Main Cantik Membalas Suami Pelit

Main Cantik Membalas Suami Pelit
Balada Sayur Bayam


__ADS_3

Malam pun tiba Kinan mulai menyiapkan makan malam untuk dia dan juga kedua anaknya.


Ada ayam goreng, tempe goreng, sambal bawang, serta sayur bayam. sengaja hanya menggorengnya dua paha ayam untuk kedua anakku.


"ibu.. Gia mau ayam goreng nya!" ucap Anggia sambil menunjuk paha ayam goreng. Kuletak kan paha ayam tersebut dan menyuwir-nyuwir daging tersebut dan menyisakan sedikit daging di tulang. untuk memudahkan Anggi makan.


Sedangkan Kenan ia lebih mandiri, sudah bisa mengambil makanan yang dia suka sesuai dengan porsi nya. melihat kedua anakku makan dengan lahap nya menjadi kebahagiaan untuk ku.


"ibu..! Kenan minta maaf Bu!" ucap Kenan setelah ia selesai makan. Ia menunduk kan kepala nya.


"minta maaf untuk apa nak?" tanyaku yang bingung dengan permintaan maaf nya.


"sepatu Kenan rusak Bu! jebol waktu jam olah raga, terus ada pertandingan sepak bola antar kelas" ucap nya, masih dengan wajah menunduk.


"Ya Allah nak...! kenapa mendadak ngomong nya? kok gak tadi pulang sekolah jadi kita bisa beli sepatu dulu, sekarang sudah malam, pasti agak sulit mencari sepatu yang Kakak inginkan" ucapku.


"Kakak mau beli sepatu sembarang saja , yang penting warna hitam Bu!" ucapnya.


"Ya sudah kamu siap-siap ambil jaket gih dan pake celana panjang, biar gak kedinginan waktu pulang nanti, pasti udah malam sekali, adek mau ikut gak?" tanya ku pada si bungsu dengan menggoda nya sedikit.


"atau adek di rumah aja ya nungguin rumah siapa tau nanti di bawa semut" ucapku dengan mencolek hidung mancung nya.


"ahh... ibu! adek ikut lah, masak adek di rumah, nanti kalau ada hantu gimana" ucapnya merajuk.


"ya ikut aja dek" teriak Kenan yang sudah berlari ke arah kamar nya.


"ibuuuu... kakak nakal!" teriak si bungsu.


"iya.. ayo kalau adek mau ikut, ganti celana panjang sama pake jaket" ucapku, kemudian membimbing nya masuk kamar dan mengganti celana tidur nya dengan celana panjang beserta jaketnya.


Tak lupa pula aku meminta ijin pada suami ku, sebelum berangkat lewat WhatsApp.


Sudah jam tujuh malam ketika kami bertiga keluar rumah untuk membeli sepatu. Sepanjang jalan anak-anak asyik berceloteh dan bercerita. Suara lebih di dominasi oleh bungsu ku, yang memang cenderung cerewet dan tidak mau diam. Berbeda jauh dengan kakak nya Kenan, yang lebih banyak diam.


*


*


*

__ADS_1


*


*


Sepulang nya kami dari membeli sepatu kulihat sudah ada mobil mas Angga di halaman rumah. entah lah jam berapa dia kembali, yang penting aku sudah minta ijin via WhatsApp.


"assalamualaikum" teriak si bungsu sedang kan Kenan dan aku hanya mengucap salam pelan-pelan.


"wa'alaikumsalam" jawab mas Angga dari dalam rumah.


"wuihhh... habis belanja nih!", ucap nya. ia pun menggendong bungsuku yang memang sangat dekat dan manja dengan ayah nya.


"Kak Kenan Ayah yang belanja! adek cuma lihat-lihat kok, kata ibu sepatu adek masih bagus. Uang ibu gak cukup buat beli sepatu dua. jadi ibu beli buat kakak dulu, soalnya sepatu kakak jebol yah waktu main sepak bola" cerita anak gadis ku mengalir begitu saja.


