
"sudahlah mas, aku capek, ngantuk, lanjut besok kalau ngajak bertengkar!" jawabku lalu memejamkan mata.
Malas berdebat hanya ingin tenang dan damai itulah yang ku sayang saat ini. Aku kecewa dengan sikap mas Angga yang benar-benar perhitungan, pelit dan pilih kasih.
('sabar') itu lah satu-satunya kata yang bisa aku ucapkan saat ini, aku harus punya banyak tabungan agar bisa bertahan dan membalas rasa sakit ku pada mas Angga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kinan
[' assalamualaikum.. mas']
Angga
[' wa'alaikumsalam, ada apa dek, tumben telfon']
Kinan
[' mas rumah kita kemalingan mas']
Angga
[' kemalingan?, jangan nge prank kami dek']
Kinan
['ya ampun mas, ini kamar sama rumah acak-acakan, tapi yang aneh gak ada yang hilang mas semua aman, maling nya salah alamat mungkin mas, di lihat nya rumah kita bagus tingkat, padahal di dalam gak ada benda berharga selain cincin kawin yang aku pakai ini']
Angga
['ya sudah kalau gak ada yang hilang, gak usah koar-koar, dari pada kita malu sama tetangga karena gak punya apa-apa, sudah mas tutup telpon nya, mau lanjut kerja! assalamualaikum!']
Tanpa menunggu jawaban ku mas Angga langsung menutup telepon nya.
['ya sudahlah karena kamu gak peduli rumah kemalingan, aku fotoin aja ya mas buat bukti, bukti kalau aku yang ngobrak Abrik isi rumah, dan acak-acak kamar serta isi lemari, yang pasti ambil semua tabungan mu, tak pindahin ke bank biar aman'] ucap ku dalam hati.
Selesai menjadi fotografer dadakan aku menata kembali kondisi rumah yang aku acak-acak sendiri.
"Alhamdulillah seratus juta masuk kantong, maaf mas untuk masa depan anak-anak" ucap ku ber monolog sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dua Minggu setelah kejadian aku melapor rumah kemalingan.
__ADS_1
"Dek.. dek.." teriak mas Angga dari kamar.
"iya mas ada apa?"
"Kamu ambil uang mas?"
"uang? uang apa mas?"
"uang tabungan mas yang mas simpan di saku jaket parka yang banyak kantong nya"
"memangnya mas punya uang tabungan? kok aku gak tau, mas bilang kalau mas gak pernah punya uang sisa gaji, selalu habis untuk aku dan anak-anak, kok sekarang bisa ngomong uang tabungan?"
"ya Allah dek.. tolong jangan bercanda, uang nya banyak itu gak sedikit, kalau kamu mau kan tinggal minta dek"
"mas apa-apa an sih, tinggal minta? tinggal minta? minta apa? minta tambah uang belanja aja mas anggap hutang, giliran uang hilang tanya ke istri!"
"dek uang nya ada seratus juta Lo dek, mas gak main-main mas, itu mas simpan untuk kebutuhan mendesak, tabungan darurat! apa mas lapor polisi saja?"
"bangun mas..! bangun! jangan mimpi di siang bolong ngaku punya tabungan, ya lapor aja sama polisi sana biar ketahuan siapa yang tukang bohong nanti, gaji kecil ngaku punya tabungan seratus juta, gak ketinggian itu yang mimpi"
Kutinggal kan mas Angga dengan wajah bingung nya
['rasain kamu mas'] aku hanya senyum -senyum sendiri meninggalkan mas Angga yang masih di kamar, terlihat wajah nya yang syok, karena kehilangan uang tabungan yang di sembunyikan.
['maaf ya mas, karena kamu bilang itu kebutuhan darurat!! jadi tabungan nya aku simpan di bank ya, kasian gantung baju di lemari hampir patah saking berat menanggung beban'] aku tertawa cekikikan sendiri, sambil melanjutkan meracik masakan untuk besok pagi sarapan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
flashback
Ketika mas Angga berangkat kerja, bergegas pula aku mengantar kan Anggi, karena Kenan berangkat bersama mas Angga.
