LUKA YANG DALAM

LUKA YANG DALAM
LYD eps 47


__ADS_3

Ilene yang merasa kehilangan cincin pernikahannya langsung bergegas ke kamarnya untuk mencari dimana dia menaruh cincin itu. Saat di kamar, Ilene mengelilingi dan melihat semua tempat dan benda yang ada di dalam kamarnya tapi dia tetap tidak dapat menemukannya.


"Dimana kali terakhir aku melihatnya ya? Tadi aku letakkan di atas meja tapi kenapa sekarang tidak ada?" Ilene cemberut dan menyerah dan dia yakin bahwa Ariel tidak akan marah padanya.


Hari sudah menjelang malam, karena lapar Ilene turun ke bawah untuk memasak sesuatu, entah kenapa dia ingin sekali memasak tapi bukan hanya untuknya, untuk suaminya juga. Dia sadar bahwa selama ini dia salah dan Amanda benar, semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ariel dan Ariel juga tidak bersalah. Para pelayan sudah melarang Ilene karena itu adalah tugas mereka tapi ketahuilah kalau Ilene tidak suka dilarang dan dia akan melakukan apa yang dia suka.


Dia memasak nasi kuning, orek tempe dan ayam goreng serundeng. Entah angin badai apa yang datang dipikirannya hingga dia membuat nasi kuning padahal tidak ada acara apapun. Ilene merasa percaya diri dengan masakannya karena dia pernah les tata boga di waktu smp dan sudah pasti masakannya pasti enak.


Valen tiba-tiba datang, dia terkagum melihat kakak iparnya itu.


"Wah ini haruk sekali" pujinya.


"Apa aku boleh mencicipinya?" tanya Valen dan Ilene mengangguk pelan.


"Kenapa?" tanya Valen lagi tapi Ilene hanya tersenyum. Valen tidak tau bahwa makanan itu khusus untuk seorang pria yang namanya sudah mulai tertulis di dalam hatinya.


Valen merengek terus menerus agar Ilene mengijinkan untuk mencicipi masakannya apalagi yang memasak adalah pujaan hatinya. Ya semenjak hari pertama bertemu dengan Ilene, dia sudah menyukainya dan rasa itu bertambah menjadi cinta, kini Valen mencintai Ilene tapi dia sadar bahwa itu hal yang salah dan Ilene adalah kakak iparnya.


Ariel memasuki rumahnya dan mencium wangi makakan yang enak, dia berjalan ke dapur tapi dia tidak masuk karena melihat Ilene yang sedang tertawa ria bersama adiknya. Ariel langsung berbalik dan pergi ke kamarnya, Ariel sepertinya masih merasa kesal karena kejadian tadi sehingga dia menjadi sensitif.


Seorang pelayan wanita mengganggu keasyikan mereka berdua yang sedari tadi bercanda bersama.


"Nyonya, Tuan Al sudah sampai." Ujarnya.


Ilene menghentikan tawanya dan berpikir, sejak kapan dia sampai? .


"Baiklah terima kasih" Ujar Ilene dan langsung meninggalkan dapur, dia melangkah menuju lift dengan bibir yang selalu tersenyum, dia merasa deg-degan kali ini karena dia tidak biasanya dia bertindak romantis, yaa telah sekian lama, ini adalah hal romantis yang pernah Ilene lakukan.

__ADS_1


TING....


Pintu lift terbuka, dia menghembuskan napasnya, dan tersipu padahal dia tidak sedang digombal.


Dia masuk ke kamar dan melihat punggung Ariel sedang berdiri di depan pintu balkon. Ilene berdehem, mendengar deheman itu Ariel membalikkan badannya dan melihat istrinya itu.


"Kenapa kamu tampak sangat bahagia?" Tanya Ariel dengan datar.


"Kenapa? Aku hanya merasa senang hari ini" Ilene tertawa kecil.


"Senang? hahaha baguslah" Tawanya seperti terpaksa.


"Kalau boleh tau kenapa kamu sangat bahagia?"


Pertanyaan itu membuat Ilene heran, kenapa dia tiba-tiba menanyakan sesuatu yang aneh "Apakah orang harus memiliki alasan untuk bahagia?" Ilene merasa itu adalah jawaban yang tepat untuk menjawab Ariel, mulai saat ini Ilene tidak akan mengatakan kata-kata yang akan menyakiti perasaan Ariel dan Ilene ingin membayar semua kesalahan.


