Main Cantik Membalas Suami Pelit

Main Cantik Membalas Suami Pelit
Tanah Gusuran


__ADS_3

"gila kamu mas, bilang aku tante girang! pake otak kamu. kamu kira berapa uang bulanan yang kamu kasi ke aku? aku juga cari uang sendiri mas, gak usah sok bilang suka polos, apa adanya. kamu kira mataku buta saat kamu melihat wanita-wanita di luar dengan dandanan menor dan seksi iler kamu tu sampe jatuh"


Segera ku tinggalkan kamar tak lupa Ki banting pintu sekuat-kuatnya, dan berjalan menuju kamar anak-anak.


"lah.. kok dia marah, aku kan cuma menasehati" ucap Angga berbicara pada dirinya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dongkol itu lah yang ku rasakan saat ini, pagi sebelum berangkat mengantarkan anak-anak sekolah. Mas Angga berjanji akan mengantarkan kami ke rumah kedua orang tua ku.


Ia tak ingin aku mengendarai sepeda motor dengan membawa anak-anak, jarak rumah kami dengan kedua orang tua ku lumayan jauh, sekitar dua hingga dua setengah jam.


Padahal anak-anak sudah semangat menunggu kedatangan ayahnya kembali dan mengantarkan mereka ke rumah eyang nya.


Dari jam dua hingga kini jam empat sore belum juga nampak batang hidung mas Angga, bahkan telepon ku pun di abaikan nya.


Setelah nya aku memilih untuk menyewa mobil milik tetangga yang kebetulan memang sering menyewa kan mobil dengan atau tanpa sopir


Tepat jam lima kami berangkat menuju ke rumah orang tua ku. Kami tiba di kota S tepat azan isya, jalanan belum terlalu penuh dan macet.


Biasanya weekend begini arus lalu lintas di kota kelahiran ku akan ramai, namun sore ini tidak begitu ramai, jadi perjalanan kami hanya di tempuh dua jam.


Aku mempersilahkan Pak Eko masuk ke rumah orang tua ku, kami pun makan malam bersama terlebih dahulu.


Barulah setelah itu Pak Eko pamit kembali pulang ke rumahnya.


"sekali lagi terima kasih pak Eko, maaf merepotkan dan saya juga mendadak minta tolong nya" ucapan ku.


"gak apa-apa Bu Kinan, Alhamdulillah rejeki buat anak-anak saya, kebetulan seminggu ini rental saya sepi. padahal anak-anak sudah minta bayaran sekolah"


Aku pun membawa kan beberapa sayur, lauk dan kue yang sudah ibu kemas untuk di bawakan ke pak Eko.


Untuk ungkapkan terima kasih sudah mengantarkan anak cucunya.

__ADS_1


"Pak Eko ini ada titipan dari ibu buat Bu Tami sama anak-anak" ucapku lalu menyodorkan dua kantong plastik putih kepada pak Eko.


"Ya ampun ibu kenapa repot-repot" ucap pak Eko, ia menyalami ibu serta ayah yang ikut keluar mengantarkan kepergian pak Eko.


"Ndak apa-apa Nak Eko, dari pada nanti sisa banyak gak kemakan mubazir!,


"ibu masak banyak, biasanya suami Kinan suka masakan ibu dan makan nya lahap sekali, maka nya ibu masak banyak,


"eh... ternyata gak bisa antar karena banyak kerjaan, ya sudah itu jadi rejeki Nak Eko" ucap ibu ku.


Ibu memang begitu menyayangi mas Angga. Mas Angga sebenarnya laki-laki yang baik hanya saja sifat pelit nya yang sekarang makin menjadi jadi, entah karena apa? bahkan yang bulanan ku bisa bisanya terus berkurang.


Seandainya aku belum tau gaji mas Angga yang besar, mungkin saat ini aku masih berusaha mati-matian untuk membantu perekonomian rumah tangga kami.


Namun sekarang uang yang ku hasilkan, aku tabung sendiri untuk masa depan anak-anak, begitu juga uang hasil jarahan simpanan Mas Angga.


Dosa bicara tentang dosa biarlah dosa ku tanggung, aku tau mencuri itu adalah dosa. Aku pernah membaca suatu artikel di medi sosial tentang hak istri dan boleh kah istri mengambil uang suami yang karena pelit.


Buya Yahya adalah pengasuh pondok pesantren Al Bahjah, dan penjelasan beliau diunggah ke sebuah video di kanal YouTube Al-Bahjah TV pada 29 September 2021.


['ya Allah ampunilah dosa hamba, jika hamba menjadi istri yang durhaka pada suami'] doa ku ucapkan dalam hati.


Aku harus mulai menabung dan mengumpulkan uang dari sekarang, karena Kenan ingin melanjutkan ke pondok pesantren setelah lulus SD.


Semoga Allah memudahkan segala langkah ku.. amin. ucapku dalam hati.


"Ayo nduk masuk rumah, kenapa malah ngelamun aja" ucapan ibu menyadarkan ku dari lamunan ku tentang rumah tangga ku.


"iya Bu" aku pun berjalan mengikuti langkah ibu di depan ku.


Hingga jam sembilan malam anak-anak tidur pulas di kamar ku dulu, sebelum menikah dan pernah aku tempati bersama mas Angga selama satu Minggu.


Aku melihat handphone ku dari tadi namun tidak ada pemberitahuan dari mas Angga sama sekali. mencari kami, menanyakan kabar, apalagi meminta maaf karena lupa untuk mengantar anak istri nya ke rumah mertua.

__ADS_1


Berubah! memang benar-benar sudah berubah, watak dan sifat asli mas Angga benar-benar tidak ku kenali lagi.


tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu, "nduk kamu sudah tidur belum?" suara ibu setelah nya terdengar.


Aku turun dari ranjang dan segera membuka pintu kamar ku.


"ada apa Bu?"


"ibu bapak mau ngobrol sama kamu nduk! anak-anak sudah tidur?" tanya ibu, beliau melongok kan kepala nya ke arah ranjang tidur ku.


"sudah Bu! ayo lah, bapak dimana?" tanyaku, lalu menuntut beliau menuju ruang keluarga setelah ibu memberitahu bapak ada di ruang keluarga.


Kami pun mengobrol kesana kemari.


Ibu dan bapak menanyakan semua kegiatan ku serta anak-anak.


"bapak mau ngomongin sama kamu nduk, tanah bapak yang di dekat jurang terkena gusuran pabrik textile,


bapak dapat gusuran sekitar dua setengah milyar. Bapak paling banyak nerima uang nya, karena tanah bapak adalah tanah utama yang akan dibangun pabrik"


"rencana bapak, mau kasih ke kamu dan adik kamu Fadhil. sebenarnya bapak mau kasi tau ke Angga juga biar kalian bisa buka usaha di dekat rumah kalian"


"JANGAN PAK" spontan aku berbicara agak berteriak ke bapak.


Membuat bapak dan ibu terkejut lalu saling memandang.


"kalian ada masalah nduk?" tanya ibu, "ibu perhatikan dari kamu datang, kamu kebanyakan melamun" lanjut nya.


Akhirnya mengalir lah cerita ku ke kedua orang tua ku. Sebenarnya aku tak mau bapak dan ibu tau masalah rumah tangga ku, tapi melihat bapak yang mengatakan ingin memberikan uang hasil penggusuran kepada mas Angga membuatku benar-benar tidak rela.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2