Main Cantik Membalas Suami Pelit

Main Cantik Membalas Suami Pelit
Sekamar dengan Reni


__ADS_3

POV Angga


"mas Angga gak masuk?" tanya Reni saat tiba di pekarangan rumah nya,


"gak usah aku tunggu di mobil aja, buruan kamu ambil berkas lamaran nya!" ucapku yang memang tidak suka basa-basi.


"masuk aja dulu mas, surat lamaran nya belum aku print kop surat lamaran untuk perusahaan tempat mas kerja juga belum aku ketik, nanti kelamaan mas nunggu di mobil!"


['huh... malas sekali rasanya, ingin segera pulang dan tidur. lagian kenapa sih mau nitip lamaran kok gak di buat lebih dulu'] aku hanya bisa ngomel dalam hati.


Mau tak mau aku pun turun dari mobil dan masuk mengikuti langkah Reni, ia pun mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.


Kulihat ia masuk ke dalam tak berselang lama ia datang membawa minuman dan camilan.


"ini mas aku buatin Teh hangat, sambil nunggu aku print dulu surat lamaran nya" Kulihat Reni beranjak ke arah pintu lain, mungkin kamar nya! entahlah aku tidak peduli.


Ku minum teh hangat yang di sediakan Reni, enak dan segar rasanya. Pandai juga dia meracik teh, aku pun mencomot camilan sus kering seperti yang biasa di bungkus oleh Kinan untuk di titip-titipkan ke warung.


Sudah setengah jam aku menunggu namun Reni belum juga keluar, bosan rasanya ingin pulang saja.


Segera ku minum lagi teh hangat yang dia buatkan. Entah mengapa tubuh ku merasa gerah ku buka dua kancing kemeja ku. Ku tenggak habis teh hangat untuk menghilangkan rasa panas.


Bukan nya hilang tapi makin panas tubuhku. kurasakan libido ku naik, ada hasrat yang minta di tuntas kan.


Ya ampun aku menginginkan istri ku Kinan. Aku beranjak dari tempat dudukku kemudian aku menyusul ke dalam ruangan dimana Reni masuk.


"Ren.. Reni..!" ku ketuk ketuk pintu kamar tersebut berharap Reni keluar.


"Reni cepat lah sedikit aku mau pulang" teriakku dengan tidak sabar. Dengan sekeras mungkin aku gedor pintu kamar milik Reni. Tubuh ku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, sudah benar-benar minta di tuntas kan.


'Ya Tuhan aku butuh istri ku saat ini, Kinan..' ucap ku dalam hati.


Kepala ku makin berdenyut nyeri saat Reni membuka pintu dengan kurang ajar nya Reni hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.

__ADS_1


Sudah pasti hanya menutupi sebagian tubuhnya, dada montok dan juga paha nya terekspos. Kurang ajar kamu Reni, berani sekali menggoda ku.


"Loh mas.. ada apa? maaf aku mandi dulu, soalnya gerah banget" dengan gaya manjanya Reni mengusap lengan Angga.


"wajah mas Angga kok merah, mas sakit?" tanya Reni lebih lanjut, ia pun memegang kening Angga dengan telapak tangan nya, dan dengan santai nya tangan tersebut langsung turun ke leher Angga.


Antara nafsu dan juga akal sehat nya, Angga memilih untuk menghempaskan tangan Reni, ia masih menghormati Reni, bagaimana pun Reni adalah anak dari sahabat ibu nya. Angga tidak mau terjadi apa-apa pada Reni, ia tidak ingin ibu nya kecewa.


Meskipun berat Angga menahan mati-matian nafsu birahinya. Ia juga masih ingat dengan Kinan istri yang begitu ia cintai. ia tidak mau Kinan kecewa dan meninggalkan nya.


"Maaf mas! mas Angga marah ya nungguin Reni, mas masuk kamar aja, itu belum Reni print surat lamaran kerja nya. Sini mas bantuin aku betulin dulu, aku takut kata-kata yang ku tulis kurang sopan"


Reni menggandeng tangan Angga agar masuk ke dalam kamar nya, bagai kerbau di cocok hidung nya. Angga menurut saja, bahkan ketika Reni mendudukkan nya di atas kasur Angga hanya menurut.


