Mamah-mamah Muda

Mamah-mamah Muda
kesedihan Ratna


__ADS_3

Sudah beberapa hari Ratna tinggal di rumah ayahnya pak Tito, sejak beberapa hari yang lalu Zurio datang untuk menjemput Ratna tetapi mendapatkan penolakan sampai sekarang dia masih belum mengabari Ratna.


"Aduh kenapa mas Zurio sangat berubah yah, tidak pernah telpon, kirim pesan atau ke sini menjemput ku kembali, " gumam Ratna sendirian di dalam kamar.


Setiap satu jam sekali dia mencek telpon genggam miliknya berharap ada pesan singkat yang di kirim suaminya untuk menanyakan kabar atau memperhatikannya, tetapi semua ini terasa nihil karena tidak mungkin Zurio akan menghubungi Ratna.


"Kenapa kamu sangat gelisah seperti itu Ratna? Ada apa? " tanya sang ayah kepada Ratna.


"Engga papa ayah, cuman lagi liat-liat aja kok kali aja telpon masuk gitu," jawab Ratna yang tidak ingin ayahnya mengetahui kegelisahan hatinya.


Suasana rumah yang sepi dan kosong tidak ada yang mengajak dirinya untuk berbicara, beda sekali dengan di rumah suaminya selalu ada kecerewetan sang mertua ibu Ratih yang setiap kali menginginkan sesuatu selalu memanggil Ratna.


Akhirnya Ratna yang gelisah memutuskan untuk menghubungi Zurio lebih dulu melalui aplikasi pesan berwarna hijau,


Kring


Kring


Kring


Bunyi suara telpon genggam milik Zurio mulai berdering dan dia melihat di layar telpon ada nama Ratna istri ku.


"Hallo, ada apa Ratna kamu menelpon aku?" tanya Zurio saat menjawab telpon dari Ratna.


"Kenapa kamu cuek sekali sama aku mas? apa kamu tidak menginginkan aku untuk pulang ke rumah kita dan membiarkan aku berlama-lama di rumah," ucap Ratna yang sangat kesal terhadap Zurio.

__ADS_1


"Kemarin aku sudah menjemput kamu Ratna tetapi kamu menolak untuk pulang bersama ku itu salah mu sendiri," ujar Zurio yang sudah tidak perduli dengan keadaan Ratna mau pulang atau tidak.


"Sampai hari ini aku masih menunggu kabar dari kamu mas, tentang syarat yang aku ajukan untuk kita mengadopsi anak dari panti asuhan kenapa kamu memikirkan itu semua berlama-lama," tutur Ratna yang marah karena Zurio sangat cuek.


"Ibu tidak setuju Ratna kalau kita harus mengambil anak dari panti asuhan, aku tidak berani untuk menyetujui apa yang kamu inginkan tanpa restu dari ibu," ujar Zurio yang selalu beralasan bahwa ibu Ratih yang mengambil keputusan.


"Kenapa sih harus selalu menunggu keputusan dari ibu kamu terus mas, padahal yang menjalani itu semua kita berdua bukan ibu kamu, " ucap Ratna yang merasa sangat kesal dan marah lalu memutuskan telponnya secara tiba-tiba karena merasa sangat tidak di hargai sebagai seorang istri Ratna membanting telpon genggam miliknya.


Bruuuukkkk


Bunyi telpon genggam yang di lempar Ratna ke arah tembok dinding kamarnya.


"Aaaahhhh, kamu suami macam apa mas yang tidak pernah mau tau perasaan istri kamu sendiri yang kamu pikirkan hanya ibu mu, ibu mu dan ibu mu, " teriak Ratna dari kamar tidurnya dengan sangat nyaring sampai pak Tito mengetuk pintu kamarnya untuk melihat keadaan Ratna.


"Biarkan Ratna sendiri yah," pinta Ratna kepada pak Tito.


