
Di ruangan Tempat Zira di pindah kan Tadi, Dia sudah mulai sadar kan diri.
Zira langsung mendudukkan Dirinya" Aku di mana" Gumam Zira.
" Kau Sudah bangun" Tanya ILham melangkah mendekati Zira berusaha menahan Diri Agar tidak memeluk Istrinya. Dia sangat merindui Istrinya. Tapi mengingat pesan dokter tadi, Dia takut jika Akan membuat Zira Kaget Atau mengingat Masa Lalunya Lagi Yang Akan membahaya kan ingatan Istrinya.
Zira Melihat Pada Suaminya. Kemudian mulai menurun kan Tubuhnya dari brankar Rumah Sakit.
" Kau Mau Kemana, Jangan Banyak Bergerak Dulu " Kata ILham ingin Memegang Tangan Zira Untuk menahannya.
Zira Langsung Menatap tajam Pada ILham Yang Ingin menyentuhnya. " Om Jangan Sok kenal Deh" Ketus Zira melototi ILham.
Walau pun dia Amnesia, Sikapnya ternyata tidak berubah. Batin ILham terbengong melihat istrinya.dan kembali menarik tangan nya.
Zira melangkah keluar dari ruangannya dan melihat ternyata di luar sudah gelap. Zira sudah pingsan beberapa jam yang lalu. ILham masih membuntuti istrinya.
" Aku akan Mengantar mu Pulang" Kata ILham menawar kan diri sambil melihat Ke arah perut Zira Yang sudah Ketara.
" Nggak Usah" Jawab Zira Cuek.
" Tapi aku memaksa" jawab ILham menjaga jarak dari Zira, Dia ingin pelan pelan mendekati istrinya.
" Tapi aku tidak mau Di paksa" Kata Zira lagi masih terlihat Cuek.
__ADS_1
ILham menahan tawanya mendengar jawapan istrinya dan melihat Wajah Cuek Istrinya yang Sangat Imut, Karena Tubuh Zira memang berisi semenjak dia hamil.
" Ini Sudah gelap Loh, Di luar banyak penjahat Loh" Ujar ILham Lagi mencoba Untuk menakuti istrinya.
" Bukannya Om sendiri penjahatnya" Jawab Zira Membuat ILham Lagi lagi ingin tertawa.
Tapi tunggu, Apa tadi, Om? Ganteng begini di bilang Om? Apa selain ingatannya yang hilang, matanya Juga bermasalah. Batin ILham Lagi.
Tiba Di luar rumah sakit, Ternyata sangat Sunyi.
Zira Tiba tiba teringat pada bahan belanjaannya tadi sore. Zira kembali menatap Tajam Pada ILham. " Om Kemanakan bahan belanjaan ku Om " Tanya Zira penuh Selidik.
ILham terdiam sebentar dan mengingat bahan belanjaan Zira yang dia lupa di hadapan restoran tadi karena buru buru.
Buk !
" Arg" Ringis ILham karena Zira meninju Bahunya.
" Om Apa apaan Sih, Udah Main sosor peluk peluk aku tadi, Eh bahan belanjaan ku di tinggal lagi, Pake Beli itu Tu, Uang terbatas tau Hiks Hiks "Marah Zira sambil menangis kesal pada ILham. Zira berjongkok dan menangis seperti anak kecil.
" Jangan menangis... Kandungan mu akan Sesak jika kau duduk seperti itu. " Lembut ILham Meraih tubuh Zira agar berdiri semula.
Zira berdiri Dan masih Menangis. ILham mengambil Uang tunai yang berada dalam sakunya.
__ADS_1
" Segini Cukup Untuk menggantikan Uang bahan Belanjaan mu tadi" tanya ILham Memberikan Zira Uang satu juta lebih. Karena hanya itu yang berada di sakunya.
Zira langsung menarik uang dari tangan ILham dan menghitungnya. " Kurang" Ujar Zira mengada kan tangan nya pada ILham kembali meminta uang.
" Kurang Barapa" Tanya ILham.
" Kurang Satu ribu" Jawab Zira Yang membuat ILahm menepuk Jidatnya sendiri karena hanya kurang satu ribu Rupiah tapi Zira Masih mempermasalahkannya.
ILham mengambil black card nya dan memberi kan pada Zira. " Pakai ini saja" Kata ILham.
" Mau ku apakan itu, Aku tidak pintar menggunakan yang begituan" Kata Zira Melangkah ingin mencari ojek atau angkot Dan mengabaikan ILham.
ILham kembali mengikuti langkah istrinya dan memasukkan semula Kartu nya. Dia tidak ingin memaksa Zira untuk mengambil kartu nya karena mengingat pesan dokter tadi.
" Ngapain ikutin Aku terus sih" Kata Zira dengan nada tidak suka saat ILham terus membuntuti nya seperti ekor.
" Aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana? Kasihan kan dengan bayi yang berada di kandungan mu malam malam Begini" Tawar ILham lagi.
Zira berfikir sebentar kemudian melihat penampilan ILham yang sangat rapi dengan setelan jasnya, mulai dari atas sampai bawah, Dan dari bawah Sampai Atas lagi.
Tidak terlihat seperti orang jahat. Batin Zira.
" Baik Lah. " Jawab Zira yang membuka ILham tersenyum tipis.
__ADS_1