
Zurio yang mendengar keributan dari luar rumahnya antara ibu Ratih dan pak Tito seketika dia langsung beranjak bangun dari kasur tempat tidurnya.
"Ada apa sih ribut-ribut di luar, ini masih pagi banget nanti tetangga pada bangun malu ibu," ucap Zurio yang menarik tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ini nih mertua kamu yang emang ga ada kerjaan gedor-gedor rumah orang pagi-pagi buta kaya begini, emang yah ga ada pikiran sama sekali udah jadi orang tua juga," omel ibu Ratih yang kesal atas kelakuan pak Tito yang datang ke rumahnya tidak tepat waktu.
"Emang ada apa sih ayah datang ke sini jam segini? " tanya Zurio kepada pak Tito.
"Ayah cuman mau menyampaikan sesuatu hal yang penting sama kamu Zurio, Ratna sedang berada di rumah sakit setelah menerima telpon dari kamu, dia mengamuk histeris seperti orang gila menghambur-hamburkan semua barang-barang yang ada di rumah."pikir pak Tito.
Zurio terkejut dan tak habis pikir mendengar Ratna yang melakukan hal senekat itu, ingin mencoba mengakhiri hidupnya hanya karena permasalahan rumah tangga yang menurut Zurio sangat sepele.
"Aku engga habis pikir kalau Ratna bisa melakukan hal gila kaya begini," ujar Zurio yang menyalahkan tindakan Ratna.
"Ayah mohon sama kamu nak, temui Ratna di rumah sakit dia pasti sedang mengharapkan kehadiran kamu untuk menemaninya," ucap pak Tito yang memohon kepada Zurio.
Akhirnya Zurio masuk ke dalam rumahnya untuk menggantikan pakaian tidur yang di kenakan menjadi baju kaos dan celana panjang beserta jaket.
"Ayo kita berangkat yah," ajak Zurio terhadap pak Tito.
Bu Ratih yang mendengar hal tak masuk akal yang telah dilakukan Ratna langsung merasa kesal dan marah karena menurutnya Ratna hanya merepotkan putranya saja dan selalu mencari-cari perhatian agar Zurio perduli kepada Ratna.
"Dasar perempuan itu selalu saja bikin masalah, bikin aku naik darah saja kalo mengingat kelakuannya yang tidak pernah masuk akal, kaya begini kan namanya ngerepotin orang-orang kalau segala pakai jenguk dia ke rumah sakit," gumam bu Ratih seorang diri.
__ADS_1
Zurio menyetir mobil dengan kecepatan 40km/jam, karena jalanan pada waktu pagi hari menjelang subuh sangat senggang hanya beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya.
Setelah sesampainya di rumah sakit Harapan Kasih, Ratna sudah di pindah ke ruangan rawat inap oleh Dokter.
"Mas Zurio kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Ratna kepada sang suami yang mulai sadarkan diri.
"Kamu berada di sini karena ulah kamu yang konyol Ratna, kenapa kamu harus kaya begini sih," ucap Zurio yang marah terhadap kelakuan Ratna.
"Sudah Zurio jangan kamu marahi Ratna seperti itu dia sedang sakit," ujar pak Tito yang tidak tega melihat Ratna baru saja sadarkan diri langsung dimarahi suaminya.
"Biar Ratna sadar diri ayah, dia itu sudah dewasa kenapa harus berpikiran singkat seperti itu kalau ada masalah kita ngomong baik-baik. Dia malah ingin mengakhiri kehidupannya," ucap Zurio.
Keadaan Ratna sangat terpuruk hampir saja menjadi orang yang sangat setres dan sedikit gila tetapi dengan kedatangan suaminya dia merasa perasaannya sedikit membaik.
"Lebih baik aku tiada lagi di dunia ini mas dari pada aku harus kehilangan cinta dari kamu dan juga kamu tidak memperdulikan aku lagi," ucap Ratna dengan penuh air mata.
"Kamu ngomong apa sih nak, kalau memang Zurio sudah tidak ingin mempertahankan kamu sebagai istrinya masih ada ayah yang sayang sekali sama kamu," ujar pak Tito yang memeluk Ratna dengan erat, karena baginya anak adalah harta yang paling berharga di dunia ini lebih dari pada apa pun yang dia miliki.
Ratna adalah hasil korban dari perceraian ayah dan ibunya, dia tidak ingin pernikahan dirinya dan Zurio berakhir sama seperti pernikahan orang tuanya dulu. Oleh karena itu Ratna mempertahan suaminya dengan cara apa pun.
"Aku engga mau yah kalau harus pisah sama mas Zurio, aku sangat mencintai dia sampai kapan pun," ujar Ratna yang ingin mempertahan rumah tangganya.
"Kalau kamu terus menerus berprilaku seperti anak kecil mungkin sebaiknya kita perpisahan saja Ratna, aku sudah tidak kuasa menahan ini semua hanya demi keegoisan kamu yang ingin mengadopsi anak secara paksa," ancam Zurio terhadap Ratna.
__ADS_1
"Jangan mas, aku mohon sama kamu pikirkan ini semua matang-matang kita membangun pernikahan kita sudah cukup lama dan aku mendampingi kamu sudah hampir lebih lima tahun," pinta Ratna terhadap Zurio.
Sejujurnya pak Tito sangat tidak tega melihat secara langsung perdebatan antara mereka, karena dia tak pernah tahan melihat Ratna meneteskan air mata demi laki-laki yang menurutnya sudah sangat tidak pantas putrinya cintai.
"Lebih baik kamu ubah sikap buruk kamu dulu Ratna setelah itu baru kamu hubungi aku atau berpikir untuk memperbaiki hubungan kita lagi seperti dulu, sekarang aku merasa kamu sudah mulai tidak mempunyai akal sehat," ujar Zurio yang sudah tidak ingin melihat hal gila yang dilakukan Ratna lebih jauh lagi.
"Kamu kenapa harus sekeras ini sama Ratna Zurio, menurut ayah dia hanya korban dari semua yang sudah terjadi pada kalian Ratna tidak bersalah sama sekali dalam hal ini mengapa harus dia yang menanggung semuanya," ucap pak Tito kepada sang menantu.
Pasien rumah sakit yang lain mendengar ada suara keributan di kamar Ratna sangat merasa terganggu dan melaporkan situasi itu kepada security petugas rumah sakit.
"Ada apa ini ribut-ribut seperti ini?" tanya security kepada Zurio dan pak Tito.
"Engga ada apa-apa pak, ini hanya ada masalah keluarga sedikit," jawab pak Tito.
"Tolong jangan berisik dan kalau ada masalah keluarga selesaikan di luar rumah sakit jangan di sini, takutnya nanti mengganggu kenyamanan pasien-pasien yang sedang di rawat inap di sini,"ujar security yang mengingatkan pak Tito dan Zurio.
Akhirnya karena tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit Zurio memilih memutuskan pulang ke rumahnya karena malas ribut-ribut mencari masalah di tempat umum, dan yang menjaga dan merawat Ratna adalah pak Tito selama Ratna sakit terbaring lemah.
"Kamu mau kemana mas? jangan tinggalkan aku mas," pinta Ratna dengan sedih kepada suaminya.
"Sudah nak, biarkan saja Zurio pergi lebih baik nanti selesaikan masalah kalian di rumah saja setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, " ujar pak Tito.
Apakah Ratna masih mempunyai semangat hidup? atau kah Zurio memang benar-benar ingin menceraikan Ratna?
__ADS_1