"Tapi kamu tidak pernah sebahagia itu saat bersamaku, dan saat aku tidak ada kamu tampak sangat bahagia" Tiba-tiba kata-kata keluar dari mulutnya.


"Dimana cincinmu? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memakainya?"


"Cincin? ahh kenapa? apa cincin itu sangat penting sekali bagimu?" Ilene hanya bercanda dan tidak bermaksud untuk menyinggung Ariel.


Ariel tertawa tapi entah apa dibalik tawanya itu "Jadi bagimu cincin itu tidak penting? Apa karena itu kamu tidak memakainya? Jika cincin itu tidak penting maka pernikahan ini penting begitu?" Ariel menahan emosi dan nada bicaranya.


"Ada apa denganmu?"


"Dimana cincin itu?"

__ADS_1


"ehh aku tidak tau tapi tadi aku mema.."


"Tidak tau?" Potong Ariel. "Apakah bagimu hubungan kita lelucon? Kenapa kamu tidak pernah menghargai hubungan kita, bahkan kamu tidak bertindak seperti seorang istri dan sekarang cincin pernikahanmu hilang dan kamu hanya biasa saja tanpa merasa khawatir atau sedih sedikit pun" Intonasi biacara Ariel menaik karena kesal.


"Jadi kamu marah hanya karena cincin itu? Cincin itu hilang Al, hilang. Bukan aku yang membuangnya jadi kenapa kamu malah menyalahkanku?" Wajah Ilene juga berubah menjadi kesal karena dia tidak suka disalah-salahin begini padahal dia sedang berencana melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang istri yang baik bagi Ariel.


"Jika saja kamu tidak membiarkan dan tidak melantarkan cincin itu, andai saja jika kamu menyayangi cincin itu dengan sepenuh hati dan andai saja kamu terus memakainya maka cincin itu tidak hilang." Ini baru pertama kali Ariel terlihat marah.


"Apa hanya karena cincin itu kamu memarahiku ha? Enak saja kamu menyalahkanku sesuka hatimu" Ilene yang merasa kesal mengikuti nada bicara Ariel.


"Cincin itu simbol, simbol pernikahan, orang lain akan mengetahui jika kamu sudah menikah jika melihat cincin yang melingkar ditanganmu. Tapi kamu tidak karena aku tau selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai suamimu dan kamu tidak pernah mencintaiku bahkan sedikit pun. Karena katamu hubungan kita hanya sebatas di atas kertas tapi pernikahan yang kita lakukan itu di akui oleh semua orang tapi kamu tidak pernah mengakuinya, dan jika memang kamu tidak pernah mencintaiku setidaknya kamu menghargai pernikahan kita" Ariel pergi dengan air mata yang berlinang, entah kemana dia akan pergi yang jelas dia pasti mencari udara segar.


Ilene merasa kesal dan marah, berani-beraninya dia menyalahkan dirinya di saat dia berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik dan berusaha untuk melupakan masa lalunya.


Dia turun ke bawah dan berjalan menuju dapur, dia ingin membuang makanan yang dia masak tapi hal itu dia hentikan karena Valen duduk dan terus menatap makanan yang dia buat karena Ilene tadi menyuruhnya untuk menjaga makanan itu.


Ilene mengangkat piring itu dan mengangkatnya ke tempat sampah tapi tiba-tiba suara Balen menghentikannya.


"Kenapa kamu membuangnya? " Tanya Valen.


"Aku tidak suka melihatnya" Jawaban itu tidak dimengerti oleh Valen.


"Padahal aku sangat lapar, bolehkan aku memakannya? "


Ilene menatap Valen " Makanan ini? Lihat lah lebih jelas, ini terlihat seperti sampah" Ujar Ilene.


"Aku tidak peduli, asal kamu yang memasaknya, bahkan jika kamu menghidangkan sampah atau air Parit hahaha"

__ADS_1


Ilene mendengarnya sebagai sebuah lelucon tapi itu bisa saja kenyataan bagi Valen, seperti kata orang cinta membutakan segalanya.


"Baiklah jika kamu mau" Ilene memberi makanan yang dia masak kepada Valen dan tentu saja Valen bahagia.


__ADS_2