
Terbuat dari apa otak suami ku ini, mendengar perdebatan anak dan ibu nya dia malah enak-enakan makan.
Tentu saja aku hanya geleng-geleng kepala.
"ibu sudah lah, sekali-kali biarlah istri dan anak-anakku makan di luar" ucap mas Angga setelah menghabiskan mie rebus milik nya.
['astaga..! ternyata suamiku bisa membela juga']
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu itu Ngga jangan membiasakan anak-anak jajan sembarangan, gak bagus untuk kesehatan. Sudah benar itu istri kamu sering masak, ini kok malah enak-enakan jajan di luar" ternyata mama Wulan gak mau kalah.
"Nenek, kita jajan gak sering kok! baru juga tadi, ya kan Bu?" jawab Anggi.
Anggi si bungsu memang ceriwis, dan pandai. Dia cenderung tidak mau diam, selalu saja menjawab apa yang di rasa tidak sesuai dengan kenyataan, atau segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan nya.
Jadi mau bagaimana pun ibu mertua ku bicara, akan terus di jawab oleh Anggi. apalagi omongan ibu mertua terkesan memojokkan dan tidak sesuai kenyataan.
"Kamu itu anak kecil di nasehati ngeyel aja, ngebantah mulu" ucap mama Wulan sambil melotot Anggi yang duduk di pangkuan mas Angga.
"Yee... nenek Anggi tuh ngomong bener, kok di bilang ngeyel, ngebantah sih" jawab Anggi tak mau kalah.
"diam kamu anak kecil" bentak ibu mertua ku, akhirnya emosi yang di tahan pun meledak.
"nenek jangan marah Lo nanti lekas tua, ni Anggi kasi hadist ya 'La taghdob walakal jannah', jangan marah bagimu surga,... nah nenek ngerti gak"
Dasar anakku memang pandai sekali menjawab dan membuat nenek nya marah.
"ini ni pasti ajaran kamu Kinan, anak kecil sudah di ajarin ngebantah orang tua" tunjuk ibu mertua ku padaku.
Aku hanya diam malas membalas, namun lagi-lagi si Anggi yang menjawab.
"nenek jangan marahin ibu ya, Anggi itu belajar di sekolah, karena Anggi pinter makanya Anggi bisa jawab ucapan nenek, harusnya nenek seneng, bangga punya cucu pinter kayak Anggi"
"ma.. udah lah ma, jangan mojokin Kinan, gak apa-apa kan mereka sesekali makan di luar, toh gak setiap hari kok, Angga juga sudah lama gak ajak anak-anak jalan-jalan" jawab mas Angga.
"udah lah, mama kesini mau minta uang untuk Anita" ucap mama,
"loh.. ma.. kan Angga udah kasi uang jatah Anita kok minta lagi" ucap Angga, dia melirik ke arah ku seolah takut ketahuan.
"Adek ayo belajar dulu, kakak juga ada tugas gak, buruan jadwal dulu!" ucap ku
__ADS_1
Aku pun menurun kan Anggi dan membimbing nya ke kamar yang di ikuti oleh Kenan.
Aku tau mas Angga serba salah, ia takut ketahuan olehku perihal jatah gaji yang ia berikan ke ibu dan adiknya, yang memang sangat amat tidak adil bagiku.
*
*
*
*
*
"mama ini apa-apa an sih, sudah aku bilang jangan minta uang di depan Kinan, bagaimana kalau Kinan tau gaji ku yang sebenarnya!, memangnya mama mau jatah bulanan mama aku kasi ke Kinan?" ucap Angga berbisik.
"biarkan saja dia tau, mama gak mau tau kamu harus kasi uang ke mama, Anita merengek terus minta uang bayaran kuliah"
"iya.. iya.. mama baiknya tunggu di luar saja, biar gak ketahuan Kinan" ucap Angga yang memilih mengalah untuk memberikan uang yang di minta Anita pagi tadi.
Angga segera ke kamar ia mengendap-endap menuju kamar, dan mengambil uang yang ia simpan di saku jaket nya. Jaket lama yang tidak pernah di sentuh Kinan tentunya karena digantung dan di tutupi plastik oleh Kinan.
Kinan hanya tersenyum, setelah melihat kantong ajaib penyimpanan uang gaji Angga. Suami ku memang kolot dia akan mengambil semua uang gaji yang ada di ATM hanya menyisakan seratus atau dua ratus ribu. Mungkin ia takut, bila ketahuan olehku, jika aku memeriksa ATM nya.
['tunggu aja mas, tanggal mainnya!'] batinku.
Aku segera naik lagi ke atas ke kamar kedua anakku dengan berjinjit-jinjit supaya tidak terdengar oleh mas Angga, untunglah ibu mertua ku menunggu di luar rumah. Sehingga ia tidak melihat ku turun tangga.
*
*
*
*
*
"ini ma, lima ratus ribu. pokok nya bulan depan uang mama, Angga potong lima ratus ribu" ucap Angga
"eh... gak bisa gitu dong, jatah mama tetap utuh, kamu mau jadi anak durhaka! pelit dan perhitungan sama mama mu sendiri" ucap mama melotot, ia pun langsung merebut uang yang di beri kan oleh Angga.
__ADS_1
"pokok nya Angga gak mau tau ya, hanya bulan ini Angga melebihkan uang jatah untuk Mama dan Anita, lagi pula kios papa, mama kan juga masih menghasilkan",
Akhirnya mau tak mau Bu Wulan pun pamit pulang, ia juga sebenarnya takut ketahuan sang suami pak Bondan ayah Angga. Pastilah pak Bondan akan marah bila tau istri nya mengganggu ke uangan anak dan menantunya.
Berbeda dengan Bu Wulan yang sering minta uang, Pak Bondan justru menolak uang pemberian Angga.
Padahal jika di pikir-pikir uang bulanan dari pak Bondan untuk Bu Wulan sekitar lima juta, itu pun terkadang Bu Wulan masih sering minta lagi ini dan itu.
Kebutuhan dapur dan rumah hanya ambil di kios sembako milik pak Bondan, tanpa mengurangi jatah bulanan Bu Wulan.
Gaya hidup Bu Wulan yang hedon dan sok ngartis, apalagi perkumpulan arisan dengan ibu-ibu sosialita satu kali hadir saja lima juta, benar saja uang yang di beri pak Bondan langsung ludes.
*
*
*
*
*
"mama sudah pulang mas?", tanyaku saat masuk kamar melihat mas Angga sudah duduk di tempat tidur bersandar pada headboard.
"sudah dek" jawab nya masih asik dengan handphonenya di tangannya.
Aku pun langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Setelah nya langsung tidur membelakangi mas Angga.
"dek.. kamu marah, mas kasi uang ke mama?" tanya mas Angga.
"tidak, itu uang mas, terserah mas mau kasi ke siapa, toh gak ada artinya mau aku komplain seperti apapun, gaji yang mas kasi ke aku dan anak-anak gak akan nambah",
"sudahlah mas, aku capek, ngantuk, lanjut besok kalau ngajak bertengkar!" jawabku lalu memejamkan mata.
Malas berdebat hanya ingin tenang dan damai itulah yang ku sayang saat ini. Aku kecewa dengan sikap mas Angga yang benar-benar perhitungan, pelit dan pilih kasih.
('sabar') itu lah satu-satunya kata yang bisa aku ucapkan saat ini, aku harus punya banyak tabungan agar bisa bertahan dan membalas rasa sakit ku pada mas Angga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung...
__ADS_1