Main Cantik Membalas Suami Pelit

Main Cantik Membalas Suami Pelit
Wulan yang merajuk


__ADS_3

"hahahaha... uang yang dulu satu juta berubah jadi lima ratus ribu dan mama berharap Kinan punya tabungan, tabungan apa yang mama harapkan! bahkan Kinan rela berjualan aneka Snack yang Kinan titip titipkan di warung. Bukankah mama dan Anita sering menghina Kinan wanita kampungan tidak berpendidikan, rela berjualan dengan untung seratus dua ratus perak, anak mama yang pelit dan kikir itu apa mama kira mau ngasi semua gaji nya ke Kinan?"


"kamu.. kamu sembarangan ngatain Angga pelit, kikir.. huh.. sudah untung di nafkahi" balas mama Wulan sengit, ia sampai menunjuk nunjuk wajahku. dengan wajah merah padam"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Angga


['halo ma.. ada apa?']


Mama Wulan


[' Angga! istri kamu itu kurang ajar banget, sudah berani ngelawan mama ']


Angga


[' ma udah deh ngomel-ngomel nya Angga masih kerja ini, nanti ya Angga pulang ke rumah Mama' ]


Tut.. Tut.. Tut...


suara ponsel mam Wulan yang di matikan oleh Angga.


"dasar anak durhaka, belum selesai ngomong udan di matiin aja telepon nya " mama Wulan akhirnya ngomel-ngomel sepanjang jalan dari rumah Kinan menuju rumah nya.


"mama tuh ngapain sih baru datang muka udah bete aja" ucap Anita saat melihat mama nya datang tapi sudah mendumel sendiri.


"itu anak kampungan kurang ajar mama mau pinjam uang sepuluh juta katanya gak ada uang, kesal kan"

__ADS_1


"pinjam apa minta ma?" goda Anita yang sudah hafal dengan watak sang Mama yang selalu pinjam dengan berakhir meminjam selama nya.


"ugh... sama aja, dasar.. kamu itu ngapain jam segini masih di rumah, gak ngampus?" tanya Wulan, saat menyadari jika anak gadis nya masih di rumah sepagi ini.


"jadwal kuliah ku siang nanti ma, yang pagi di ganti sore, jadi santai dulu di rumah" jelas Anita, ia tetap asik dengan gawai nya.


"enak aja santai-santai sana cuci piring, hari ini si Sari gak bisa bantu bersih - bersih, anak nya lagi sakit" Wulan pun menarik tangan Anita menuju ke dapur.


" ihh... mama apa apaan sih, Anita gak mau ya kalau sampai kuku kuku cantik Anita patah, biaya perawatan manicure itu mahal" Anita pun melepas tangan Wulan yang menarik nya. ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi.


"besok kan bisa ma, biar aja di kerjakan bi Sari, mama juga mending ke pasar bantu papa cari uang yang banyak, biar gak sakit hati sama menantu kampungan mama karena gak di kasi uang buat bayar arisan " ucapan Anita semakin membuat Wulan naik darah, ia pun menggetok kepala Anita dengan kemoceng yang tergantung di sebelah pintu antara ruang dapur dan ruang makan.


'pletakk..'


"auww... mama sakit" teriak Anita, " Gimana kalau Anita Geger otaj terus jadi oon! mama gak malu punya anak oon?" ] ucap Anita sambil mengusap-usap kepala nya yang sakit.


"sekali lagi kamu ngomong ngebantah omongan mama, mama buat kamu geger otak beneran" ucap mama Wulan melotot ke arah Anita, membuat Anita kicep seketika.


"wa'alaikumsalam.., loh papa kok sudah pulang?" tanya Wulan, ia menyambut suami nya yang sudah ada di ruang keluarga.


"iya ma.. kepala papa pusing sekali " ucap Bondan, ia duduk di sofa dekat Anita lalu menengadah kepala nya ke atas bersandar pada sofa , berharap pusing nya sedikit berkurang.


"ini pasti darah tinggi papa kambuh" ucap Mama, Wulan pun segera masuk ke meraih kota P3K dan mencari obat darah tinggi milik suaminya.


Setelah nya berlalu untuk mengambil air putih. "kalian ngeributin apa tadi?" tanya Bondan, sebelum masuk rumah ia sempat mendengar suara keras istri nya , namun tidak begitu jelas.


"itu si mama, ngomel-ngomel karena gak di kasi pinjam uang sama mbak Kinan" ucap Anita ceplos tanpa beban.

__ADS_1


"uang? pinjam uang? kamu pinjam uang ke Kinan ma? untuk apa?" tanya Bondan.


"ya gantiin uang mama dong yang di pake Angga buat seserahan" jawab Wulan.


"seserahan? seserahan apa maka kamu ma?" seketika mama Wulan langsung terdiam, ia ingin sekali memukul mulut ember nya yang tidak bisa di rem sama sekali.


Wulan masih belum berani bercerita tentang pernikahan Angga dan Reni anak dari sahabat nya.


"eh.. enggak ada papa salah dengar itu buat bayar arisan iya bener buat bayar arisan" sanggah Wulan dengan cepat.


"kamu jangan macan macam Wulan, awas saja kalau ide gila kamu dulu yang mau menjodohkannya Angga dengan anak teman kamu, kamu lakukan " ancam Bondan.


"ihh... papa apa apaan sih, main ancam ancam segala mam gak suka ya" ucap Wulan ia pun merajuk dan langsung masuk kamar, tanpa memperdulikan suami nya yang sakit.


"Nita kamu tau kalau mama sering minta uang ke mbak Kinan?" tanya Bondan pada Anita.


"iya pa.. mas Angga juga tiap bulan kasi jatah ke mama dua juta, gak sama mama mas Angga juga kasi uang saku ke Anita satu juta tiap bulan" jelas Anita, Anita memang selalu Jujur kepada Bondan, seperti hal nya Bondan yang selalu mengajari arti kejujuran kepada Anita, agar supaya tidak menyesal di kemudian hari.


"mama kamu itu sungguh keterlaluan, anak sendiri kok di porotin, papa saja sudah kasi uang jajan khusus mama kamu lima juta, itu pun di luar uang belanja bulanan di rumah. masih saja kurang, sebenarnya buat apa coba mama kamu itu minta uang banyak?" ucap pak Bondan, ia memijit mijit tengkuk nya yang terasa berat di sertai kepala pusing.


"papa masih pusing" tanya Anita, yang di jawab anggukan kepala Bondan.


Anita pun mendekat ke arah Bondan, ia memijat kepala Bondan perlahan-lahan berharap menghilangkan rasa sakit kepala di kepala sang papa.


"sudah nit, papa mau tidur saja di kamar" ucap Bondan ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar.


Melihat ke arah Wulan yang berbaring memeluk guling, ia tau istri nya tengah merajuk tapi biarlah, kepala nya saja sudah pusing dia tidak mau menambah rasa pusing dengan kesabaran nya merayu sang istri.

__ADS_1


©©©©©©©©©©


Bersambung.


__ADS_2