Setelah mengantar kan Anggi, gegas aku kembali ke rumah. karena kebetulan belum waktunya aku mengganti titipan aneka snack kering di warung-warung.
Kuambil pelan-pelan jaket yang ternyata lumayan berat. Aku heran kenapa aku tidak pernah tau mas Angga menyimpan uang di saku jaket parka yang memang tebal dan tidak pernah di pakai mas Angga.
Jaket nya memang terdapat banyak sekali kantongnya. Setelah ku rogoh semua saku sungguh aku syok, kukira hanya beberapa juta saja ternyata ada 10 gepok berisi masing-masing sepuluh juta.
['astaghfirullah.. mas.. mas.. bisa-bisa nya kamu nyembunyiin uang di dalam jaket.
Setelah nya aku pun mengacak-acak isi lemari tak lupa aku menggunakan sarung tangan yang sering aku pakai pada waktu naik motor, maklum lah aku berfikir untuk tidak meninggalkan jejak di jaket mas Angga.
Aku pun mengacak-acak ruangan tamu, namun tidak di kamar anak-anak yang ada di lantai atas.
__ADS_1
Setelah nya aku pun gegas menuju Bank, Alhamdulillah tidak terlalu banyak antrian bagian customer servis, hanya ada dua orang.
Setelah selesai menabung aku pun menjemput Anggi, yang kebetulan sudah waktunya Anggi pulang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Loh buk.. ini kok kunci pintu nya rusak?" tanya Anggi sewaktu aku serahkan kunci rumah padanya.
"masa sih dek, tadi pagi enggak kok" jawab ku, yang kemudian mendekat ke arah Anggi dan benar saja kunci pintu ku rusak.
[' sudah pasti rusak, karena aku sendiri yang merusak nya, Ya Allah ampunilah dosa hamba, hamba melakukan ini hanya untuk memberi pelajaran kepada suami hamba, agar Jangan pelit dan perhitungan pada istri dan anak'] ucapku dalam hati.
"astaghfirullah.. ibuuuuu.. kok berantakan semua ini kenapa?" tanya Anggi.
"waduh dek, jangan-jangan kita kemalingan, ayo masuk kita periksa ada yang hilang gak?"
Gegas ku gandeng Anggi masuk rumah, lalu mengecek semua keadaan rumah tak lupa aku foto, setelah nya aku pun menghubungi mas Angga.
flashback end.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kulihat mas Angga dengan wajah yang pucat keluar dari kamar, ia menuju ke ruang makan, dan duduk di kursi meja makan.
Kubuat kan segelas teh hangat untuk nya.
"dek waktu kamu telfon mas pas kemalingan itu, apa kamar kita juga di acak-acak?"
"iya mas.. bentar ya aku ambil handphone ku dulu, sempat aku foto kok kondisi rumah" aku pun langsung menuju kamar.
"nih mas.. foto-foto waktu rumah di obrak abrik, waktu kejadian aku pulang jemput adek sekolah"
"berarti Anggi juga lihat rumah berantakan?" tanya Angga.
"ya lihat dong mas, kan Anggi yang buka pintu tapi pintu udah rusak, Anggi juga yang bantu aku beres-beres rumah",
"isi lemari juga berantakan semua, tapi gak ada yang hilang, mungkin maling nya capek gak Nemu apa-apa!"
"ya Allah dek, maling nya udah Nemu uang tabungan mas dek, seratus juta dek" ucap mas Angga, ia menjambak rambut nya sendiri dan mengobrak -abrik nya, benar-benar frustasi suami pelit ku ini.
"Dasar maling sialan, kurang ajar!", umpat mas Angga.
['maling cantik mas'] batinku.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung...