
"saya terima nikah dan kawinnya Renitasari binti Sumardi, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"bagaimana para saksi.. SAH.."
"SAH" dengan selesai nya ucapan sah maka resmi pula pernikahan siri antara dua anak manusia yang sudah mendzolimi hati wanita lain tanpa sepengetahuan istri sah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"terimakasih mas kamu sudah mau bertanggung jawab" ucap Reni, saat ia mencium punggung tangan Angga.
Tidak ada raut bahagia di wajah Angga, perasaan bersalah dan berdosa pada Kinan istri yang selalu setia mendampingi nya. Walaupun sering protes masalah uang yang ia berikan, tapi Kinan tetap saja menerima apa adanya, ia bahkan bisa mencari tambahan untuk keperluan sehari-hari di rumah.
Kuakui jika wajah Kinan lebih cantik daripada Reni, tapi Reni pandai berdandan dan pasti wangi tidak bau bawang seperti Kinan.
Reni juga memiliki body yang sexy dan semox, jadi tidak sabar bagaimana malam pertama kami. dan
Aaahhhh.. aku lupa tidak ada malam pertama karena aku sudah mengamankan kesucian Reni yang tidak pernah aku ingat bagaimana rasanya sampai hari ini.
Beda jauh dengan Kinan aku selalu mengingat tubuh istriku saat pertama kali aku memperkosa nya.
Ya Tuhan aku memang laki-laki bejad dengan paksa mengambang kesucian istriku. Malah sekarang ketika aku bahagia bersama istri dan kedua anakku, aku melakukan kesalahan yang sama lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
flashback
"selangkah kamu keluar rumah ini sebelum menikah dengan Reni, mama pastikan kamu akan melihat mayat mama" ucap Wulan tegas, ia pun meraih pisau buah yang tersedia di meja.
"shittt..." umpat Angga, ia pun berbalik dan berjalan ke arah sang mama yang memegang pisau buah dan siap di gesekkan ke nadi nya.
"mama apa-apaan sih! mama tau aku sudah punya istri mana mungkin aku menikah lagi, dan Angga yakin kalau Kinan tidak akan pernah setuju aku menikah lagi"
"kalian cukup menikah siri, lagi pula sampai kapan pun mama gak akan pernah setuju wanita kampungan itu jadi menantu mama"
__ADS_1
"apa sih yang bikin Mama benci sama Kinan, padahal selama ini Kinan baik sama mama, Kinan sayang sama mama"
"stop Angga, tapi wanita kampungan itu sudah berani memisah kamu dari mama, dia bahkan membawa kamu pergi dari rumah mama" teriak Wulan Lantang.
"mama sadar ma, kami sudah berumah tangga, alangkah baiknya kami punya rumah sendiri "
"Halah.. rumah sendiri apa, itu rumah pemberian papa kamu"
"tidak masalah ma, itu hadiah dari papa untuk Kinan, Hadiah karena sudah melahirkan keturunan untuk keluarga Wicaksono "
"tapi mama tetap gak Sudi ngakuin wanita kampungan itu jadi menantu mama, bikin malu tau gak. Dandan gak bisa, wajah jelek, kucel. memang kamu gak malu apa jalan sama wanita kampungan itu, baikan juga Reni segala galanya. lulusan sarjana, cantik, pintar dandan"
Menarik nafas panjang dan mengeluarkan secara kasar. memang benar yang dikatakan mama, perbedaan Kinan dan Reni jauh berbeda.
"mama maunya apa?" mengalah dulu, dari pada mama makin ngotot malah beneran bunuh diri, bisa-bisa papa ngamuk ke aku.
"kamu harus bertanggung jawab sama Reni, bagaimana kalau Reni hamil atas perbuatan kamu, jadi kamu harus menikah dengan Reni"
"tapi ma!!"
Setelah debat yang panjang aku menyetujui untuk menikah dengan Reni. Maka dari itu hari Sabtu kemarin aku ijin tidak masuk kerja dengan alasan menengok mertua sakit di kampung, padahal kedua orang mertua ku sehat wal'afiat. ya Tuhan ampunilah hamba, sehat kan dan panjang kan lah umur kedua mertua hamba yang baik dan begitu menyayangi hamba.
Waktu seharian ku pergunakan bersama Reni, mama dan juga Tante Siska berbelanja berbagai seserahan dan mas kawin untuk Reni.
Tapi aku masih bersyukur mama rela mengeluarkan uang yang banyak, karena aku beralasan habis kemalingan di rumah uang tabungan raib semua.
Yah memang itu kenyataan nya, tabungan ku ludes di ambil maling.
flashback end
*
*
__ADS_1
*
Disini lah kini aku berada di rumah Tante Siska, kami hanya melangsungkan pernikahan siriku dengan Rena.
Ada yang membuat ku heran karena papa sama sekali tidak datang, apa papa tidak tahu, mana mungkin juga mama tidak memberi tau papa.
Di saksikan beberapa tetangga rumah tante Siska dan juga adik dari Tante Siska yang menjadi wali dari Reni, karena ayah kandung Reni, suami dari Tante Siska sudah meninggal.
Selesai ijab qobul kami mengadakan acara syukuran secara sederhana di rumah Tante Siska. Sore hari aku pun berpamitan pulang, namun lagi-lagi mama memarahi ku, dengan alasan kami pengantin baru. Mau tak mau aku tidur di rumah Tante Siska, walaupun tidur sekamar dan di ranjang yang sama, entah mengapa aku tidak berminat dan bernafsu untuk menyentuh Reni.
Tubuhku memang terasa letih sehingga aku langsung tertidur begitu tubuh ku menyentuh tempat tidur, walaupun aku melihat Reni keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingerie warna merah menyala. Tetap aku tidur seolah ada magnet yang menyatukan kedua kelopak mata ku.
*
*
*
"Loh Ren kamu kok keluar kamar, mana Angga" tanya Wulan saat melihat Reni keluar dengan kimono tidur.
"mas Angga tidur Tante"
"kok panggil Tante sih, panggil mama dong seperti Angga, ya gak jeng?" ucap Siska pada Wulan.
"eh.. iya sayang harus nya kamu mulai sekarang panggil mama ya!, sudah sana kamu susul aja Angga tidur, dusel-dusel aja di dekat Angga nanti juga terangsang" jelas mama Wulan.
"iya bener jeng, namanya laki ibarat kucing di suguhi ikan asin pasti di sikat" balas Siska.
"Iya sayang, lagipula kamu kan seksi, masih perawan lagi pasti bakal ketagihan nanti Angga, tapi kalau sudah berhubungan langsung di tutupin ya darah perawan kamu, takut nya Angga curiga waktu malam itu tidaklah terjadi apa-apa pada kalian" Wulan pun mengusap punggung Reni yang duduk di samping nya.
"iya deh ma, Reni ke kamar dulu" pamit Reni kemudian dia pun berjalan kembali menuju kamar milik nya.
"menyebalkan... masa iya malam pertama malah di tinggal tidur, apa gak terangsang gitu lihat aku pake lingerie seksi" Reni pun merebah tubuh nya di sisi Angga, kesal melihat Angga yang tidur nyenyak dan membelakangi nya.
__ADS_1
©©©©©©©©©©
Bersambung.