"Mas panas ya" ucap Reni ia menanggalkan satu persatu kancing kemeja milik Angga.


*


*


*


"aaaaaaaa..." suara teriakan Reni yang terbangun saat mendengar suara teriakan Bu Siska.


Reni terkejut mendapati ia tidur bersama Angga dengan keadaan tanpa busana.


Angga pun terbangun dengan kepala yang masih pusing dan terlihat linglung.


"ada apa ini?" tanya Angga yang masih belum sadar sepenuhnya. Ia memegang kepala nya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menetralisir rasa pusing.


"Mas Angga jahat, apa yang mas Angga lakukan padaku" ucap Reni ia memukul-mukul dada Angga.


"apa maksud mu Ren" tanya Angga, saat melihat tampilan Reni yang setengah toples barulah Angga sadar.

__ADS_1


Ia melihat keadaan tubuh nya yang tanpa busana dan juga Reni, barulah ia sadar apa yang terjadi.


"ini apa maksud nya, gak mungkin kan aku dan kamu?, tidak.. tidak.. ini tidak mungkin " ucap Angga menyangkal.


Siska dan juga Wulan mendekat ke arah Angga, Wulan pun memukul tubuh Angga dengan tas tangan milik nya.


"kamu ini benar-benar bodoh Angga, mengapa kamu memperkosa anak sahabat baik ibu" teriak Bu Wulan.


"jeng aku gak mau tau Angga harus bertanggung jawab, bagaimana nanti kalau Reni hamil, aku hanya seorang janda, dimana mukaku kelak jika orang-orang tau anakku hamil tanpa suami" ucap Siska yang tanpa berang, ia pun memeluk tubuh Reni.


"cepat pakai bajumu" Wulan pun menyerahkan baju serta celana milik Angga.


"mama tunggu kalian di ruang tamu" Wulan pun berlalu dari kamar Reni.


Siska membantu Reni mengenakan pakaian nya dan membimbing putri semata wayangnya untuk keluar kamar meninggalkan Angga yang masih termenung dengan sesekali menjambak rambut nya.


[ apa yang terjadi? tidak mungkin aku memperkosa Reni, aku tidak merasa melakukan nya. tapi bagaimana bisa kami berdua bisa tidur dengan keadaan tanpa busana ] Angga pun segera beranjak dari kamar Reni setelah mengenakan pakaian nya, dan berjalan menuju ruang tamu. Dimana Wulan, Siska serta Reni menunggu nya.


"Reni kamu pasti menjebak ku, aku ingat setelah minum teh dari mu, aku seperti terangsang, tubuhku panas dan ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu istri ku" ucap Angga yang langsung menuduh Reni.


"Tega kamu mas nuduh aku, padahal semalam kamu lah yang memaksa ku memenuhi kebutuhan biologis mu, kamu ambil keperawanan ku mas" Isak Reni makin menjadi jadi.


"Tidak aku yakin kita tidak melakukan perbuatan terkutuk itu" teriak Angga yang juga menyangkal.


"Kamu mau menyankal apa lagi Angga, mama dan Tante Siska melihat kalian tidur berpelukan tanpa busana. mama gak mau tau kalian harus menikah. Mama malu Angga sama kelakuan kamu" Wulan pun menyalahkan Angga sepenuhnya.


"jeng siska tolong cari penghulu sekarang, mereka harus menikah tidak masalah kalau hanya siri yang penting mereka sah dulu, supaya tidak melakukan zina lagi"


"mama.. mama tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Angga sudah punya istri, Angga mencinta Kinan ma, bagaimana nanti jika Kinan tau, Angga tidak mau kalau harus berpisah dari Kinan, Angga tidak sanggup ma" Angga yang berusaha menentang keputusan sepihak ibunya pun berdiri dan berjalan keluar rumah Reni.


"selangkah kamu keluar rumah ini sebelum menikah dengan Reni, mama pastikan kamu akan melihat mayat mama" ucap Wulan tegas, ia pun meraih pisau buah yang tersedia di meja.


"shittt..." umpat Angga

__ADS_1


©©©©©©©©©©


Bersambung


__ADS_2