsung mengerti.


"Iya, kami sangat dekat" Sambung Bryan.


"Baiklah aku percaya"

__ADS_1


Ilene dan Bryan lega mendengarnya.


"Tapi aku merasakan hal aneh dari kalian"


Tiba-tiba ada yang memanggil Amanda untuk melanjutkan pemotretan dan Amanda langsung pergi meninggalkan Ilene dan Bryan, mereka berdua sedikit lega karena setiap pertanyaan pertanyaan yang Amanda lanturkan sangat tepat sasaran.


......................


Ilene menyedot pipet minuman jeruknya, kini dia tengah duduk di cafe yang dekat dengan BS ENT. Ilene sedang menunggu kedatangan Amanda dari tadi.


"Kenapa dia lama sekali si "Gerutunya dengan pelan agar orang lain tidak mendengarnya.


Baru saja Ilene menggerutu, sosok yang dia tunggu tunggu dari tadi akhirnya muncul juga.


"Sorry ya, kamu udah lama nunggu ya?" Amanda menarik kursi dan duduk di hadapan Ilene.


" Dari mulai perang kedua aku dah disini nungguin" Dia mengatakan itu karena bosan dan rada-rada kesal karena Amanda sangat lama sekali sampai.


"Emang cafe ini udah dibuka dari zaman perang kedua?"


"Yaudah lah kamu aja yang belum lahir."


"Berarti kamu reinkarnasi dong ceritanya." Amanda membalas candaan Ilene.


"Udah lah." Ilene menghentikan candaan mereka "Aku mau bilang sesuatu sama kamu" Ujar Ilene tiba-tiba tanpa basa basi dulu.


"Apa?" Amanda mengangkat tangannya, lalu pelayan datang.


"Mau makan apa mbak?" Tanya pelayan itu sopan.


"milkshake stroberi satu ya mbak!" Ujar Amanda, lalu Pelayan itu pergi.


"Kamu tau, aku udah mulai dekat dengan Ariel, aku sadar dengan membencinya tidak akan menghasilkan apa-apa." Suara Ilene terdengar sedih.


"Itu bagus Ilene, bukan Ariel yang bersalah dalam hal ini" Ujar Amanda.


Ilene menatap Amanda dengan mata yanh sudah berkaca-kaca tapi Ilene mencoba menahan air matanya "Kenapa sangat sulit bagiku untuk melupakannya. Jika aku berusaha melupakannya aku takut dia marah padaku karena aku telah berjanji untuk selalu bersamanya, tapi jika aku tidak melupakannya pintu hatiku tidak akan terbuka untuk siapapun Manda, apa yang harus aku lakukan?. Setiap detik kenangan yang kami lakukan bersama selalu melintas di benakku. Aku melihat senyumnya, tawanya, matanya, dan juga suaranya. Aku hampir gila karena itu Manda, aku sangat menyayanginya" Ilene mengeluarkan air matanya, dia menggigit bibirnya agak tidak menguarkan isak tangisnya karena banyak orang yanh sedang berada di cafe itu.


"Kamu memang sangat menyayanginya, aku masih ingat di saat kalian pacaran, kamu hanya bersama Lino dan selalu memikirkannya, aku ingat saat kamu menolak ajakanku untuk belanja karena kamu ingin menemani Lino padahal saat pertama kali Lino mendekatimu, kamu selalu merasa kesal dan risih. Jujur saja aku sangat iri dan kesal melihat kedekatanmu dengan Lino hingga kamu melupakan sahabatmu." Amanda memalingkan wajah kesal, akhirnya dia bisa menyampaikan hal yang sudah dia tahan mulai dari masa sekolah.


Ilene tertawa kecil "Apa kamu masih mengingatnya? Aku baru tau kalau kamu secemburu itu hahhaha" Ilene malah mengejek Amanda bukannya membujuk.


Amanda ikut tertawa saja, dengan ikut tertawa itu akan membuat Ilene sedikit terhibur, pikirnya.


"Kamu memakai cincin? Itukan cincin pernikahanmu kan?" Amanda memegang jari Ilene yang terdapat cincin.


Ilene menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.


"Cihh" Amanda menepis tangan Ilene.


"Amanda, boleh kah aku minta tolong?" Tanya Ilene serius.


Sebelum menjawab Amanda meminum milkshakenya yang baru saja sampai.

__ADS_1


"Apa?"


"Bantu aku untuk mencari siapa pembunuh Lino sebenarnya!"


__ADS_2