
Fitria yang di antar oleh tukang ojek telah sampai lebih duluan dari pada Zurio di tempat pertemuan mereka yaitu cafe nostalgia.
Cuaca hari ini cukup panas hingga Fitria merasa sangat haus sambil menunggu kedatangan Zurio dia memesan satu gelas jus jeruk untuk meredakan rasa hausnya.
Zurio tiba menggunakan mobil putih pribadinya dengan menggunakan baju kemeja merah beserta jas hitam lalu celana panjang karena baru saja pulang dari kantor langsung mendatangi Fitria.
"Ada apa kamu mengajak aku untuk bertemu di sini Fitria?" tanya Zurio kepada Fitria.
"Ada sesuatu yang penting harus gue sampaikan sama loe Zurio, tentang Ratna dan Aurel," ujar Fitria.
"Kenapa mereka berdua?" tanya Zurio.
"Keadaan Ratna sekarang sudah sangat parah dia macam depresi karena kelakuan elo, kalau sampai Ratna mengetahui hubungan elo sama Aurel gue yakin dia bakalan beneran gila kali," ujar Fitria.
"Terus aku harus ngelakuin apa untuk bisa memutuskan semuanya dengan bijak kalau di suruh untuk meninggalkan salah satu di antara mereka, maaf aku belum bisa Fitria," ucap Zurio yang mengatakan tak sanggup memilih antara istri dan pacar gelapnya.
"Gue cuman takut kalo liat kondisi Ratna sekarang, selain persahabatan Ratna dan Aurel terancam nyawa Ratna juga bakal terancam dia bisa aja melakukan hal yang lebih nekat lagi dari yang tadi malam dia lakukan," ujar Fitria yang merasa takut jika sesuatu hal buruk terjadi menimpa Ratna.
"Iya sih kayanya gue harus sedikit jaga jarak dulu sama Aurel soalnya kalau Ratna tahu bahaya juga," pikir Zurio yang sudah mulai mengkhawatirkan Ratna.
"Sekarang mungkin Ratna masih bisa diselamatkan, tapi kita engga tau nanti kalau kejadian lagi hal yang kaya begini jujur sih gue takut kalau misalnya Ratna nekat dan lebih parah dari ini, gue mohon sama elo tolong perhatikan Ratna dan sayangi dia anggap aja rumah tangga kalian engga terjadi apa-apa."pinta Fitria terhadap Zurio.
"Nanti habis dari sini aku langsung pergi jenguk Ratna ke rumah sakit, sekalian coba minta maaf sama Ratna siapa tau dengan cara kaya begini bisa membantu proses penyembuhan Ratna lebih cepat membaik," ujar Zurio.
__ADS_1
"Nah itu ide bagus jujur gue kasian banget sama Ratna, sejak sering berantem sama elo dia jadi kehilangan semangat hidup kaya begini," ucap Fitria.
"Seandainya ibu ku membolehkan untuk aku dan Ratna mengadopsi anak dari panti asuhan pasti engga akan kaya begini repot permasalahan rumah tangga kami," tutur Zurio.
Fitria jujur sangat kesal mendengarkan saat Zurio berkata kalau ibu Ratih adalah dalang dari semua permasalahan rumah tangga Ratna dan Zurio, baru kali ini dia mendengar ada seorang ibu yang tega sekali ingin membuat rumah tangga anak dan menantunya hancur menjadi berantakan seperti ini.
"Ibu elo itu kepalanya punya pikiran engga sih, selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya ngerecokin banget tau engga," ujar Fitria.
"Yah mau gimana lagi bakti aku seorang anak terhadap ibunya yang sudah melahirkan dan membesarkan jadi harus selalu nurut sama ibu," ucap Zurio.
"Kalau begitu cara pemikiran elo nanti bakal ngerusak rumah tangga elo sendiri Zurio, tante Ratih itu adalah duri dalam rumah tangga kalian," tutur Fitria secara jujur dan apa adanya.
