
"gak bisa gitu dong ma, kita gak tau apa yang akan terjadi ke depan nya. lagi pula mama kasi aku makan ayam dan daging hanya seminggu sekali tuh, setelah itu mama cuma goreng tahu, tempe atau telur" ucap Angga yang tak mau kalah.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Dasar nya keluarga kikir, apa-apa di perhitungkan. Gak anak gak emak sama-sama pelit, kikir dan perhitungan.
*
*
*
Sepulang menjemput Kenan, aku membawa anak-anak makan di restoran cepat saji berlogo kepala bapak tua.
anak-anak tentu saja sangat senang, sudah lama kami tidak makan di luar.
"ibu lagi banyak uang ya?" tanya putra ku Kenan.
"Alhamdulillah kak, ibu ada uang walaupun gak banyak tapi cukup untuk buat kalian senang"
"kalau gak ada gak usah jajan Bu, kita makan di rumah saja" ucap Kenan seperti ragu untuk masuk ke restoran cepat saji tersebut.
"iya ibu, di rumah ibu goreng tempe makan pake nasi panas udah enak Lo Bu" jawab putri bungsu ku.
['ya Allah nak, segitu takut nya kalian jika ibu mu ini tidak punya uang'], ingin menangis rasanya mendengar ucapan dan perhatian kedua anak-anak ku.
"tenang aja, ibu ada uang. Alhamdulillah ibu habis dapat pesanan kemarin, kalau ibu gak ada uang gak mungkin dong ibu ajak kalian kesini",
"udah ah.. ayo masuk, kalau gak mau ya udah pulang lagi lhoo" ucapku mengancam.
"mau Bu!" ucap mereka serempak langsung saja masuk tanpa menunggu ku.
Selesai makan, aku mengajak anak-anak kembali ke rumah. kami tiba di rumah ketika magrib, dan entah mengapa mas Angga bisa lebih dulu sampai di rumah.
Biasa nya sekitar jam setengah delapan atau jam delapan mas Angga sampai rumah. Gak biasa nya mas Angga sudah di rumah sebelum magrib.
"ayahhhh.." putri bungsu ku langsung memeluk mas Angga ketika melihat mas Angga duduk di ruang tengah di mana dia tengah menonton televisi.
"halo princess.. dari mana kok baru pulang?" tanya mas Angga.
__ADS_1
"habis jajan ayah, tadi adek, kakak sama ibu beli ayam kriuk" ucap nya. Masih nyaman duduk di pangkuan mas Angga.
"adek ganti baju, cuci tangan sama cuci kaki dulu, habis dari luar lohh... banyak kuman nempel di tubuh" teriak Kenan.
Aku memang membiasakan anak-anak menjaga kebersihan tubuh dan juga kebersihan rumah.
Jika dari luar rumah aku pastikan mereka harus cuci tangan dan cuci kaki terlebih dahulu.
"iya kak..", jawab Anggi.
Alhamdulillah anak ku rukun saling menyayangi. si kecil Anggi yang menurut pada kakak nya Kenan.
"kamu gak masak dek?" tanya mas Angga.
"enggak mas maaf!" ucap ku.
"ya sudah, mas masakin mie instan aja kalau gitu"
Tak membantah aku pun meng iyakan saja, tidak lupa sebelum nya untuk memberikan diri terlebih dahulu dan sholat maghrib. setelah nya barulah aku ke dapur untuk memasak.
"ini mas mie nya! dan teh hangat nya!" ucapku menyodorkan mie rebus serta teh hangat yang biasa aku sajikan ketika mas Angga pulang kerja.
"makasih dek!" ucap mas Angga. Dia pun mulai melahap mie rebus buatan ku.
"oh.. beli ayam tepung kesukaan adek" jawabku.
"jangan boros-boros dek, kemarin kamu bilang uang sudah habis kenapa malah jajan, makan diluar. coba uang nya tadi buat beli sayur dan lauk pasti bisa sampai seminggu" ucap mas Angga jumawa.
Aku pun malas menanggapi hanya diam saja. Entah mengapa tiba-tiba ibu mertua ku sudah berada di belakang kami.
"OOO... pantesan Angga lebih memilih makan di rumah mama daripada makan di rumah sendiri, di rumah cuma di kasi mie instan, sedang kan istri nya malah jajan dan makan di luar" ucap ibu yang tau-tau sudah di belakang kami.
Ahh... baru aku ingat aku lupa menuntup pintu gara-gara fokus ke mas Angga yang sudah sampai terlebih dahulu di rumah.
"Astaghfirullah mama.. kok gak ucap salam sih, masuk rumah kok langsung terobos aja, bikin kaget untung kami gak ada yang punya riwayat jantung" ucapku.
"dasar kalian aja yang budeg, mama sudah teriak-teriak manggil kalian, kalian gak ada yang dengar" ucap mama Wulan, tanpa di persilahkan dia duduk di sofa tunggal sebelah mas Angga.
"Nenek kan langsung masuk rumah tadi gak pake salam! adek lihat nenek tadi dari atas" ucap bungsuku yang baru turun dari tangga.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum melihat mata ibu mertua ku yang melotot ke arah Anggi, untung saja anak gadis ku termasuk anak yang cuek dan masa bodoh.
Sedangkan Kenan dia sudah duduk di samping ku, tidak melirik sedikit pun pada nenek nya.
"sayang kalian Salim dulu dong sama nenek" ucap ku, bagaimana pun juga orang tua di hadapan ku ini adalah nenek mereka.
Aku tidak mau di cap sebagai ibu yang tidak mengajarkan tata krama kepada kedua anak-anak ku.
Untung lah kedua anakku langsung kembali berdiri dan menyalami nenek nya, tak lupa mencium punggung tangan sang nenek.
"ihhh... nenek! tangannya bau busuk" ucap Anggi.
"adek.. gak boleh gitu" ucapku.
"memang bau kok Bu, tangan nenek bau terasi" ucap Kenan membenarkan, ucapan adik nya.
"iya nenek tadi habis makan nasi pake sambal terasi, nenek gak punya uang untuk beli lauk" jawab ibu mertua ku, seolah meminta di kasihani.
['hisss.. Miss drama mulai lagi, kumat!'], batinku.
"wah kasian nenek, tadi adek, kakak sama ibu, makan ayam kriuk di restoran" ucap Anggi.
['lah... dia malah pamer, ya ampun anak ku apa gak liat wajah nenek nya sudah merah, menahan marah'], batinku, namun ada rasa senang juga anakku bisa menjawab semua omongan nenek nya.
"kenapa tadi nenek gak di bungkus in" ucap mama Wulan.
"nenek kan banyak uang, beli sendiri dong, kasian ibu kalau harus beliin nenek juga. Belum lagi pasti nenek bilang jangan lupa beliin juga untuk tante Anita", jawab Anggi.
['hahahahaa....'], aku hanya bisa tertawa dan tersenyum sambil menunduk, sudah tidak sanggup melihat wajah ibu mertua ku.
Sedangkan mas Angga ku lihat hanya diam saja, masih menikmati mie rebus di tangan nya.
Terbuat dari apa otak suami ku ini, mendengar perdebatan anak dan ibu nya dia malah enak-enakan makan.
Tentu saja aku hanya geleng-geleng kepala.
"ibu sudah lah, sekali-kali biarlah istri dan anak-anakku makan di luar" ucap mas Angga setelah menghabiskan mie rebus milik nya.
['astaga..! ternyata suamiku bisa membela juga']
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung...