
Damar yang mendatangi Laura pada malam itu yang telah menunggu dirinya di pinggir jalan sendirian mencoba menawarkan Laura untuk apa tidak sebaiknya malam ini Laura menginap saja di kediaman Damar.
Damar yang hanya tinggal sendirian di kontrakan kecil tidak terlalu besar membuat dia bisa mengajak Laura untuk tinggal sementara untuk malam ini di tempat Damar.
"Laura kenapa kamu pergi dari rumah malam-malam seperti ini, ada apa Laura apa kamu sedang bertengkar dengan suami kamu?" tanya Damar yang melihat Laura keluar dari rumah dengan membawa barang-barang yang cukup banyak.
Laura tidak bisa berkata-kata setelah kedatangan Damar dia hanya mampu memeluk Damar lalu menangis sekuat tenaga meluapkan rasa marah dan emosinya kepada sang suami dokter Rio.
"Aku tidak akan memaksa mu untuk bercerita sekarang Laura,sebaiknya tenangkan dulu hati mu dan pikiran mu untuk beberapa saat ini," ucap Damar yang mengerti perasaan Laura.
Laura pun akhirnya mengikuti Damar untuk pulang ke kontrakan Damar pada malam hari ini karena dia memang tidak ada arah dan tujuan harus pergi ke mana selain mengikuti Damar.
"Ini rumah kamu Damar?" tanya Laura melihat kontrakan Damar yang sempit dan kecil beda sekali dengan rumahnya dengan Dokter Rio yang sangat mewah dan megah.
"Iya ini kontrakan ku Laura maaf yah cuman begini tempatnya dan sangat seadanya semoga kamu betah dan nyaman," ujar Damar.
Laura yang masih saja berdiri di teras dari tadi belum masuk ke dalam rumah Damar akhirnya di suruh Damar untuk jangan berlama-lama berada di luar.
"Ayo masuk Laura jangan lama-lama di luar, hari sudah malam cuaca juga sangat dingin." suruh Damar yang menginginkan Laura segera masuk ke dalam rumahnya.
Kondisi rumah Damar terlihat sangat berantakan karena Damar tinggal sendirian dia juga bujangan tak sempat untuk membersihkan rumah kontrakan yang dia tempati karena terlalu sibuk mencari uang untuk menyambung kehidupan terutama untuk sesuap nasi.
"Kamu tinggal di sini udah lama damar? Terus sendirian aja," tanya Laura yang melihat ke kanan dan kiri sekitar rumah Damar.
"Iya aku tinggal sendirian aja, sejak lulus SMA dulu aku memberanikan diri untuk hidup mandiri tanpa bergantung dan merepotkan orang tua," ucap Damar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak kesepian dalam kesendirian kamu seperti ini Damar?" tanya Laura yang sangat penasaran dengan hari-hari yang di jalani Damar setiap hari.
"Aku sejujurnya kesepian tapi yah mau bagaimana lagi Laura, mana ada perempuan yang mau sama laki-laki seperti aku miskin dan tak punya apa-apa," ujar Damar yang merendahkan dirinya.
Akhirnya Damar menyuruh Laura untuk tidur di kamar miliknya sedangkan Damar mengalah untuk tidur di kursi tamu yang ada di depan. Dia juga tak ingin melihat Laura kedinginan dan memberikan Laura satu buah selimut.
"Kamu tidur di kamar aku yah dan nanti aku akan tidur di kursi tamu yang di depan, kalau kamu perlu apa-apa panggil aja aku nanti," ujar Damar.
"Ok Damar," ucap Laura dengan suara yang sangat canggung.
Laura yang baru saja memasuki kamar Damar sangat merasa kepanasan dan kesempitan karena ruangan yang cukup yang sangat tertutup hingga udara susah masuk ke dalam kamar itu, tak ada AC seperti yang ada di kediaman dirinya atau pun kipas angin yang sekedar melenyapkan rasa kegerahan yang ada.
"Aduh panas banget mana bau lagi," gumam Laura seorang diri.
Laura yang mengenali Damar dari bangku sekolah hanya dari luar saja yang tampang tampan dan keren belum mengetahui bagaimana keseharian Damar dalam menjalani hidup sehari-hari kini mulai sedikit berpikir.
Damar yang mendengar suara dari kamar Laura pada larut malam mencoba mengetuk kamar yang itu.
Tok
Tok
Tok.
"Laura apa kamu belum tidur juga?" tanya Damar dari balik pintu kamar.
__ADS_1
"Iya Damar aku belum bisa tidur juga sampai jam segini,soal ya engga bisa tidur dari tadi karena panas banget ga biasa tidur kalau engga ada AC sih," ujar Laura yang berkata jujur.
"Maaf yah Laura aku hanya bisa memberikan kamu kamar yang seperti ini jelek kumuh dan tak berAC, seharusnya kamu untuk malam ini tidur dan menginap di hotel saja bukan aku bawa ke rumah jelek seperti ini," ucap Damar yang merasa tak enak kepada Laura karena kondisi rumahnya.
"Engga papa kok Damar, aku yang harusnya makasih sama kamu sudah berbaik hati nolongin aku kaya begini dan juga ngasih tumpangan," ujar Laura.
Setelah itu tidak lama Laura mencoba untuk memejamkan matanya dan tertidur cukup lelap pada malam itu sampai pagi harinya dia pulas sekali tidur dan tidak terbangun.
Karena perut yang lapar sudah mulai meminta Laura untuk bangun dan makan akhirnya Laura bangun dari tempat tidur itu.
"Aduh harum banget ini seperti bau masakan, siapa yang masak yah apa jangan-jangan Damar," gumam Laura sendirian.
Laura berjalan keluar dari kamar dan menuju ke dapur tempat di mana Damar memasak nasi goreng dan sosis goreng untuk dirinya.
"Laura kamu sudah bangun yah ternyata aku sampai kaget liat kamu di belakang," ujar Damar.
"Maaf yah aku bangunnya kesiangan, yang seharusnya nyiapin sarapan buat kamu itu aku masak eh ini malah kamu yang repot-repot kaya begini," ucap Laura yang merasa tidak enak kepada Damar.
"Ya udah santai aja kenapa sih, aku juga udah biasa masak kok setiap hari kaya begini kalau engga masak sendiri siapa yang mau masakan istri engga punya dan hidup sendiri kaya begini," ujar Damar.
Laura yang mencoba masakan Damar untuk pertama kali langsung terkejut dengan rasa masakan yang menurutnya sangat enak.
"Kamu jago juga yah masak ternyata hebat juga kamu Damar." puji Laura kepada Damar.
"Ah biasa saja Laura, itu hanya nasi goreng biasa nanti siang aku akan masakan kamu makanan yang lezat lagi yah dari pada itu," ujar Damar.
__ADS_1
Tetangga yang melihat ada perempuan di dalam rumah Damar mulai mondar mandir dan mencurigai Laura apa jangan-jangan Damar mengajak perempuan yang bukan muhrimnya untuk tinggal satu rumah dan bersiap untuk mendatangi dan melaporkan Damar kepada ketua RT setempat di mana Damar tinggal.
Warga yang sudah berkumpul untuk mendatangi rumah Damar bersiap untuk menggrebek Damar bersama Laura yang sedang bersama satu rumah.