"anak ayah pinter ya!, kita harus hemat sayang, nanti ya kalau ayah ada uang pasti ayah belikan" rayu mas Angga, dan otomatis aku memcebik kan mulut ku.


'kudoa kan semoga uang mu hilang mas' batinku, sambil tersenyum berharap uang suami ku hilang, 'atau bila perlu aku tau akan aku curi saja.


Dosa gak ya?' batinku lagi.


"Mas.. sudah makan belum?" tanyaku.


"iya mas, aku juga lagi hemat kok! ayo mas makan dulu, aku temani! adek turun dulu ya! ayah mau makan, Kak bantu adek ya ganti celana sama lepas jaket nya" ucap ku pada si sulung.


Dengan sigap ia pun mengandeng tangan adik nya menuju kamar.


*


*


*


*


*


"loh dek ini kok cuma sayur bayam, gak ada lauknya" seperti biasa mas Angga akan protes bila sayur atau lauknya tidak sesuai dengan lidah nya.


"iya mas.. maaf! uang nya sudah habis" jawabku.

__ADS_1


"habis?????.... yang bener kamu dek, baru tadi pagi loh mas kasi satu juta," ucapnya. "jangan boros-boros lah dek, cari uang itu gak gampang, lagian kamu ini cuma masak sayur bayam kok sampe uang satu juta habis" tambah nya lagi.


"gampang kok mas! yang sulit itu menyembunyikan" jawabku asal.


"hahh..??? apa maksud mu?" tanya mas Bayu.


"gak ada mas, oh.. iya mas, aku minta uang buat beli sepatu Kenan, kasian tadi pulang sekolah nyeker gak pake sepatu" ucapku, ('lebay dikit gak apa-apa lah') batin ku.


"kok bisa nyeker, memang sepatu nya kakak kemana?" tanya nya lagi, masih dengan suapan makan nya.


"ya jebol lah mas, pas main bola sepatu nya jebol".


"wah.. harus nya guru olahraga yang tanggung jawab, bisa-bisanya murid ikut olah raga kok sepatu sampai jebol"


"gak usah ngada-ngada deh mas, memang sepatu kakak udah lama itu, sudah dari kelas empat Lho... bagus aja Kakak gak protes walaupun sedikit sempit di pake"


"ya sudah nanti aku kasi dua ratus ribu"


"loh kok dua ratus mas, uang yang mas kasih kemarin sudah habis loh!"


"ya sudah nanti mas tambah jadi Lina ratus, tapi bulan depan jatahmu mas kurangi tiga ratus"


"kok bisa? mas kasi satu juta aja kurang masih mau di kurangin tiga ratus ribu"


"dek..! kita harus hemat, gaji mas cuma dua juta, belum lagi kasi uang saku buat Anita, belum lagi jatah untuk mama"


"mas tu aneh ya, sudah puluhan tahun kerja Kon gaji gak pernah naik, resign aja mas, pinda tempat kerja"


"ya gak bisa gitu dong dek, kamu kira gampang cari kerjaan. udah lah gak usah banyak protes, pokoknya bulan depan jatahmu cuma tujuh ratus ribu. Lagian kamu juga menghasilkan uang sendiri kan? hasil dari jualan Snack yang kamu titip-titipkan bukan nya lumayan bisa buat belanja sayur " jawaban mas Angga sudah dipastikan, dia tidak mau kehilangan uang.


"ya sudah...! kalau mas nganggap uang lima ratus ribu yang mas kasi nanti di anggap hutang!, lebih baik mas kasi dua ratus nya saja buat beli sepatu kakak"


Setelah ia masuk kamar aku pun segera menyusul, namun bukan kamar kami yang menjadi tujuan ku, tapi kamar anakku Anggi lah yang aku tuju.


Enak saja dia mau minta jatah malam, memberi uang saja perhitungan. Apalagi sekarang aku tau dia menyembunyikan gaji nya yang banyak. Jangan harap bisa makan di rumah ini lagi.


Biar saja di anggap istri durhaka, siapa suruh jadi suami durjana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2