Main Cantik Membalas Suami Pelit

Main Cantik Membalas Suami Pelit
Slip gaji di saku celana


__ADS_3

"Ibu..! ayo berangkat sekolah", ucap Anggi putri bungsu ku, yang membuat lamunanku sekita buyar, saat memikirkan bagaimana mengelola keuangan yang hanya tinggal satu juta rupiah saja.


"Sholehah nya ibu sudah selesai sarapan nya" ucapku yang kembali memperhatikan putriku yang ternyata sudah selesai dengan sarapan pagi nya.


"sudah ibu! ayo kita berangkat sekolah?" ajak nya kemudian.


Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan bagaimana cara membagi uang satu juta yang ada di dompet.


'bayar listrik dua ratus lima puluh ribu, bayar PDAM seratus ribu, beras dua ratus lima puluh ribu untuk jatah satu bulan, total sudah enam ratus ribu',


'Belanja susu, sabun mandi, deterjen dan kawan-kawan nya, paling tidak lima ratus ribu untuk satu bulan. sudah pasti minus seratus ribu rupiah',


'untung saja uang saku dan bayaran sekolah Kenan, mas Angga yang urus kalau tidak bisa tambah pusing kepala ku' batin Kinan dalam hati.


Hingga ia tiba di pintu gerbang sekolah Anggi. Ia pun turun dan mengantarkan Anggi hingga ke dalam kelas dan memastikannya putri bungsu nya duduk dengan tenang, dan mulai sibuk bermain dengan teman-temannya, barulah Kinan meninggalkan sekolah Anggi.


Kinan pun segera ke arah beberapa warung yang ia titipkan snack kering, untuk mengambil uang hasil penjualan dan juga mengganti snack yang sudah lama.


"Pagi Bu Endar!". Sapa Kinan ketika memasuki warung makan yang lumayan ramai di pagi hari, karena adanya serbuan dari orang-orang pencari sarapan pagi yang tidak sempat memasak.


"Pagi mbak Kinan, Alhamdulillah mbak Kinan snack yang sus kering dan keripik tempe nya habis, tapi untuk keripik singkong nya masih ada sisa" ucap Bu Endar memberikan penjelasan.


"Alhamdulillah rejeki anak-anak Bu!" ucap Kinan sembari menengadah kan kedua tangan nya.


"oh.. iya Mbak Kinan besok Minggu saya mau pesan sus kering nya seribu pcs bisa gak ya?" tanya Bu Endar.


"Masya Allah.. seribu pcs Bu Endar?",


"banyak sekali Bu Endar untuk acara apa?". tanya Kinan seolah-olah tidak percaya disaat dia bingung dengan keuangan nya, Allah mendatangkan rejeki yang tak terduga.


Allah maha baik, Allah maha besar, Allah mengetahui setiap apa kesulitan hamba nya.


"Ada acara ulang tahun bos besar pabrik garmen mbak Kinan, katanya sih sekalian dengan ulang tahun pabrik garmen yang ke dua puluh lima tahun, sultan mbak, bahasa gaulnya" ucap Bu Endar di sela tawa nya.

__ADS_1


"mereka pesan Snack box di saya sama nasi box nya juga, sebenarnya bisa saya bungkus sendiri sus kering nya, tapi tenaga nya sudah tidak mencukupi mbak Kinan!" ucap Bu Endar.


"terimakasih ya Bu Endar untuk berbagi rejeki nya, kira-kira jam berapa saya antar sus kering nya?" tanya Kinan.


"Bagaimana kalau mbak Kinan antar nya Sabtu sore, soalnya Minggu pagi sebelum jam enam Snack nya sudah di ambil, kalau untuk nasi box gak terlalu pagi mereka ambil, kemungkinan di ambil agak siangan sekitar jam sepuluh atau jam sebelas"


"Baik lah kalau begitu Bu Endar, saya pamit dulu mau lanjut nitipin jajanan lagi"


Kinan pun berlalu dari warung Bu Endar setelah mendapat uang pembayaran dari jajanan Snack yang habis dan juga DP atau uang muka pesanan sus kering.