Kamar Ratna yang penuh dengan alat-alat make up dan kosmetik di lemari kaca, sekarang semuanya berhamburan di lantai karena atas kemarahan dirinya pada Zurio terlampiaskan dengan melempar barang-barang itu satu persatu.


"Ratna sudahi kekesalan mu terhadap Zurio, ayah sangat mengerti bagaimana perasaannya kamu saat ini pasti sangat merasa terpukul dan benar-benar merasa sangat hancur," ujar pak Tito yang mencoba menenangkan Ratna anaknya dari balik pintu.


Ratna hanya diam tidak ada satu kata suara pun yang keluar dari dalam kamar, akhirnya apk Tito mencoba mendobrak pintu kamar Ratna setelah beberapa saat suara keributan itu terjadi,


"Ratna apa yang kamu lakukan sampai semua tangan mu penuh dengan darah seperti ini." teriak sang ayah yang melihat Ratna mencoba melukai dirinya sendiri dengan pisau yang sangat amat tajam.


Pak Tito menggendong Ratna yang masih setengah sadar untuk membawa dia ke rumah sakit Harapan Kasih agar segera mendapatkan pertolongan pertama dari dokter.

__ADS_1


Hari sudah malam Pak Tito memberanikan diri untuk menyetir mobil Ratna yang sedang terparkir di halaman rumahnya untuk membawa Ratna ke rumah sakit,pak Tito yang sangat terburu-buru terpaksa membawa mobil dengan kecepatan 60km/jam untung saja malam ini jalanan tidak terlalu macet untuk menuju ke rumah sakit Harapan Kasih.


Suasana rumah sakit yang rada sedikit sepi hanya dua suster yang berjaga di depan, sementara dokter berada di ruangannya membuat pak Tito harus sedikit menggunakan tenaganya untuk berteriak memanggil dokter.


"Dokter," teriak pak Tito.


"Apa yang terjadi dengan wanita ini pak?" tanya seorang Suster kepada pak Tito karena melihat Ratna yang berlumuran darah di tangan.


"Tolong anak saya, tadi dia mencoba bunuh diri dengan senjata tajam dan mencoba melukai tangannya," ujar pak Tito.


suster menyuruh pak Tito untuk menaruh Ratna sementara di Ruangan unit gawat darurat (UGD), untuk menunggu Dokter yang berjaga malam ini datang menangani Ratna.


Suasana rumah sakit sepi sunyi senyap, pak Tito menunggu di ruang tunggu tepatnya di depan ruangan UGD hanya doa yang dia dapat panjatkan untuk Ratna agar anaknya bisa selamat. Meski pun perasaannya pada malam ini sangat amat tidak tenang karena tindakan Ratna yang konyol melukai diri sendiri dan hampir membuat nyawanya melayang.


Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 wib, pak Tito memutuskan untuk mendatangi Zurio di kediamannya ingin mengabarkan keadaan Ratna yang sekarang sedang di rawat rumah sakit Harapan Kasih, semoga Zurio masih memperdulikan Ratna karena semangat terbesar Ratna saat ini adalah jika melihat ke datangan Zurio.


"Mau apa kamu datang ke rumah ini pagi-pagi buta seperti ini?" tanya ibu Ratih kepada pak Tito.


"Aku ke sini ingin bertemu dengan anak mu Zurio, hanya ingin mengabarkan kepadanya kalau Ratna sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan kehadiran suaminya," ucap pak Tito.


"Aku sudah sama sekali tidak memperdulikan keadaan Ratna anak mu yang sangat tidak berguna itu," tutur kasar ibu Ratih yang menghina menantunya Ratna.


"Apa maksud kamu ngomong seperti itu, walau bagaimana pun Ratna masih istri dah Zurio dia berhak tau keadaan istrinya dan kamu tidak berhak menghalangi ku untuk mengatakan ini terhadap Zurio," ujar pak Tito.


Bagaimana kah kondisi Ratna di rumah sakit? Apakah Zurio masih ingin bertemu dengan Ratna setelah mengetahui Ratna sedang terluka parah di rumah sakit?.

__ADS_1


__ADS_2