Zurio memang dalam kendali penuh ibu Ratih karena menurutnya tanpa persetujuan ibu Ratih dia tidak akan pernah melakukan apa pun termasuk membujuk Ratna untuk pulang ke rumah atau mengadopsi anak dari panti asuhan.
"Sebenarnya aku kasian sih sama Ratna," ucap Zurio.
"Emang bisa kalau kita mengangkat anak dari panti asuhan bisa jadi nantinya bakal punya keturunan sendiri," tanya Zurio yang belum mengetahui hal itu.
"Iya lah, kalau kalian sayangi anak angkat itu dengan sepenuh hati gue jamin nanti akan ada keajaiban dari Tuhan, siapa tau Ratna tiba-tiba langsung hamil," ujar Fitria.
Setelah mendengar semua saran dan masukan dari Fitria Zurio mulai membuka sedikit demi sedikit pikirannya kalau Ratna juga korban dari semua pertengkaran mereka beberapa waktu ini, semoga Zurio mau membuka hatinya untuk segera mengadopsi anak dari panti asuhan.
Karena hari sudah mulai gelap Fitria pamit dan memutuskan untuk pulang karena ketiga anaknya dan suaminya Adi sudah menunggu dirinya untuk pulang.
__ADS_1
"Eh gue pamit pulang dulu yah nanti kita lanjutin ngobrol-ngobrolnya lagi kapan-kapan, soalnya kasian mas Adi sama anak-anak udah nungguin gue pulang," ujar Fitria.
"aku masih yah sama kamu udah sempetin waktu untuk ngasih tau ini semua, dan salam juga buat Adi dan anak-anak di rumah," ucap Zurio.
"Pesan gue cuman itu aja tolong perhatikan Ratna lebih biar kondisi hati dan jiwanya bisa membaik kaya dulu lagi, " tutur Fitria sebelum pulang.
"Iya ok, nanti habis ini langsung aku temuin kok Ratna di rumah sakit," ujar Zurio.
Zurio sudah ingin meluncur ke rumah sakit untuk menemui Ratna tiba-tiba saja telpon genggamnya berdering ternyata dari Aurel.
"Ada apa putri salju kamu telpon aku?" tanya Zurio yang terburu-buru ingin segera ke rumah sakit.
"Kamu kenapa kaya begitu sih pangeran jawab telpon dari aku, tumben banget emangnya sekarang kamu lagi di mana sih?" tanya Aurel yang merasa kesal mendapatkan jawaban yang jutek dari Zurio.
"Aku sekarang lagi sibuk banget telponnya nanti aja lagi yah," ujar Zurio sembari menutup telpon dari Aurel sang putri saljunya.
Zurio sudah berjanji kepada Fitria untuk sementara waktu mencoba menjauhi Aurel sebisa mungkin untuk kebaikan Ratna sang istri.
"Maafin aku yah Aurel, aku terpaksa sementara waktu kaya begini ini semua demi Ratna dulu," gumam Zurio seorang diri.
Aurel merasa ada yang aneh kepada pangeran tunangannya sudah satu hari ini dia mencoba menghubungi selalu tidak ada jawaban sekali pun itu ada balasan dan di jawab malah dengan ketus dan cuek sekali.
"Pangeran kenapa sih gini amat tumben biasanya engga pernah kaya begini, aku harus secepatnya selidiki dan cari tau ada apa yang sebenarnya terjadi," tutur Aurel dalam hatinya.
__ADS_1
Biasanya Zurio dan Aurel selalu bersama setiap hari entah bahkan untuk menyempatkan waktu makan siang saja atau bahkan lebih dari itu bisa mengajak kedua anak Aurel jalan-jalan ke taman, tetapi sejak Ratna sakit dia hari belakangan ini Zurio lebih memerhatikan Ratna dan mulai melupakan Aurel sejenak.
Apakah Aurel mampu membacanya tahu siapakah Zurio atau pangeran yang dia kenal selama ini siapa?