Kinan mendapat pasokan sus kering dari sahabat SMA nya, yang memang memproduksi sus kering dan sus basah.


Hanya saja Kinan menjual sus kering nya saja, maka dari itu sus kering yang ia titipkan selalu habis karena memang produk baru sehingga rasanya masih renyah, krispi, enak dan gurih, tidak apek seperti kebanyakan penjual Snack kiloan, yang entah sudah berapa lama mereka kulakan.


Untuk keripik singkong dan keripik tempe Kinan juga memiliki pemasok sendiri, yang dia datang kan langsung dari kampung halaman nya.


Tentu saja Kinan lah yang memiliki produksi keripik singkong dan keripik tempe nya yang ada di kampung halaman nya, tanpa sepengetahuan suami nya Angga. produksi keripik tempe dan keripik singkong sudah dia jalani sekitar satu tahun yang lalu.


*


*


*


*


*


Setelan satu jam berputar putar dari warung satu ke warung yang lain, akhirnya Kinan sampai di rumah.


Ia harus segera mencuci pakaian agar tidak ketinggalan cahaya matahari, sehingga baju yang kering langsung bisa ia setrika pada waktu bangun shubuh sebelum memulai masak untuk sarapan pagi.


Kinan mulai memilah-milah pakaian yang putih dan yang warna, pakaian batik sang suami juga dia sendiri kan takut bila luntur.

__ADS_1


Tak lupa pula Kinan merogoh seluruh saku celana dan baju, terutama milik suaminya. Dia takut kalau semisalnya ada barang penting yang tertinggal di dalam saku.


Kinan sedikit memicingkan mata nya untuk melihat kertas yang ada di saku celana suaminya, yang ternyata adalah slip gaji bulan ini.


Sungguh syok Kinan melihat angka yang berjajar di slip gaji tersebut. Yang selama ini dia kira ada tujuh digit, ternyata sudah bertambah menjadi delapan digit.


Ingin rasanya Kinan menangis, gaji sepuluh juta dan dia hanya di beri satu juta.


Beberapa kali ia mengucek matanya nyatanya nama suami nya Anggara Wicaksono yang tertera, beserta jabatan sebagai kepala pengawas atau supervisor dan juga tanggal gajian bulan tepat bulan ini.


'Sudah berapa lama mas Angga mendapat gaji sebesar sepuluh juta, kenapa dia tidak diberi tahu’,


'Lalu, kemana sisa sembilan juta lainya?' banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak Kinanti.


"Tega sekali kamu mas, aku pontang-panting mencari uang tambahan untuk keperluan rumah tangga, tapi ternyata kamu menyembunyikan gaji kamu yang banyak ini mas!" ucap Kinan, bermonolog sendiri.


Sesak di dada dia rasakan, kenapa bisa sepelit itu suami nya. Padahal Angga bila makan harus ada yang amis entah itu telur, ayam atau daging.


Angga akan protes bila di suguhkan sayuran saja.


Akhirnya pun Kinan menyimpan slip gaji tersebut di bawah tumpukan pakainya. Dia akan bersikap biasa saja, namun dia akan memulai akal licik nya membalas perbuatan suaminya Anggara.


Selesai mencuci Kinan pun memasak seperti biasa nya. kemudian ia menghubungi Tyas sahabat nya untuk memesan sus kering pada hari Jumat agar bisa ia cicil pesanan Bu Endar, sekaligus untuk membungkus Snack yang ia titip-titipkan.


Di benak Kinan kini berjibun segala macam cara untuk membuat suaminya jujur dan berterus terang kepada nya.


Mungkin bisa dia mulai dari kebutuhan kamar mandi, kebetulan sabun mandi dan odol habis. Belum lagi deterjen serta pewangi pakaian nya juga sudah hampir habis.


"Permainan di mulai suami ku sayang, karena kamu yang memulai maka aku hanya bisa mengikuti. Aku wanita Sholehah dan murid yang baik jadi meniru apa yang suami ku ajarkan!", "pandai sekali bukan?" ucap Kinan bermonolog sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2